Mag-log in"Dasar jalang!" Nadine berteriak murka. Tanpa peringatan, ia mendorong bahuku dengan tenaga yang meluap hingga tubuhku limbung ke belakang.
"Hah!" Aku terpekik, memejamkan mata saat gravitasi hampir merenggut keseimbanganku.Namun, sebelum punggungku menghantam lantai, sepasang lengan kokoh menangkapku dengan sigap. Nikolai mendekap pinggangku, menyangga tubuhku hingga aku kembali berdiri tegak."Kau tidak apa-apa?" bisiknya, suaranya yang berat dipenuhi nada khawat"Jangan pernah memikirkan pria lain, Elianore. Bahkan sekadar menyebut namanya saja, aku haramkan itu!"Kalimat protektif itu mendesis berbahaya dari sela rahangnya yang mengencang. Nikolai terus menyodok pinggulnya dengan penuh gairah yang menggelap, menghujamiku tanpa ampun seolah hal itu mampu membuang jauh-jauh segala sisa kecemburuan yang membakar hatinya sejak tadi."Aaahh... Aku tidak pernah memikirkan pria lain, Nikol..." sahutku dengan suara bergetar tak beraturan akibat menahan sodokan pinggulnya yang begitu agresif di bawah sini. Sentuhannya terasa begitu masif, menguasai seluruh akal sehatku."Dalam hidupku... hanya namamu yang bersarang di otakku. Aaaahhh..." Aku menggigit bibir bawahku dengan erat, mencoba menahan luapan nikmat yang teramat pekat sambil kedua tanganku meremas dadaku sendiri, meratapi sensasi yang kian tak terkendali.Sementara itu, mataku merem-melek pasrah, menatap lurus pada siluet tubuh kekar Nikolai yang dipenuhi
"Tidak..." sahutku spontan sebelum akhirnya terdiam untuk berpikir, menyadari kalau kalimatku barusan mungkin terdengar keliru di telinganya. "Tapi tentu saja aku akan bekerja lagi dengan Adrian. Dia kan juga dokter di sana..."Nikolai tak merespon. Seluruh tubuhnya membeku seketika, sementara sepasang mata elangnya terus menatapku tajam, mengunci pergerakanku dengan aura intimidasi yang mendadak pekat."Jadi aku tidak boleh bekerja lagi?!" hardiku berusaha menggertak, mencoba menutupi rasa gugup yang mulai merayap di dada. Aku mendorong piring sandwich ke arahnya dengan sentakan kasar. "Aku tidak mau makan!" lalu melipat kedua tangan di dada sambil mendengus, membuang pandangan ke arah lain. "Seharusnya aku tidak buru-buru menikah kalau hanya untuk jadi tawanan!"Suasana sunyi. Nikolai tetap saja tidak merespon kemarahanku, membuat keheningan di antara kami terasa kian mencekam. Aku diam-diam melirik padanya dari sudut mata, dan saat i
Aku tersenyum canggung sambil menggigit ujung kuku, menatap punggung tegapnya dengan binar geli.Sementara di depanku, Nikolai sibuk melanjutkan kegiatannya meracik roti sandwich dengan gerakan yang sedikit dihentak, mengekspresikan kekesalannya karena momen intim kami baru saja terganggu."Kau tidak perlu kesal, Nikol. Kita... bisa mengulangi adegan semalam setelah sarapan," godaku dengan suara manja, sengaja menaikkan sebelah alisku untuk memancing reaksinya."Cih!" ejeknya meremehkan sambil terus telaten menata isian sandwich ke atas piring. "Kau pikir aku masih ingin melakukan itu?"Mendengar jawabannya yang terkesan tak acuh itu membuatku spontan mencelos karena kesal. Bibirku mengerucut, tidak menyangka ia akan menolak mentah-mentah tawaranku."Awas saja kalau nanti kau menarikku dengan paksa," gumamku lirih sambil melipat kedua tangan di dada, membuang muka ke arah jendela dengan pura-pura merajuk.Nikolai terkekeh kecil,
