LOGINTujuh hari Melisa hilang, dan beberapa hari kemudian ia datang membawa banyak pertanyaan dalam benak Alina. Pasalnya, Adik tirinya itu menjadi aneh. Kecurigaannya semakin kuat saat Alina mendatangi rumah Dipta, ia melihat tulang yang mencuat dari balik gundukan di belakang rumahnya. Gundukan itulah yang akan menuntun Alina pada kenyataan yang membuat hidupnya tak lagi sama ....
View MoreEden
The cab rolled to a stop at the end of the gated driveway, and I stared up at the monstrosity in front of me, all marble, glass, and cold, modern grandeur. Home sweet home.
Before I could even step out fully, my mother, Lillian, pulled me into a suffocating hug. Her perfume, something heavy and floral, clung to my skin. "Welcome home, baby," she cooed, her manicured fingers brushing my hair back like I was still a kid.
The mansion screamed money. High ceilings, floors so polished I could see my reflection, and abstract art that probably cost more than my entire college fund. I dropped my bag onto the white leather sofa, already feeling out of place.
"So," I said, glancing around, "where's your new husband?"
She adjusted a vase that was already perfectly centered on the table. "Daniel’s at work, darling. But he’s very excited to meet you." The way she lingered on "very" made my skin prickle.
She gestured for me to follow. "Come, let me show you around."
We moved through the mansion. The kitchen was vast enough for a restaurant staff, with a dining room set for twenty and a sunroom drowning in orchids. She introduced me to the cook, an older woman with a no-nonsense grip; the gardener, who barely looked up from his shears; and the two drivers idling near the garage.
"Daniel decided to drive himself today," Lillian said with a flick of her wrist.
As we turned down a hallway lined with minimalist portraits, one frame caught my eye, a younger man, dark-haired, with eyes as sharp as a blade. He looked older than me and also looked like a playboy.
"Who’s this?" I asked.
Mom barely glanced at it. "Daniel’s son. He’s hardly home, always working." Her tone was dismissive, her fingers already tugging me toward the grand staircase.My room was at the end of the west wing, all silk sheets and a balcony overlooking the pool. "Settle in," she said, though my bag was still downstairs.
Once alone, I stripped off the day’s travel clothes and stepped into the shower, letting hot water sluice over my skin. I took my time, working scented oil into my curves, shaving where it mattered. When I stepped out, steam curling around me, I caught my reflection in the fogged mirror, flushed, damp, and ready for something reckless.
I dressed carefully, in a tight black dress that clung to every dip and swell and heels that made my legs look endless. Then the final touch, a thin leather choker, with the words "Yes Daddy" stamped in silver across the front. A smirk tugged at my lips as I fastened it.
I walked out of my room and headed downstairs; before I could even see her, my mom spoke.
"Oh, I thought you might have dozed off; dinner is ready."
I smiled at her; my mom and I aren't close, but she tries her best to make me happy. After my father ran away when she was pregnant, she has been trying, even though most of my life I've been with different foster parents. We have been in touch; I've always known she was my mom, and she would send me money when she got a chance.
Then last month she told me she got married to this rich man who is so excited to meet me and wants us to stay as a family. I am happy for her. At least I am no longer with any foster parents; I've been staying on my own for some time now. And besides, I'm done with college and ready to look for new job instead of restaurants jobs.
Dinner was obscenely good, seared scallops, truffle risotto, and wine that cost more than my last paycheck. Lillian watched me eat with a satisfied smile, her fingers drumming against her glass. "Hungry, darling?"
"Starving," I murmured, sucking butter from my thumb.
We ate in silence, well, she has been married to her husband, whom I haven't met for 4 months now. I finished my meal and I knew I couldn't be in this house, I need to go out.
"I'm gonna get some air."
Lillian didn't argue, just tossed me the keys to her BMW like it was nothing. "Don’t stay out too late. make friends!" I smiled and left.
I drove with the windows down, the city lights fading behind me as I followed the whispered rumors of The Velvet Room, a club where the elite didn’t just play; they hunted. The line outside stretched down the block, all hopeful faces and desperate smiles. I didn’t wait. A flick of my gaze at the bouncer, a slow roll of my hips as I walked past the rope, and just like that, I was in.
The bass throbbed through me, deep enough to feel it in my ribs. The air smelled like expensive whiskey and darker things, the kind of sin that came with power. Men in tailored suits watched from the shadows. Time to see just how much trouble I could find.
The club pulsed around me, bodies moving in a rhythm that felt more like a challenge than an invitation. I slid onto a stool at the bar, ordered something strong, and let my eyes wander.
A hand settled on the small of my back, warm and possessive. "You don’t look like you belong here."
I turned, meeting the gaze of a man whose suit probably cost more than my car. Dark hair, sharp jaw, eyes that promised things I wasn’t sure I wanted. Yet.
"Funny," I said, sipping my drink, "I was just thinking the same about you."
His thumb stroked my spine, slowly. "Is that so?"
