Home / Male Adult / Swing Partner / BAB 29 – MAFIOSO STYLE

Share

BAB 29 – MAFIOSO STYLE

Author: Ough See Usi
last update publish date: 2026-06-14 16:15:40

Sekuriti hotel berlari tergopoh mendekati mereka.

“Ma’af, ada keributan apa ini?”

“Stalker,” dia menunjukkan gawai milik penguntit lalu menunjuk wajah si penguntit.

Petugas itu menghubungi pemimpinnya melalui handy talky-nya.

Orion meminta gawai milik penguntit pada anak buahnya. Orion, dirinya , Lintang dan Mr. Binochi menonton rekaman video yang d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Swing Partner   BAB 37 – BANGKAI YANG TERCIUM AROMANYA

    Menjelang sore, semua kegiatannya memeriksa kafe miliknya di beberapa daerah elit Jakarta selesai. Hanya beberapa tempat yang memberi keuntungan. Beberapa tempat impas antara pemasukan dan pengeluarannya. Dan banyak yang sepi dari pengunjung.Bagi dia dan suami, tempat-tempat miliknya yang sepi dari pengunjung bukanlah kerugian. Toh mekanismenya, mereka mendapatkan untung dari mengelola tempat usaha yang seolah adalah milik mereka. Padahal, semua operasional ada yang membiayainya. Tempat yang sepi dan jauh dari keuntungan tetap terlihat keren, bersinar dan berkelas karena ada transaksi yang tak terlihat di permukaan. Transaksi besar. Permainan kakap dan kelas tinggi yang tidak semua orang bisa melihatnya. Uang bernilai milyaran berputar di tempat-tempat yagn terlihat sepi pengunjung itu. Arus cash flow-nya cepat hingga tak terlacak siapapun.Dan dirinya sebagai pengelola, mendapatkan fee 2% dari seti

  • Swing Partner   BAB 36 – MALL SIANG ITU

    Nyonya Ratna baru saja keluar dari kafe miliknya. Kafe dengan konsep keluarga yang berada di kawasan mall modern di Jakarta Selatan. Di kafe milik ini, perputaran uang lumayan menggairahkan daripada di kafe miliknya di tempat lain.Dia baru saja memeriksa laporan keuangan mingguan di sana. Semua berjalan lancar. Semua terlihat memuaskan. Semuanya terasa lancar kecuali tadi saat suaminya memberitahu bahwa orang yang diutus untuk menguntit menantunya tidak bisa dihubungi dan belum memberi laporan.Geram. Kenapa yang berhubungan dengan menantunya itu selalu menjadi berantakan urusannya? Sebelum nama belakang menantunya terkuak sebagai “Herlambang yang itu” urusan dengan menantunya selalu lancar dan baik-baik saja. Bahkan saat dia meminta liburan ke Pattaya pun tanpa banyak bicara, menantunya memberi tiket dan akomodasi plus uang saku selama seminggu di sana bersama suaminya.Menantunya yang ia nilai kaya

  • Swing Partner   BAB 35 – DEEP TALK

    Perjalanan menuju makam di mobil Orion sunyi. Orion membiarkan dirinya hanyut dalam pikirannya sendiri. Memberinya waktu untuk merenung dan berpikir. Memberinya kesempatan untuk membenahi pikirannya tanpa membebani dengan aneka obrolan yang dipaksakan harus ada demi sopan santun.Dia terdiam. Kedua tangannya saling meremat di atas pangkuannya. Sementara Orion sesekali melirik ke arahnya.Mobilnya yang dikemudikan Lintang berada di depan mereka. Sementara mobil paling depan adalah mobil pengawalnya sebagai pembuka dan pemandu jalan, sementara mobil paling belakang adalah mobil pengawal Orion.Pak Darwis tidak berada di rombongan mereka. Dia harus berada di Prisma Glass karena dipanggil oleh Om Tara.Siang itu cuaca cerah. Langitnya begitu biru begitu mereka memasuki areal pemakaman.“Sudah?” suara berat Orion membuatnya tersentak.

