Share

73. Orang Iseng

last update publish date: 2026-10-12 17:57:09

Layar ponsel itu menggelap otomatis, namun kata-kata dalam pesan singkat tadi masih terpatri di kepala Joni bagai besi panas.

[Gue tahu apa yang lo lakuin sama nyonya rumah itu.]

Joni tidak membalas. Jemarinya diam membeku di atas layar. Membalas pesan itu secara impulsif hanya akan mengonfirmasi kepanikan dan memberi si pengirim posisi tawar yang lebih kuat.

Sebaliknya, Joni menekan tombol hapus riwayat notifikasi, mengunci ponselnya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.

Malam itu, Joni
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   76. Genit Sekaligus Misterius

    Pujian sekaligus sindiran yang terlontar dari bibir Mirna menggantung di udara, membuat dada Joni terasa sesak. Namun, ia tidak membiarkan raut wajahnya goyah sedikit pun. Sebagai pria yang terbiasa mengendalikan keadaan di bawah tekanan, Joni menarik napas pendek dan membalas tatapan menelisik wanita itu dengan senyum sopan."Tante Aya orang baik, Bu. Beliau banyak bantu saya selama tinggal di sana," sahut Joni tenang.Ratna yang duduk di sebelah Mirna tertawa renyah, mengibaskan tangannya pelan ke udara seraya melirik temannya itu dengan nada menegur santai. "Kamu ini ada-ada aja, Jeng Mirna. Anak baru saya ini jangan digoda begitu, nanti grogi kerjaannya malah berantakan.""Loh, kan cuma ngomong kenyataan, Jeng," timpal Mirna enteng seraya tertawa kecil, melipat kedua tangannya di atas meja kaca. "Zaman sekarang jarang ada anak muda yang sopan dan proporsinya sebagus ini. Aya memang pintar cari teman tinggal."Joni sedikit menundukkan kepala, bersiap membalikkan badan untuk kemba

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   75. Wanita Mencurigakan

    [Lo pikir ini cuma gertakan kosong?]Di bawah kalimat balasan itu, sebuah gambar terlampir.Dada Joni seperti dihantam palu godam saat ia membuka foto itu.Potret siluet di area pantry dapur rumah Rama. Meski wajahnya tak terlihat, tapi Joni dapat mengenali dirinya sedang menggendong Aya yang melingkarkan kaki di pinggangnya, kedua tangan wanita itu memeluk leher Joni tanpa jarak.Napas Joni tersendat di tenggorokan.Sudut bidikan kamera itu diambil dari celah kisi-kisi teras belakang… area tertutup yang hanya bisa diakses melewati pekarangan. Orang luar tidak mungkin bisa memanjat ke sana tanpa memicu sensor keamanan.Siapa pun yang mengambil foto ini, dia tidak berdiri di pinggir jalan. Dia berdiri di dalam pekarangan rumah saat Joni dan Aya tengah terlena."Jon, tolong cek steamer susu di meja depan dong. Tekanannya agak turun," suara Doni tiba-tiba memecah lamunan pemuda itu.Joni segera mengunci layar ponselnya, memasukkannya kembali ke saku, lalu mengatur napasnya agar tetap te

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   74. Joni Membalas

    Joni melangkah keluar dengan jaket bomber hitam dan tas selempang kecil. Di dekat pintu garasi, Aya sudah menunggunya dengan gaun terusan kasual. Senyum manis terbit di wajah sang nyonya rumah, berusaha menghapus sisa ketegangan pertengkaran dengan Rama satu jam lalu."Buru-buru banget, Jon," tegur Aya pelan seraya melangkah mendekat, tangannya terulur merapikan kerah jaket Joni dengan gerakan manja. "Masih ada waktu setengah jam lagi kan sebelum shift kamu mulai? Duduk dulu sebentar di dalam."Aroma parfum mawar Aya kembali menyergap hidung Joni, namun kali ini saraf-saraf di kepala pemuda itu menolak untuk terbuai. Setiap detik yang terbuang di rumah ini terasa seperti berjalan di atas ladang ranjau."Nggak bisa, Tante. Jalanan arah kafe biasanya padat jam segini. Joni nggak mau telat," sahut Joni tenang seraya mundur selangkah secara halus, melepaskan sentuhan jemari Aya dari bajunya.Aya sempat mengerucutkan bibirnya sebal, namun melihat sorot mata Joni yang tegas dan tak bisa d

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   73. Orang Iseng

    Layar ponsel itu menggelap otomatis, namun kata-kata dalam pesan singkat tadi masih terpatri di kepala Joni bagai besi panas.[Gue tahu apa yang lo lakuin sama nyonya rumah itu.] Joni tidak membalas. Jemarinya diam membeku di atas layar. Membalas pesan itu secara impulsif hanya akan mengonfirmasi kepanikan dan memberi si pengirim posisi tawar yang lebih kuat. Sebaliknya, Joni menekan tombol hapus riwayat notifikasi, mengunci ponselnya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.Malam itu, Joni nyaris tidak memejamkan mata sedetik pun.Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya, membedah setiap detik kejadian beberapa jam lalu dengan kepala dingin. Mungkinkah Rama tidak sepenuhnya mabuk? Apakah suara sentakan tangan dan bentakan kasarnya pada Aya di sofa tadi hanyalah sandiwara untuk menjebaknya? Atau Rama sengaja menyewa detektif swasta untuk memata-matai istrinya selama ia dinas di luar kota?Namun, bayangan seringai Dimas di depan bar semalam juga mendadak melintas. Pemuda itu bis

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   72. Pesan dari Nomor Asing

    Kepanikan menyergap kamar tidur utama dalam hitungan detik.Darah Joni yang tadinya mendidih karena gairah seketika berganti menjadi lonjakan adrenalin.Tanpa sepatah kata pun, Joni mencabut miliknya dari tubuh Aya, melompat turun dari ranjang, dan menyambar pakaiannya yang berserakan di atas karpet.Aya kelabakan setengah mati. Gaun tidur renda hitam yang robek dan kusut disingkirkannya tergesa-gesa ke dalam keranjang cucian kotor.Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menarik daster tidur panjang dari lemari, memakainya asal-asalan seraya merapikan seprai yang berantakan.Lilin aromaterapi mawar di atas nakas ia tiup padam hingga menyisak

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   71. Goyangan Maut

    Ujung kejantanan Joni yang panas dan tegang menekan kembali bibir kewanitaan Aya yang masih basah.Dengan napas tersengal pelan, Aya perlahan menurunkan pinggulnya. Otot-otot paha wanita matang itu bergetar menahan bobot tubuhnya sendiri saat ia menenggelamkan diri seutuhnya, membiarkan miliknya meregang menelan kepunyaan Joni hingga mentok ke pangkal."Nngghh... ahhh!"Aya melenguh panjang, kepalanya mendongak ke atas dengan leher jenjang yang menegang. Matanya terpejam rapat merasakan kepenuhan yang luar biasa padat menancap di dalam rongga tubuhnya.Joni yang berbaring di bawahnya mengertakkan rahang kuat-kuat. Otot-otot perutnya berkontraksi keras. Sensasi diselimuti hangat dari sudut atas ini terasa begitu menj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status