Se connecterDua minggu telah berlalu bagai merangkak lambat di atas lantai kastil Wilderheim sejak kepulangan rombongan utara. Di dalam kamar mandinya yang luas, Elara berdiri mematung di depan cermin perak kuno, jemarinya meraba permukaan perutnya yang masih rata dan halus.Tidak ada denyut magis yang berlebih, tidak ada pendaran aura elemental dari klan belantara, dan tidak ada tanda-tanda kehamilan baru yang datang dari benih kelima rajanya yang menggempur rahimnya malam itu.Elara menghela napas panjang, membiarkan kain sutra membungkus tubuhnya sebelum berjalan ke arah jendela. "Siklus bulanku datang tepat waktu kemarin... Rahimku sepenuhnya kosong."Ia menatap langit utara yang selalu diselimuti gumpalan awan mendung kelabu di kejauhan, lalu bergumam pada kesunyian kamar."Apakah kegagalan pembuahan ini adalah pertanda mutlak dari alam semesta? Sebuah konfirmasi bahwa jalanku memang harus tertuju ke wilayah Raja Beruang untuk memberi klan es itu keturunan dan napas kehidupan yang baru?"Mem
Di bawah siraman cahaya rembulan yang keperakan, Elara berdiri seorang diri mematung di dekat balkon takhta. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang, namun pikirannya mengembara jauh melintasi dataran es utara yang dingin.Kenangan akan pusaran perak yang tiba-tiba muncul dan padam beberapa hari lalu kembali melintas di benaknya, memicu pusaran pertanyaan baru di dalam hatinya."Apakah kilatan cahaya misterius itu sebenarnya adalah sisa energi dari utara?" bisik Elara pada dirinya sendiri, jemarinya meremas pembatas batu balkon dengan bimbang."Jika ritual es milik Raja Bjorn yang pertama kali membelah ruang dimensi, bukankah itu artinya aku datang ke planet ini atas undangan tulus dari klannya? Meditasi dan keputusasaan mereka yang telah menarik jiwaku dari ambang kematian di bumi."Elara memejamkan mata, merasakan denyut hangat mawar emas di dalam dadanya. "Jika aku egois dan menutup mata atas kepunahan klan beruang, bukankah aku akan menjadi orang paling ja
“Aku tidak bermaksud menolakmu sepenuhnya, Raja Bjorn,” Elara menyela cepat, menghentikan kepasrahan yang sempat membayang di wajah raksasa sang beruang kutub. Ia menoleh ke arah kelima suaminya yang masih berdiri terpaku, lalu mengembuskan napas kasar yang sarat akan beban pikiran.“Saat ini, aku membutuhkan waktu untuk mencerna semua kebenaran ini,” lanjut Elara, suaranya terdengar lelah namun tetap tegas.“Keputusan sebesar ini tidak bisa kuambil dalam hitungan detik di tengah ketegangan zirah dan hunusan pedang. Jadi, jika aku sudah memikirkan jalan keluar yang paling adil, aku bersumpah akan langsung mengirimkan kabar kepadamu di utara.”Bjorn mendongak, menatap sepasang mata Elara yang memancarkan ketulusan murni. “Berapa lama aku harus menanti, Ratu?”“Kembalilah ke wilayahmu terlebih dahulu bersama pasukanmu, Bjorn,” pinta Elara dengan kelembutan yang menenangkan.“Biarkan suasana di kastil ini mendingin. Jaga rakyatmu di sana, dan tunggulah kabar baik dariku. Aku tidak akan m
Aula Utama seketika dilingkupi oleh keheningan yang begitu pekat saat kalung batu kuarsa di leher Bjorn memancarkan pendaran cahaya yang selaras dengan memori Elara.Raja Beruang itu menatap batuan kuno miliknya, lalu mendongak menatap Elara dengan binar mata yang seolah baru saja menemukan kepingan teka-teki yang hilang selama ribuan tahun.“Jadi... relief itu benar-benar ada di duniamu,” bisik Bjorn, suaranya bergetar hebat penuh kepasrahan yang mendalam.Ia melangkah maju satu depak, mengabaikan hunusan pedang Lucian yang kembali mengarah ke dadanya. “Dengar, Ratu Elara. Akulah yang melakukan ritual kuno itu. Akulah yang memanggil arwah betina dari sela dimensi untuk datang dan menyelamatkan wilayahku!”Pernyataan itu bak petir di siang bolong bagi kelima raja belantara. Lucian, Vrax, Kaelen, Zhen, dan Malphas langsung terdiam serempak dengan rahang mengeras.“Kau bicara apa, Beruang?!” bentak Vrax, memecah kesunyian dengan geraman harimaunya yang bergaung rendah. “Kami yang menump