  • Swing Partner   BAB 34 – TERUS MEMBAYANG

    “Maharani?” suara Orion terdengar berat tetapi menenangkan.“Ya?” dia yang berjalan di sampingnya menoleh.“Kau sudah tidak apa-apa? Kau sudah baik-baik saja?” Orion meneliti matanya.“Aku… sepertinya begitu,” dia mengangguk, mencoba tersenyum dengan canggung.Pak Darwis dan Mr. Binochi mengikuti dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Seakan memberi privacy time kepada mereka berdua.Orion Petralis dan dirinya menuruni tangga. Orion bertindak sangat menjaganya.“Aku senang kau sudah baik-baik saja. Kau membuat kami semua cemas. Ma’afkan aku karena membuat kita semua berhenti di depan pintu kamar itu. Aku lupa…,” Orion Petralis mengusap tengkuknya.Begitu tangannya menyentuh susuran tangga yang melengkung, suara Orion lenyap. Kenangan malam itu datang kembali. Kali ini lebih tajam.&nbs

  • Swing Partner   BAB 33 – FEELS LIKE HOME

    “Bukan begitu… Ini tidak seperti itu…,” gugup.“Ini tidak seperti itu?” alis Orion terangkat sebelah.“Maksudku, ini tidak seperti yang kau bayangkan…,” matanya mengerjap lagi.“Jadi… kau tahu apa yang sedang kubayangkan? Memangnya apa yang sedang kubayangkan?” suara Orion terdengar rendah dan berat.Dahinya berkerut. Bingung hendak menjawab apa. Karena setiap ia menjawab pertanyaan Orion, jawabannya akan dilemparkan lagi kepadanya dalam bentuk pertanyaan yang mendesak.“Well?” Orion lagi-lagi mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban.“Mana kutahu apa yang sedang kau bayangkan, Mr. Petralis,” akhirnya dirinya gusar karena terus didesak pertanyaan yang membuatnya semakin bingung.Tanpa sadar, dia mendorong dada Orion untuk menjauh. Tetapi kedua tangannya masih berada dalam genggaman Orion.Orion menyentak pelan cekalan tangannya. Dia yang sudah mundur setengah langkah mendadak maju karena sentakan pada tangannya. Kedua alisnya terangkat dengan wajah mendengak menatap wajah bertubuh

  • Swing Partner   BAB 32 – PERINGATAN YANG TAK DIDENGAR DENGAN BAIK

    Mereka semua sampai di kamar utama. Pelayan membersihkan kamar ini dengan baik. Tidak ada debu, jendela besar juga dibuka untuk menukar hawa selama AC tidak dinyalakan. Balkon yang menghadap kolam renang di bawahnya juga terlihat rapi dengan tanaman-tanaman sukulen juga pakis yang terawat dengan baik. “Kamar kalian menarik,” mata Orion menatap sekelilingnya.“Yang mana, Mbak?” Lintang terlihat kebingungan.“Dinding yang itu. Tekan dan geser. Itu walk in closet-nya Aldi. Terhubung dengan area toilet,” dia menjelaskan.“Wow, dinding ini ternyata pintu rahasia?” Lintang tertawa. Tawanya kemudian berhenti saat lampu di dalam menyala otomatis begitu pintu terbuka.“Ini serius, Mbak? Ini sih sudah seperti butik yang dipindah ke dalam kamar,” Lintang melangkah ke dalam, “Apa ini tidak berlebihan, Mbak?”“Seleranya dia seperti itu. Mana mau dia memakai baju yang bukan brand yang ada di majalah mode?”

  • Swing Partner   BAB 18 – MENGUAK MASA LALU

    “Apa yang dikatakan Papa dan Mamamu saat kamu menanyakan siapa yang membunuh mereka?” tanya Om Pram.Dirinya menggeleng.“Kata Papa, urusan Papa dan Mama di dunia sudah selesai. Kita yang harus menyelesaikannya…” matanya menatap pada satu titik di tembok berwarna krem pucat

  • Swing Partner   BAB 17 – HYPNOTHERAPHY

    Ruangan hening. Proses hipnotis tengah berlangsung. Semua menatap Maharani Herlambang yang tengah terpejam dengan posisi setengah duduk yang nyaman di atas bed pasiennya. Dokter Sita memastikan alat perekamnya menyala sebelum masuk ke posisi tanya jawabnya. Keluarga

  • Swing Partner   BAB 16 – MEMBANTU PULIH TAPI TAK TERPILIH

    Om Tara dan Om Pram tiba hampir bersamaan. Kak Ishaak datang dengan membawa amplop cokelat. Kak Abdi datang paling akhir bersama Anggita. “Bagaimana bisa mereka dengan tidak tahu malu berbicara seperti itu kepada Rani?” Om Pram terlihat sangat gusar.“Dokter Fa

  • Swing Partner   BAB 15 – TAMU BEZUK

    Suara  tawa di ruang rawat inap kelas VVIP itu terdengar hingga keluar ruangan. Wajah-wajah lega dari semua yang ada di ruangan itu. Lega, karena dirinya sudah sepenuhnya sadar. Lega, karena dirinya tidak mengalami amnesia seperti yang dikhawatirkan. Ventilatornya sudah d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status