로그인Rosella mencubit perut Adrian karena kesal, bisa-bisanya memeluknya ketika banyak mana yang menatap. "Aduh." Adrian meringis. "Makanya jangan peluk-peluk di dapur Tuan, kan saya malu." Rosella mendorongnya pelan lalu berjalan duluan ke pintu.Adrian mengikutinya sambil mengelus perutnya sendiri dengan ekspresi yang tidak menyesal sama sekali.Di ruang makan, Leon sudah berdiri dengan kunci mobil ditangan, jas di bahu."Ayo." Katanya singkat, matanya melewati Laura yang masih duduk di meja.Laura bangkit. "Aku ikut.""Tidak perlu." Tolak Leon. "Tapi Leon, aku tidak ada kegiatan hari ini jadi—""Jangan ganggu orang yang mau bekerja, Laura." Leon tidak menoleh. Nyonya Toretto membuka mulutnya hendak protes, "Mom." Leon berhenti dengan gestur masih membelakangi semua orang. Setelah mereka berangkat, Nyonya Toretto lanjut sarapan setelahnya mereka pindah ke ruang tengah. "Aku heran dengan Rosella, apa yang dia lakukan sehingga ketiga anakku begitu tergila-gila padanya." kata Nyonya
Tok tok tokKetiga Tuan Muda mengetuk pintu, Rosella membuka pintu dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan mata yang belum sepenuhnya terbuka.“Tuan ada apa?” Tanyanya sambil menguap.“Kami mau bicara.” Jawab Leon. "Mau bicara apa di pagi hari." Rosella membuka pintu lebih lebar."Ada yang perlu kami sampaikan." Leon masuk duluan yang diikuti Adrian dan Lucas. Rosella duduk di tepi tempat tidur, menunggu ketiga Tuan muda bicara. "Kamu akan pindah ke apartemenku." Adrian membuka suara. Rosella mengerutkan alis. "Apartemen Tuan Adrian?""Sementara." Leon menambahkan. "Sampai situasi di mansion ini kondusif. Mommy tidak tahu tentang apartemen itu, jadi kamu aman di sana.""Dan kami juga akan ikut." Lucas menyambung.Adrian menoleh ke Lucas dengan ekspresi kesal. ‘Mereka memang menyebalkan.’ batin Adrian. Lalu Rosella menatap ketiganya bergantian."Baik, kalau itu yang terbaik."Leon mengangguk. "Siapkan barang-barangmu ya.” Rosella mengangguk patuh, mungkin tidak tinggal
“Jangan, Rosella dan keluarga Anderson tidak akan setuju.” Kata Leon. "Tapi Mommy bagaimana?" Adrian menatap Leon lekat. “Kita tidak bisa membiarkan Rosella diperlakukan seperti pelayan, kalau sampai keluarga Anderson tahu, mereka akan merebut Rosella dari tangan kita.” Sambungnya. Leon tidak langsung merespon dia memilih diam."Apa kita pindahkan Rosella ke apartemen Robin?" Lucas menyahut."Jangan, pasti Robin akan mempersulit kita untuk menemuinya." Leon menggeleng. “Memangnya kalian bisa tidak bertemu Rosella.” Adrian dan Lucas menggeleng barengan. “Lalu bagaimana Kak?”Leon terus berpikir, dari sekian dokumen inilah kasus yang paling sulit dipecahkan. Bahkan sekelas CEO yang selalu punya solusi nampak bingung. “Kita bicara saja dengan Mommy." Leon bangkit lalu turun ke bawah. Di bawah, Tuan dan Nyonya Toretto duduk di ruang tengah.Tuan Toretto memegang tablet miliknya sementara Nyonya Toretto minum teh sambil menikmati berita tentang bisnis. Leon, Lucas dan Adrian duduk di
