Share

Bab 64. Ingin Tahu

Author: Dwi Maula
last update Huling Na-update: 2025-08-30 22:48:15

“Assalamualaikum, ini kamu, Ngger?” Terdengar suara berat dari lelaki sepuh yang sangat Bagas kenal ketika ia menerima panggilan telepon.

“Waalaikumussalam! Iya, Bah. Ini saya, Bagas,” jawab Bagas cepat, melirik Nilna yang sedang meletakkan gelas ke atas meja.

“Alhamdulillah, bagaimana kabarmu dan Nduk Nilna, Ngger?” Abah Rasyid, ayah Bagas yang berada di seberang kembali bertanya.

“Alhamdulillah, kami baik-baik saja, Bah,” sambung Bagas. Kali ini, ia kembali duduk di sebelah Nilna.

“Begini, Ngger! Tadi malam ada yang baru sowan ke ndalem Abah. Sekeluarga. Ternyata, mereka adalah keluarga dari seorang wanita yang dulu ingin kamu nikahi!” papar Abah Rasyid. Nada suaranya terdengar berat dan serius, tetapi tidak bisa menyembunyikan keraguan di baliknya.

Saat mengetahui bahwa panggilan itu berasal dari sang ayah, Bagas sengaja mengaktifkan speaker, agar Nilna juga bisa mendengar suara dari Abah Rasyid. Namun, ada suatu hal yang Bagas dan Nilna rasakan. Mereka merasa jam dinding di sudu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 148. Melawan Perundungan

    “Wah, satu gadis melawan empat gadis! Ini sama sekali nggak imbang!” seru seorang mahasiswi yang mulai panik.“Siapa suruh Nilna jadi gadis yang sok berani? Biarkan saja dia menanggung akibat sendiri,” cibir mahasiswa lain.“Aku nggak tahu pihak mana yang benar, tapi jangan sampai mereka berkelahi di kelas ini.”“Nilna bukan gadis sok-sokan, tetapi dia memang sedang melawan perundungan. Apa yang harus kita lakukan? Apa kita ke ruang dosen untuk melapor?”Suara-suara asing mahasiswa yang tak benar-benar tahu saling menyahut, membuat keadaan di kelas semakin panas dengan persepsi masing-masing.“Ayo, lawan kami, Nilna!” bentak Tessa dengan angkuhnya, seraya memberi kode tiga anggota gengnya untuk mengepung Nilna.Sementara itu, Nilna mulai merasa kewalahan menghadapi geng di hadapannya. Wanita muda itu benar-benar merasa telah terpojok!“Kenapa, Nilna?! Wajah kamu jadi pucat begitu? Apa kamu takut?” bisik Tessa di telinga Nilna, seraya membelai pipi sang lawan dengan gerakan yang menjij

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 147. Perundungan

    Bab 148.“Hah! Apa yang sedang mereka bicarakan? Lirikan tajam mereka mengarah ke aku. Pasti mereka lagi menggosip yang nggak benar.” Nilna menggebrak meja, lalu segera berdiri menghampiri kerumunan mahasiswi dengan raut wajah tak terima.“Psst …. Diam, itu orangnya datang!” desis Tessa dengan cepat. Matanya melirik ke arah Nilna yang telah berada di dekatnya. Tessa adalah mahasiswi cantik yang terkenal dominan dan tak mau kalah di Universitas Al-Kautsar. “Mau apa kamu, Nilna?!” sungut Lana, yang sikapnya nyaris sama dengan Tessa. Gadis itu menatap tajam pada Nilna tanpa rasa khawatir. “Aku yang seharusnya tanya ke kalian!” balas Nilna lugas. Wanita muda itu telah tak tahan lagi dengan geng empat orang yang selalu mendominasi isi kelas dengan keangkuhan dan keributan.“Hei, apa maksud kamu?!” Anna ikut tersulut emosi. Gadis itu segera berdiri dan menempelkan tubuh pada Nilna.“Hah! Menjauh sana!” Nilna menepis bahu Anna. Dirinya tak sudi bersentuhan dengan Anna yang begitu manipulat

