Share

Tawanan Sang Pewaris
Tawanan Sang Pewaris
Author: SarahAksara

Telepon Asing

Author: SarahAksara
last update publish date: 2026-08-28 10:59:26

“Dua ratus juta… aku harus nyari dimana?” Elara menendang pelan batu-batu kecil yang ada di depannya.

“Gajiku sebagai honorer TK aja pas-pasan. Buat makan aja masih harus ngitung-ngitung banget.” Elara menundukkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. Rasanya kepalanya sangat berat memikirkan biaya rumah sakit untuk neneknya.

Di hadapannya, halaman TK Sentosa sudah mulai sepi. Sebagian besar anak murid sudah dijemput orang tua masing-masing. Hanya sisa tiga anak yang masih menunggu dijemput.

Elara harus memperhatikan mereka, tetapi pikirannya terus mengganggunya. Pikirannya sudah penuh dengan angka besar itu. Dua ratus juta rupiah.

Jumlah uang yang sama sekali belum pernah ia lihat, bahkan bayangkan sebanyak apa. Bagaimanapun ia hitung dan pikirkan, uang itu terasa sangat jauh untuk dikumpulkan dengan profesinya sebagai guru honorer TK.

“Mana tabunganku sudah benar-benar menipis… bekas beli obat dan keperluan lainnya.” Elara menggigit bibir bawahnya.

“Kalau saja aku punya kerjaan sampingan yang pas…”

“Miss Elara!” Suara seorang perempuan memanggilnya.

Dia teman ngajar Elara di TK itu. Wanita itu berjalan mendekati Elara sambil membawa beberapa lembar kertas. Wajahnya terlihat seperti ada kondisi rumit, tapi entah kenapa ada kesan dirinya antusias.

“Miss Rania. Ada apa?” Elara mencoba tersenyum.

“Untung aja, ketemu. Masih nunggu anak-anak ya?” Rania melihat ke arah tiga anak itu.

“Iya, Miss.”

“Ooh… Eh, ini, Miss,” ucapnya sambil memberikan lembaran kertas yang dibawanya.

“Loh, apa ini, Miss?”

“Katanya itu surat dari kepala sekolah. Buka aja,” jawab Rania.

Tanpa menjawab, Elara menerima dan membaca surat itu. Itu adalah surat pemberitahuan cuti paksa.

Elara mengerutkan keningnya bingung, “Cuti?”

Rania menahan senyumnya, “Iya. Tepat seperti judul yang ada di kertas itu, Miss.”

Elara mendongakkan kepalanya menatap Rania meminta penjelasan. “Miss… Apa maksudnya?”

Rania mengangkat bahunya, “Entahlah Miss. Katanya kamu kebagian cuti mengajar selama satu bulan?”

“Ha? Satu bulan?”

“Ya… aku denger-denger, yayasan lagi ada penyesuaian tenaga pengajar.”

Mendengar itu Elara mulai lemas. Ia membaca ulang kertas-kertas yang masih dipegangnya itu. Tangannya mulai gemetaran. Pelupuk matanya mulai terasa panas.

“Tapi… kenapa aku?”

Elara meremas surat itu, “Aku harus minta kejelasan dari pihak Kepala Sekolah.”

“Kalau begitu, saya permisi.”

Rania pergi meninggalkan Elara sendirian. Tak lama setelah Rania pergi, tiba-tiba terdengar suara salah satu anak yang menangis dan berteriak. Elara segera melihat sumber suara itu. Terlihat seorang anak sedang berdiri di dekat gerbang TK.

Anak itu mengenakan seragam TK Sentosa yang sedikit kebesaran. Dengan wajah sembab karena menangis. Sebuah tas ransel kecil yang digendong di punggungnya.

Anak itu melihat Elara, “Miss…” Tatapannya memelas seolah sedang meminta pertolongan.

Elara yang melihat itu langsung memasukkan surat itu dan bergegas berlari ke arah anak kecil itu. “Ada apa sayang?”

