เข้าสู่ระบบMobil yang di tumpangi Keluarga kecil ini akhirnya sampai di depan mansion mewah ini. Sulastri menyambut mereka dengan wajah berseri-seri. Tanpa menunggu lama, wanita paruh baya itu langsung merengkuh sang bayi dari pangkuan Ayla ke dalam gendongannya, membisikkan doa-doa hangat dengan mata berbinar bahagia. "Masya Allah. Baru Empat hari sudah makin besar dan tampan." Sulastri langsung membawa bayi kecil ini masuk, melihat Wina duduk di kursi goyangnya Sulastri berniat memperlihatkan bayi itu. Namun baru beberapa langkah Sulastri mendekat, Wina sudah bersuara. "Bawa dia langsung ke kamarnya Lastri." Sulastri tak mengeluarkan suara sepatah katapun, dia langsung pergi menuju kamar Ayla dan Rayan. Atmosfer di sudut ruangan di mana Wina berada terasa kelam. Wanita itu sama sekali tak bergeming. Ia tetap diam di kursi goyangnya, terus berayun konstan tanpa niat sedikit pun untuk bangkit atau sekadar menyapa Ayla yang baru saja menjejakkan kaki dari rumah sakit. Rayan yang menyadari
Begitu selesai berbicara dengan keluarga pasien, dokter cantik itu melangkah pergi mengitari koridor. Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Arlan justru terus mengekor pelan di belakang, mengikuti tiap langkah kaki Kalila seolah terhipnotis.Namun, beberapa meter di depan sana, langkah Kalila terhenti. Dokter cantik itu mendadak mengulas senyum yang jauh lebih merekah dan hangat—sebuah senyuman yang belum pernah Arlan lihat sebelumnya.Kalila menyambut kedatangan seorang pria yang berjalan mendekat seraya membawa setangkai bunga segar di tangannya. Pria itu menyodorkan bunga tersebut dengan tatapan lembut yang dibalas anggukan manis oleh Kalila.Krak!Seketika hati Arlan rasanya hancur berkeping-keping. Pemandangan di depannya bagai hantaman keras yang menyadarkan Arlan dari mimpi singkatnya.Arlan mematung di balik pilar koridor. Keyakinan penuh menyelimuti pikirannya bahwa pria tampan pembawa bunga itu tak lain dan tak bukan adalah kekasih sang Dokter cantik. Sensasi hangat di dadany
Rendra tak membiarkan Zia melarikan diri lebih jauh lagi. Dengan satu gerakan cepat namun penuh kendali, tangannya terulur meraih pergelangan kaki Zia dan menariknya pelan hingga posisi tubuh wanita itu terbaring sejajar dengannya di tengah ranjang."Rendra! Lepas!" pekik Zia menahan napas, dadanya naik turun dengan ritme cepat.Bukannya melepaskan, Rendra justru melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Zia dari belakang, menarik tubuh mungil itu makin rapat hingga tak berjarak dengan dada lapangnya. Garis rahang Rendra menempel pas di ceruk leher Zia, menyalurkan hembusan napas hangat yang sanggup membuat seluruh tubuh Zia merinding hebat."Diam, Zia," bisik Rendra dingin tepat di telinganya. "Jangan memancing emosiku kalau kamu tidak mau kita menyelesaikan apa yang tertunda di bathtub tadi."Zia membeku seketika. Bibirnya terkatup rapat, tak berani lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Keberaniannya menguap habis terkikis oleh ancaman terselubung pria yang kini menguncinya erat dalam
"Mau minum apa, Yah? Maaf, ART kalau malam sudah tidak datang, khawatir mengganggu," ucap Rendra ramah, dengan cerdik menutupi kenyataan bahwa ia sebenarnya telah memecat seluruh ART di rumah itu agar bisa mengisolasi Zia.Bastian mengibaskan tangannya pelan. "Tidak usah. Ayah cuma mau lihat keadaan Zia."Bastian sengaja menjawab singkat tanpa membocorkan rahasia mengenai surat minta tolong yang diberikan Zia padanya di rumah sakit tadi.Rendra memicingkan mata, menatap mertuanya penuh selidik. Bukankah beberapa jam lalu mereka baru saja bertemu di rumah sakit? Bastian yang menyadari kecurigaan di mata Rendra langsung berusaha mengalihkan suasana."Emm... Ya sudah, Rendra. Maafkan Ayah, ya. Silakan kalian lanjutkan lagi," ujar Bastian seraya bangkit berdiri dari posisinya, berusaha menutupi rasa canggungnya. "Besok jangan kesiangan, karena ada rapat pengesahan kerja sama proyek baru kita."Rendra tersenyum manis penuh kemenangan. "Siap, Ayah. Zia selalu mengurusku dengan baik. Dia sel
Begitu selesai mengantar Fariska sampai di rumah, Bastian langsung berbalik menuju mobil tanpa berniat masuk."Aku ada perlu sedikit, kamu tidur duluan saja," ucap Bastian singkat pada istrinya.Tanpa memedulikan pertanyaan dan raut bingung Fariska, Bastian langsung masuk ke dalam mobil dan memanggil beberapa bodyguard terpercayanya untuk ikut bergerak.Di dalam mobil, Bastian kembali membuka lipatan kertas kecil yang secara sembunyi-sembunyi diselipkan Zia ke tangannya saat di rumah sakit tadi.Ayah tolong aku.Hanya tulisan singkat itu. Namun, mengingat gelagat Zia yang begitu tertekan dan ketakutan di depan Rendra tadi, Bastian yakin putrinya sedang dalam bahaya besar. Ia tidak boleh kecolongan—ia tak akan membiarkan Zia menderita di tangan Rendra.Sesampainya di kediaman Rendra, Bastian memerintahkan sopirnya memarkirkan mobil sedikit jauh. Dengan gerakan sigap, Bastian bersama para bodyguard-nya menyusup masuk mengendap-endap melalui pintu samping yang tak terkunci, berniat memer
"M-maksud kamu ... baju yang mana?" tanya Zia terbata-bata.Rendra menelengkan wajahnya sedikit. "Memangnya yang mana lagi? yang kemarin aku bawa?"Zia menelan ludahnya susah payah. "T-tapi...""Zia, aku sedang tidak ingin marah padamu," potong Rendra dengan suara pelan namun menekan.Pria itu menghela napas panjang. Sejujurnya, jauh di dalam hatinya ada rasa kasihan saat melihat Zia harus melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat. Ia tahu betul betapa manjanya putri Aditama ini. Bahkan Zia sampai sakit saat pertama kali dipaksa melakukan pekerjaan kasar dulu."Kamu lebih memilih memakai baju itu... atau menguras kolam renang?" pancing Rendra.Mata Zia makin membelalak. "Menguras kolam renang?! Yang benar saja, Rendra! Kamu semakin keterlaluan. Aku ini istrimu!"Rendra bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mendekati Zia. "Nah, itu kamu sadar kalau kamu ini istriku. Jadi apa susahnya menggunakan pakaian itu? Aku cuma ingin melihat tubuh indah istriku."Tatapan mata Rendra menyapu