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 146. Lamaran

    “Baiklah kalau begitu.” Nilna mengatupkan bibir, menerima kenyataan yang terjadi dengan lapang. Meski begitu, otak calon ibu muda itu tak pernah berhenti. Ia masih tetap aktif menganalisis situasi, menyimpulkan, dan menyusun strategi ke depannya.“Hm.” Bagas tersenyum lega. Pria itu menepuk bahu istrinya sebagai bentuk penguatan.Acara lamaran pun telah usai, menciptakan nuansa bahagia yang tidak biasa. Ada beberapa celah mengganjal yang bisa semua orang pahami, tetapi mereka telah terbuai dengan pesona lembut dari Qaila. “Baiklah, semua berjalan dengan lancar. Hari pernikahan pun sudah ditentukan tanggalnya. Tinggal kalian berdua saja yang saling menguatkan, agar tetap dalam keadaan baik ketika hari pernikahan tiba.”Abah Rasyid menepuk bahu Ilham, seraya memberikan nasihat-nasihat kehidupan untuk kedua calon mempelai.“Untuk Saudari Qaila, sedikit banyak kita sudah menjalin hubungan baik selama hampir lima tahun. Pihak kami juga memahami tentang skandal perusahaan yang Anda perbuat

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 145. Membekas

    “Assalamualaikum.” Ilham mengucap salam, membuat seluruh tamu yang hadir sontak menoleh ke sumber suara. Pemuda itu tampak jenjang dengan balutan kemeja dan sarung sederhana. Ia berdiri di ambang pintu dengan kepala menunduk, memancarkan kesan seorang pria yang teduh dan penuh kelembutan.“Waalaikumussalam,” jawab semua tamu serempak.“Akhirnya, Kang Ilham hadir juga.” Abah Rasyid menghela napas.“Abah,” sapa Ilham. Pemuda itu berjalan membungkuk untuk menyalami sang kiai terlebih dulu. “Ya, ya. Bagus, bagus.” Abah Rasyid tampak semringah. Pria tua itu menepuk bahu santrinya pelan.Ilham beringsut mundur, lalu menyalami tamu sesama lelaki. Untuk tamu perempuan, pria itu hanya menangkupkan dua tangan di depan dada.Tak terkecuali pada Nilna. Ada suatu hal yang membuat pemuda itu merasa hilang napas selama satu detik. Tentang ulang tahun Nilna yang selalu diingatnya, kini harus benar-benar ia lupakan.‘Ning Nilna, kamu selalu cantik apa adanya. Itu yang membuat aku belum bisa melupakan

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 144. Mutlak

    “Nggak apa-apa, nggak apa-apa.” Nilna menggeleng dengan ekspresi panik.“Hm.” Bagas menghela napas. Lelaki itu tak lagi memperpanjang perdebatan.“Ya sudah, ayo masuk.” Bagas menggandeng tangan Nilna, menunjukkan kemesraan dan kepemilikan yang mutlak kepada semua orang.“Hah!” Nilna sedikit tersentak dengan gerakan Bagas yang frontal dan terburu-buru.“Silakan masuk, Gus Bagas, Ning Nilna.” Begitu selesai mengucap salam, seorang santri ndalem langsung menyambut kedatangan pasangan suami istri itu dengan hormat.“Terima kasih,” balas Bagas dengan suara yang datar. Di sebelahnya, Nilna agak keteteran karena harus mengikuti langkah sang suami yang cepat dan lebar.“Nah, itu dia. Mereka sudah datang.” Abah Rasyid tersenyum lebar di kursinya. Diikuti oleh warga pesantren lain yang turut menyorot ke arah depan.“Abah.” Bagas mempercepat jalannya. Pria itu melakukan sungkem terlebih dulu pada sang ayah.“Syukurlah, kalian berdua sudah tiba dengan selamat,” sambung Zidni yang juga turut hadir

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 143. Puas

    “Belum, Mas. Aku mau salat subuh dulu sebelum buka kotak birunya,” jawab Nilna sembari berjalan dan mendongak pada sang suami. “Istri kecil Mas yang pintar,” puji Bagas dengan senyum yang lebar, menepuk bahu Nilna dengan lembut.Nilna masih mendongak dengan senyum kecut yang terpampang nyata. Wanita belia itu tak suka dipanggil istri kecil.Begitu selesai salat berjamaah, keduanya duduk berhadapan di atas ranjang. Saling pandang dengan senyum penuh arti tanpa bersuara.“Ehm.” Bagas melipat tangan di dada dengan santai, serta memberi kode berupa gerakan mata.“Hehe.” Nilna tersenyum malu-malu, sementara kedua tangan perempuan itu memeluk kotak kejutan berwarna biru muda dengan erat.“Apa harus dibuka sekarang?” Nilna membolak-balikkan posisi kotak dengan ekspresi sayang. “Ya iya, dong.” Bagas mengusap wajah dengan ekspresi payah.“Kotak biru muda berhiaskan pita pink yang menjuntai, begitu cantik dan menggemaskan. Sayang sekali jika harus dibuka. Itu artinya, aku harus merusak kecant

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status