The music faded into a low hum as he leaned in, his breath hot against my ear. "Let me show you what happens to girls who wander into places like this."
I shivered, but not from fear.
Lillian’s warning echoed in my head. "Don’t stay out too late."
Too fucking bad, Mother!
Baku tembak antara pengawal yang dibawa oleh Rose dengan sekawanan orang memakai jas tak terelakkan. Clara sudah bersimbah darah karena kepala Rose yang tertembak terus menerus mengucurkan darah. Clara hanya memejamkan mata, mencoba menerima jika ia akan dijemput oleh ajal saat itu juga. Tubuhnya gemetar hebat. Malaikat maut seakan mengintai hendak mencabut nyawa siapa pun yang ada di sana. Desing peluru telah berhenti. Clara masih memejamkan mata dan mulai berpikir, kali ini ia akan menjadi tawanan oleh orang berbeda. Tangan dan kakinya terbebas, Clara membuka mata dan mendapati sepasang mata yang ia kenali memindahkan jasad Rose. Lantai kayu ini berubah berwarna merah dan berbau anyir. Semua pengawal Rose telah kalah telak oleh anak buah Dipta. ”Kita mau ke mana?” Dipta terus saja menarik tangan Clara setelah ke luar dari rumah itu. Dipta menarik tangan Clara memasuki hutan yang masih lebat. Riko dan Panji membabat habis pohon yang menghalangi jalan dengan parang.”Kita ambil tu
Dunia benar - benar berjalan seperti apa yang diharapkan untuk penjahat besar. Mereka bahkan bisa mempermainkan seseorang seperti bidak catur yang digerakkan maju, atau mundur. Alina masih saja meringkuk, menatap kotak berisi jari mungil manusia yang ia perkirakan, adalah jemari beberapa bayi atau anak-anak.”Nyokap Erika udah pergi?” ujarnya bermonolog.Alina menyelinap diam-diam, sembari mengingat ucapan Erika tentang patung dan buku kuno yang ada di perpustakaan. Alina ingin mengetahui perihal ini. Ia ingin memperjelas, jika orang tua Erika tidak terlibat soal ini. Tangga ini meliuk seperti ular kobra yang menganga. Tidak tidur membuat otak Alina berhalusinasi. Rumah bercahaya temaram, dan beberapa ruangan tidak dinyalakan, membuat Alina merasa menggigil.”Tolong kami ....””Siapa itu?” Suara bisikan saat Alina sampai di tangga terakhir ia dengar. Suaranya serak, dan bergetar. Menoleh ke sana ke mari, tidak ada apa-apa. Meyakinkan diri, jika salah dengar, Alina kembali menapaki la
Kengerian yang dirasakan oleh Clara membuat sekujur tubuhnya terasa dingin. Dingin yang dirasakan tubuhnya bukan perihal pakaian yang telah ditanggalkan, tetapi perasaan takut yang kini hinggap ketika melihat wajah Melisa begitu ayu dalam balutan jasad yang masih hidup. Beruntung tali yang mengikatnya terlepas secara ajaib. Baju yang berserakan Clara punguti sebelum gadis berwajah sama persis dengan Melisa menyadari ia telah pergi. Clara bertelanjang kaki, bersahabat dengan kerikil dingin yang semakin menusuk. Ia sudah terbebas dari bangunan setengah jadi itu. Dikejauhan, terdengar olehnya teriakan dari gedung tinggi itu. Clara semakin mempercepat langkah.Brug!Baru saja menginjakkan kaki di jalan besar, sebuah mobil mengkilap hampir menabraknya. Clara tergelincir, bajunya yang sudah compang camping itu tidak bisa menahan p4ntatnya mendarat ke aspal. Clara mengaduh, dan mendengar mesin berhenti. ”Rose ....”Seorang wanita berwajah bule berdiri di hadapannya, mengernyit. Mungkin wan
Kepala ketiga wanita ini terasa ringan, bahkan tubuhnya merasa melayang. Sejak pocong berukuran besar itu menyuarakan mantera, asap keabuan seakan menyelimuti rumah ini hingga ketiga wanita itu pun tak sadarkan diri. Derak langkah segerombolan orang merangsek masuk, tak mengindahkan wajah-wajah seram yang masih berdiri di kiri kanan. Segerombolan orang itu tetap memanggul satu per satu tubuh si wanita.Gadis cantik berjubah merah turun dari mobil, membunyikan lonceng, membuat para wajah seram itu kembali ke tempat pengap di sana. Gadis ini hanya menampilkan ekspresi datar memandangi para lelaki tengah saling bahu membahu membawa ketiga wanita. Ini sudah hampir subuh. Segerombolan orang-orang ini seakan tidak merasakan kantuk. Mereka menyalakan obor untuk menerangi ruangan di lantai empat. Tidak ada satu pun kendaraan yang akan lewat pada area ini. Orang-orang ini bekerja tanpa suara, seolah sudah di luar kepala apa saja yang hendak dilakukan.”Alina?”Wajah Alina masih saja diam kare
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews