LOGINEdwina mencintai pria yang tidak mencintainya. Abiyasa, suami dingin tanpa pelukan, tanpa kata manis hanya kewajiban yang tertulis di atas kertas, tapi Edwina tetap tinggal, menunggu, dan berharap. Akankah musim dingin di hati Abiyasa luluh oleh hangatnya cinta yang tulus? Karena kadang, cinta paling menyakitkan adalah cinta yang tak pernah diminta balasannya.
View More"Kau memang sahabat baikku, Vannia. Tapi jika soal cinta, aku tak bisa mundur begitu saja. Lagipula, suamimu lebih memilihku, bukan?"
Wanita gila! Itu umpatan yang hati Vannia keluarkan ketika mulutnya tak bisa berkata-kata karena rasa sakit yang menghujam hatinya. Bibirnya bergetar menahan tangis dan amarah. Sudah kepergok chatingan mesra dengan suaminya, Anya—sabahat terbaiknya—sama sekali tak menunjukkan raut merasa bersalah.
PRANG!
Anya sangat terkejut ketika Vannia mengempaskan ponsel miliknya ke lantai kafe dengan keras, membuat ponsel mahal itu terpental dan retak. Buru-buru Anya memungut ponsel itu dengan tampang kesalnya pada Vannia.
"Vannia!"
"Apa?!" tantang Vannia berani. Ia menunjuk wajah Anya dengan perasaan penuh rasa kecewa. "Jadi selama ini kau bermain di belakangku bersama suamiku? Kau bukan sahabatku, Anya. Kau iblis!"
"Ya. Aku memang iblis yang suamimu cintai. Haruskah aku berbangga diri menjadi seorang iblis sekarang?" Anya tertawa tanpa rasa bersalah.
"Sudah berapa jauh hubungan kalian?" tanya Vannia dengan nada dingin dan tatapan yang tajam.
"Sejak kau menantangku siapa yang menikah lebih dulu," sahut Anya santai. "Vannia, kau itu sahabat yang terlalu lugu bagiku. Kau pikir aku tak pernah iri dengan pencapaian yang kau peroleh sejak kita duduk di bangku sekolah? Kau bahkan sudah berkali-kali merebut pria yang aku cintai. Sudah cukup pria incaranku tertuju padamu. Sekarang, giliran suamimu yang harus bertekuk lutut di hadapanku," lanjutnya dengan percaya diri.
Anya tersenyum senang seraya membuka tas miliknya. Ia mengambil sebuah undangan yang bertuliskan namanya dan juga nama suami Vannia yaitu Renvier. Tangan bergetar Vannia menerima undangan itu dengan hati yang mencelos.
"Kami akan menikah secara tertutup di gedung pernikahan milik keluarga Renvier. Awalnya kau bukanlah tamu yang kami harapkan, tapi karena kau telah mengetahuinya ... maka datanglah. Kau selalu ingin melihat aku menikah, bukan? Aku sudah mengabulkannya."
Vannia menarik napasnya dalam-dalam. Ia mendelik ke arah Anya sambil berjalan perlahan menuju wanita itu. Bukannya takut, Anya malah berdiri dengan angkuh seakan-akan Vannia tak bisa melukainya sedikitpun.
"Silakan ambil suamiku. Tapi jangan berpikir kau akan mendapatkan kebahagiaan yang kau impikan, Anya. Lihatlah bagaimana sahabatmu yang lugu ini menjadi duri di setiap langkah yang kau ambil di samping suamiku!" tegas Vannia sebelum meninggalkan ruangan private kafe tersebut.
Vannia dengan derai air mata berjalan tanpa memedulikan orang-orang yang menatapnya keheranan. Vannia menuju parkiran, membuka mobilnya, dan masuk ke dalamnya. Tangisannya pecah di sana. Vannia memukul-mukul setir dengan perasaan yang teramat sakit melebihi apapun.
"A-apa kekuranganku sehingga kalian mengkhianatiku? Aku telah menjadi istri yang baik. Aku juga telah baik dengan sahabatku. Tapi mengapa mereka malah menyakitiku seperti ini? Aku telah meninggalkan semuanya demi cintaku padamu, Renvier. Tapi kau dengan mudah meninggalkanku dengan selingkuhanmu!"
Vannia segera menjalankan mobilnya meninggalkan kafe itu. Tekadnya untuk balas dendam semakin bulat. Vannia yang terkenal dengan kepribadian lembut dan mudah tersenyum, akan berubah menjadi Vannia yang kuat dan tak terkalahkan.
"Aku tak pernah rela cinta yang kurajut dengan sepenuh hati kau lukai begitu aja! Aku akan merelakan, tetapi tidak membiarkan kalian bahagia. Mari tetap hidup berdampingan dengan luka yang akan kita kecap bersama."
Pulang dari kafe, Vannia langsung disambut oleh tatapan sinis mertuanya juga iparnya. Biasanya Vannia akan buru-buru meminta maaf karena terlalu lama di luar, tetapi kali ini tidak. Vannia melewati mereka berdua di ruang tengah, Vannia hanya menyapa seadanya.
