LOGIN"Wait! Jadi suami?"Ternyata yang menjadi fokusnya Mila hanya karta-kata terakhirnya saja. Bejo pun menatap lekat wajah wanita itu saat memandangnya menunggu jawaban. "Tapi sayangnya nggak mungkin 'kan Nyonya poliandri."Mila berdecak mendengar itu kemudian menggelengkan kepala. "Taulah! Nggak jelas kamu tuh, Jo!" Mila turun dari ranjang kemudian melangkah menuju jendela dan membuka gorden hingga menampilkan pemandangan malam yang indah."Nyonya nggak mau pulang? Tadi sudah pamit Tuan belum kalau mau ke hotel?""Mana ada aku pamit? Sama kamu aja tadi aku nggak ngomong kok. Memang aku lagi pengen santai aja di sini tanpa memikirkan apapun tapi sialnya tetap saja kepikiran."Mila berdiri memunggunginya dan Bejo pun beranjak dari ranjang kemudian melangkah mendekati wanita itu. Bejo berdiri di samping Mila yang anteng memandang pemandangan luar dengan kedua tangan bersilang di dada. "Memangnya yang paling berat mikirin apa, Nya?""Kamu!"Sontak Bejo menoleh memandang Mila dengan kedua
"Hhmm..." "Tapi saya bukan manusia yang nggak punya pikiran. Semalam Nyonya habis babak belur. Istirahat dulu saja, Nya!" Bejo mengusap punggung Mila untuk meredakan rasa ingin yang timbul. Bejo pun menarik selimut menutupi tubu wanita itu. Apalagi bongkahan bokong Mila yang semalam habis kena tabok Saka, itu sangat-sangat menggoda tetapi harus ditutupi dulu. "Gimana nggak kena tabok kalau montok banget begini," gumamnya kemudian melirik wajah Mila yang sudah terlelap. Usapan tangan dan pelukannya mampu menghipnotis Mila hingga nyenyak. "Tidur deh! Kasihan banget!" Bejo beranjak dari sana tetapi pergerakannya ditahan oleh Mila. Wanita itu melenguh dan memintanya untuk tetap di sana. Bejo pun kembali merebahkan tubunya di samping Mila saat wanita itu justru semakin mengeratkan pelukannya. "Kalau begini gimana gue bisa tenang? Tidur aja lah udah dari pada si Juki ngajak bangun." Bejo pun memejamkan kedua mata setelah merasakan sesuatu dalam tubuhnya. Memang kalau dekat Mila h
"Iya, Jo. Aku melihat Mas Saka takut, tapi Mas Saka menuntutku untuk bisa sampai klimaks. Caranya hanya satu, aku bisa sampai jika membayangkan kamu." "Memangnya seenak itu membayangkan saya? Tuan melakukan apa saja pada Nyonya?" tanyanya dan Mila menggelengkan kepala kemudian bersandar di pundaknya. "Memang kalau sudah menjadi tabiat itu susah ya, Jo. Mau aku menuntut seperti apapun, sulit sekali membuat Mas Saka bisa berubah. Padahal kalau memang cinta sama aku, seharusnya bisa dan mau merubah sikapnya, tapi Mas Saka itu..." "Tuan itu memiliki gaya yang nggak sama dengan Nyonya. Memang ada sebagian laki-laki yang seperti itu. Mereka menganggap dengan kasar, semakin bergairah padahal tidak semua merasakan hal yang sama. Nggak cuma laki, Nya. Perempuan juga banyak yang begitu. Nyonya mainnya kurang jauh aja makanya heran tapi saya juga tidak menyalahkan Nyonya, karena memang Nyonya bukan tipe yang suka diajak main kasar." "Berarti kamu seperti aku, Jo? Sangat mengerikan sekali ya
"Ugh! Baru diomong aja udah nembus ke mata itu garpu, Nya. Apalagi kalau beneran dicolok. Jangan dong! Nyonya ada dendam apa memangnya sama saya? Kasihan mata saya kalau dicolok nanti malah nggak bisa lihat kecantikan Nyonya lagi." "Makanya jangan ngeselin kamu tuh! Gombal aja bisanya. Tadi pagi kamu juga kenapa? Nggak tau alasannya jangan asal marah! Soal semalam aku punya alasan sendiri yang kamu nggak tau, Jo!""Nanti aja dibahasnya, Nya. Lebih baik Nyonya makan dulu!" sahut Bejo kemudian mengeluarkan ponselnya seraya bersandar di sofa. Bejo tak ingin Mila mendadak tak nafsu makan maka dari itu dia membiarkan Mila untuk menghabiskan dulu makannya seraya dia mengisi waktu untuk mengerjakan tugasnya. Mila tak lagi bicara dan patuh menyelesaikan makannya. Bejo sesekali melirik majikannya. Matanya terkesima setiap kali melihat tubuh Mila. Kulit itu semakin bersinar setelah Mila mengenakan benda pemberian dari Saka semalam. Padahal dari pagi saja Bejo sudah mengagumi penampilan Mil
Bejo pun melajukan kembali mobilnya seraya menghubungi Mila tetapi tidak sama sekali diterima oleh wanita itu. Bejo mencoba mencari di cabang lainnya tetapi sampai di sana pun tak menemukan hasil.Bejo kemudian kembali ke mobil dan harus mencari lagi. Tidak bisa dibiarkan ini! Baru kali ini selama kerja dengan Mila, wanita itu pergi tanpa mengatakan apapun di jam kerjanya. "Dikira bisa lepas kali dari pantauan gue kali."Sementara yang dicari, saat ini baru saja keluar dari mobil taksi yang ditumpangi kemudian masuk ke dalam sebuah hotel berbintang. Tanpa tujuan yang jelas dan hanya ingin mencari tempat yang pas untuk merenungi semuanya tetapi sampai di lobby hotel usai memesan kamar, Mila melihat seseorang yang dia kenal, hanya saja enggan lagi menyapanya.Untuk ketiga kalinya bertemu dengan wanita itu yang merupakan sahabat kerjanya dulu. Namun Mila pun mencoba untuk cuek walaupun sempat berpapasan. Orang itu diam, Mila pun tak kalah diam dan berusaha untuk cuek seolah tak ada oran
Mila langsung terdiam, wanita itu menunggu Bejo kembali bicara tetapi percakapan antara Bejo dan Bu Keysa justru masuk ke dalam indra pendengaran Mila dengan jelas. "Bu Key nggak papa? Minum dulu, Bu! Duh kalau makan tuh pelan-pelan, Bu! Jangan sampai sendok-sendoknya juga ditelan. Bahaya! Nanti numbuh loh! Yang tadinya satu bisa jadi sekilo tuh sendok dalam perut." "Saya tersedak, Jo! Bukan lagi makan sendok. Sudah cukup, Jo! Saya nggak papa kok. Makasih ya kamu sudah perhatian sama saya." Bu Keysa menatap Bejo dengan seulas senyum yang jarang sekali terumbar pada mahasiswa lainnya. "Terimakasih kembali, tapi wajar kok, Bu. Saya yang ada di sini, jadi ya pasti perhatian. Nggak mungkin kalau saya cuek. Nanti dibilangnya nggak peka. Laki emang banyak salahnya ya, Bu. Ya udah lanjut makan awas nanti bibirnya juga ikut ke gigit! Pelan-pelan aja ngunyahnya, Bu!" Mila tersenyum kecut, yang sebenarnya hanya percakapan biasa saja antara Bejo dengan dosennya tersebut tetapi terdengar lain
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t