“Ah kenapa airnya habis.” Kata Rosella saat hendak minum. Mau nggak mau Rosella harus turun ke bawah. Rosella turun dari tangga dengan langkah yang pelan, karena matanya sangat mengantuk.Di ujung tangga, tepat ketika kakinya menyentuh lantai bawah, seseorang muncul dari arah lorong.Nyonya Toretto berdiri dengan tatapan sinisnya. Rosella menahan nafas sebentar. "Permisi, Nyonya. Saya hanya ingin mengambil air."Nyonya Toretto menatapnya dari atas ke bawah, lalu matanya bergerak ke arah tangga yang baru saja Rosella turuni."Kamarmu seharusnya di sana." Katanya, menunjuk ke lorong kanan, lorong yang Rosella kenal sebagai lorong kamar pelayan."Iya, Nyonya." Rosella menjawab hati-hati. "Tapi Tuan Muda yang meminta saya di lantai atas."Nyonya Toretto menoleh ke kepala pelayan yang kebetulan baru keluar dari dapur membawakan segelas susu hangat untuknya. "Antar dia ke kamar yang seharusnya." Katanya singkat. "Malam ini."Kepala pelayan mengangguk tanpa berani bertanya lebih jauh."N
Sore itu sepulang dari kampus, Rosella dan Ane duduk di taman depan. “Mana tuan muda kamu Rose?” Tanya Ane. “Masih dalam perjalanan, kamu pulang dulu aja.” Jawab Rosella. “Nggak tega aku mau pulang dulu.” Ane pun tertawa. Mereka berdua bercanda bersama hingga terdengar suara klakson. “Tuh pangeran pertama datang.” Kata Ane. Leon turun dari mobil berjalan memutar membukakan pintu, untung lagi sepi coba kalau ada banyak mahasiswa pasti akan jadi berita heboh. “Cintaku.” Leon menatap Rosella. Ane yang mendengar itu langsung melongo, “Rose dia memanggil kamu apa? Cintaku? Aku gak salah dengar kan?” Gumam Ane. Rosella menghela nafas, mereka sekarang punya panggilan aneh-aneh, aku sampai gak bisa berkata-kata Ane.” Sahut Rosella. Tak ingin Leon menunggu lama, Rosella bergegas masuk ke dalam mobil. Leon menatap Ane lalu masuk ke dalam menyusul Rosella. “Cintaku.” Gumam Ane. Di dalam mobil Rosella nampak gelisah bukan perkara panggilan melainkan Orang tua ketiga Tuan
Nyonya Toretto menatap ketiga anaknya satu per satu dengan tersenyum, dia sungguh puas dengan jawaban sang anak."Bagus." Katanya sambil mengangkat cangkir kopinya. "Ini baru darah Toretto."Tuan Toretto yang duduk di sebelah istrinya mengangguk pelan tanpa berkata apapun, tapi ekspresinya sudah cukup berbicara.Rosella yang sudah menyelesaikan sarapannya berjalan keluar dapur menuju meja makan dimana keluarga Toretto sarapan. "Permisi, saya pamit berangkat ke kampus." Katanya sopan, mengangguk ke Tuan dan Nyonya Toretto lalu kemudian ke ketiga Tuan Muda.Nyonya Toretto meletakkan cangkirnya, menatap Rosella dengan sinis. "Kamu dengar sendiri kan." Suaranya keluar sangat santai. "Anak-anakku mau dijodohkan dengan Putri Anderson. Kamu itu hanya mainan sementara mereka." Matanya tidak berkedip menatap Rosella. "Jadi jangan berharap lebih."Rosella menatap wanita itu beberapa saat. "Saya paham, Nyonya." Jawabnya pelan.Rosella tersenyum tipis, ada geli sendiri mendengar ucapan wanita
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n
Di kamar mandi, Adrian berdiri di bawah shower dengan air dingin mengalir membasahi tubuhnya.Pikirannya tidak pada air dingin ini tapi melayang pada Rosella.Di tengah kesulitan menjadi budak tapi Rosella masih ingin belajar, dan matanya sangat berbinar melihat buku dan Adrian tersenyum tipis meli