Anak itu menggeleng dan menunjuk ke arah gerbang, “Mama…”

“Kenapa dengan Mama?” Elara melihat ke arah anak itu menunjuk. Seorang perempuan terlihat berdiri beberapa meter di dekat gerbang. Perempuan itu terlihat sangat gelisah memperhatikan TK.

“Mama mau bawa aku pergi, Miss…” Isak tangisnya terdengar kembali.

“Sst… Cup cup, Sayang… Yuk ceritakan dengan baik, yang tenang, apa maksudnya, Nak?”

Anak itu belum menjawabnya, Ia malah membenamkan wajahnya di pelukan Elara. Elara mengelus rambutnya bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

“Tolong… Jangan kasih aku ke Mama, Miss…”

Elara membeku. Ia langsung memeluk anak itu dengan erat. “Sst… Tenang, Sayangku, Miss di sini. Miss janji gak akan kasih kamu ke mamamu.”

Namun perempuan itu mendekati mereka di depan gerbang yang masih tertutup. “Kemarikan anakku. Dia anakku!”

Elara menarik lengan kecil anak itu ke belakang tubuhnya. “Bu, maaf ada apa ya? Kalau benar Tristan anak Ibu, kenapa dia terlihat ketakutan begini?”

Perempuan itu menatap tajam Elara, “Itu urusan keluarga, kamu orang luar tidak perlu tahu!” Ia pun maju untuk menarik tangan anak itu. Anak itu menangis menjadi-jadi. Elara spontan memeluknya erat, Ia menggendongnya.

“Bu, tolong jangan seperti itu, nanti anaknya sakit. Jangan dipaksa dulu, Bu.”

“Dia anak saya!”

“Saya tidak bilang kalau anak ini bukan anak Ibu. Saya hanya ingin Ibu tidak bertindak kasar.”

“Ya, kalau begitu kembalikan anakku.”

“Tapi, Bu…” Elara melirik anak yang sedang digendongnya, menggeleng memohon untuk tidak diberikan pada wanita itu.

“Kalau benar Ibu ini ibunya, kenapa dia sampai ketakutan begini?”

Wanita itu masih ingin meraih anak kecil itu, tetapi Elara terus menghindar. “Bu, saya memang tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga Ibu, tapi yang saya tahu, anak ini sedang ketakutan.”

“Kembalikan!”

“Ibu! Kalau terus seperti ini, saya akan berteriak biar semua orang datang!” Mendengar ancaman itu, wanita itu terlihat panik. Tanpa menunggu lama, dia pergi dengan kesal sambil melirik kanan kirinya gelisah.

Melihat wanita itu pergi, Elara lunglai terjatuh karena lututnya lemas. “Sst, Sayang… Dia sudah pergi, tenang, ya?”

Tiba-tiba, ada suara berat yang memanggilnya, “Siapa kamu? Kau apakan anakku?”

Elara menoleh ke sosok yang berdiri di depan gerbang TK. Mendengar suara itu, anak itu pun meminta turun dan berlari riang ke arahnya. Elara menatap pria itu dengan sopan, “Pak…”

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa anakku menangis?” Elara merinding menatap tatapan matanya yang tajam itu.

“Bukan aku, tadi…” Elara mencari keberadaan wanita tadi, tetapi sosoknya sudah pergi. “Em, tadi…”

Anak itu menarik tangan ayahnya, “Papa, jangan galak! Dia guruku. Dia tadi bantu aku lawan Ibu. Dia baikkan, Papa?” Pria itu menatap lembut anak kecil itu, lalu beralih menatap Elara.

Elara pun tersenyum ketika tahu tidak perlu repot menjelaskannya kembali.

“Kalau benar begitu, terima kasih.” Tidak disangka Elara, pria berwajah dingin itu membungkuk sedikit tubuhnya untuk berterima kasih.

“Ah, tidak perlu. Memang sudah tugas saya sebagai guru untuk menjaga anak muridnya tetap aman, Pak.”