"Ibu, Berlina. Aku pulang. Aku masuk kamar dulu," sapa Vannia seadanya. Ia buru-buru ingin melangkah pergi. Namun, tiba-tiba punggungnya dilempar sebuah kipas tangan berwarna merah oleh iparnya. "Akhh!" ringisnya seraya menoleh ke arah pelaku.
Berlina, wanita yang lebih tua dua tahun dari Vannia itu bersedekap dengan tatapan meremehkan pada Vannia. Ia langkahkan kaki jenjangnya yang berbalut highhell putih itu menuju Vannia.
"Ada apa ini? Kau mulai berani mengacuhkan kami?" gertak iparnya itu.
Vannia mengembuskan napas pelan. Ia akan berusaha bersabar di hadapan Berlina. "Maafkan aku, Berlina. Tapi aku sedang dalam kondisi hati yang buruk. Aku ingin segera beristirahat dan melupakan semuanya."
Tiba-tiba Berlina tertawa dengan lantang. Bibir merah merona itu kemudian membentuk sebuah senyuman ke arah Vannia yang kebingungan. "Apa kau sudah mengetahuinya?"
"M-maksudmu apa, Berlina? Apa yang aku sudah ketahui?"
Berlina berjalan menuju meja ruang tengah, lalu mengambil sebuah undangan. Ia menunjukkan undangan itu pada Vannia.
"Kau pasti sudah melihat undangan ini dari calon menantu terbaik keluarga ini, bukan? Bagaimana? Bukankah aku dan ibu memilihkan jodoh yang baik untuk suamimu?" kata Berlina dengan tampang yang penuh kebanggaan.
Vannia menggeleng tak percaya. Ternyata perselingkuhan suaminya adalah bagian dari rencana licik mertua dan iparnya sendiri. Vannia tak percaya itu. Ini sudah sungguh sangat keterlaluan!
"Jadi kalian mengetahui semua ini? Bu, Berlina, selama ini aku menerima sikap buruk kalian terhadapku karena aku berusaha menerima kalian sebagai keluargaku juga. Tapi jika kalian berusaha menghadirkan orang ketiga dalam rumah tangga kami, aku tak akan pernah merelakan hal itu! Aku tak akan pernah memaafkan kalian!" cetus Vannia kembali berlinang air mata.
Dadanya kembali sesak oleh rasa sakit. Rasanya ia ingin berlari ke sandaran hidupnya. Tapi malangnya, sandaran hidupnyalah yang telah mengkhianatinya.
Mertua Vannia—Marisa—berjalan dengan tatapan angkuh mendekati menantunya yang tak pernah ia anggap. Marisa berdecih remeh menatap wajah air mata Vannia.
"Dengar, Vannia. Aku sudah menyuruhmu untuk meninggalkan putraku bahkan sebelum kalian menikah. Tapi apa yang kau lakukan? Kau menentangku dan tetap menikah dengan Renvier. Jadi sekarang, terimalah konsekuensi yang telah kau pilih. Renvier tetap akan menikah dengan Anya meskipun kau melarangnya atau Renvier sendiri yang menolak pernikahan itu!"
Vannia tak sanggup lagi berada di sana. Ia segera naik tangga untuk menuju kamarnya. Vannia membuka pintu dengan kasar. Ia mendapati Renvier yang duduk di sisi ranjang dengan kepala yang menunduk dan tangan bertautan ke depan.
"Renvier, sekarang kau jawab pertanyaanku dengan jujur. Apakah benar kau mencintai Anya dan akan menikahinya?"
Pria perawakan atletis dengan potongan rambut low fade itu pun akhirnya mendongkak dengan raut wajah yang serba salah. Awalnya Vannia berharap suaminya akan mengatakan tidak. Namun, ternyata ia salah menduga.
"Iya, Vannia. Aku mencintai Anya dan akan segera menikah dengannya."
"Tapi apa salahku hingga kau mengkhianatiku seperti ini, Reinvier?!" Vannia menangis sesegukan di hadapan pria itu hingga ia kesulitan untuk melanjutkan kata-katanya. "Aku rela meninggalkan semuanya untuk bisa bersamamu. Aku dengan sabar menahan semua tekanan yang ibu dan kakakmu berikan padaku. Tapi apa yang kau lakukan? Kau mengkhianati cintaku?"
Reinvier berdiri menghadap Vannia. Pria dengan perawakan tinggi itu menatap Vannia serba salah, tetapi ia juga tampak kesal secara bersamaan.
"Ini semua salahmu karena selalu membawa sahabatmu ke rumah ini atau saat kita pergi berdua. Jadi bukan salahku yang tertarik pada sahabatmu, bukan? Satu lagi, Vannia, aku tak akan menceraikanmu karena aku mencintai kalian berdua."
Hancur sudah perasaan Vannia. Wanita itu langsung terjatuh berlutut di hadapan Renvier dengan isak tangis yang menggema di ruang kamarnya. Renvier yang tak ingin melihat tangisan itu, memilih pergi dari kamar meninggalkan Vannia.
