로그인Pintu kaca geser di ujung aula membuka perlahan, mengalirkan embusan angin samudra yang sejuk ke dalam kemewahan kapal pesiar The Royal Poseidon.Para pramusaji berseragam kelasi menuntun tamu undangan menuju geladak buritan terbuka di dek utama. Di bawah hamparan langit malam yang bersih dan bertabur gemintang, belasan meja bundar bertaplak linen putih telah tertata rapi mengelilingi lantai dansa berlapis kayu jati mengilap. Di setiap meja, lilin aromaterapi dalam wadah kristal menyala temaram, memantulkan pendar keemasan yang berpadu dengan alunan saksofon lembut kuartet jazz di sudut geladak."Udara di luar jauh lebih segar daripada pengapnya bualan para taipan di dalam aula," ucap Vanya sembari melangkah anggun melewati ambang pintu.Ujung gaun satin merahnya menyapu lantai kayu, berkibar pelan dihembus angin laut lepas. Reno berjalan di sisinya, lalu menarik sebuah kursi berukir kuningan di meja sudut yang menghadap langsung ke buih ombak di buritan."Posisi ini memberi sudut pan
"Seluruh jaringan komunikasi di lambung kapal telah lumpuh, Tuan Muda," lapor Danu sembari menghampiri pagar kuningan dek dua.Julian Mahendra memutar gelas kristal berkaki jenjang di tangan kirinya, matanya mengikuti gelembung-gelembung emas sampanye yang merambat naik ke permukaan. Di bawah sana, aula perjamuan mulai riuh oleh gumaman gelisah. Para komisaris dan pengusaha bursa menatap ponsel mereka yang mendadak membisu, tak tahu harus berbuat apa."Bagus," sahut Julian, menyesap sampanyenya sedikit. "Kepanikan kecil semacam itu selalu menjadi hidangan pembuka yang manis sebelum pesta yang sesungguhnya dimulai."Danu melirik arloji taktisnya, yang sudah diselaraskan dengan ruang kendali nakhoda. "Pengacak frekuensi di dek bawah bekerja stabil dalam radius lima belas mil laut. Panggilan darurat dan sinyal navigasi publik sama-sama terputus."Julian mencondongkan tubuh, bertumpu pada pegangan mahoni balkon, lalu menyapu pandangannya ke deretan meja bundar di lantai dasar.Di antara k
"Getaran mesin di bawah geladak ini menandakan turbin utama sudah bekerja penuh," ucap Vanya seraya melangkah anggun melintasi pintu geser kaca otomatis menuju aula perjamuan dek satu.Reno menurunkan tangan kirinya dari dada, membiarkan jam tangan berpelat baja hitam miliknya kembali tersembunyi rapi di balik manset kemeja jasnya. "Dua unit mesin diesel berkekuatan lima belas ribu tenaga kuda siap mendorong kapal pesiar ini keluar dari perairan teluk dalam sepuluh menit."Aula utama The Royal Poseidon menyambut mereka dengan kemilau lampu gantung kristal yang membentang di sepanjang langit-langit berbalut kayu mahoni. Aroma hidangan laut panggang dan seduhan sampanye impor merebak lembut, berbaur dengan alunan gesekan biola para musisi di sudut panggung.Puluhan pengusaha bursa, kurator kapal logistik, dan petinggi asosiasi maritim tampak berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Suara tawa formal dan denting gelas kaca beradu santai, menciptakan atmosfer perjamuan amal kalangan atas
"Warna merah ini bukan cuma pilihan busana, Reno, tapi pesan terbuka bahwa malam ini kita datang untuk menumpahkan arogansi seseorang," ucap Vanya seraya merapikan lipatan kain sutra di pangkuannya.Reno menoleh ke arah wanita di sampingnya, memandangi gaun malam satin merah menyala yang membalut tubuh ramping Vanya dengan potongan leher berkelas. Rambut hitam pekatnya dibiarkan tergerai bergelombang di atas bahu, mempertegas kontur rahangnya yang tegas tanpa cela."Dan pesan itu akan terbaca sangat jelas bahkan sebelum kakimu menyentuh dek kapal," balas Reno seraya menyunggingkan senyuman tipis.Mobil Maybach hitam yang mereka tumpangi berhenti dengan mulus di pelataran dermaga privat Marina Barat. Lampu-lampu sorot dermaga memantulkan pendaran putih keperakan di atas riak air laut yang tenang, beradu dengan semilir angin malam yang membawa aroma garam pekat.Albert melangkah keluar dari kursi penumpang depan, lalu membukakan pintu belakang dengan gerakan cekatan dan membungkuk horma
"Kapal pesiar The Royal Poseidon berlayar tepat Sabtu malam," ucap Vanya seraya menggeser kartu akrilik berbingkai emas itu melintasi permukaan meja kerjanya.Kartu tersebut berhenti tepat di samping tatakan cangkir kopi Reno dengan bunyi gesekan halus. Reno melirik deretan huruf timbul keemasan yang mencantumkan rute pelayaran melintasi teluk menuju batas terluar perairan bebas."Asosiasi Pengusaha Pelayaran Nusantara tidak pernah memajukan jadwal pesta tahunan mereka secepat ini," sambung Vanya seraya menopang dagu. "Biasanya mereka menggelar acara di hotel bintang lima daratan, bukan di atas dek kapal pesiar pribadi milik konsorsium Mahendra."Reno mengangkat cangkirnya, menyesap sisa kopi hitam pekat yang mulai dingin, lalu meletakkannya kembali tanpa menimbulkan suara."Ketika seseorang kehilangan uang pribadinya dalam jumlah besar, akal sehatnya biasanya ikut tenggelam," sahut Reno datar seraya melipat kedua tangannya di atas paha. "Julian membutuhkan tempat tertutup di mana huk
"Laut lepas?" ulang Julian seraya menurunkan tangannya dari kap mesin mobil sportnya yang ringsek.Julian menegakkan punggungnya perlahan, menyeka sisa keringat dingin di pelipisnya seraya menatap Danu dengan mata menyipit tajam. Angin malam yang berhembus kencang dari arah teluk membawa aroma garam pekat, menyapu pelataran parkir Balai Lelang Megah yang mulai lengang.Danu melangkah lebih dekat, merendahkan posisinya agar suaranya tidak terbawa hembusan angin."Di darat, Reno memegang kendali hukum melalui perbankan Jenewa dan jaringan pengacara Adijaya," bisik Danu seraya menunjuk ke arah jalan protokol. "Tapi dua belas mil laut dari garis pantai, hukum kota ini tidak lagi memiliki taring yang sama."Julian menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi rongga dadanya yang masih terasa panas terbakar dendam. Rasa nyeri di telapak tangannya yang terbalut perban seolah terabaikan saat otaknya mulai mencerna celah yang ditawarkan bawahannya."Lanjutkan bicaramu," perintah Julia







