FAZER LOGINMila tiba-tiba naik ke atas pangkuannya dan mengalungkan kedua tangan setelah sempat memperhatikan respon darinya. Bukan dia yang meminta tetapi wanita itu yang tiba-tiba naik ke pangkuannya. "Nyonya mau apa?" "Mau menyiksa si Juki yang celamitan sekali. Senggol dikit langsung berdiri." "Kalau hanya untuk menyiksa lebih baik jangan, Nyonya! Nanti malah Nyonya yang tersiksa." "Kata siapa?" tanya Mila malah menantang dan itu sangat tidak aman untuknya. Bejo hendak menolak, bukan tak suka dengan apa yang Mila lakukan tetapi ingat kalau majikannya belum boleh hamil walaupun tadi sempat menawarkannya dan mengijinkan asal jangan buang benih di dalam. Namun baginya yang sudah pernah memasukkan di dalam ya lebih enak begitu dari pada buang di luar. "Cabut singkong lagi aja. Mana endul?" gumam Bejo kemudian mendongak tak mempertikan wajah Mila. "Apa, Jo?" tanya Mila dan dia menggelengkan kepala. "Turun, Nyonya!" "Nggak bisa!" Mila menyeringai setelah mengatakan itu. Wanita i
"Jo kamu kenapa kok malah ketawa-ketawa gitu?" "Hah! Nggak kok, Nya. Itu kasihan orangnya salah alamat. Harusnya ke kamar sebelah malah ke kamar ini. Ya udah Nyonya pesan makanan aja!" Bejo pun kembali ke tempat duduknya setelah memastikan karyawan tadi sudah memberikan makanan pada kamar yang tadi dia curigai dihuni oleh Saka. Kok ya bisa-bisanya satu hotel dengan alasan keluar kota. "Gue jamin malam ini lo nggak akan bisa tidur nyenyak!" gumam Bejo hingga membuat Mila menoleh padahal sedang memesan makanan. Kedua alis Mila terangkat dan dia menggelengkan kepala melihat itu. "Udah itu aja. Makasih ya!" kata Mila setelah ituurmdutr Ng mendekatinya. Mila menoleh masih penasaran dengan apa yang ia katakan tadi. "Kamu bicara apa tadi, Jo?" tanya Mila dan Bejo menggelengkan kepala. "Kamu tuh geleng-geleng kepala terus!" sahut Mila kemudian mengambil ponsel dan anteng lagi dengan benda pipih itu. Bejo pun melirik apa yang Mila tengah lakukan dengan benda pipih itu. "Kalau di med
"Jangan godain, Nya! Iman saya setipis tisu dibelah jadi tujuh ini. Nggak bisa kalau digoda seperti itu."Mila terkekeh mendengar apa yang ia katakan. Bejo pun hendak memakai pakaian tadi lagi tetapi Mila melarangnya. "Nggak usah dipakai! Beli aja, Jo! Aku nggak suka kamu pakai pakaian tadi. Itu sudah kotor kecuali kalau kamu pulang.""Terus kalau saya pulang, Nyonya sendirian di sini? Nggak lah! Enak aja! Kalau saya pulang, Nyonya juga harus pulang. Bukan apa, demit lanangan banyak di sini tuh." Bejo pun benar-benar melepaskan pakaian itu dan menumpuknya di tempat lain. Mungkin besok akan dia bawa pulang dan di cuci di rumah. Untuk sementara pakai handuk kimono dulu saja. "Ya udah makanya beli saja sekalian aku juga mau beli. Kamu pilih nanti biar barangnya diantar bareng ke sini!" kata Mila kemudian mengambil ponsel dan duduk di sofa. Segera dia pun mengikuti pergerakan wanita itu dan duduk di samping Mila. Mereka melihat banyaik model pakaian. Bejo membiarkan Mila memilih dulu
"Tadi Bejo kenapa ya? Kok kayak lihat sesuatu." Mila melangkah keluar kembali. Saking penasarannya wanita itu mengecek situasi yang ada di sana. Mila melihat ke kanan dan ke kiri balkon kamar sebelah. Namun tidak Mila temukan apapun di sana. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali seperti apa yang wanita itu pikirkan. "Apa sih yang Bejo lihat tadi? Kok aku nggak nemuin siapa-siapa." Mila terdiam di sana, dalam hati masih bertanya-tanya kemudian masuk kembali setelah merasakan angin begitu sangat kencang. Mila sampai bergidik dan segera menutup pintu balkon kamar. Mila berbalik tapi wanita itu begitu sangat terkejut kala tau Bejo sudah ada di belakang wanita itu. "Astaga! Bejo!" Bejo mengangkat kedua alisnya melihat bagaimana ekspresi Mila. Dia menatap dengan lekat sampai Mila terlihat sedikit gelagapan. "Jo kok kamu mandinya cepat sekali?" "Nyonya habis dari mana?" "Oh itu, aku nyari angin tadi tapi malah kedinginan." "Oh nyari angin, kirain nyari tau ada apa di luar,"
"Wait! Jadi suami?"Ternyata yang menjadi fokusnya Mila hanya karta-kata terakhirnya saja. Bejo pun menatap lekat wajah wanita itu saat memandangnya menunggu jawaban. "Tapi sayangnya nggak mungkin 'kan Nyonya poliandri."Mila berdecak mendengar itu kemudian menggelengkan kepala. "Taulah! Nggak jelas kamu tuh, Jo!" Mila turun dari ranjang kemudian melangkah menuju jendela dan membuka gorden hingga menampilkan pemandangan malam yang indah."Nyonya nggak mau pulang? Tadi sudah pamit Tuan belum kalau mau ke hotel?""Mana ada aku pamit? Sama kamu aja tadi aku nggak ngomong kok. Memang aku lagi pengen santai aja di sini tanpa memikirkan apapun tapi sialnya tetap saja kepikiran."Mila berdiri memunggunginya dan Bejo pun beranjak dari ranjang kemudian melangkah mendekati wanita itu. Bejo berdiri di samping Mila yang anteng memandang pemandangan luar dengan kedua tangan bersilang di dada. "Memangnya yang paling berat mikirin apa, Nya?""Kamu!"Sontak Bejo menoleh memandang Mila dengan kedua
"Hhmm..." "Tapi saya bukan manusia yang nggak punya pikiran. Semalam Nyonya habis babak belur. Istirahat dulu saja, Nya!" Bejo mengusap punggung Mila untuk meredakan rasa ingin yang timbul. Bejo pun menarik selimut menutupi tubu wanita itu. Apalagi bongkahan bokong Mila yang semalam habis kena tabok Saka, itu sangat-sangat menggoda tetapi harus ditutupi dulu. "Gimana nggak kena tabok kalau montok banget begini," gumamnya kemudian melirik wajah Mila yang sudah terlelap. Usapan tangan dan pelukannya mampu menghipnotis Mila hingga nyenyak. "Tidur deh! Kasihan banget!" Bejo beranjak dari sana tetapi pergerakannya ditahan oleh Mila. Wanita itu melenguh dan memintanya untuk tetap di sana. Bejo pun kembali merebahkan tubunya di samping Mila saat wanita itu justru semakin mengeratkan pelukannya. "Kalau begini gimana gue bisa tenang? Tidur aja lah udah dari pada si Juki ngajak bangun." Bejo pun memejamkan kedua mata setelah merasakan sesuatu dalam tubuhnya. Memang kalau dekat Mila h
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka







