LOGINAdrian tertawa, “Tentu Lucas, setelah itu nanti kamu jemput dia sebelum Kak Leon, mari kita buat Kak Leon mengamuk.”Hari sidang skripsi yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Di depan pintu ruang sidang, tubuh Rosella gemetar hebat. Jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena takut pada dosen-dosen penguji lain, melainkan karena dia melihat sosok Adrian duduk di tengah meja penguji dengan setelan formalnya yang rapi, kacamata bertengger di hidung bangirnya, dan wajah yang teramat dingin tanpa ekspresi.Begitu sidang dimulai, Adrian benar-benar berubah menjadi monster akademik. Tidak ada lagi tatapan memuja atau sentuhan lembut seperti di mansion."Saudari Rosella, coba jelaskan kenapa kamu menggunakan metodologi ini? Data analisis di bab empat ini sangat berantakan dan tidak konsisten. Bagaimana kamu bisa mempertanggungjawabkan hasil penelitian seperti ini?" cecar Adrian bertubi-tubi dengan suara baritonnya yang tegas dan tajam.Rosella terbelalak, keringat dingin bercucuran di pel
"Uuhh Rose, aku sungguh sangat rindu padamu," bisik Leon dengan suara yang semakin berat sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rosella untuk menghirup aroma manis yang begitu dirinya gilai.“Apa boleh Sayang?” Bisik Leon sambil menatap Rosella. Rosella menatap Lucas dan Adrian yang memejamkan mata seolah tak enak mengkhianati keduanya. Tapi… Dirinya kini dirundung gairah yang tak bisa dia tahan. “Iya Tuan.” Mendapatkan persetujuan dari Rosella membuat Leon benar-benar merasa di atas angin. Pria itu bergerak cepat namun penuh kehati-hatian. Dia membawa tubuh mungil Rosella bergeser ke sudut sofa yang paling gelap dan paling jauh dari jangkauan pandangan, membelakangi posisi Adrian dan Lucas yang tampak masih mendengkur halus dengan nafas yang teratur.Di bawah temaramnya lampu yang remang-remang, Leon mulai menagih rindunya dengan brutal.Setiap sentuhannya sangat liar, membuat Rosella tak kuasa untuk tidak mendesah. "T-Tuan... pelan-pelan, nanti mereka bangun...Uuuhhh.
"Kak Leon, Lucas ayo keluar biar dia istirahat. Kalau kalian tidur di sini bisa-bisa Rosella tidak tidur malam ini," usir Adrian dengan wajah lempeng tanpa dosa.Leon dan Lucas mendengus kasar secara bersamaan. Mereka tahu betul itu hanya taktik licik Adrian agar bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Namun, melihat Rosella yang benar-benar sudah memejamkan mata dengan dahi berkerut karena kelelahan, kedua singa itu akhirnya mengalah. Demi kesehatan sang ratu, mereka bertiga akhirnya sepakat keluar dari kamar utama dengan langkah berat, menutup rapat pintu dari luar, lalu turun ke lantai bawah menuju ruang tengah.Karena sama-sama frustrasi akibat puasa yang menyiksa iman, Leon, Adrian, dan Lucas akhirnya duduk berkumpul di sofa ruang tengah sembari membuka sebotol wiski mahal untuk menyalurkan energi mereka yang tertahan.Tengah malam, sekitar pukul dua pagi, suasana mansion sudah teramat sunyi. Rosella terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya terasa sangat kering dan h
Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Suasana di mansion Toretto mengalami perubahan besar sejak Rosella memasuki semester akhir dan mulai disibukkan dengan penyusunan skripsi. Gadis ceria itu kini menjelma menjadi mahasiswi tingkat akhir yang super sibuk, dikelilingi oleh tumpukan jurnal, buku tebal, dan revisi yang tiada habisnya.Melihat wanitanya mulai sering begadang dan tampak stres menghadapi dosen penguji, ketiga pria Toretto akhirnya terpaksa sabar, demi menjaga fokus Rosella agar bisa lulus dengan nilai terbaik, Leon, Adrian, dan Lucas sepakat untuk tidak mengganggu Rosella."Adrian ingat jangan mengganggu Rosella, biasanya kamu yang selalu mangkir." kata Leon sambil menatap Adrian tajam. Adrian terkekeh, "Kali ini aku tidak akan curang." sahutnya. "Biasanya kamu mengajak Rosella ke ruanganmu dengan dalih urusan kampus dan ujung2nya minta jatah, keterlaluan memang kamu Kak!" Sahut Lucas kesal. "Itulah kenapa aku jadi Dosen karena aku lebih pintar dari kalian." Leon dan
"Kamu bisa mendesah yang suaramu bisa langsung hilang disapu angin, Sayang," bisik Adrian seksi sebelum menurunkan tubuh mereka berdua ke dalam air.Sore itu, Adrian benar-benar berubah menjadi singa yang gila dan tak terkendali. Di bawah langit London yang luas, mereka melakukan banyak gaya percintaan tanpa rasa takut sedikit pun. Mulai dari pergulatan panas di dalam air kolam yang hangat, berpindah ke tepi kolam dengan dekapan yang semakin erat, hingga beralih ke atas kursi berjemur di mana Adrian menuntut haknya dengan sangat ugal-ugalan. Rosella mencengkeram bahu tegap Adrian, mendesah sekeras-kerasnya menumpahkan segala rasa pekat yang membakar dadanya. Seperti ucapan Adrian tadi suara desahan Rosella langsung hilang menguap terbawa angin. Setelah badai gairah itu mereda, Adrian bersiap untuk mengajak Rosella pulang bersama. Namun, menyadari bahwa Adrian saat ini masih dalam masa boikot oleh Leon dan Lucas, Rosella mulai merasa khawatir.Di dalam mobil, Rosella menatap Adri
“Walah Walah habislah aku,” batin Rosella panik, merutuki mulutnya sendiri yang terlalu cepat luluh pada pesona sang dosen licik.Tanpa memperdulikan jam kuliah Rosella yang masih tersisa, Adrian benar-benar bergerak cepat. Dia menggandeng tangan Rosella dengan erat, membawa gadis itu menyusuri koridor sepi dan gedung dosen agar tidak memancing perhatian mahasiswa lain. “Tuan, kamu ngajakin aku bolos, kalau dicari bagaimana?” Tanya Rosella. “Nanti aku akan bilang, lagian jadi mahasiswa jangan terlalu patuh, sesekali bolos tak masalah.” Pria itu tersenyum licik. Adrian menepati janjinya. Sebelum menuju tujuan utama, dia membawa Rosella mampir ke sebuah kedai gelato terkenal untuk membelikan dua kerucut es krim stroberi besar, lalu mengajak gadis itu berjalan-jalan santai di sepanjang tepi sungai demi mengembalikan suasana hatinya.Setelah senyuman manis Rosella kembali merekah sepenuhnya, barulah Adrian melajukan mobilnya membelah jalanan London menuju sebuah gedung apartemen pen







