FAZER LOGIN"Tadi Bejo kenapa ya? Kok kayak lihat sesuatu." Mila melangkah keluar kembali. Saking penasarannya wanita itu mengecek situasi yang ada di sana. Mila melihat ke kanan dan ke kiri balkon kamar sebelah. Namun tidak Mila temukan apapun di sana. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali seperti apa yang wanita itu pikirkan. "Apa sih yang Bejo lihat tadi? Kok aku nggak nemuin siapa-siapa." Mila terdiam di sana, dalam hati masih bertanya-tanya kemudian masuk kembali setelah merasakan angin begitu sangat kencang. Mila sampai bergidik dan segera menutup pintu balkon kamar. Mila berbalik tapi wanita itu begitu sangat terkejut kala tau Bejo sudah ada di belakang wanita itu. "Astaga! Bejo!" Bejo mengangkat kedua alisnya melihat bagaimana ekspresi Mila. Dia menatap dengan lekat sampai Mila terlihat sedikit gelagapan. "Jo kok kamu mandinya cepat sekali?" "Nyonya habis dari mana?" "Oh itu, aku nyari angin tadi tapi malah kedinginan." "Oh nyari angin, kirain nyari tau ada apa di luar,"
"Wait! Jadi suami?"Ternyata yang menjadi fokusnya Mila hanya karta-kata terakhirnya saja. Bejo pun menatap lekat wajah wanita itu saat memandangnya menunggu jawaban. "Tapi sayangnya nggak mungkin 'kan Nyonya poliandri."Mila berdecak mendengar itu kemudian menggelengkan kepala. "Taulah! Nggak jelas kamu tuh, Jo!" Mila turun dari ranjang kemudian melangkah menuju jendela dan membuka gorden hingga menampilkan pemandangan malam yang indah."Nyonya nggak mau pulang? Tadi sudah pamit Tuan belum kalau mau ke hotel?""Mana ada aku pamit? Sama kamu aja tadi aku nggak ngomong kok. Memang aku lagi pengen santai aja di sini tanpa memikirkan apapun tapi sialnya tetap saja kepikiran."Mila berdiri memunggunginya dan Bejo pun beranjak dari ranjang kemudian melangkah mendekati wanita itu. Bejo berdiri di samping Mila yang anteng memandang pemandangan luar dengan kedua tangan bersilang di dada. "Memangnya yang paling berat mikirin apa, Nya?""Kamu!"Sontak Bejo menoleh memandang Mila dengan kedua
"Hhmm..." "Tapi saya bukan manusia yang nggak punya pikiran. Semalam Nyonya habis babak belur. Istirahat dulu saja, Nya!" Bejo mengusap punggung Mila untuk meredakan rasa ingin yang timbul. Bejo pun menarik selimut menutupi tubu wanita itu. Apalagi bongkahan bokong Mila yang semalam habis kena tabok Saka, itu sangat-sangat menggoda tetapi harus ditutupi dulu. "Gimana nggak kena tabok kalau montok banget begini," gumamnya kemudian melirik wajah Mila yang sudah terlelap. Usapan tangan dan pelukannya mampu menghipnotis Mila hingga nyenyak. "Tidur deh! Kasihan banget!" Bejo beranjak dari sana tetapi pergerakannya ditahan oleh Mila. Wanita itu melenguh dan memintanya untuk tetap di sana. Bejo pun kembali merebahkan tubunya di samping Mila saat wanita itu justru semakin mengeratkan pelukannya. "Kalau begini gimana gue bisa tenang? Tidur aja lah udah dari pada si Juki ngajak bangun." Bejo pun memejamkan kedua mata setelah merasakan sesuatu dalam tubuhnya. Memang kalau dekat Mila h
"Iya, Jo. Aku melihat Mas Saka takut, tapi Mas Saka menuntutku untuk bisa sampai klimaks. Caranya hanya satu, aku bisa sampai jika membayangkan kamu." "Memangnya seenak itu membayangkan saya? Tuan melakukan apa saja pada Nyonya?" tanyanya dan Mila menggelengkan kepala kemudian bersandar di pundaknya. "Memang kalau sudah menjadi tabiat itu susah ya, Jo. Mau aku menuntut seperti apapun, sulit sekali membuat Mas Saka bisa berubah. Padahal kalau memang cinta sama aku, seharusnya bisa dan mau merubah sikapnya, tapi Mas Saka itu..." "Tuan itu memiliki gaya yang nggak sama dengan Nyonya. Memang ada sebagian laki-laki yang seperti itu. Mereka menganggap dengan kasar, semakin bergairah padahal tidak semua merasakan hal yang sama. Nggak cuma laki, Nya. Perempuan juga banyak yang begitu. Nyonya mainnya kurang jauh aja makanya heran tapi saya juga tidak menyalahkan Nyonya, karena memang Nyonya bukan tipe yang suka diajak main kasar." "Berarti kamu seperti aku, Jo? Sangat mengerikan sekali ya
"Ugh! Baru diomong aja udah nembus ke mata itu garpu, Nya. Apalagi kalau beneran dicolok. Jangan dong! Nyonya ada dendam apa memangnya sama saya? Kasihan mata saya kalau dicolok nanti malah nggak bisa lihat kecantikan Nyonya lagi." "Makanya jangan ngeselin kamu tuh! Gombal aja bisanya. Tadi pagi kamu juga kenapa? Nggak tau alasannya jangan asal marah! Soal semalam aku punya alasan sendiri yang kamu nggak tau, Jo!""Nanti aja dibahasnya, Nya. Lebih baik Nyonya makan dulu!" sahut Bejo kemudian mengeluarkan ponselnya seraya bersandar di sofa. Bejo tak ingin Mila mendadak tak nafsu makan maka dari itu dia membiarkan Mila untuk menghabiskan dulu makannya seraya dia mengisi waktu untuk mengerjakan tugasnya. Mila tak lagi bicara dan patuh menyelesaikan makannya. Bejo sesekali melirik majikannya. Matanya terkesima setiap kali melihat tubuh Mila. Kulit itu semakin bersinar setelah Mila mengenakan benda pemberian dari Saka semalam. Padahal dari pagi saja Bejo sudah mengagumi penampilan Mil
Bejo pun melajukan kembali mobilnya seraya menghubungi Mila tetapi tidak sama sekali diterima oleh wanita itu. Bejo mencoba mencari di cabang lainnya tetapi sampai di sana pun tak menemukan hasil.Bejo kemudian kembali ke mobil dan harus mencari lagi. Tidak bisa dibiarkan ini! Baru kali ini selama kerja dengan Mila, wanita itu pergi tanpa mengatakan apapun di jam kerjanya. "Dikira bisa lepas kali dari pantauan gue kali."Sementara yang dicari, saat ini baru saja keluar dari mobil taksi yang ditumpangi kemudian masuk ke dalam sebuah hotel berbintang. Tanpa tujuan yang jelas dan hanya ingin mencari tempat yang pas untuk merenungi semuanya tetapi sampai di lobby hotel usai memesan kamar, Mila melihat seseorang yang dia kenal, hanya saja enggan lagi menyapanya.Untuk ketiga kalinya bertemu dengan wanita itu yang merupakan sahabat kerjanya dulu. Namun Mila pun mencoba untuk cuek walaupun sempat berpapasan. Orang itu diam, Mila pun tak kalah diam dan berusaha untuk cuek seolah tak ada oran
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