"Kau menusuk jantungku, Renvier. Kau jahat sekali," racau Vannia.
Setelah semua ini, apakah Vannia akan melakukan ancamannya terhadap Anya? Atau ia akan memilih mundur dari cinta tulusnya pada Renvier?
Beberapa hari setelah pameran itu, aku menerima pesan singkat dari sekretaris Abiyasa.Nona Edwina, Pak Abiyasa ingin mengatur pertemuan lanjutan di kantor Dirgantara Group besok pukul 10 pagi untuk membahas proyek heritage Bandung.Aku menatap layar ponsel lama sekali dan jantungku tiba-tiba berdetak begitu keras seakan tubuhku menolak sekaligus menantikan hal yang sama. Nama Abiyasa terasa begitu asing dan akrab di saat bersamaan seperti lagu lama, tapi diam-diam masih kuhafal setiap nadanya.Aku menatap jendela apartemenku yang sekarang mulai diterpa mentari pagi. Aku mengembuskan napas panjang, lalu membalas pesan itu dengan tangan bergetar.Baik. Saya akan datang.***Kantor Dirgantara Group berdiri megah dengan dinding kaca tinggi yang memantulkan cahaya matahari. Saat aku melangkah masuk ke lobi utama, aroma kopi dan kayu mahoni langsung memenuhi udara terasa hangat, berkelas, dan tenang seperti dulu.Asisten resepsionis mengantarkanku ke lantai atas dan ketika pintu lift terbu
Mataku terpejam, tapi napasku terasa berat. "Dia nggak ingat aku," bisikku dan suaraku nyaris tak terdengar.Cherry menatapku dengan tatapan lembut. "Iya, Winnie, tapi mungkin itu lebih baik untuk kalian berdua."Aku tidak menjawab hanya terdiam. "Benarkah itu yang terbaik untuk kami," pikirku.Aku mengira, aku sudah kehilangan semuanya, cinta, suami, masa lalu, tapi ternyata yang paling menyakitkan juga ketika orang itu masih hidup, tapi tidak lagi mengenalmu.Tiga tahun telah berlalu. Jakarta tidak seindah Paris, tapi aku mulai belajar untuk berdamai. Studio desainku berkembang dengan sangat pesat. Aku mulai menata hidupku seperti menata ruang dan kembali menyusun ulang kepingan yang berantakan, memberi jarak pada yang harus dilepaskan, dan menambahkan cahaya di tempat yang dulu gelap. Hingga suatu sore di bulan Mei, sebuah undangan datang melalui email.Jakarta Architectural Vision 2030. Kolaborasi Desain dan Properti Masa DepanAku diundang sebagai salah satu pembicara dan hampir
Ibuku masuk dan menggenggam tanganku, sesaat ibuku menoleh pada Mama Retha, tapi tidak mengatakan apa pun. Mama Retha keluar dari ruangan. "Sayang, semua sudah siap. Aruna sudah menunggumu." Aku menatapnya. "Iya, Bu," jawabku lirih berusaha terdengar yakin meskipun hatiku terasa sedih di setiap langkah. Aula pernikahan di Château Clairvoix berkilau oleh pantulan sinar matahari yang menembus jendela. Aruna berdiri di ujung lorong dengan tuxedo putih dan senyum yang menenangkan yang seharusnya bisa membuatku tenang. Aku melangkah perlahan, setiap langkahku terasa begitu berat seolah ada tangan tak terlihat yang menarikku kembali ke masa lalu ke dalam pelukan seseorang yang sekarang terbaring koma ribuan kilometer dari sini. Ketika Aruna menggenggam tanganku di depan altar, aku menatapnya dalam diam.Tatapan lembutnya membuat hatiku bergetar. Suara di sekitar aula tenggelam di antara gemuruh detak jantungku sendiri. "Apakah kamu, Edwina Laurent Ardiwijaya, bersedia menerima Aruna M
Aku terpaku di tempat. Mama Retha, wanita yang dulu dengan tegas menentang hubunganku dengan Abiyasa sekarang berdiri di hadapanku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Ruangan mendadak terasa sempit. Ibu dan aku saling berpandangan bingung, tapi sebelum ada yang sempat berbicara, Mama Retha melangkah maju."Bisakah kita bicara berdua, Winnie?" suaranya lembut, tapi tak bisa kutolak.Aku menelan ludah, lalu mengangguk pelan."Ibu, tolong beri kami waktu sebentar."Kami saling pandang, lalu ibu keluar tanpa bertanya. Begitu pintu tertutup, aku menarik napas panjang. "Kenapa Mama ada di sini?" tanyaku hati-hati berusaha menahan getar suaraku.Mama Retha menatapku lama sebelum menjawab, "Aku tahu kamu akan menikah dengan Aruna."Aku mengerutkan kening. "Dari mana Ibu tahu?""Dari Abiyasa," jawabnya perlahan. "Dia tahu dari unggahan dari temanmu, Cherry, di media sosial. Dari sanalah aku tahu dan aku memutuskan harus menemuimu sendiri di sini. Mama sengaja pergi ke Paris mencarimu."Aku han






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews