เข้าสู่ระบบDulu saat mengandung Lengkara, Vanka menjalani hari-hari yang tidak mudah. Begitu juga dengan kehamilan keduanya ini. Setiap hari Vanka merasa lelah dan khawatir. Mual dan muntah adalah rutinitas baru. Energinya jauh lebih cepat habis dibanding biasanya.Bangun pagi saja sudah butuh perjuangan ekstra. Bahkan sarapan sederhana kadang terasa berat, padahal nutrisi penting untuk bayi di dalam kandungan. Ia pun harus lebih hati-hati dalam bergerak.Di sisi lain, pikiran Vanka tidak pernah benar-benar tenang. Ia sering memikirkan reaksi Thalia, khawatir anak sambungnya akan semakin menolak. Sementara itu, Shankara selalu berusaha menenangkan. Namun Vanka tetap merasa beban itu ada di pundaknya.Meski begitu, ada momen-momen manis yang membuatnya tersenyum sendiri. Saat Lengkara memeluk perutnya dan bertanya apakah adik dalam perutnya itu sudah bisa mendengar suara Mama, atau saat Shankara mengelus dan mengecup lembut perutnya.Semua itu memberi kekuatan tersendiri bagi Vanka. Walau lelah,
"Kita harus kasih tahu anak-anak soal kehamilan kamu," kata Shankara setelah mereka berada di kamar.Vanka menggeleng tidak setuju. "Jangan sekarang, Bang. Thalia lagi sensitif.""Ya nggak sekarang, Van. Besok pagi maksud Abang," lanjut Shankara agar lebih jelas. "Dan soal Thalia, itu anak emang sensitif sepanjang waktu. Jadi tujuan Abang ngasih tahu ke dia lebih awal agar dia hati-hati dan jaga sikap ke kamu karena kamu lagi hamil."Vanka terdiam. Jarinya saling mengait gelisah di atas paha. “Bang, aku takut,” ucapnya lirih. “Takut dia malah makin benci.”Shankara menatap istrinya lekat-lekat. "Van, kamu istri Abang." Lalu Shankara menempelkan telapak tangannya di perut Vanka yang masih rata. "Dan ini anak kita. Kamu nggak salah apa-apa. Dan Thalia harus belajar menerima kenyataan itu."Vanka menghela napas. “Aku cuma nggak mau bikin dia makin sakit.”“Abang yang tanggung jawab,” balas Shankara. “Biar Abang yang ngomong. Biar Abang yang hadapi dia.”***Pagi ini seperti biasa keluar
Vanka tahu betul menggunakan tes kehamilan lebih efektif jika dilakukan pada pagi hari. Tapi ia tidak sabar menunggu besok. Jadi ia melakukannya saat itu juga. Setelah menampung urinnya dengan wadah yang diberikan Andara, Vanka menyelupkan benda pipih itu ke dalamnya. Ia menunggu beberapa saat dengan degup jantung di atas normal. Lalu ... Vanka mengangkatnya. 'Ya Tuhan ...' Sepasang matanya berkaca-kaca menanggung perasaan haru ketika melihat dua garis biru sejajar di sana. Doanya siang dan malam akhirnya menjadi kenyataan. Hamil. Ia benar-benar hamil. "Van, gimana?" panggil Andara dari balik pintu kamar mandi. Vanka tersentak. Ia cepat-cepat menyeka pipinya. Test pack itu ia genggam erat-erat. “Masuk aja, Ra.” Pintu dibuka perlahan. Andara melangkah masuk, matanya langsung menangkap wajah Vanka. “Gimana, Van?” Andara mendekat cepat. Vanka mengangkat tangan, memperlihatkan test pack itu. "Positif! Selamat ya, Van." Andara langsung memeluk Vanka. Ia ikut bahagia. "Ma
Hari ini Kaivan, anak pertama Ananta dan Andara berulang tahun. Jadi Shankara membawa istri dan anak-anaknya ke sana. Memang bukan perayaan besar-besaran. Hanya kumpul-kumpul keluarga dan makan malam bersama."Thalia mana, Van?" Shankara menanyakannya lantaran sang putri sulung masih belum terlihat."Kayaknya masih di kamarnya deh, Bang," jawab Vanka."Coba kamu panggil dia."Patuh, Vanka mendatangi kamar Thalia.Vanka mengetuk pintu dan tidak ada jawaban. Ia mendorongnya sedikit, mendapati pintu tidak terkunci.“Thal?” panggilnya.Thalia berdiri di depan cermin, punggungnya menghadap pintu. Rambutnya dibiarkan tergerai, eyeshadow gelap membingkai mata, lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya. Ia mengenakan crop tee yang membuat perut dan pusarnya terekspos dengan jelas serta rok mini hitam. Sepasang high heels sudah siap di lantai.Vanka tertegun. “Thalia, kamu mau ke mana?”Anak tirinya itu menoleh, menilai pantulan dirinya sendiri, lalu mengangkat dagu. “Ke rumah Tante Andar
Waktu menunjukkan pukul delapan malam lewat sepuluh menit ketika suara motor Shankara terdengar memasuki halaman rumah.Thalia yang sedang main ponsel di sofa langsung menegakkan punggung. Ia mengatur ekspresi dan menata suaranya.Shankara masuk dengan wajah lelah.Thalia melirik sekilas, lalu memalingkan wajah dengan dengkusan kecil.“Papa capek banget hari ini.”Thalia tidak menjawab. Ia malah semakin menenggelamkan fokus pada gadget di tangannya.Shankara lalu duduk di sebelah anak itu. "Main hp terus. Nggak belajar?" tanyanya."Udah," jawab anak itu singkat."Terus kenapa mukamu kayak bete gitu?"Thalia menghela napas panjang. “Nggak apa-apa.”“Kalau nggak apa-apa, kenapa mukanya kayak gitu? Ada masalah apa lagi?”Thalia diam sebentar, lalu mengatakan, “Papa beneran mau tahu?”“Ya.”“Pa, Tante Vanka itu genit.”Shankara mengedip sekali. Lalu tertawa kecil. “Hah?”“Aku serius, Pa!” ujar Thalia cepat, merasa kurang puas dengan reaksi papanya. “Tadi di sekolah dia sok senyum-senyum s
"Mulai hari ini Tante Vanka yang akan mengantar kamu ke sekolah." Shankara membuat pengumuman ketika pagi itu mereka sarapan pagi bersama.Thalia spontan mengangkat wajahnya dan memandang sang ayah dengan tatapan penuh protes. Ia menggeser matanya sesaat pada Vanka tanpa perlu repot-repot menyembunyikan ketidaksukaannya. “Kenapa harus dia?” tanya Thalia ketus. “Kan, biasanya Papa.”“Karena Papa mau buka bengkel lebih pagi.”“Ah, Papa nggak asyik. Aku mau nyetir sendiri aja!" Thalia memberengut dan mengusap bekas susu yang menempel di sudut bibirnya dengan kasar.Lengkara hanya diam memerhatikan. Ia tidak berani bicara. Sudah seminggu Thalia tinggal di situ. Awalnya Lengkara senang memiliki kakak. Tetapi tiap kali dirinya mendekat, Thalia langsung melotot. Lengkara merasa takut dan tidak berani lagi mendekat alih-alih mengajaknya bermain."Kamu belum punya SIM, Thalia. Gimana mungkin mau bawa mobil sendiri.""Papa sih sok-sok-an nyuruh aku putus samaYudha." Gadis itu bersungut-sungu







