تسجيل الدخولSampai dikamar, setelah Bejo memastikan situasi aman. Dia segera masuk dan tak lupa memastikan pintu terkunci rapat. Bejo berbalik melihat Mila yang kemudian melangkah handak menuju ranjang tetapi dengan cepat tangannya menarik lengan Mila hingga wanita itu terkejut. Bejo mendorong tubuh Mila seraya membungkam mulut wanita itu. Kedua mata Mila sempat terbelalak karena terkejut dengan apa yang ia lakukan tetapi setelah serangan ini bersifat lembut dan menuntut. Mila pun pasrah dan cenderung membiarkan diri dinikmati olehnya. Tangan Bejo meraih kedua tangan Mila. Mengangkat tangan wanita itu ke atas kepala dan mengunci pergerakan Mila. Tangan satunya membuka kancing yang tadi sempat ditutup kembali. Mengusap isinya dengan lembut hingga Mila membusung memintanya untuk meraba lebih dalam lagi. "Gila montok banget si Nyonya. Nggak sia-sia olahan gue beberapa bulan ini. Udah makin ngembang kayak direndem minyak tanah. "Euhhh..." Kalau di sini bebas, mau mendesah pun tak
"Ah! Enak sekali!" Mila sudah meracu saat ini. Kedua mata wanita itu memejam, kepala mendongak, tangan membekap dan tubuh tak bisa diam. Itu semua karena Bejo menyesap memberikan sentuhan di dada Mila. Jari pun masih bermain di bawah sana hingga tangannya basah. "Satu kali klimaks baru kita lanjutkan di kamar, Nyonya." "Jo bagaimana kalau celanamu akan basah? Kamu tau kan, setelah bersamamu aku sering mengeluarkan cairan dan itu banyak sekali. Aku sangat puas bersamamu, Jo. Aku sampai seperti pipis." "Kita pindah ke belakang, Nyonya! Jangan keluar pintu! Lewat sini saja," katanya memberikan solusi. Kalau mobil kotor masih bisa dibersihkan, tapi kalau celananya yang basah. Nanti malah dikira ngompol sama orang-orang yang melihatnya. Gila memang! Salah siapa dibuat tidak waras begini. Saka pandai bermain di belakang, Mila pun akan mengimbanginya. Sakit hati itu sudah tidak lagi bisa diajak kompromi. Mila benar-benar membahagiakan diri, melepaskan diri dari penjara lara
"Sudah sampai, Nyonya." Bejo berbisik di telinga Mila yang saat ini masih ada di pangkuannya dengan memeluk, melakukan pemanasan. Sejak tadi Mila terus saja membuat tubuh mereka semakin panas. Bejo sudah memarkirkan mobil di basemant. Untungnya di sana sepi. Mata Bejo pun mulai bergerilya mencari cctv. Jangan sampai mobil yang mereka tumpangi ini tersorot oleh benda itu. "Sudah?" tanya Mila. "Hhmm..." Mila menarik diri dan Bejo pun memandang dengan kedua mata yang sudah berselimut gairah. Tangan Bejo menyentuh kembali kedua bokong Mila. Kali ini keduanya bisa dia sapa. Bejo meremas gemas tepat di kain berenda warna merah. Benda itu sangat terlihat cantik sekali dan tentu saja isinya pun tak kalah cantik dan menggiurkan. "Mana yang basah, Nyonya? Katanya tadi ada yang sudah basah?" tanya Bejo. Suaranya terdengar berat, serak dan kedua mata semakin berkabut dengan dada naik turun begitu sangat menggebu. "Ini, yang terbuka! Dia sudah membelah menangkap si Juki. Ju
Mereka menuju hotel yang pernah mereka singgahi tempo hari. Mereka saling memandang, kadang ingin bicara tetapi seolah ditahan. Sampai Bejo terkekeh melihat bagaimana sikap Mila padanya. Bejo mencoba fokus, tapi sepertinya wanita yang ada di sampingnya mulai ngelantur. Eh kok ada tangan yang singgah tepat di pangkal paha. Bejo melirik ke arah si Juki. Dia tersenyum melihat itu kemudian menoleh singkat memandang Mila yang tidak sama sekali melihatnya tetapi tangan mulai tak bisa diam. "Ini tangan kayaknya udah nggak sabaran. Si Juki langsung keliyengan minta keluar. Baru juga nempel, udah gendut dia. Udah lama nggak terjamah soalnya." "Emang iya? Udah lama beneran?" tanya Mila hingga menoleh dengan kedua alis terangkat padanya. "Ya iyalah! Di hotel main juga kagak." "Ya ampun kayaknya kamu dendam banget sama aku. Padahal kalau diingat-ingat sih kita ada kok main." Mila memberikan sentuhan lembut yang membuatnya mulai gelisah. Bejo sedikit mengubah posisi duduk dan b
Mila masih bersandar di pundaknya. Tangannya pun sesekali mengusap pipi Mila dengan memperhatikan wajah wanita itu dengan lekat. Kasihan, tapi kagum sama cantiknya yang makin nyantik banget. Apalagi saat hidung mancung itu terlihat merona. Pertanyaannya, kok ada manusia yang hampir sempurna ini malah disakitin? "Sebelumnya udah tau kalau Tuan sama Lira, hari ini tau juga kalau Tuan sama Bu Keysa. Terus apa Nyonya akan kembali melayani, Tuan? Dilihat-lihat kok semakin disakitin, malah semakin mencintai. Nyonya bucin sama laki-laki modelan begitu?" "Nggak gitu loh Jo!" "Ya terus gimana? Dilihatnya juga begitu. Berasa pengen saya kawinin sampai nggak bisa jalan tau nggak. Nggak paham sama pikiran Nyonya. Mana nggak mau cerita kagi," sahut Bejo dan Mila menoleh lalu memukul lengannya. "Jo kamu tuh! Aku lagi sedih loh." "Ya geregetan aja. Ada ya perempuan begitu, tapi kalau emang butuh sembuh ya saya siap sampai pagi." "Kamu lagi mencari kesempatan dalam kesempitan,
"Anda nggak tau apa-apa! Jadi anda pun jangan bicara seperti itu pada saya!" lawan Bu Keysa tak terima dengan apa yang Mila katakan. Bejo pun mendekati dan berdiri di antara keduanya. Kedatangan Bejo jelas membuat kedua wanita yang sedang bersitegang tersebut kemudian menoleh padanya tetapi hanya singkat saja. Setelah itu mereka kembali meneruskan keributan yang sudah terbangun sejak tadi. "Ya kalau gitu nggak usah minta saya untuk berbagi! Kamu yang harusnya mengerti dan bukan saya! Sekarang kamu pergi dari hadapan saya! Pergi sekarang juga! Tuntut sana Mas Saka kalau memang kamu tidak terima! Bukan saya yang harus kamu datangi, karena adanya kamu, bukan inginnya saya!" Mila segera pergi dari sana seraya mengangkat meja hendak membalikkan meja tersebut. Untungnya Bejo masih berdiri di sana. Dia menahan apa yang Mila lakukan dan memandang pergerakan majikannya yang tengah diselimuti oleh kemarahan. Bu Keysa menjatuhkan diri setelah melihat Mila pergi. Bejo menoleh memperhat
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







