MasukAbel adalah seorang istri yang sangat tabah. Sejak dia menikah, dia tidak pernah di nafkahi oleh suaminya. Beban hidupnya makin bertambah saat ia kedatangan ibu mertua dan adik iparnya yang ikut menumpang di rumahnya. Suatu siang saat dia memutuskan untuk pulang kerja lebih awal, dia ternyata memergoki suaminya sedang bercinta dengan wanita lain. Mirisnya perbuatan bejat suaminya di dukung oleh ibu mertua dan adik iparnya. "Siapa wanita ini, Mas? Kenapa kamu tega berselingkuh dengannya padahal keadaanku sedang hamil?" Abel bertanya dengan penuh kemarahan. Airmatanya tak mau berhenti menetes. "Ini Dita, calon madumu. Tolong terima kehadirannya, Mas janji akan adil pada kalian berdua!" jawab Putra, suami Abel. "Keadilan seperti apa yang Mas tawarkan sedangkan untuk makanmu dan keluargamu saja aku yang menanggung?" teriak Abel mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya. "Selama kamu melahirkan tidak ada yang mencari nafkah. Dita kaya raya, kita dan bayi kita tidak akan sampai kelaparan selama ada dia!" jawab enteng Putra tanpa rasa malu.
Lihat lebih banyakكانت الشمس بالكاد تظهر من خلف مبنى الجامعة الضخم، حين وقف كريم عند بوابة الحرم لأول مرة.
حقيبته الثقيلة على كتفه، وقلبه ينبض بمزيج من الحماس والخوف، شعر بأن هذه اللحظة قد تغيّر حياته بالكامل. توقف قليلًا ليتفقد المكان. طلاب يسيرون في كل الاتجاهات، مجموعات تتحدث وتضحك، وآخرون يجلسون تحت الأشجار يراجعون دفاترهم. كل شيء بدا جديدًا وغامضًا بالنسبة له، وكأن المدينة كلها تركت خلفها ذكرى لا يستطيع تذكرها إلا من بعيد. أخذ نفسًا عميقًا وقال لنفسه: — "حان وقت البداية… لا مكان للرجوع الآن." بدأ يمشي بخطوات مترددة، محاولًا قراءة اللوحات الإرشادية، حين اصطدم فجأة بشخص يقف أمامه. انطلقت الكتب من يديهما وسقطت على الأرض مع صوت خافت. — "أوه! آسف!" — قال كريم وهو يحاول جمع الكتب بسرعة. رفع رأسه ليرى من أمامه… فتاة ذات شعر بني طويل ينسدل على كتفيها، وعيونها الداكنة تلمع بنظرة صارمة، تحمل لمحة من الفضول. — "هل تمشي وأنت مغمض العينين؟" — قالت بنبرة حادة، لكنها لم تخفِ فضولها. ارتبك كريم، ثم ابتسم بخجل: — "أعتقد أن هذا أول خطأ لي في الجامعة…" ضحكت الفتاة بخفة، وأخذت كتبها وقالت: — "حاول ألا يكون الأخير." غادرت بخطوات سريعة، تاركة كريم واقفًا يراقبها، وهو يشعر بأن هذه اللحظة الصغيرة قد تكون بداية سلسلة من الأحداث غير المتوقعة. تابع كريم طريقه نحو المبنى الرئيسي، وكل خطوة تزيد شعوره بالترقب والخوف. تذكر كلمات والده قبل أن يغادر المنزل: — "الجامعة ليست مجرد دراسة… إنها تجربة ستختبرك أكثر مما تتصور." دخل المبنى، صوت أقدام الطلاب يتردد في الممرات الطويلة، واللوحات الإرشادية توجه الجميع إلى القاعات المختلفة. وقف عند لوحة كبيرة تحتوي على أسماء الأقسام، محاولًا العثور على قاعة الأدب الحديث. في تلك اللحظة، مرّ به شاب يبدو واثقًا جدًا، يرتدي سترة جلدية ويحمل حقيبة ثقيلة على ظهره. — "أهلاً بك في الجامعة الجديدة!" — قال بابتسامة واسعة، وهو يمد يده للتحية. تبادل كريم التحية وأخذ نفسًا عميقًا. شعر بأن كل شيء من حوله — الأشخاص، المباني، وحتى الهواء — يحمل أسرارًا تنتظر من يكتشفها. جلس كريم في الصف الأخير، محاولًا مراقبة الطلاب الآخرين. بعضهم ينظر إليه بنظرات ودية، والبعض الآخر بمزيج من الفضول والشك. لاحظ أن الجميع يعرف بعضهم بعضًا بالفعل، وأنه يبدو كغريب وسط هذه المجموعة المتماسكة. وبينما كان يحاول التأقلم، دخلت الأستاذة منى