Pria itu menatapnya agak lama, lalu mengangguk, dan pergi. Elara membalas anggukan itu dan melambai pada anak itu.

Setelah mereka pergi, Elara pun merasa sangat lelah. “Akhirnya sudah selesai. Waktunya aku menghadap kepala sekolah.”

***

“Ya, apalagi yang perlu saya jelaskan, Miss? Semua sudah tertera dengan jelas di sana.” Kepala sekolah itu menatapnya sinis.

“Oh, aku lupa. Ini uang selama sebulan terakhir. Terima kasih atas kinerja kamu selama ini. Kalau sudah kembali stabil, mungkin kami akan memanggilmu kembali.”

Elara menerimanya tanpa perlawanan lagi. Sudah habis tenaganya untuk berdebat. Pintu ruangan kepala sekolah pun Ia tutup.

“Sudahlah. Sudah baik aku masih diberi gaji terakhir. Aku harus segera mencari pekerjaan baru.”

Saat hendak pulang, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada panggilan dari nomor tidak dikenal.

“Halo?”

“Siang. Benar dengan Miss Elara dari TK Sentosa?”

Alis Elara berkerut, “Ya, betul. Ini siapa, ya?”

“Saya David dari Pratama Group.”

“Hah?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Sang Pewaris   Interogasi

    “Mati aku! Dia ada di sana berapa lama? Dia dengar semua yang aku obrolin?” gumam Elara sambil mengigit bibirnya.“P-Pak Arvan? Tadi saya kira Bapak lagi di luar…” Elara tersenyum kaku. Bi Sari langsung mundur dan keluar begitu saja.“Memangnya kalau aku di luar, kau bisa bebas membicarakanku begitu saja?” Pria itu berjalan masuk tanpa pamit.“Halo, Pak. Saya belum mengizinkan Bapak masuk kamar saya. Kamar seorang gadis, loh.”Pria itu tetap berjalan memasuki kamar Elara dengan tekanan yang mengintimidasi Elara. Ia membungkukkan badannya sampai wajahnya tepat berada di depan wajah Elara.“Kau duluan yang sudah mengusik privasiku.”Elara mengerjapkan matanya terkejut. Ia dengan cepat memundurkan kepalanya sampai terjatuh di kasur. Menyebabkan Arvan ikut kehilangan keseimbangan dan hampir menindih Elara.Untungnya tangan Arvan berhasil menahan dirinya agar tidak terjatuh di tubuh kecil Elara. Mereka saling berpandangan. Beberapa saat mereka sama-sama saling mengamati wajah masing-masing

  • Tawanan Sang Pewaris   Misi Pertama: Mencari Informasi

    Ratih terkejut dengan reaksi Elara, “Ada apa dengamu?”“M-Maaf, Nek. Aku kira bukan Arvan yang-—”“Emang ada apa dengannya sampai kamu berpikir begitu?” Ratih menatapnya tajam sambil menyimpan cangkir teh mewahnya.“M-maksud saya, bukannya Pak Arvan sudah memiliki anak? Berarti dia sudah menikah. Jadi, saya tidak menyangka kalau beliau—”“Hahahaha.” Alih-alih menjawab, Ratih malah tertawa kencang. Lalu menutup mulutnya khawatir kebablasan. Ia berdehem, “Kau ini lucu. Sebenarnya apa yang kamu ketahui dari keluarga Pratama ini?”Elara mengedipkan matanya, “Yang saya tahu, Pratama Group itu perusahaan terbesar kedua, Nyonya. Anda sangat kaya raya.”“Terima kasih, Nak. Namun yang kutanya, bukan tentang perusahaanku. Apa kamu tahu tentang keluarga kami?”“Ah, apa yang Nenek maksud anggota keluarganya? Maaf Nenek, saya tidak mengetahui sampai sana.”Ratih menatap Elara menyipit. Ia meminum kembali tehnya perlahan. Kemudian, “Apa aku salah menawari pekerjaan ini padamu?”Elara membeku, “Apa

