Share

BAB 2

Author: doni revelton
last update Last Updated: 2025-12-02 12:48:31

“Yang apa?” potong Andre cepat, nada suaranya ketus seolah ingin langsung membantah pikiran Robert. “Gue gak kayak lo yang ganti pacar udah kayak ganti baju, ya!”

“Itu semua kebutuhan, Ndre. Lo cuma belum merasakannya aja. Apalagi kalau sama wanita yang udah pernah menikah, itu rasa dan sensasinya jauh lebih enak daripada sama dengan perawan polos,” jelas Robert sambil menatap langit dan tersenyum, seakan sedang membayangkan apa yang dia katakan itu sedang terjadi.

“Dasar gila. Emang lo gak takut ketahuan suami mereka?” cibir Andre.

“Lah, kalau janda gak bersuami, ngapain takut,” jelas Robert, masih dengan mata terpejam membayangkan sedang bermain bersama janda.

“Janda?”

Andre merasa terkejut dan kembali teringat akan Tante Mila. Terutama pada benda kenyal Mila yang padat dan berisi itu. Yang lebih penting lagi, Mila adalah wanita yang sudah pernah menikah dan saat ini berstatus janda.

“Benar, dibimbing janda rasanya jauh lebih syahdu,” jelas Robert lagi, ekspresi wajahnya benar-benar menampakkan wajah bahagia dan puas.

Andre tak tahu harus berkata apa pada sahabatnya itu. Tapi yang pasti, apa yang dikatakan Robert membuat Andre semakin penasaran dan mulai berpikir untuk membandingkannya.

“Kalau lo mau coba, gue bisa kenalin ke satu wanita. Dia masih tiga puluhan, tapi itunya…” Robert tak berani menyebutkan langsung, dia hanya bisa membayangkan dengan mata tertutup. Sementara Andre hanya mengernyitkan dahinya, bingung.

“Coba lihat ke sana deh,” titah Robert seraya menunjuk dua gadis yang tak jauh dari mereka. “Ukuran mereka tuh kecil, tapi kalau ukuran janda bener-bener gede. Rasanya juga kenyal, enak dan bikin ketagihan, apalagi kalau pas di tangan.”

Entah apa yang terjadi, tapi saat mendengar penjelasan Robert, seluruh pikiran Andre tertuju pada benda milik Mila, apalagi saat berbicara tadi, benda itu bergerak naik turun.

Ting!

Andre melihat ponselnya dan terkejut saat pesan yang dia terima berasal dari wanita yang sedang dia pikirkan.

“Tante Mila?” gumamnya pelan, seraya menutup ponsel dengan cepat, apalagi saat Robert mendekat dan hendak mengintip.

“Janda bukan?” ejek Robert, dengan bibir terangkat ke atas membentuk senyum mengejek.

“Apasih,” gerutu Andre sambil menyembunyikan ponselnya.

“Cantik gak? Kalau lo gak mau, bisa kasih ke gue. Gue yakin dia gak akan nolak pesona gue,” ujar Robert percaya diri.

Andre memukul pelan kepala Robert. “Apaan sih? Gak semua cewek mau sama playboy kayak lo ya!”

Setelah itu, Andre berjalan meninggalkan Robert yang mengusap-usap kepalanya.

“Yeh, itu lo aja yang belom ngerasain!” gerutu Robert sambil berjalan menyusul Andre. “Eh, lo ada bimbingan gak hari ini?”

“Iya, waktu itu Bu Erika bilang ini terakhir mau langsung disetujui,” jawab Andre sambil mulai duduk di salah satu kursi taman kampus.

“Loh, bukannya Bu Erika cuti dua minggu ya?” sahut salah seorang perempuan yang duduk di belakang mereka.

“Hah? Yang bener?” Sontak Andre terkejut dan langsung menoleh ke perempuan itu.

“Iya, katanya dia lagi ke luar negeri. Kemarin beliau bilang sendiri kok di grup,” jelas perempuan itu, sambil menunjukkan ponselnya. “Nih, pengumumannya.”

Andre langsung mengambil ponsel perempuan itu dan melihat pengumuman dari Bu Erika. Dan ternyata, semua yang dikatakan perempuan itu benar.

Dengan kesal, Andre kembali menyodorkan ponsel itu.

“Yah, ini mah gue gagal sidang jadinya. Kampret banget!” gerutu Andre kesal.

Saat ini, bisa dikatakan Andre sudah telat lulus 1 semester. Dan karena tidak adanya Bu Erika yang merupakan pembimbing skripsi Andre sekarang, dia kembali terancam gagal sidang.

“Udah, daripada kesel gimana kalo ke kos gue aja?” tawar Robert sambil menaik turunkan alisnya.

Robert memang anak rantau yang tinggal di kamar kos tak jauh dari kampus. Terkadang, sambil menunggu kelas berikutnya, Andre memilih untuk pergi ke kos Robert.

Andre melirik Robert sekilas. Jika memilih pulang, di rumah pun dia tidak tahu akan melakukan apa sendirian. Akhirnya, dia mengangguk, “Ya udah, ayo.”