الرفاعي، تبدو صارمة ولكن بعينين تحملان خبرة كبيرة. — "صباح الخير أيها الطلاب الجدد…" — بدأت حديثها، وصوتها يملأ القاعة. — "اليوم سنبدأ رحلة طويلة في عالم الأدب، حيث الكلمات ليست مجرد حروف، بل أسرار ومفاتيح لعوالم مختلفة." ابتسم كريم لنفسه، شعر بأن هذه الكلمات تحمل أكثر مما تبدو عليه. وبينما كانت الأستاذة تتابع شرحها، لمح الفتاة التي اصطدم بها قبل قليل تجلس في الصف الثالث، تنظر إليه بابتسامة خفيفة. تسارع قلبه، وقال في نفسه: — "يبدو أن هذه الجامعة لن تكون مجرد دراسة… إنها بداية قصة لم أكن أتوقعها أبدًا." بعد انتهاء الحصة، خرج كريم إلى الباحة الكبيرة. جلس على أحد المقاعد، وأخرج دفتر الملاحظات الخاص به، وبدأ يكتب: — "اليوم كان البداية… لكن لدي شعور أن كل يوم هنا سيكون مليئًا بالمفاجآت. بين الأصدقاء، الأساتذة، وحتى الأشخاص الغامضين… لا شيء سيكون عاديًا." وبينما كان يغلق الدفتر، تذكّر الفتاة ذات النظرة الغامضة وابتسم بخفة. — "ليلى… يبدو أنك ستكونين جزءًا كبيرًا من هذه القصة." وهكذا بدأ يومه الأول في الجامعة، دون أن يعلم أن الأسرار، الصداقات، وربما الحب الأول كانت على وشك أن تبدأ.Pov Liam"Mingkem Liam, nanti kemasukan nyamuk mulutmu!"Aku baru sadar setelah Irish menyuruhku menutup mulutku. Malu? tentu saja begitu."Kamu lama sekali!" aku pura-pura geram pada Irish."Ngantri. Pengunjung salon bukan aku saja!" jawabnya.Aku membukakan pintu mobil untuknya."Aku pakai mobilku saja!" ucap Irish."Jangan membantah kenapa? Masuk!"Irish pasrah dan menuruti perintahku. Sepanjang perjalanan memang kami saling diam tapi mataku jelalatan curi-curi pandang kearahnya.Mobilku telah sampai di depan hotel yang sudah di sewa sebagai tempat pernikahan Viola dan Yudha. Aku menuntun Irish selayaknya kami betulan sepasang kekasih.Saat masuk kedalam, aku melihat Viola dan suaminya sedang sibuk mengobrol dengan tamu lainnya."Irish menunduk dan sama sekali tak berani menatap mantan pacarnya. Aku tahu hatinya sedang sangat hancur tapi dia harus mengangkat wajahnya agar tidak terlihat lemah seperti ini."Jangan nangisin jodoh orang gitu!" ucapku menggoda Irish."Siapa yang nangis
Pov Liam"Polisi sudah datang. Maaf, telah membuatmu malu di depan umum. Aku tak mau kamu kabur dan kembali menyakiti Irish!" ucapku. Vikha sangat marah melihat beberapa polisi datang ingin menangkapnya."Brengs*k kamu Liam. Kamu temanku tapi kenapa kamu malah membela wanita itu!" teriak Vikha saat polisi akan membawanya pergi. Pengunjung restoran yang datang semua menatap kearah Vikha.Vikha memang temanku. Kami cukup akrab semasa SMA dulu tapi bukan berarti aku diam saja saat dia melakukan kejahatan.Aku kasihan pada Irish. Hidupnya sudah sangat berantakan karena Vikha. Aku harap Irish akan kembali mendapat haknya setelah Vikha dan yang lainnya tertangkap.Setelah urusan Vikha selesai aku langsung pulang kerumah."Kau sudah makan?" tanyaku saat Irish membuka pintu rumah."Belum. Kamu sendirikan yang melarangku makan sebelum kamu pulang!" jawabnya datar. Aku tersenyum karena senang dia menuruti perintahku."Aku mandi dulu, kamu siapkan makan malamnya!" perintahku. Dia mengangguk dan
