LOGINBejo menyeringai mendengar apa yang Bibi sampaikan. Dia kembali menyuap makanannya, menyangga piring dengan duduk santai di samping rumah. Tadi sudah menghubungi Saka tetapi pria itu malah menyerahkan lagi padanya. Kadang Bejo berpikir, sebenarnya yang menjadi suami itu siapa. Urusan Mila semua dilimpahkan padanya. Kalau hitungan bayaran harusnya nambah lagi tetapi bagusnya Bejo tidak itungan sama sekali. "Orang mah lakinya tuh gue bukan si Saka. Lakinya udah kayak angkat tangan. Kalau bininya suka beneran sama gue, ngamuk tuh orang." Bejo menghabiskan makananya seraya mendengarkan kelanjutan drama yang terjadi di dapur. "BOHONG! Kamu tuh sebenarnya mau mengatakan sesuatu tetapi karena ada Mila, kamu jadi takut." "Nggak ada, Nyonya. Beneran nggak ada. Memang itu yang ingin saya sampaikan pada Nyonya. Nggak ada saya ingin menjelekkan hanya saja memang itu kan aib keluarga. Kalau yang Nyonya tau mereka harmonis padahal Tuan terlalu sibuk di luar." "Halah! Kamu tuh alasan saja
"Jadi Nyonya dan Tuan itu sebenarnya..." "Bi! Apa yang ingin Bibi ceritakan? Jangan keterlaluan ya, Bi! Saya dan Mas Saka nggak pernah menyulitkan Bibi. Kenapa Bibi malah begini?" Tentu saja Mila tidak terima dengan apa yang Bibi akan lakukan. Mila merasa Bibi sudah mengkhianati keluarganya. Padahal baik Mila maupun Saka selama ini selalu baik pada beliau. "Diam kamu, Mila! Jangan melarang dia untuk bicara! Kamu itu sengaja 'kan? Kalau begini saya semakin yakin jika ada yang disembunyikan di rumah ini. Apa lagi mukamu terlihat takut sekali, Mila! Kenapa? Kamu melakukan kesalahan? Memang sejak awal juga Saka sudah sangat salah menikahi kamu." Mila tersenyum miris mendengar apa yang mamah sampaikan. Mila sama sekali tidak menggubris ucapan kasar mamah mertuanya. Kalau dibilang sakit, tentu saja sakit. Bahkan sangat membuatnya sesak nafas tetapi terlepas dari itu Mila benar-benar penasaran. Mila melirik Bibi yang kemudian menundukkan kepala tak berani melihat ke arah wanita it
"Jo jadi Bibi kamu kunciin? Kenapa? Apa agar tidak ketahuan?" cecar Mila yang begitu sangat terkejut setelah dia menunjukkan kunci kamar Bibi pada wanita itu."Bukan itu sebenarnya tapi ya udahlah, salah sendiri punya mulut nggak bisa diam. Nyonya pokoknya terima beres aja. Sekarang Nyonya istirahat! Udah kenyang 'kan? Urusan Bibi biar saya saja yang mengurusnya.""Nggak! Tunggu, Jo! Nggak gitu. Aku harus tau ada apa dengan Bibi sampai kamu kunci begitu? Kamu yang bener aja, Jo!" protes Mila padanya. "Apa alasan lain itu?" tanya Mila lagi dengan suara yang terdengar penuh ketegasan. "Nyonya akan tau semuanya besok. Mungkin pagi akan ada kegaduhan di sini. Saya bukan paranormal hanya saja saya menebak-nebak itu. Kalau salah, ya harap maklum. Saya antar, gendong atau mau jalan sendiri, Nya?"Kedua alis Bejo terangkat setelah mengatakan demikian dan Mila berdecak kemudian berbalik badan melangkah masuk ke dalam kamar. Bejo memerhatikan sampai Mila benar-benar sudah sampai di lantai at
"Apapun itu, posisikan dirimu di sampingku! Kamu tau aku tidak memiliki siapapun yang akan membelaku." Mila tersenyum miris setelah mengatakan itu kemudian memeluk tubuhnya."Aku tau ini sangat fatal dan aku tidak meminta dibela. Hanya saja aku benarkan apa yang kamu katakan. Aku tidak selalu kuat dan aku membutuhkan dada ini untuk mendekapku kala serangan itu kembali datang."Bejo membalas pelukan Mila dan mendekapnya dengan hangat walaupun air yang mengguyur tak sehangat darah mereka yang mengalir di setiap nadi yang saling bertemu. "Saya tidak berjanji tapi saya akan mengerjakan tugas ini dengan sebaik mungkin, Nyonya. Eh iya, kalau kelamaan malah nanti ada yang bangun lagi Nyonya. Udahan yuk! Demen banget main air. Ayo, Nyonya!"Bejo meraih tangan Mila dan membawanya pergi dari sana. Bejo pun meraih handuk dan menutupi tubuh Mila yang masih polos itu. Matanya, jantungnya, jukinya, jangan ditanya bagaimana kondisinya saat ini. Mereka sudah sangat tegang tetapi Bejo sebisa mungk
"Jo jangan hentikan! Aku mohon! Lanjutkan sampai aku Ah! Aku mau sampai lagi, Jo!" Kepala Bejo dijepit oleh kedua kaki Mila hingga terpendam di bawah sana. Wajah Bejo basah kala Mila kembali sampai puncaknya. Bejo bergerilya di bawah sana hingga Mila mengucap ampun dan tak tertahan. "Sudah, Jo! Ampun aku nggak tahan. Lidah kamu nakal banget." Mila meraih kepala Bejo dan segera mengecup bibir basah ulah wanita itu yang sejak tadi dilanda gelombang kencang pada tubuhnya. "Lagi, Nyonya!" Bejo kembali memasukkan si Juki pada milik Mila yang masih berkedut di bawah sana sampai rasanya sangat tidak bisa dinanti-nanti. Kembali dia menyambangi sesuatu yang rasanya sangat hangat sekali, menjepit dan efeknya sampai ke otak hingga ujung kaki. Bejo mendongak kala tubuhnya mulai bergerak lagi menghantam milik Mila sampai terasa mentok ke dalam. Belum mau sudah meskipun si Juki terasa hendak menyemburkan sesuatu ke dalam sana. Sedotan milik Mila begitu sangat kuat dan Bejo akui
Bejo masuk ke tengkuk Mila yang wangi dan menggodanya. Ingin rasanya meninggalkan jejak di sana dan menghisap hingga kuat sampai wanita itu medesah menukikan tubuhnya. Namun Bejo masih menahan. Hanya saja lidahnya memang tidak bisa hanya diam. "Ah! Nakalnya kamu, Jo. Sshh... " Mila menggigit bibir bawahnya saat Bejo begitu liar mengusal leher wanita itu. Tangannya pun tak hanya diam. Tangan itu aktif meremas memberikan sensasi yang membuat Mila mendesah berkali-kali. Dada Mila naik turun karena nafas yang tersengal. Wanita itu kemudian menunduk dan meraih bibirnya hingga mereka saling membelit satu sama lain. Kedua mulut mereka terbuka dan gerakan semakin dalam menyapu setiap inci ruang di sana. Berbalas, menukar saliva hingga saling berdecap dan tubuh semakin terasa panas. Bejo mengerang kala merasakan si Juki semakin gelisah. Juki sudah meminta untuk dibebaskan tetapi masih sangat awal untuk menikmati hidangan inti. "Kenapa minta di kolam, Nyonya? Apa Nyonya tidak takut?
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