Akhirnya, mereka kembali ke parkiran untuk mengambil motor Andre, lalu melaju ke arah kos Robert.

Begitu tiba di kamar kos kecil milik Robert, Andre langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Sementara pemilik kamar kos itu masih sibuk mencari sesuatu di dalam laci.

Tak lama, Robert mengeluarkan dua botol minuman beralkohol. Wajahnya berseri, “Mending minum gak sih biar kepala gak pusing?”

Melihat itu, Andre berdecak pelan. “Masih siang bolong begini mau minum. Tobat lo!”

Robert terkekeh, tidak peduli dengan ucapan Andre dan langsung membuka botol minuman itu. Dia menuangkannya ke gelas plastik yang selalu ada di kamarnya, lalu menenggaknya begitu saja.

“Arkh …. Manteb banget, Ndre!” seru Robert puas.

Andre hanya menggelengkan kepalanya. Dia menuang segelas air putih ke gelas plastik lain, dan meletakkannya di dekat kasur, lalu kembali fokus pada ponselnya.

Andre memang bukan tipikal anak muda yang suka mabuk-mabukan. Pernah beberapa kali, tapi tubuhnya langsung tidak berdaya. Toleransi alkoholnya memang lemah. Terlebih, ibunya juga selalu mengawasinya.

“Lo inget gak sih sama tante-tante yang kemaren gue ceritain?” tanya Robert antusias.

Andre menggeleng pelan sambil melirik temannya itu. “Cewek yang lo ceritain itu banyak, mana gue inget.”

Andre kembali fokus pada ponselnya, tangannya meraih gelas air yang ada di sampingnya dan langsung menenggak isinya hingga habis. Namun, begitu air itu habis, dia mengernyitkan dahinya. Wajahnya terlihat aneh.

“Ini bukan air ya?” tanya Andre bingung, tenggorokannya terasa aneh.

Saat itu juga, Robert tersenyum puas. “Gue tuker hahaha.”

Andre langsung melempar gelas itu dan meraih botol air mineral dan meminumnya habis.

“Ah elah, jangan cemen gitu lah. Sekali-kali mabok kek biar kayak laki beneran,” gerutu Robert sambil kembali menyodorkan botol minuman beralkohol itu.

“Berisik,” cibir Andre.

Tak lama, kepala Andre terasa mulai pusing. Dia tidak yakin bisa pulang menyetir dengan aman jika begini. Sementara Robert, dia sudah tergeletak mabuk.

Andre melihat jam yang telah menunjukkan pukul 3 siang. Akhirnya, dia memutuskan untuk menelpon Mila dan memintanya untuk menjemputnya.

Setelah beberapa saat, akhirnya Mila tiba. Wanita itu berdiri di depan pintu kamar kos Robert sambil menghela napas.

“Bro, siapa tuh?” tanya Robert setengah sadar, tapi masih bisa melihat dengan jelas ada wanita dengan tubuh molek di depannya.

“Tante gue, udah sana. Gue balik dulu, nitip motor ya,” jawab Andre lalu berdiri dan berjalan sedikit sempoyongan setelah kembali dipaksa Robert menenggak segelas minuman.

“Tante … tante cantik banget,” ujar Robert dengan senyum tidak jelas, dia berusaha berdiri tegak dan berjalan menghampiri Mila. “Aku … aku suka yang besar dan padat begitu. Boleh gak, Tante?”

Robert terus meracau tidak jelas. “Ndre, gila lo jahat sih. Masa kenal cewek cakep montok gini disembunyiin dari gue. Kita sahabat bukan sih?”

Andre hanya berdecak kesal. Sementara tante Mila terkekeh melihat tingkah dua pemuda itu.

“Tante, kalau Andre gak bisa bikin tante puas, aku bisa kok! Aku gak kayak Andre yang gak punya pengalaman!” seru Robert dengan wajah penuh rasa bangga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   Bab 5

    Andre terdiam, dia bahkan kesulitan menelan salivanya sendiri, seketika pusakanya yang berdiri tegak langsung layu.Mengetahui tantenya yang belum keluar dari kamarnya, andre Rasa malu setengah mati.Andre yang panik di dalam kamar mandi saat mendengar suara tante Mila yang masih ada di dalam kamarnya, dia segera menyelesaikan aktifitasnya itu.andrepun keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang basah. serta memperlihatkan Tubuhnya yang atletis, dengan otot-otot kekar, membuat tubuh Andre yang basah semakin seksi untuk dilihat, apalagi kalau melihat roti sobek yang ada delapan kotak itu, itu benar-benar membuat sulit untuk bernafas."Maksud tante apa tadi?" Tanya andre yang pura-pura tidak faham akan kemana maksud itu."Tidak ada, hanya saja, tidak biasanya pria mandinya lama, yang ada mereka bukan hanya mandi tapi...."Tante Mila menggantung kalimatnya sambil tersenyum..Yasudah cepetan pakai baju sana, tante mau keluar sebentar hari ini," ujar tante Mila dengan tangan menyentuh dada

