Beranda / Romansa / Tergoda! Mantanku Om-Om / Bab 40. Dia, Mantanmu?

Share

Bab 40. Dia, Mantanmu?

Penulis: Moonlight
last update Tanggal publikasi: 2026-05-14 22:41:06

Agenda kencan buta atau semacamnya tak bisa Abimana hindari terus, terlepas dari pengakuannya tiga tahun lalu ketika mengurus dokumen perceraian dengan Raniya, dia tetaplah seorang pria dewasa dengan segudang rencana masa depan yang diperhitungkan akan lebih maju dan berwibawa dengan adanya pendamping hidup, apalagi sejak tiga tahun lalu tak pernah ditemukan bukti perselingkuhan atau mungkin Abimana menjalin hubungan dengan wanita baru.

“Alamat restonya sudah saya kirimkan, Pak. Anda tinggal d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 82. Menikah

    Kia merinding membayangkan sekali lagi wajah calon suaminya ketika berbisik tadi, bibirnya akan dibuat bengkak yang entah sebesar apa. “Semungil ini bisa bengkak, diapakan?” gumam Kia mematut dirinya sendiri di depan meja rias. Begitu ponselnya berdering, Kia reflek bangkit dan mengambil benda yang tergeletak di ranjang itu. Panggilan masuk yang tidak perlu ditanya siapa, sekali saja diwaktu senggang tak menghubungi dirinya mungkin dunia kacau balau. “Ya, Mas Ghana?” sahutnya sembari menyandarkan benda pipih itu ke sudut meja sehingga yang di sana bisa melihat bagaimana dia tengah sibuk merawat diri di malam hari. “Apa?” [Harus ada alasan ya kalau menghubungimu?] “Astaga,” ucap Kia melorotkan kedua bahunya kemudian tertawa. “Aku bertanya kan supaya ada obrolan, memangnya Mas mau diam saja?” Pria di sana mengangguk, sepertinya memang berniat diam sambil memperhatikan apa saja yang Kia lakukan, si calon istri yang sebentar lagi akan tidur di kamar yang sama dengannya, di rumah yan

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 81. Balada Rindu

    Biasanya, dia ugal-ugalan pada seorang wanita yang menjadi pasangannya. Bertingkah dominan tanpa perlu memikirkan perasaan selain dirinya dan mengatur penuh, suka tidak suka, wanita itu harus suka karena bagi Ghana dulu dia melakukan semua itu semata-mata untuk kebaikan si wanita. Namun, bersama Kia berbeda, tidak ada paksaan sama sekali, melainkan berkomunikasi dua arah, mencari titik temu yang tak merugikan salah satu pihak. Selain itu, Ghana tidak seenaknya menyentuh sana-sini, bahkan dia hanya sebatas merangkul lengan dan menggandeng Kia, mengecup pipi menggemaskan itu saja belum, lain dari yang dulu-dulu. “Tahan lah nafsunya, Bro! Keliatan banget pengen war!” kata Ares menggoda, pasalnya dia kenal sekali bagaimana temannya itu. “Apanya?” “Pake nanya lagi ini orang?! Yakin deh habis nikah nanti Kia tepar!” Ghana menipiskan bibirnya, ternyata terbaca juga dirinya yang sudah sangat bergairah itu pada si perempuan. Lagipula, bagaimana tidak dengan Kia yang memang sangat indah di

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 80. Lamaran

    “Mas diceramahin panjang sama Zayn?” Kia menggoda Ghana yang baru saja lama sekali bertemu dan mengobrol bersama sang adik selepas drama sebutan tadi. “Pada bahas apa?” Ghana tersenyum, diam-diam tangannya ke belakang dan mencubit gemas pinggang Kia yang menertawakannya. Dia yang menjadi paling tua di sana bisa-bisanya harus mendengarkan petuah panjang dari calon adik ipar. Beruntung perempuannya se istimewa Kia. “Tapi, saya dapat izin dari dia buat melamar kamu,” akunya berdiri lebih dekat dengan Kia, lengan Kia nyaris menyentuh dada kanannya. Kia mengerjap. “Melamar?” Ghana mengangguk. “Melamar kamu untuk menjadi istri sekaligus teman hidup saya, Kia. Kamu menolaknya?” “Mas!” Kia mendengus. “Harusnya tanya gitu ke aku bawa ke taman sama bunga dong! Ini di ujung teras banget?” Astaga, pecah tawa mereka malam itu. *** Rencana acara lamaran yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat oleh keluarga Ghana sudah disusun matang, semua anggota keluarga terlibat, termasuk kakaknya yang