Nikolai tertawa singkat dengan raut wajah shock yang bercampur geli melihat kekacauan di hadapannya. Tanpa membuang waktu, gerakan tangannya yang cepat segera meraih gagang pan gosong di atas kompor, lalu melemparnya ke lantai untuk menjauhkannya dari sumber api.Preng!Suara logam yang berbenturan keras pada lantai mamer menggema di seluruh sudut dapur, membuatku spontan menutup kedua telinga karena kaget. Bahuku sedikit mencelos akibat bunyinya yang mengejutkan.Dengan ketenangan yang luar biasa, ia kemudian meletakkan pan baru di atas kompor dengan gerakan kasar namun terukur. Ia kemudian menuang sedikit butter dengan gaya layaknya seorang koki profesional yang sedang beraksi di restoran berbintang.Sialan! Kenapa sepertinya Nikolai jauh lebih jago dalam urusan ini daripada aku?Aku melipat kedua tangan di dada, bersedekap sambil memperhatikan setiap gerakannya yang teramat cekatan dengan dahi berkerut sebal. "Cih! Hanya begi
"Ssttt... kau berhati-hatilah bicara. Bagaimana kalau Elianore mendengar.""Bukankah... dia sudah masuk ke dalam?""Sudah, diam! Istri Bos itu wanita yang pintar. Jika dia tahu Nadine akan bebas, entah apa yang akan dilakukannya."Aku tersenyum miring menatap kosong ke sudut ruangan. Jemariku mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih.Nadine... jika benar kau bebas, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang dengan begitu mudah.Aku melangkah pelan untuk kembali ke dapur dengan otak yang masih terus berputar liar.Levin. Aku harus bisa menghubunginya.Hanya dia satu-satunya anak buah Nikolai yang bertugas di kepolisian. Lewat informasi darinya, aku bisa mencari tahu apakah kabar yang dibicarakan anak buah Nikolai tadi valid atau sekadar gosip?"Hufh!" Aku membuang napas berat bersama dengan lantunan perut yang semakin keroncongan dan k
Malam ini, Nikolai benar-benar membunuh segala lara yang sempat bersarang dalam dadaku lewat sentuhannya yang memabukkan.Untuk kali kedua setelah sekian lama terjebak duka, ia kembali memberiku kepuasan di atas ranjang yang panas. Ia memacu gairah kami hingga ke puncak tertinggi dan menyemburkan sel spermanya ke dalam diriku dengan penuh cinta dan gairah yang membara."Ooouuhh... Elianore..." desahnya panjang dengan suara bariton yang serak.Ia menyodok penuh kejantannya ke dalam rahimku, memberikan hantaman pamungkas yang mengunci penyatuan kami."Aaahh... Nikol..." teriakan nikmat terus-menerus lolos begitu saja dari bibirku yang terbuka saat tubuh kekar Nikolai menindihku di atas sana.Kami mengalami pelepasan berkali-kali secara bergantian, hanyut dalam badai kenikmatan hingga akhirnya tubuh kami terjatuh lemas berdampingan di atas kasur yang kini berantakan. 
"Yeah... teruslah berteriak, Eli. Kau terlihat sangat cantik dari sini. Ooohhh... yeahh..."Tangan berototnya kini telah basah berkeringat karena gairah yang memuncak, namun ia masih terus bersemangat menarik-turunkan pinggulku dengan ritme yang konstan, memaksa tubuhku bertubrukan secar
Nikolai perlahan mendekatkan wajahnya yang rupawan, mengikis jarak yang tersisa di antara kami, lalu mencumbu bibirku dengan hangat dan penuh kelembutan yang memabukkan. Sentuhannya seolah menghapus sisa-sisa ketegangan yang sempat menggantung di udara. Ia kemudian menggendongku dengan
Nikolai mengendalikan setir mobil dengan satu tangan yang santai, sementara tangan kirinya tetap setia menggenggam jemariku, sambil sesekali menatapku dengan senyum hangat yang menembus langsung ke dada. "Terima kasih, Nikol..." bisikku lirih, menoleh padanya dengan senyum le
Aku refleks mengeratkan pelukan pada kotak kayu abu logam milik Ayah, mendekapnya erat-erat di dada seolah takut benda itu akan direbut. Jantungku bertalu begitu cepat, dan aku hampir saja bergegas untuk melarikan diri dari kerumunan yang menghimpit itu sebelum akhirnya jemari kok







