Share

Bab 159. OGAH!

Author: weni3
last update publish date: 2026-08-16 19:43:32

"Dia yang tiba-tiba datang katanya rival lo, Jo." Edo langsung menjelaskan setelah melihat kedatangannya.

"Nggak ada rival! Gue nggak punya rival," jawabnya tegas dan lugas.

"Katanya juga lo kenal sama dia. Kenal banget!" imbuh Didi dan Bejo berdecak mendengar itu.

"Nggak usah ngada-ngada! Bisa jadi cuma mau jebak gue doang."

"Tapi katanya...."

"Katanya dia bangsad! Bisa nggak lo berdua nggak usah kepancing?" sentak Bejo, emosi juga lama-lama menanggapi tantangan dari orang yang tidak p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 445. Mengumbar

    "Kenapa jangan? Ini sangat enak, Sayang. Legit sekali! Aku suka. Kamu bagaimana? Suka kan pastinya? Apalagi kalau aku hisap dan gigit kecil. Kamu pasti akan menjerit keenakan, Sayang." Mala menggeleng kepala dan memejam enggan tetapi Saka semakin mendesak, menggesek, dan membuat Mala adem panas. Mala menggigit bibir bawahnya. Kedua mata yang tertutup terlihat gelisah sedangkan Saka semakin gencar membuat Mala tak berdaya. Tangan Mala sudah menolak tetapi tak bisa bebas apalagi Saka semakin tidak karuan gerakannya. Mala dibuat patuh dan tak bisa berkutik. Gerakan Saka yang sangat meresahkan membuat Mala semakin tidak waras saja. "Kak ampun! Jangan begini, Kak! Ingat, Kak Mila! Kalau begini sama saja kita menyakiti Kak Mila. Aku tidak mau, Kak. Aku mohon jangan! Cukup dibatasi saja." "Terus untuk apa kamu mau ikut ke sini kalau tidak ingin bercinta denganku? Jangan mengatakan jika tidak tau, Sayang! Aku tau kamu pasti penasaran dan suka." Mala kembali menggelengkan kepala dan

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 444. Kesucian?

    "Kak aku mohon .. Jangan!" Wanita itu membuang muka dengan kedua tangan berpegangan ujung meja. Wanita itu menahan diri tetapi bukan berarti bisa melarikan diri. Saka sudah sangat ingin, pria itu menyeringai kemudian mendekati, mengkukung dan menjatuhkan kecupan di leher putih yang semakin menggiurkan. "Jangan takut! Kamu sudah tau persoalannya bukan? Kamu sendiri yang ingin menggantikan agar aku tidak menyakiti kakakmu. Sekarang, kamu juga harus menggantikan ranjang kakakmu. Kakakmu yang sampai saat ini belum sama sekali melegakanku dengan kehangatan miliknya." "Kak!" pekik Mala. Ya, wanita itu adalah Mala. Mala yang menahan diri agar tidak disentuh tetapi tangan Saka sudah singgah di pangkal Paha Mala. Tangan Saka dengan lembut mengusap tepat di tengah-tengah dan menempatkan jari tengah di tengah belahan yang saat ini begitu nyata setelah Saka menyingkap rok yang Mala kenakan. "Kak Jangan!" Tangan Mala berusaha untuk melepaskan tangan Saka tetapi Saka tidak melewa

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 443. Menyerahkan semuanya

    "Jauh ya, Jo?" "Lumayan, Nyonya. Nyonya kalau ngantuk, tidur dulu saja! Nanti kalau sudah sampai, saya bangunin." "Hhmm...." Mila memejamkan kedua mata dan Bejo melihat bagaimana Mila sudah terlelap. Dia tersenyum tipis melihat Mila tidur. "Bisa tidur aja udah syukur. Seenggaknya nggak kurus kering gara-gara banyak pikiran terus nggak bisa tidur." Bejo fokus dengan apa yang ada di hadapannya. Perjalanan malam yang sangat menyita fokusnya. Bejo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang cenderung tinggi. Setengah jalan menuju lokasi, kembali Bejo menerima panggilan dari Edo. "Hallo, Do. Gimana?" "Mampus tuh nenek-nenek. Gue kerjain sampai nggak bisa bangun. Syukur nggak masuk rumah sakit tapi lagi di periksa sama dokter. Bentar lagi juga gila." "Lo apain?" "Pokoknya suka-suka gue. Orang jahat mah udah paling bener dibikin keblinger. Cuma malam ini kayaknya gue tidur sini, Jo." "Bagus deh! Terus kerjain tuh nenek lampir! Balik pagi aja! Nanti gue kasih bonus

