LOGIN"Aku akan berikan asal kamu mau membuka kaki untukku malam ini, Sayang." Mila tersenyum miris mendengar itu kemudian menggelengkan kepala. "Bukan aku tidak mau, Mas. Aku harus menunggu Ayah. Bagaimana kalau diganti dengan aturan yang lain?" tanya Mila dan Saka menggelengkan kepala. "Tidak bisa, Sayang! Kamu tentu paham apa yang aku mau. Apa yang aku inginkan. Sejak awal hanya satu itu. Aku akan berikan apapun yang kamu minta asal kamu mau memberikan kepuasan untukku." "Baik, Mas." Saka menyeringai mendengar jawaban dari Mila. Tangan Saka terangkat mengusap pipi Mila dan memandang dengan kedua mata berbinar. Saka sangat bahagia. Tentu saja! Inginnya bisa terpenuhi itu membuat Saka seperti di atas awan. "Tapi tidak sekarang, Mas." "Kapan, Sayang?" "Apa yang akan kamu berikan padaku, Mas?" tanya Mila memastikan dulu apa yang Saka akan berikan. Satu kali membuka kaki, sudah pasti akan ada kedua, ketiga dan keempat atau selanjutnya yang tak mungkin bisa Mila hindari
"Kalau memang Nyonya sudah saya hangatkan dan saya puaskan. Tidak mungkin Nyonya bisa berlari menaiki tangga dan mendekati Tuan. Lihat saja kaki Nyonya! Tidak gemetar sama sekali dan tetap kokoh berdiri di hadapan anda!" tunjuk Bejo dan Saka menunduk memandang kaki Mila. Saka memperhatikan kedua kaki telanjang Mila yang masih kuat berhadapan dengan mereka. Mila pun menoleh memperhatikan. "Aman!" ucap Bejo lirih tanpa terdengar oleh Saka dan Mila menganggukkan kepala merespon dirinya. Saka kembali mendongak, berdiri dan memandang lagi wajah Mila. Saka melihat lagi bagaimana ekspresi Mila. Wanita itu diam dengan bibir merapat membiarkan Saka sibuk dengan pikirannya. "Mandi sana!" perintah Saka dan Mila menganggukkan kepala kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Mila meninggalkan kedua pria yang masih bersitegang rasa. Rasa ingin dan rasa nanggung yang ditahan oleh kedua pria tersebut membuat mereka campur aduk. Saka dan Bejo kembali memandang satu sama lain. Kedua
"Nyonya dipanggil Tuan." "Baik, Bi." Mila keluar seraya merapikan pakaiannya. Langkah kaki jenjang wanita itu kembali menaiki tangga. Terlihat buru-buru dengan pakaiannya yang semakin berantakan. Pergerakan yang sangat mencurigakan. Tentu saja karena setelah memperhatikan majikan, Bibi langsung menoleh menatap Bejo yang berdiri memperhatikan Mila dari ambang pintu kamar. "Haish! Ngawur kamu, Jo!" oceh Bibi dan Bejo melirik beliau dengan tenang dan santai seraya menarik turunkan alisnya. "Ada Tuan juga kamu gas. Nggak ngerti wayah kalau kata orang Jawa!" "Wayah apaan?" "Waktu! Kamu tuh parah! Kalau sampai Tuan ngamuk gimana? Itu air kecilin! Kasihan orang sampai teriak-teriak di atas. Kayaknya udah kemana-mana itu air. Buruan! Jangan kebangetan!" ujar Bibi seraya meraih tangannya. "Malas banget! Biarin aja aturan mah!" "Yeee... Ya jangan gitu! Dendam banget kamu sama Tuan." "Lebih tepatnya memberikan pelajaran sih. Ngasih masalah kecil dari banyaknya masal
Bukan Bejo namanya kalau tidak bisa menaklukkan majikannya. Bejo mendorong Mila ke ranjang hingga tubuh wanita itu terhempas. Kedua mata Mila terperanjat. Tubuh itu begitu ringan terjatuh tanpa ada perhitungan. Namun semua sudah Bejo perkirakan tanpa ada keluhan bagi Mila. Hanya sedikit terkejut tak menjadi masalah. Bejo menyeringai mengkukung tubuh Mila yang basah. Bahkan pakaiannya pun sudah ikut basah tetapi Bejo tidak memperdulikan itu. Mila memandang dengan kedua mata penuh tanya padanya. "Jo..." "Tidak perlu lagi bertanya hal yang sepele, Nyonya! Bukankah sebelumnya kita sudah pernah membahas yang lebih serius? Apa yang saya mau Nyonya sudah tau. Ringan tapi seriusan. Jangan membuat saya tertawa dengan pertanyaan yang tidak perlu lagi ditanyakan!" "Jo nanti kalau Mas Saka ke sini bagaimana?" "Sekarang khawatir Tuan tau?" Kedua alis Bejo terangkat dan jengah dengan pertanyaan itu. "Ya kamu juga yang kena, Jo!" jawab Mila terdengar geregetan padanya. "CK, jangan
"Mila ini lama sekali? Bejo juga kabur kemana lagi? Kebiasaan kalau sedang dibutuhkan tidak standby!" oceh Saka yang masih kerepotan menutupi air, memegang gagang shower yang masih bergejolak kencang. Repot Saka sampai misuh-misuh. Mana penutup air sudah Saka tutup tadi setelah mandi. Jadinya menggenang kalau tidak segera dibuka. Sementara yang ditunggu-tunggu sedang menikmati majikannya yang datang dengan pakaian basah. "Nyonya tidak sadar kalau sudah memikirkan dia? Nyonya turun dengan tubuh yang basah. Bagaimana kalau sampai ada tamu yang tiba-tiba datang dan melihat? Mata saya yang terbiasa saja masih berbinar bagaimana orang lain? Sadarlah kalau tubuh Nyonya terlalu indah untuk dipamerkan!" "Bodoh! Kenapa aku memikirkan dia? Harusnya biarkan saja ya, Jo! Dia jahat sama aku. Susah sedikit saja, aku pikirkan sampai lari-larian. Untung aku tidak jatuh tadi. Ya ampun! Aku sampai tidak memilkirkan apapun yang membahayakan. Benar katamu, aku rugi kalau sampai dilihat orang l
"Mas aku mau mandi. Aku gerah sekali dan aku baru saja pulang dari rumah sakit. Tubuhku kotor. Bagaimana bisa aku membuka kaki dan membiarkan milikku kamu nikmati. Ini sangat tidak enak, Mas. Belum aku bersihkan." Mila berkelit, memberikan alasan agar tidak dimakan oleh Saka. Andaikan milik Mila berkedut meminta tetapi itu bukan pada Saka. Mila sudah memiliki seseorang yang mampu memberikan kepuasan tanpa menyakiti badan dan mental. "Kalau begitu bagaimana jika sambil mandi? Kita bersihkan dulu dan aku akan memakannya Sayang. Lidahku sudah tidak tahan ingin menyapa daging kenyalmu ini," kata Saka seraya mengusap milik Mila dengan gemas hingga Mila meringis mendapati itu. "Mas bisa pelan nggak? Jangan begini!" kata Mila dan Saka terkekeh mendengar ucapan dari wanita itu. "Aku terlalu bersemangat, Sayang. Makanya aku terlalu kencang mungkin bagimu. Maaf ya, Sayang." Saka mengecup pipi Mila lagi dan mengangkat tubuh Mila hingga kedua kaki melingkar di pinggul pria itu. Kedu
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t







