/ Romansa / TETANGGA TAPI PANAS / Bab 47 Positif

공유

Bab 47 Positif

작가: Penulis Hoki
last update 게시일: 2026-05-09 01:37:19

"Jepang... dingin banget ya," ucap Ruby asal, mencoba mengalihkan rasa gugupnya yang kembali muncul.

Reza tersenyum nakal, ia menyingkap sedikit selimut yang menutupi mereka, lalu kembali merapatkan tubuhnya. "Makanya, jangan jauh-jauh dari gue. Biar gue yang jadi penghangat ruangan pribadi lo. Ronde kedua, siap?"

Ruby tidak sempat menjawab karena Reza sudah kembali membawanya ke dalam pusaran sensasi yang membuatnya benar-benar lupa bahwa mereka sedang berada di lantai 28 sebuah hotel di Tokyo
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 109 Lorong sempit

    "Reza?" panggil Ruby dengan suara bergetar, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Sebuah helaan napas lega terdengar dari sosok di depannya. Kedua lengan kokoh itu kemudian merengkuh tubuh mungil Ruby, menariknya ke dalam pelukan yang luar biasa hangat dan protektif. Wajah pria itu tenggelam di ceruk leher Ruby, mengecupnya berkali-kali dengan penuh kerinduan dan rasa syukur."Iya, ini aku, By. Maaf aku bikin kamu ketakutan setengah mati. Aku harus bergerak cepat dan tanpa suara supaya keparat di atas sana tidak menyadari keberadaanku," ucap Reza, suaranya terdengar sedikit serak menahan emosi.Tangis Ruby akhirnya pecah. Ia membalas pelukan suaminya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reza. Tangannya meremas kemeja flanel yang dikenakan pria itu seolah takut Reza akan menghilang jika ia melepaskannya. Seluruh rasa takut, teror, dan keputusasaan yang menyiksanya sejak sore tadi menguap begitu saja digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Su

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 108 Tenang sayang

    Kembali ke ruang tangga yang gelap gulita. Ketegangan antara dua saudara beda ibu yang saling membenci itu terasa sangat mematikan. Umpatan anak haram dari mulut Vico tidak membuat genggaman Dimas mengendur, justru sebaliknya. Cengkeraman tangan Dimas di pergelangan Vico semakin menguat hingga terdengar bunyi retakan kecil dari tulang sendi pria itu.Vico meringis kesakitan, namun tawanya masih belum berhenti."Kau mencuri ayahku. Kau mencuri posisiku di perusahaan ini. Dan sekarang, kau pikir kau bisa memiliki wanita itu sendirian?" ejek Vico dengan mata yang menyala-nyala di tengah kegelapan, menantang maut yang berada tepat di depan wajahnya. "Aku sudah menyelidikinya, Dimas. Aku tahu Ruby bukan siapa-siapamu. Dia sudah bersuami. Tapi kau sangat terobsesi padanya, bukan? Kau menginginkan wanita itu lebih dari apa pun. Sama seperti ayahmu yang terobsesi pada ibumu."Dimas semakin menekan lengan Vico ke dinding beton. Otot-otot di rahangnya menonjol keras. Ia tidak terpancing untuk m

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 107 Flashback

    "Dengar baik-baik, Vico," desis Dimas dengan suara yang sangat rendah, berat, dan bergetar karena menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Jika kau berani menyentuh Ruby walau hanya seujung rambutnya saja, jika kau sampai membuat satu lecet pun di kulitnya... aku bersumpah atas segala iblis di neraka, aku tidak akan segan-segan untuk membongkar isi perutmu dan menjadikan ususmu sebagai pajangan di lobi gedung ini. Di mana kau menyembunyikan wanitaku?"Mendengar ancaman kejam tersebut, Vico yang sedang terpojok dan kesakitan justru tidak menunjukkan rasa gentar. Alih-alih memohon ampun, bahu Vico perlahan bergetar. Sebuah tawa yang sangat sumbang, parau, dan berlumuran darah keluar dari celah bibirnya yang hancur. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema mengerikan di dalam rongga tangga, seolah mengejek seluruh kekuasaan dan ancaman yang baru saja diucapkan oleh sang CEO.Vico menatap Dimas dengan senyum sinis yang penuh dengan kebencian dan dendam kesumat yang sudah mengak