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 79. Jodoh

    Kalau sudah jodoh, apa memang akan se mudah ini jalannya? Ghana mengemudikan sendiri mobil miliknya itu dengan seorang perempuan yang duduk di sisi kiri tanpa henti membuat dia berkeringat saking gugupnya. “Apa? Mas mengumpat?” Kia menyingkirkan rambut yang menutupi area telinganya. Reflek Ghana menoleh gelagapan. “Iya? Mengumpat? Siapa?” “Oo, bukan Mas yang mengumpat ya? Aku denger tadi, masa iya dari luar mobil, ada pintu yang nggak ketutup rapat apa ya?” Kia memeta sekitar, pun ke pintu di bangku belakangnya. Semakin dicari semakin gusar Ghana di sana, dia benar-benar seperti anak remaja yang baru mengenal apa itu cinta, seperti terlupa yang sudah terlewati sebelum masa tiga tahun sendiri itu. Dia menjulurkan tangannya setengah ke belakang di mana Kia sedikit berputar untuk mencari-cari, merengkuh pundak Kia yang kemudian dia ajak kembali menghadap ke depan. Namun, alih-alih keberanian itu menyudahi kegilaannya, tangan yang bersentuhan tak sengaja dengan pipi Kia justru

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 78. Datang

    Melihat perkembangan asmara putri mereka, Abimana dan Raniya seakan kembali menyelami kisah mereka di masa lalu yang mungkin akan berjalan semulus itu jika tak ada kisah kelam yang membuat Raniya benci juga salah paham tak berujung. “Kenapa tertawa, Sayang?” Abimana memicing, dia agak terganggu dengan sebutan tua yang sejak tadi Zayn katakan. Raniya menggelengkan kepalanya. “Kok bisa setipe sama mamanya sih, Mas! Hahaha … cuman selisih tiga tahun aja loh!” Wajah Abimana semakin mengerut, lagi dan lagi soal umur itu dibahas yang kini dia mempunyai saingannya. Si pria yang menjadi tambatan hati si putri tercinta. “Tapi, yang matang memang memuaskan,” kata Raniya dengan godaannya. Reflek senyum malu di wajah Abimana itu terbit, anggap saja itu keunggulannya sebagai pria matang yang dulu tidak segera menikah. “Memuaskan dalam hal apa?” Abimana masih membalas, belum puas rupanya. Raniya sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping lengan sang suami. “Pemikiran, karakter, uang, t

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 77. Ternyata Sama

    Apa harus sekarang dan sudah waktunya? Ghana tampak mempertimbangkan berulang kali sebelum hanya untuk sekadar menyimpan nomor telepon Kia di ponselnya. Tak lupa sebelum dan sesudah nama perempuan itu diberikan gambar bunga_bunga sepatu. “Kia,” ucapnya lirih, itu kesekian kalinya. Teringat bagaimana setiap kali tatapan mereka bertemu meskipun singkat tanpa sepatah kata, lalu tadi sedikit berbeda dengan sorot agak tajam yang menunjukkan rasa kesal. “Tapi, dia kesal karena apa?” Ghana menggaruk dagunya, dia harus sepusing itu memikirkan perempuan yang lebih muda 10 tahun darinya, pun dia yang sudah pernah mempunyai beberapa mantan kekasih sekaligus mantan calon istri, rasanya lucu. “Ares atau adiknya mengatakan sesuatu?” Rasanya tidak mungkin karena membahas soal Kia saja masih baru dan selepas mereka bersitatap, Ghana juga percaya Ares tidak akan selancang itu, apalagi adik Ares yang tidak tahu apa-apa. Dia dengar soal ucapan Ares? Calon istri? Ghana menegakkan punggungnya, ke

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 27. Simpan Rahasia Ini!

    Suara decapan begitu nyaring memecah gendang telinga keduanya, bibir mereka saling membalas hingga kecipak basah itu tak bisa dihindari. Semakin lama semakin larut, membelitkan lidah yang terasa panas dan dingin bersamaan. Raniya tak lagi berada di atas Abimana, perempuan itu sudah berpindah tepa

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 7. Diam-Diam

    “Bodoh!” Raniya memukul kepalanya. Malam itu juga, Raniya pergi seorang diri untuk menemui Abimana di apartemennya. Raniya memakai setelan piyama pendek berbahan kaos dan rambutnya diikat tinggi sehingga leher putihnya terlihat menggoda, ditambah lagi perempuan itu tak sadar piyamanya cukup ketat

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 6. Menikah?

    “Nggak semudah itu kami percaya,” kata Diniati melengos, malu sekali pada keluarga Aksara yang baru saja pergi sembari mengomel panjang dan mencaci makinya itu. Abimana memahami perasaan Diniati, kedatangannya memang mendadak, apalagi ia tidak pernah mengenal orang tua Raniya dulu. “Dengan apa sa

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 1. Batal Nikah

    “Ini beneran nggak bakal ketahuan sama calon istri culunmu itu, hah?” Sintia mengalungkan tangannya ke leher Raditya. Raditya menggelengkan kepalanya. “Namanya aja culun, kita jalan barengan bertiga aja dia nggak ada curiga sama sekali, hehehe. Buruan, aku udah nggak tahan ini! Minggu ini belum ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status