แชร์

BAB 223

ผู้เขียน: Rainina
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-28 15:20:38

Victor menempelkan ponsel ke telinganya. Adriana memperhatikan raut wajah suaminya lekat-lekat, bersiap jika rahang pria itu kembali mengeras karena ulah putri tirinya.

Namun, percakapan itu ternyata berlangsung sangat singkat dan tenang. Tidak ada perdebatan apapun hingga akhir.

"Baiklah." ucap Victor memecah keheningan. "Aku akan memberikan kontaknya padamu."

Victor mematikan sambungan teleponnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas layar selama beberapa detik sebelum ia menaruh kembali bend
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 230

    Davian mengusap wajahnya dengan kasar, gurat frustrasi tercetak jelas di wajahnya yang biasanya terlihat datar. "Lalu kenapa anda pergi begitu saja?” tanya Davian akhirnya. “Kenapa anda tidak mengajak saya bicara jika anda memang ingin mengakhiri perjanjian ini lebih awal?!”Dengan gerakan kasar, tangan Davian merogoh saku dalam jasnya. Ia menarik keluar dokumen yang sejak tadi seolah membakar dadanya surat cerai mereka. Kertas itu sedikit lecek akibat cengkeraman tangan Davian yang terlalu kuat, namun tanda tangan Evelyn di bagian bawahnya masih terlihat begitu jelas dan mengejek kewarasannya.Melihat kertas itu, hati Evelyn mencelos. Ada denyut nyeri yang kembali menghantam dadanya, namun ia menolak untuk terlihat lemah. Ia menegakkan dagunya, membalas tatapan tajam Davian tanpa berkedip."Bukankah itu yang selalu kau inginkan?" balas Evelyn dengan suara bergetar yang berusaha ia stabilkan. "Kau yang selalu memintanya, Davian. Kau yang terus menekankan batasan di antara kita dan m

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 229

    Langkah kaki Evelyn terasa jauh lebih ringan saat ia menyusuri lorong hotel tempatnya menginap. Beban tak kasat mata yang selama ini bertengger di pundaknya seakan luruh sebagian setelah pertemuannya dengan Clara. Meskipun ia tahu satu permintaan maaf tidak akan langsung menghapus semua kekacauan di masa lalu, setidaknya itu adalah langkah awal. Evelyn benar-benar ingin berubah.Senyum tipis dan lega masih menghiasi bibir Evelyn saat ia menempelkan kartu akses ke pintu kamarnya.Evelyn melangkah masuk, membiarkan pintu berayun menutup di belakangnya. Namun, sebelum engsel pintu itu sempat berbunyi tertutup rapat, sebuah tangan besar tiba-tiba menahan tepiannya dengan kasar.Brak!Evelyn tersentak mundur, jantungnya nyaris melompat dari dada. Belum sempat ia memproses apa yang terjadi, sebuah tangan yang kuat mencengkram bahunya, memaksanya berbalik.Napas Evelyn tertahan. Matanya membelalak lebar melihat sosok pria yang kini berdiri menjulang di hadapannya, menghalangi jalan keluar d

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 228

    Lobi utama Hotel milik keluarga Harrington terasa begitu dingin. Atau setidaknya, begitulah yang dirasakan Evelyn Sterling saat melangkah masuk. Lantai marmer yang mengkilap di bawah sepatunya seolah memantulkan bayangan dosa masa lalunya.Pertemuan ini diadakan di wilayah kekuasaan Clara Harrington. Menurut informasi yang Evelyn terima, mantan tunangan Theodore itu memegang kendali penuh atas jaringan perhotelan keluarganya.Tidak butuh waktu lama bagi Evelyn menunggu di lobi. Seseorang menghampirinya, dan ia segera diantar naik ke lantai teratas, menuju ruang kerja pribadi Clara.Di balik meja kerjanya yang besar, Clara sudah duduk menunggu. Wajah wanita itu terlihat begitu datar, sehingga sulit dibaca."Duduklah, Nona Sterling." ucap Clara.Evelyn menarik napas panjang, mengais serpihan keberaniannya yang tersisa sebelum duduk di kursi yang berada di hadapan Clara."Aku tidak akan membuang waktumu." suara Evelyn memecah keheningan, dan sayangnya, suara itu terdengar lebih rapuh dar

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 227

    Malam itu, jarum jam di dinding seolah bergerak jauh lebih lambat dari biasanya.Davian berbaring telentang di atas ranjang di tengah kamar yang temaram. Kedua tangannya terlipat di belakang kepala, sementara pria itu menatap lurus ke langit-langit. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Rasa kantuk yang biasanya datang dengan mudah setelah seharian berpikir, kini seakan menguap tanpa sisa.Di tengah keheningan yang memenuhi ruangan itu, mata gelap Davian sesekali melirik ke arah ponselnya yang tergeletak bisu di atas nakas. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan.Pandangan pria itu kemudian turun, beralih pada ruang kosong di sebelah kanannya. Bagian tempat tidur yang biasanya diisi oleh Evelyn kini terhampar rapi tanpa kerutan. Sprei itu terasa begitu dingin saat bersentuhan dengan kulit lengan Davian. Tidak ada lagi wanita keras kepala yang diam-diam menyelinapkan kaki dinginnya ke paha Davian untuk mencari kehangatan di tengah malam. Tidak ada lagi

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 226

    Suara langkah kaki Evelyn yang menjauh perlahan menghilang di balik pintu rumah utama. Ruang makan keluarga yang luas itu kembali diselimuti keheningan setelah kepergian Evelyn."Evelyn... dia akan baik-baik saja, kan?" bisik Victor pelan, memecah kesunyian.Adriana menoleh, menatap suaminya lekat-lekat. Gurat kekhawatiran yang biasanya disembunyikan rapat-rapat di balik topeng ketegasannya, kini terpampang jelas di wajah Victor. Adriana berpindah untuk duduk di samping Victor. Ia mengulurkan tangannya, mengusap bahu tegap suaminya dengan lembut."Tenanglah, Victor." hibur Adriana, suaranya mengalun tenang dan meyakinkan. "Aku yakin Evelyn akan baik-baik saja. Ini adalah langkah pertamanya. Dia telah memutuskan sendiri untuk menjadi lebih baik dan berdamai dengan masa lalunya. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah percaya padanya dan mendukungnya."Victor menghela napas panjang dan berat. Ia menumpukan dahi pada sebelah tangannya, memejamkan mata dengan raut penyes

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 225

    Setelah tangisannya perlahan mereda, Evelyn mengurai pelukan Adriana. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan ujung jari yang bergetar.Hatinya masih terasa ngilu, namun untuk pertama kalinya, beban berat yang selama ini menghimpit dadanya terasa sedikit terangkat.Evelyn menarik napas panjang, menetralkan suaranya yang masih serak, lalu mulai menyampaikan rencananya pada ayahnya dan Adriana. Ia menceritakan niatnya untuk menemui Clara, mantan tunangan Theodore yang dulu hidupnya ia hancurkan hanya demi egonya.Mendengar rencana tersebut, Victor dan Adriana sedikit terperanjat.Victor menatap putrinya dengan pandangan tak percaya. Pria itu akhirnya menyadari sesuatu. Pantas saja Evelyn meminta kontak orang kepercayaannya tempo hari. Ternyata, permohonan Evelyn waktu itu adalah untuk melacak keberadaan wanita yang pernah menjadi korban kenekatannya di masa lalu.Namun, Victor memutuskan untuk tidak mencecarnya lebih jauh. Ia membiarkan niat baik itu mengalir. Ada satu hal lain ya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status