LOGIN"Sejak kapan?" "Sejak Nyonya meminta perlindungan sama saya. Maaf kalau saya lancang." Mila menutup mulut masih tidak menyangka. Kedua mata wanita itu memandangnya dengan kedua mata memerah. Bejo menarik nafas dalam melihat itu. Dia tidak membela diri. Kalau Mila mau marah pun Bejo tidak akan kecewa. Memang itu sudah menjadi caranya dalam melindungi Mila. "Jo..." Tangan Mila terangkat dan Bejo memejamkan kedua mata. Namun Mila malah memeluknya, Bejo sempat tersentak mendapati itu. Bejo pikir Mila akan menggamparnya ternyata malah mendekap masuk ke pelukan. "Pikiran kamu tuh apa sih? Apa yang ada di Kapala kamu sampai segitunya? Kamu pikir aku nggak malu? Kalau hanya bertengkar terserah tapi kalau apa yang aku lakukan pada Mas Saka, kamu sampai tau ya aku malu, Jo!" protes Mila seraya memukul dada Bejo. "Untung kamu baik, kalau nggak mungkin sudah aku amuk kamu." "Untuk apa malu, Nyonya? Saya juga sudah tau cara Nyonya memuaskan Tuan. Begitu-begitu doang sih. Nggak a
Bejo benar-benar melacak keberadaan Saka. Kali ini Bejo sudah tak lagi basa basi. Andai pun nantinya dia akan membongkar pada Mila, Bejo tak lagi perduli akan apapun. Sakitnya Mila akan dia tanggung. Sudah cukup dia menutupi selama ini yang akhirnya semakin lama durasi kesakitan yang harus Mila rasakan. Bom waktu sudah saatnya meledak. Muak sudah dia dengan drama rumah tangga majikannya. Belum lagi dengan orang tua yang ikut-ikutan. Melihat air mata Mila yang terus saja mencair membuat Bejo tidak lagi ingin menahan. "Hotel Garuda." "Siapa yang ada di hotel Garuda, Jo?" Sontak Bejo menoleh memandang Mila yang berdiri tak jauh darinya. Padahal tadi ada di kamar sedang beristirahat, mengapa tiba-tiba sudah ada di depan mata? Bejo menelan kasar salivanya. Dia mengulurkan tangan menunjukkan titik dimana Saka berada. "Kamu sedang menyadap ponsel siapa, Jo? Ini ..." "Tuan. Bukan hanya ponselnya saja tetapi mobilnya juga." Kedua alis Mila menukik mendengar itu. Wanita it
"Aku nggak mau pulang, Jo. Jangan juga ke tempat Ayah. Bawa aku ketempat lain dulu!" pinta Mila dengan suara yang sangat lembut. "Ya." Bejo tidak mengatakan apapun tentang tujuan yang dia akan kunjungi saat ini. Kemana dia akan membawa Mila pergi. Bejo melajukan mobilnya menuju tempat penginapan yang nyaman jauh dari perkotaan. Untuk saat ini biarkan Mila istirahat dengan tenang dan selebihnya dia yang akan bekerja untuk menemukan dokter dan antek-antek dari mertuanya Mila yang sudah membantu memasukkan cairan itu ke tubuh Mila. Panggilan dari Edo masuk dan Bejo melirik Mila yang bersandar memandang kaca jendela. Bejo pun segera menerimanya. Bejo tidak perduli sekali pun Mila mendengar. Sudah kadung emosi. Sekalian ingin tau bagaimana respon dan Mila. "Ada apa, Do?" "Udah gue kerjain, Jo. Gue lagi ada di rumah mertuanya Nyonya. Gila gede juga rumahnya ya. Dalemnya banyak banget barang-barang mahal. Hawanya pengen gue lelang biar mampus tuh orang!" "Jangan langsung
"Jadi begini Bu. Untuk penyakit di badan Ibu tidak kami temukan hanya memang pikiran yang berat mempengaruhi tekanan darah. Agak tinggi ya Bu. Selebihnya baik. Lalu untuk...." Mila dan Bejo semakin menatap intens dokter tersebut. Tangan Mila meraih tangannya dan menggenggam dengan erat. Bejo pun sampai menarik nafas dalam karena ikut tegang menunggu hasilnya. "Jadi yang kami temukan itu ada suntikan hormon seperti penunda kehamilan. Kalau dilihat dari obatnya ini termasuk yang jangka lama, tiga bulan masa periodenya. Jadi selama masih obat itu berlaku maka tidak akan mengalami menstruasi dan juga kehamilan. Biasanya seperti itu." Mila melepaskan tangannya dan memandang dengan kedua mata yang langsung memerah. Mila menutup mulut tak menyangka akan hal itu. Bahkan ekor mata Mila basah dan tangan satunya menekan dada. Bejo pun segera merangkul kemudian mengusap lengan Mila. Wanita itu langsung memeluknya. Mila menangis, tangisnya lirih tetapi begitu sangat menyesakkan sekali.
"Ada apa, Mah? Kamu kenapa sampai begini? Ya ampun!" Papah masuk dengan berlari tergopoh-gopoh bahkan saking lamanya durasi yang dibutuhkan akan kedatangan papah dan juga pembantu di sana, Mamah sampai bersembunyi di balik selimut dengan tubuh yang gemetar. "Kamu tuh kenapa sih?" tanya Papah lagi kemudian naik ke atas kasur. Beliau membuka selimut yang mamah gunakan dan melihat bagaimana Mamah sampai ketakutan seperti ini. Mamah pun segera memeluk tubuh beliau dengan sangat erat dan mata yang basah. "Itu Pah! Ada ayam mati itu!" "Mana?" "Itu di pekat itu, Pah! Cari tau siapa yang memberikan aku paket misterius seperti itu. Mamah takut, Pah! Ada darah segarnya di sana," jawab Mamah dengan suara yang gemetar seraya menunjuk ke bawah. Papah yang penasaran pun segera melihat kotak paket tersebut dan membukanya. Kedua alis papah menukik melihat isi dari kotak tersebut dan menunjukkan pada Mamah yang membuang muka dan kembali menjauh. "Apa sih, Mah? Nggak ada loh. Ini
Mila pun akhirnya berhasil Bejo bawa ke restoran tak jauh dari rumah sakit Bejo juga memesan privat room untuk mereka singgah. Kini Mila merebahkan tubuhnya di atas sofa tak berkaki yang terbuat dari bahan empuk dengan kedua kaki Mila yang mudah diluruskan. Tangan Bejo kemudian mengusap kepala Mila. Bejo tau Mila saat ini sedang sangat pusing sekali memikirkan semua yang terjadi. Apalagi kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa wanita itu. "Bobo dulu! Lumayan satu atau dua jam. Katanya kalau sudah ada hasilnya nanti bakal dihubungin sama dokter atau mau makan dulu?" "Nggak mau!" Mila menggelengkan kepala dan memilih memejamkan kedua mata. Air mata wanita itu pun menetes dan Bejo segera mengusapnya dengan ujung jemari. Bejo pun mengecup kedua mata Mila hingga wanita itu kembali membukanya. "Jo... Hiks... Hiks..." Mila bergerak memeluk tubuhnya. Sesuai kodratnya, Mila lemah, ada kekuatan yang kadang muncul tetapi kembali lagi Mila adalah wanita biasa yang memiliki hati
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