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   Bab 4

    Andre buru-buru menggelengkan kepalanya. “Maaf tante, aku nggak bermaksud.”Mila kembali terkekeh, lalu mundur satu langkah. “Udah, pakai bajumu yang bener terus makan ya. Nanti kamu masuk angin loh.”“I–iya, makasih tante,” kata Andre sambil masih menganggukkan kepala.“Sama-sama,” jawab Mila singkat sambil tersenyum. Dia masih berdiri di sana, di depan Andre.Andre menjadi semakin bingung. Dia ingin memakai baju, tapi Mila justru berdiri di sana menatapnya terus.“Tante gak keluar?” tanya Andre lirih setengah malu.“Nggak, tante mau pastiin kamu beneran pakai baju dan makan supnya. Nanti malah ketiduran lagi kayak tadi,” jawab Mila sambil terkekeh.“T–tapi, tante, aku mau pakai baju loh beneran ini,” kata Andre lagi, matanya berkedip cepat, bingung.“Ya terus kenapa? Cepet pakai,” desak Mila seolah tak peduli dengan rasa malu yang Andre rasakan. “Apa mau tante pakaikan?”Andre buru-buru menggelengkan kepalanya, lalu bangkit dari kasurnya. Tangannya menggenggam erat selimut yang menu

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   Bab 3

    “Sialan lo! Itu tante gue!” sahut Andre tak terima, dia mendorong tubuh Robert dengan tenaga seadanya. Setelah itu, pandangannya beralih pada Mila. “Tante, jangan didengerin, dia gila.”Mila terkekeh lagi, lalu mengangguk pelan. “Iya, tante paham kalian ini lagi bercanda, kan?”Andre mengangguk lemah. “Udah, gue balik dulu ya, Bert.”Akhirnya, Mila menuntun Andre yang masih belum bisa berjalan dengan baik. Setelah mendapatkan taksi online dan berhasil diantar ke rumah dengan selamat, Mila membiarkan Andre berbaring di kasur kamar.Namun, saat Mila ingin pergi, Andre menahannya. “Tante, jangan dengerin omongan Robert ya. Aku … aku punya pengalaman kok! Aku udah pernah …” kata Andre cepat, seolah ingin memberi sebuah klarifikasi.Mila terkekeh. “Oh ya? Pernah apa emangnya?”Andre terdiam, lidahnya terasa kelu. Dia tidak ingin dianggap tidak ‘berpengalaman’, tapi merasa malu untuk menceritakannya di depan tantenya sendiri.Sementara itu, Mila yang melihat penampilan Andre, terpaksa kemba

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   BAB 2

    “Yang apa?” potong Andre cepat, nada suaranya ketus seolah ingin langsung membantah pikiran Robert. “Gue gak kayak lo yang ganti pacar udah kayak ganti baju, ya!”“Itu semua kebutuhan, Ndre. Lo cuma belum merasakannya aja. Apalagi kalau sama wanita yang udah pernah menikah, itu rasa dan sensasinya jauh lebih enak daripada sama dengan perawan polos,” jelas Robert sambil menatap langit dan tersenyum, seakan sedang membayangkan apa yang dia katakan itu sedang terjadi.“Dasar gila. Emang lo gak takut ketahuan suami mereka?” cibir Andre.“Lah, kalau janda gak bersuami, ngapain takut,” jelas Robert, masih dengan mata terpejam membayangkan sedang bermain bersama janda.“Janda?”Andre merasa terkejut dan kembali teringat akan Tante Mila. Terutama pada benda kenyal Mila yang padat dan berisi itu. Yang lebih penting lagi, Mila adalah wanita yang sudah pernah menikah dan saat ini berstatus janda.“Benar, dibimbing janda rasanya jauh lebih syahdu,” jelas Robert lagi, ekspresi wajahnya benar-benar

  • Tante, Berhentilah Mengejarku   Bab 1

    “Andre, besok pagi Ibu mau pergi keluar negeri selama beberapa bulan karena ada pekerjaan,” ujar Lina, ibu Andre dengan lembut. Bukannya fokus pada sang ibu, pandangan Andre justru terpaku pada sosok wanita seksi yang berdiri di belakang ibunya. Andre yang masih berada di dalam kamarnya langsung berjalan ke arah pintu, di mana ibunya berdiri. “Jadi, selama Ibu pergi, Tante Mila akan tinggal di sini untuk jaga kamu, biar kamu gak kesepian juga,” lanjut Lina sambil mengusap lengan Mila. “Kamu masih ingat kan sama Tante Mila? Sepupu Ibu yang dulu tinggal di kota sebelah itu.” Andre mengangguk pelan. Tentu saja dia masih ingat jelas! Satu-satunya sepupu jauh ibunya yang memiliki badan montok dan aduhai. Meskipun usianya sudah menginjak 30 tahun, 9 tahun di atas Andre, tapi kulitnya masih terlihat mulus kencang. Bahkan, dadanya yang padat itu masih terlihat kenyal dan sangat lembut untuk wanita seusianya. Andre menelan ludah dengan susah, lalu menatap ibunya. “Bu, tapi aku sudah besar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status