LOGIN"Kamu mau kemana, Mala?" tanya Ibu saat melihat Mala malam-malam bersiap pergi padahal baru saja pulang kerja. "Aku ingin ke rumah Kak Mila, Bu. Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Apa Ibu sudah mengucapkan itu?""Tidak perlu diucapkan bahkan Ibu saja sudah lupa tanggalnya.""Kenapa Ibu seperti itu sama Kak Mila? Sama aku Ibu tidak pernah lupa membuatkan nasi kuning tetapi sama Kak Mila, Ibu nggak mau sama sekali mengingat moment itu. Apa Ibu lupa saat memperjuangkan Kak Mila dulu?" tanya Mala dan menciptakan tatapan penuh kebencian di kedua mata Ibunya. "Tau apa kamu, Mala? Tidak perlu kamu bertanya seperti itu. Ibu tidak mengingat apapun tentang kakak kamu. Lagian untuk apa kamu ke sana? Kalau memang mau diucapkan biar dia datang ke sini atau kamu telepon saja! Tidak perlu kamu datangi rumahnya! Bisa besar kepala dia nanti."Mala menggelengkan kepala mendengar apa yang Ibu sampaikan bahkan Mala seperti tidak setuju dengan ocehan Ibu yang tidak sejalan dengan wanita
Berbeda dengan Saka, di kamar sebelah, kedua penghuninya sedang sangat-sangat bernafsu. "Jo... Ahh!"Suara manja Mila mulai terdengar gelisah. Itu tandanya apa yang Bejo lakukan sudah mampu membuat wanita itu resah. Gerakan Bejo yang menuntut dengan jilatan lembut di leher Mila membuat wanita itu kalang kabut. Bejo membuat Mila hilang arah. Wanita itu sampai mencengkeram pundaknya melepaskan segala rasa yang tertahan. "Sshhttt.... "Bejo menyeringai dengan menekan punggung Mila yang saat ini melengkung mendongak dan menyodorkan dada. Semua dunia tengah Mila suguhkan dan Bejo memberikan surga tanpa harus merasakan kematian.Tubuh wanita itu dalam genggeman dan Bejo terus mengusal tanpa jeda, tanpa membiarkan satu inci tubuh Mila terabaikan. Mila yang sakit hati tapi Bejo yang dendam sekali akan perbuatan Saka. Apa yang ia lihat tadi, suara meresahkan itu, dan gerakan Saka yang membuat wanitanya meracu, dia lakukan pada Mila hingga wanita itu tak bisa diam. Tubuh Mila bergerak agre
"Mas kamu kenapa?" "Aghh!"Saka mengetuk kepalanya sendiri setelah memakan apa yang tadi dipesan. Kedua mata Saka pun memerah bahkan ekor mata Saka basah. "Mas minum dulu!""EEgghhh... Keparat! Apa yang aku makan ini?" oceh Saka dengan mulut yang masih penuh dan wanita yang ada bersama dengan pria itu pun segera mengusap punggung polos Saka. "Ya ampun Mas, aku lihat makanan ini nggak masalah loh. Kenapa kamu sampai seperti itu?" Wanita itu pun mencoba memakan makanan yang sama seperti apa yang Saka makan dan respon wanita itu biasa saja. Wanita itu menganggukkan kepala begitu sangat menikmati kemudian memberikan ibu jari tanda ini oke sekali untuk dimakan pada Saka. "Aman loh, Mas!" kata wanita yang kini hanya mengenakan tanktop tanpa bra dan juga celana dalam saja. Wanita itu duduk manja di samping Saka."Memangnya kamu merasakan apa?""Ini ada washabinya dan banyak sekali. Kepala dan telingaku rasanya..... Hhmm...."Saka segera minum minuman bersoda yang tadi dipesan sedangkan
Mila tiba-tiba naik ke atas pangkuannya dan mengalungkan kedua tangan setelah sempat memperhatikan respon darinya. Bukan dia yang meminta tetapi wanita itu yang tiba-tiba naik ke pangkuannya. "Nyonya mau apa?" "Mau menyiksa si Juki yang celamitan sekali. Senggol dikit langsung berdiri." "Kalau hanya untuk menyiksa lebih baik jangan, Nyonya! Nanti malah Nyonya yang tersiksa." "Kata siapa?" tanya Mila malah menantang dan itu sangat tidak aman untuknya. Bejo hendak menolak, bukan tak suka dengan apa yang Mila lakukan tetapi ingat kalau majikannya belum boleh hamil walaupun tadi sempat menawarkannya dan mengijinkan asal jangan buang benih di dalam. Namun baginya yang sudah pernah memasukkan di dalam ya lebih enak begitu dari pada buang di luar. "Cabut singkong lagi aja. Mana endul?" gumam Bejo kemudian mendongak tak mempertikan wajah Mila. "Apa, Jo?" tanya Mila dan dia menggelengkan kepala. "Turun, Nyonya!" "Nggak bisa!" Mila menyeringai setelah mengatakan itu. Wanita i
"Jo kamu kenapa kok malah ketawa-ketawa gitu?" "Hah! Nggak kok, Nya. Itu kasihan orangnya salah alamat. Harusnya ke kamar sebelah malah ke kamar ini. Ya udah Nyonya pesan makanan aja!" Bejo pun kembali ke tempat duduknya setelah memastikan karyawan tadi sudah memberikan makanan pada kamar yang tadi dia curigai dihuni oleh Saka. Kok ya bisa-bisanya satu hotel dengan alasan keluar kota. "Gue jamin malam ini lo nggak akan bisa tidur nyenyak!" gumam Bejo hingga membuat Mila menoleh padahal sedang memesan makanan. Kedua alis Mila terangkat dan dia menggelengkan kepala melihat itu. "Udah itu aja. Makasih ya!" kata Mila setelah ituurmdutr Ng mendekatinya. Mila menoleh masih penasaran dengan apa yang ia katakan tadi. "Kamu bicara apa tadi, Jo?" tanya Mila dan Bejo menggelengkan kepala. "Kamu tuh geleng-geleng kepala terus!" sahut Mila kemudian mengambil ponsel dan anteng lagi dengan benda pipih itu. Bejo pun melirik apa yang Mila tengah lakukan dengan benda pipih itu. "Kalau di med
"Jangan godain, Nya! Iman saya setipis tisu dibelah jadi tujuh ini. Nggak bisa kalau digoda seperti itu."Mila terkekeh mendengar apa yang ia katakan. Bejo pun hendak memakai pakaian tadi lagi tetapi Mila melarangnya. "Nggak usah dipakai! Beli aja, Jo! Aku nggak suka kamu pakai pakaian tadi. Itu sudah kotor kecuali kalau kamu pulang.""Terus kalau saya pulang, Nyonya sendirian di sini? Nggak lah! Enak aja! Kalau saya pulang, Nyonya juga harus pulang. Bukan apa, demit lanangan banyak di sini tuh." Bejo pun benar-benar melepaskan pakaian itu dan menumpuknya di tempat lain. Mungkin besok akan dia bawa pulang dan di cuci di rumah. Untuk sementara pakai handuk kimono dulu saja. "Ya udah makanya beli saja sekalian aku juga mau beli. Kamu pilih nanti biar barangnya diantar bareng ke sini!" kata Mila kemudian mengambil ponsel dan duduk di sofa. Segera dia pun mengikuti pergerakan wanita itu dan duduk di samping Mila. Mereka melihat banyaik model pakaian. Bejo membiarkan Mila memilih dulu
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka