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 106 Pertarungan

    Kesunyian yang mencekam di dalam ruang tangga darurat itu mendadak pecah. Saat Dimas masih mengarahkan cahaya senternya ke arah bordes atas yang kosong, indra pendengarannya yang tajam menangkap sebuah desiran angin halus tepat dari arah titik buta di belakang tubuhnya. Sebuah pergerakan yang sangat cepat dan mematikan membelah kegelapan.BUGH!Satu hantaman benda tumpul yang luar biasa keras menghantam punggung Dimas, tepat di antara kedua tulang belikatnya. Benturan itu begitu kuat hingga menciptakan gema tumpul yang mengerikan di dinding beton. Dimas mengerang tertahan, suaranya serak menahan rasa sakit yang luar biasa.Tubuhnya yang kokoh dan tegap terdorong paksa ke depan, hampir saja terjerembab menuruni rentetan anak tangga curam di bawahnya. Namun, dengan insting keseimbangan seorang predator, Dimas berhasil mencengkeram erat pegangan tangga besi yang berkarat, menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh terguling.Napas Dimas mendesis melalui sela-sela giginya. Rasa panas menjala

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 105 Hilang

    Cahaya putih dari senter ponsel Dimas menjadi satu-satunya pemandu mereka membelah lautan kegelapan di lorong lantai itu. Mereka berjalan perlahan dengan langkah yang terukur dan berhati-hati. Dimas berada di depan, bahu lebarnya seolah menjadi tameng pelindung bagi Ruby yang mengekor rapat di belakangnya. Suasana sunyi yang mencekam di dalam gedung pencakar langit itu membuat suara gesekan sol sepatu mereka di atas karpet lantai terdengar sangat keras dan bergema.Tepat ketika mereka hampir mencapai persimpangan lorong yang mengarah ke pintu darurat bercat merah pudar, ujung cahaya senter Dimas menangkap sebuah pergerakan yang sangat cepat. Sesosok bayangan hitam yang cukup besar berkelebat menyeberangi ujung lorong, menghilang dengan mulus di balik tikungan menuju area toilet tamu.Napas Ruby seketika tertahan di tenggorokan. Kakinya berhenti melangkah secara refleks. Sebagai seorang penulis novel fiksi yang imajinasinya selalu bekerja lebih cepat dari realita, pikiran Ruby langsung

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 104 Tak ada satupun

    Tanpa membuang waktu sedetik pun, Dimas mempererat cengkeramannya di pergelangan tangan Ruby. Pria itu membalikkan badan dan menarik tubuh mungil wanitanya secara paksa untuk menjauh dari area kantin. Ruby tertatih-tatih mengikuti langkah lebar sang CEO, bahkan hampir tersandung kakinya sendiri karena masih dalam keadaan syok berat.Di belakang mereka, Vico masih terkapar mengenaskan di atas lantai porselen yang dingin, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang memar. Darah segar menetes dari sudut bibir sang rubah, namun Dimas sama sekali tidak menoleh ke belakang. Bagi pria berhati es itu, Vico tidak lebih dari sekadar lalat pengganggu yang sudah pantas mendapatkan pelajarannya.Sepanjang perjalanan kembali menuju lantai lima puluh, keheningan di dalam lift eksekutif terasa sangat mencekik. Ruby menyudutkan dirinya di pojok lift, menundukkan kepala dalam-dalam dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Sementara Dimas berdiri tegap di sampingnya, dengan tenang merapikan kerah

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 84 Honeymoon ke- 2??

    Tubuh Ruby melengkung, tangannya refleks meremas seprai yang sudah basah dan kusut masai. Sentuhan Reza di bawah sana begitu liar dan menuntut, seolah pria itu sedang menghukumnya sekaligus memujanya di saat yang bersamaan. Sisa-sisa pusing akibat alkohol semalam seketika menguap, digantikan oleh s

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 83 Masih basah

    Sinar matahari pagi yang keemasan mulai menyusup melalui celah tirai kamar, menusuk tepat ke kelopak mata Ruby yang masih terpejam. Wanita itu mengerang pelan. Sesuatu yang sangat berat seolah tengah menghantam kepalanya berkali-kali. Begitu ia mencoba membuka mata, pandangannya berputar hebat. Lan

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 80 Sendirian

    Mobil Mercedes-Benz hitam yang dikemudikan oleh sopir suruhan Dimas akhirnya membelok memasuki sebuah kompleks perumahan kelas menengah yang tenang. Malam sudah semakin larut, dan jalanan aspal di depan deretan rumah tampak sepi dari aktivitas warga. Perlahan, mobil mewah itu berhenti tepat di depa

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 79 Jebakan

    Pintu lift privat terbuka dengan denting halus di area basemen parkir yang sepi dan remang-remang. Dimas, dengan ketenangan yang menakutkan, menuntun tubuh Ruby yang semakin lunglai. Langkah kaki Ruby terseret, kepalanya terkulai lemas di bahu jas Dimas. Kesadarannya telah terkoyak hebat oleh campu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status