  • Tawanan Sang Pewaris   Mulai Bekerja

    “Tapi… kami hanya tunangan, kan? Kenapa ada pasal memiliki keturunan?”Ratih dan David saling bertatapan beberapa saat. Lalu keduanya saling menunduk. Ratih berdeham, “Mari kesampingkan soal pasal itu. Pasal lainnya apa siap?”“Kalau membantu merawat, menjaga, dan mendidik anak umur lima tahun… saya punya pengalaman. Saya—”“Ya. Kau guru honorer TK. Aku tahu.”Elara mendongak terkejut, “Anda sudah tahu?”“Kau pikir aku ini siapa? Aku tidak akan memberikan penawaran ke sembarang orang. Aku sudah mempelajari latar belakangmu,” jelasnya sambil membuka lembaran terkait kehidupan Elara.“Kau tidak memiliki orangtua, tinggal hanya dengan Nenekmu. Kau butuh uang perawatan dan operasi Nenekmu yang sakit, tetapi sedang cuti paksa tanpa tahu kapan berakhir masa cutinya. Tanpa gaji.”Mendengar semua itu, Elara sangat marah karena tersinggung, “Apa hak Anda untuk menggali latar belakang saya, Nyonya?”“Saya tidak akan menerima tawaran Anda. Lagipula semua kontrak itu tidak seimbang dengan kerugia

  • Tawanan Sang Pewaris   Kontrak

    “Anda bilang Pratama Group?” Elara mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Ada urusan apa Pratama Group dengan saya? Maaf, sepertinya Anda salah sambung, Pak.”“Tunggu, Miss Elara. Kami benar menghubungi Miss.”Elara kembali mendengarkan lawan bicaranya itu, “Menghubungi saya untuk apa, Pak? Saya tidak merasa memiliki urusan dengan pihak Pratama Group.”David terdiam beberapa saat, seolah sedang menyiapkan jawaban yang dapat dimengerti Elara.“Mohon maaf, Miss, kami tahu Miss Elara sedang sibuk. Namun, apa bisakah Miss Elara meluangkan waktu untuk bertemu di kantor kami malam ini?”“Ada apa lagi, sih? Belum beres urusan yang satu, ini ada lagi yang harus kuurus. Apa yang mereka inginkan?” batin Elara sambil memijat kepalanya.“Sekali lagi, Pak. Ada urusan apa?” Emosi dalam diri Elara semakin menumpuk.“Atasan saya ingin menawarkan suatu pekerjaan untuk Anda.”Pekerjaan?Satu kata itu berhasil membuatnya terdistraksi dari rasa kesalnya. Setelah semua yang terjadi hari ini, dirinya yang

  • Tawanan Sang Pewaris   Telepon Asing

    “Dua ratus juta… aku harus nyari dimana?” Elara menendang pelan batu-batu kecil yang ada di depannya. “Gajiku sebagai honorer TK aja pas-pasan. Buat makan aja masih harus ngitung-ngitung banget.” Elara menundukkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. Rasanya kepalanya sangat berat memikirkan biaya rumah sakit untuk neneknya.Di hadapannya, halaman TK Sentosa sudah mulai sepi. Sebagian besar anak murid sudah dijemput orang tua masing-masing. Hanya sisa tiga anak yang masih menunggu dijemput. Elara harus memperhatikan mereka, tetapi pikirannya terus mengganggunya. Pikirannya sudah penuh dengan angka besar itu. Dua ratus juta rupiah.Jumlah uang yang sama sekali belum pernah ia lihat, bahkan bayangkan sebanyak apa. Bagaimanapun ia hitung dan pikirkan, uang itu terasa sangat jauh untuk dikumpulkan dengan profesinya sebagai guru honorer TK.“Mana tabunganku sudah benar-benar menipis… bekas beli obat dan keperluan lainnya.” Elara menggigit bibir bawahnya. “Kalau saja aku punya kerjaan sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status