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 442. Lancang

    "Sejak kapan?" "Sejak Nyonya meminta perlindungan sama saya. Maaf kalau saya lancang." Mila menutup mulut masih tidak menyangka. Kedua mata wanita itu memandangnya dengan kedua mata memerah. Bejo menarik nafas dalam melihat itu. Dia tidak membela diri. Kalau Mila mau marah pun Bejo tidak akan kecewa. Memang itu sudah menjadi caranya dalam melindungi Mila. "Jo..." Tangan Mila terangkat dan Bejo memejamkan kedua mata. Namun Mila malah memeluknya, Bejo sempat tersentak mendapati itu. Bejo pikir Mila akan menggamparnya ternyata malah mendekap masuk ke pelukan. "Pikiran kamu tuh apa sih? Apa yang ada di Kapala kamu sampai segitunya? Kamu pikir aku nggak malu? Kalau hanya bertengkar terserah tapi kalau apa yang aku lakukan pada Mas Saka, kamu sampai tau ya aku malu, Jo!" protes Mila seraya memukul dada Bejo. "Untung kamu baik, kalau nggak mungkin sudah aku amuk kamu." "Untuk apa malu, Nyonya? Saya juga sudah tau cara Nyonya memuaskan Tuan. Begitu-begitu doang sih. Nggak a

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 441. Memantau

    Bejo benar-benar melacak keberadaan Saka. Kali ini Bejo sudah tak lagi basa basi. Andai pun nantinya dia akan membongkar pada Mila, Bejo tak lagi perduli akan apapun. Sakitnya Mila akan dia tanggung. Sudah cukup dia menutupi selama ini yang akhirnya semakin lama durasi kesakitan yang harus Mila rasakan. Bom waktu sudah saatnya meledak. Muak sudah dia dengan drama rumah tangga majikannya. Belum lagi dengan orang tua yang ikut-ikutan. Melihat air mata Mila yang terus saja mencair membuat Bejo tidak lagi ingin menahan. "Hotel Garuda." "Siapa yang ada di hotel Garuda, Jo?" Sontak Bejo menoleh memandang Mila yang berdiri tak jauh darinya. Padahal tadi ada di kamar sedang beristirahat, mengapa tiba-tiba sudah ada di depan mata? Bejo menelan kasar salivanya. Dia mengulurkan tangan menunjukkan titik dimana Saka berada. "Kamu sedang menyadap ponsel siapa, Jo? Ini ..." "Tuan. Bukan hanya ponselnya saja tetapi mobilnya juga." Kedua alis Mila menukik mendengar itu. Wanita it

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 440. Modar Sekalian!

    "Aku nggak mau pulang, Jo. Jangan juga ke tempat Ayah. Bawa aku ketempat lain dulu!" pinta Mila dengan suara yang sangat lembut. "Ya." Bejo tidak mengatakan apapun tentang tujuan yang dia akan kunjungi saat ini. Kemana dia akan membawa Mila pergi. Bejo melajukan mobilnya menuju tempat penginapan yang nyaman jauh dari perkotaan. Untuk saat ini biarkan Mila istirahat dengan tenang dan selebihnya dia yang akan bekerja untuk menemukan dokter dan antek-antek dari mertuanya Mila yang sudah membantu memasukkan cairan itu ke tubuh Mila. Panggilan dari Edo masuk dan Bejo melirik Mila yang bersandar memandang kaca jendela. Bejo pun segera menerimanya. Bejo tidak perduli sekali pun Mila mendengar. Sudah kadung emosi. Sekalian ingin tau bagaimana respon dan Mila. "Ada apa, Do?" "Udah gue kerjain, Jo. Gue lagi ada di rumah mertuanya Nyonya. Gila gede juga rumahnya ya. Dalemnya banyak banget barang-barang mahal. Hawanya pengen gue lelang biar mampus tuh orang!" "Jangan langsung

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 04. Mandul

    "Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 03. Sampai Klimaks

    "Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 02. Tepat Di Titik Sensitifnya

    "Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 01. Bercintalah Dengannya

    "Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status