로그인"Dasar jalang!" Nadine berteriak murka. Tanpa peringatan, ia mendorong bahuku dengan tenaga yang meluap hingga tubuhku limbung ke belakang.
"Hah!" Aku terpekik, memejamkan mata saat gravitasi hampir merenggut keseimbanganku.Namun, sebelum punggungku menghantam lantai, sepasang lengan kokoh menangkapku dengan sigap. Nikolai mendekap pinggangku, menyangga tubuhku hingga aku kembali berdiri tegak."Kau tidak apa-apa?" bisiknya, suaranya yang berat dipenuhi nada khawatAku seketika tersenyum simpul, wajahku terasa memanas karena malu yang membuncah. Sembari menggigit bibir bawah, aku mengangguk pelan—memberikan izin yang selama ini ia nantikan.Tak menunggu lama, Nikolai langsung menindihku. Ia menghujani leherku dengan ciuman lembut yang menenangkan, sangat kontras dengan sikap kasarnya kemarin. Kali ini, setiap sentuhannya terasa sarat akan cinta dan hasrat yang tulus, bukan sekadar pelampiasan amarah."Mmhhh... Nikol..." desahku lirih begitu bibirnya mulai bergerak turun, menyesap kulit di daerah dadaku.Ia mulai menghisap putingku yang mencuat tegang, sesekali lidahnya menari liar di ujung puncak kembaranku. Sementara itu, jemarinya yang berurat tak mau diam. Ia menelusuri daerah sensitifku di bawah sana yang sudah mulai membasah, seolah-olah pusat kewanitaanku sudah tidak sabar untuk ditembus.Dengan permainan lidah yang ahli, ia menjilati seluruh inci tubuhku hingga akhirnya m
Nikolai memainkan jemarinya di wajahku, membelai garis pipiku dengan gerakan yang nyaris memuja. "Kau memang sudah memilihku, Eli. Tapi aku merasa belum bisa menguasai hatimu sepenuhnya."Aku terdiam, membiarkan kalimatnya menggantung di udara yang dingin. Ada nada ketidakamanan yang terselip di balik suara beratnya."Kau terlalu polos," bisiknya dengan tatapan yang mendadak melembut, namun menyimpan peringatan. "Hatimu yang terlalu rapuh itu mudah sekali ditipu oleh pria bermuka dua seperti Adrian."Rasa kesal seketika menyengat dadaku. Secara tidak langsung, dia sedang mengatakan bahwa dia tidak bisa sepenuhnya mempercayai penilaianku. Aku menggenggam tangannya, menyingkirkan jemari itu dari wajahku dengan gerakan tegas."Nikol... dengan memilihmu, aku sudah menghancurkan hati Adrian. Aku sudah melukai perasaannya terlalu dalam," napasku tercekat sejenak karena emosi yang tiba-tiba menggebu. "Aku hanya tidak ingin menyakitiny
Tubuhku seketika lemas tak bertulang. Tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menentang kehendak mutlak Nikolai. Aku hanya bisa membuang muka, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai menetes membasahi pipi. "Aku harap, tidak ada lagi di antara kalian yang berani mempermasalahkan hubungan kami," ucap Nikolai dengan nada suara yang menghunus tajam. Para staf klinik masih bergumam lirih. Beberapa di antaranya mencuri pandang, menatap Nikolai yang merangkulku dengan begitu posesif, seolah sedang memamerkan barang rampasan perang yang paling berharga. "Aku juga tidak suka mendengar mulut kalian menggunjingkan kami di belakang. Jika ada yang ingin kalian ketahui, silakan tanya langsung pada kami sekarang!" gertak Nikolai, suaranya menggelegar dan mematikan. Seketika, ruangan itu senyap. Para staf menunduk dalam-dalam, jemari mereka mendadak sibuk dengan pekerjaan masing-masing demi menghindari tatapan intimidasi Nikolai.
Jantungku mencelos ke dasar perut. Aku terpaku dengan paru-paru yang terasa lumpuh, seolah oksigen di ruangan ini baru saja diisap habis.Di bawah kaki kami, Karra terus bersujud sembari menangis histeris. Suaranya melengking memenuhi ruangan, penuh dengan penyesalan yang terlambat. "Tidak, Bos! Tolong beri aku kesempatan! Aku akan melakukan apa pun, aku akan menjadi budakmu, tolong jangan lakukan itu!"Nikolai tak bergeming sedikit pun. Ia tetap menatapku tajam dengan manik mata yang sedingin es, seolah sedang menuntutku untuk menyaksikan dengan kepala tegak setiap tetes darah yang tumpah akibat kesalahan yang melibatkan namaku."Bawa dia pergi," perintahnya datar. Nada suaranya yang tanpa emosi justru terdengar jauh lebih mematikan daripada teriakan amarah."Bos, maafkan aku! Bos!" Karra berteriak putus asa saat Levin mulai menyeret tubuhnya dengan kasar.Tepat saat Levin menariknya melewati posisiku, Karra merangkak dan
Aku refleks melepaskan genggaman tanganku dari Adrian. Dengan tubuh yang gemetar hebat, aku menghampiri Nikolai, mencoba meredam badai yang kulihat di matanya."N-nikol... tadi aku—"Belum sempat kata-kata itu tuntas, Nikolai menyambar pergelangan tanganku dengan kasar dan menyeretku keluar dari ruangan Adrian."Nikol... lepaskan. Orang-orang melihat kita!" pintaku sembari terhuyung-huyung mengikuti langkah lebarnya yang tak kenal ampun.Nikolai tak bergeming. Ia terus menyeretku melewati lorong klinik, mengabaikan tatapan sinis dan bisik-bisik rekan sejawatku yang seolah mendapatkan konfirmasi atas skandal yang sedang panas. Sikap posesifnya saat ini justru menjadi bumerang yang menghancurkan sisa harga diriku."Nikol, jika kau begini, mereka akan semakin yakin berita itu benar!" Aku berusaha menyentak tanganku, namun cengkeramannya yang penuh amarah justru semakin mengunci.Ia baru melepaskan kunciannya begitu kami sa
"Sepertinya kau akan menjadi terkenal." Entah sejak kapan, Karra tiba-tiba berdiri di sampingku dengan tatapan intimidasi."Apa maksudmu?" tanyaku dengan suara bergetar.Karra duduk di mejaku dengan pandangan fokus ke arah leher. "Kalung yang kau kenakan... sama persis dengan berita di media itu."Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil mengangkat ujung alisnya. "Kau... wanita dalam berita itu, kan?"Reflek aku berdiri, tubuhku menegang menghadapnya. "Kau pikir cuma aku yang sanggup beli kalung pasaran ini?!" desisku dingin dengan jemari terkepal.Karra tertawa singkat sambil membuang muka sebelum kembali menatapku dingin. "Kalung yang kau kenakan ini tidak dijual di pasaran," ucapnya sambil menyentuh kalungku.Ia mencondongkan kepalanya ke dekat telingaku, lalu berbisik, "Sudah jelas... kau adalah wanita itu, kan?"Ia melempar senyum remeh sebelum pergi, meninggalkan bisikan ancaman yang merayang hingga ke tulang.