Pov LiamAwalnya aku sangat marah karena mantan istri temanku selalu saja membuat masalah. Aku kesal wanita itu selalu membuatku hampir celaka, namun setelah mendengarkan cerita menyedihkannya, semua perasaan benciku hilang. Namun meski begitu aku tak mau melepasnya begitu saja. Dia harus tetap ku hukum.Setelah keadaannya membaik aku membawanya pulang ke rumahku. Mobilnya masih di bengkel jadi dia menurut begitu saja saat aku menyuruhnya masuk ke dalam mobilku.Irish sangat rajin, dia mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan sangat rapih. Masakannya juga sangat enak. aku heran dengan Alan. Bagaimana dia bisa membuang wanita seperti Irish demi wanita egois seperti Vikha dan keluarganya."Kamu sudah makan?" tanyaku ketika akan makan malam."Sudah." jawabnya sambil menyiapkan makanan di atas meja makan."Lain kali jangan makan sendirian. Kamu harus tunggu aku sampai pulang." ucapku."Ok!" jawabnya singkat padahal aku ingin dia lebih cerewet seperti biasanya. Tapi yang tetjadi malah seba
Pov AlanAku tak menyangka Irish tega menghancurkan kepercayaan Ayahku. Untuk apa coba dia menjual rumah dan toko pemberian Ayahku kalau bukan untuk memberi Yudha bantuan.Aku tahu keuangan Yudha pasti sedang hancur untuk mengurus ibunya. Jadi lelaki itu menggunakan Irish untuk menyelamatkannya dari kemiskinan.Awalnya aku tak percaya Irish menjadi wanita sebodoh itu demi Yudha. Nmaun setelah Vikha memberiku bukti bahwa Irish benar-benar sudah menjual toko dan rumah aku baru percaya.Meski aku tahu kesalahan Irish fatal, melihat wanita itu di maki secara kasar oleh Ayahku, aku menjadi tak tega. Entah aki masih terus menyukainya atau perasaan ini hanya perasaan kasian saja."Kamu sedang memikirkan apa, sayang?" tanya Vikha sambil mendekat kearahku. Sebelah wajahnya masih sangat menakutkan, tapi syukurnya dia sudah bisa menerima kenyataan."Aku masih saja tak habis pikir dengan perbuatan Irish. Kenapa dia makin bodoh setelah bercerai denganku. Dulu meski aku jahat, aku tak peelrnah meni
Pov IrishHari ini aku menemui pemilik perusahaan yang beberapa waktu lalu mengorder kueku. Butuh waktu lama dan perjuangan keras agar bisa langsung menemui orang itu. Itu karena dia selalu menyuruh asistennya untuk menyelesaikan semuanya tanpa mau bertemu langsung denganku. Aku tak puas hati hanya m
Pov Yudha Sekitar jam satu siang aku sudah sampai di depan rumah Om Adit. Meski dalam keadaan terdesakpun aku tetap mengantarkan Irish menggunakan taksi sampai ke rumahnya. Sebenarnya aku sama sekali tak punya nyali menginjakan kaki di rumah Om Adit lagi. Namun mengingat kebaikan Om Adit aku harus b
Pov YudhaAku rasa dunia sedang sangat kejam kepadaku. Masalah datang bertubi-tubi. Keadaan ibuku kritis, aku bingung harus bagaimana sekarang.Kenapa aku seceroboh ini. Harusnya aku tak perlu dulu memberitahu ibuku tentang lamaranku pada Irish. Saat ini ibuku sangat butuh dukungan, harusnya aku bisa
Pov YudhaTidak terasa sudah jam sebelas siang, sebentar lagi jam makan siang Irish. Aku bermaksud datang ketokonya untuk mengajaknya makan siang.Umurku sudah menginjak 28tahun, tapi aku seperti anak ABG labil yang gemetaran saat ingin menemui pacar. Ya, aku sangat gugup setiap kali ingin menemui Iri












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.