Pintu ganda kamar megah itu terbuka perlahan, memecah kesunyian di dalam ruangan tempat Elara mendekap kelima anaknya.Langkah kaki Lucian, Zhen, dan Malphas terasa begitu berat saat mereka berjalan menghampiri ranjang. Elara langsung menegakkan punggung, menatap raut wajah ketiga suaminya yang tampak dilingkupi mendung kecemasan.“Bagaimana pertemuannya? Siapa yang datang?” tanya Elara beruntun, matanya bergerak panik.Lucian duduk di tepi ranjang, menggenggam jemari Elara dengan sangat erat. “Dia adalah Raja Bjorn dari klan beruang kutub utara. Elara... dia datang kemari karena tahu keberadaanmu, dan dia mengajukan sebuah penawaran yang gila.”Zhen menghela napas panjang, melanjutkan kalimat Lucian dengan nada selembut mungkin.“Wilayah utara sedang sekarat karena membeku, dan kaum betina di sana juga sudah punah. Bjorn datang untuk bernegosiasi... dia ingin meminjammu selama beberapa musim agar kau bisa melahirkan keturunan betina untuk klannya, sebagai imbalan kesuburan tanah mere
Langkah kaki kelima raja Wilderheim bergema serempak di lantai marmer Aula Utama yang kini terasa dingin. Udara hangat belantara fajar telah berganti dengan embun beku yang merayap dari arah pintu gerbang.Di tengah ruangan, berdiri sesosok pria bertubuh raksasa dengan jubah bulu putih tebal setebal salju abadi. Bahunya yang lebar dan auranya yang sekeras es menandakan kekuasaan mutlak.“Lama tidak bersua, para penguasa belantara,” suara pria itu berat dan bergemuruh, memecah kesunyian aula.Lucian maju satu langkah, tatapan matanya setajam mata pisau. “Cukup basabasisnya, Raja Bjorn. Apa yang kau inginkan sampai datang kemari tanpa pemberitahuan dan membawa sepasukan klan es menembus batas wilayah kami?”Raja Beruang Kutub itu, Bjorn, mengulas senyum tipis yang sarat akan provokasi. Ia mengelus janggutnya yang memutih karena embun beku.“Aku datang karena mencium aroma kehidupan yang sangat manis dari arah utara. Aku tahu ada seorang wanita asing di istana ini. Bahkan, kalian berlima
Zhen menarik bahu Elara, memaksanya berbalik. Tanpa aba-aba, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Elara, memberikan ciuman-ciuman panas yang membuat Elara lemas.“Aromamu malam ini, kau tidak bisa menyembunyikannya dengan kain apa pun, Elara. Kau sedang menginginkan kami sama seperti kami menging
Angin kencang berhembus dari arah pegunungan Barat, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun suasana di garis depan perbatasan justru terasa membara.Elara berdiri di atas bukit batu yang menjorok ke arah lembah, menatap hamparan Hutan Berduri yang selama berabad-abad menjadi benteng alam tak
Malam itu, Wilderheim seolah ikut menahan napas. Di dalam kamar batunya yang hanya diterangi oleh temaram obor lemak hewan, Elara berdiri mematung di depan satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan masa lalu: Cermin Obsidian.Permukaannya yang hitam pekat tetap dingin dan diam, namun
“Lucian benar,” sahut Vrax dengan nada suara yang kini lebih berat oleh gairah yang kembali memuncak.“Kau bicara tentang masa depan yang indah, tapi kunci dari masa depan itu ada di dalam rahimmu. Jika kita ingin melihat kota itu berdiri, maka malam ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan ben




![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)


