แชร์

Bricia salah tingkah

ผู้เขียน: ORI GAMII
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-28 08:12:45

Setelah selesai makan, Andrew langsung keluar menuju mobilnya. Ia mengambil notebook yang tadi ia tinggalkan di dalam. Awalnya, alasan “meminta bantuan Bricia” itu hanya akal-akalannya saja. Tapi sambil membuka pintu mobil, Andrew tersenyum kecil.

Ya… kalau dipikir lagi, tak ada salahnya sekalian benar-benar bertanya pada perempuan itu. Siapa tahu Bricia memang teman diskusi yang baik.

Bricia sendiri menyiapkan minuman, diskusi mana pun rasanya tak lengkap tanpa minuman hangat untuk menemani.

Saat ia kembali ke ruang tengah dengan nampan di tangan, bertepatan dengan Andrew masuk. Keduanya lalu menuju sofa dan duduk. Eric dan Louisa memilih masuk ke kamar, memberi ruang agar diskusi itu tak terganggu.

“Baik, Bri. Coba lihat ini.”

Andrew membuka notebook-nya. Di layar muncul sebuah sketsa bangunan dua lantai, garis-garisnya rapi, konsepnya sudah cukup matang.

Melihat posisi duduk Bricia yang terlalu jauh, Andrew menghela napas kecil sambil menggeleng. “Dudukmu jauh sekali, Bri. Mendeka
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (5)
goodnovel comment avatar
Muji Lestari
cie BRI kamu disiapin satu room VIP tuh beneran itu mau di isi berdua aja hahhahahha
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
Berasa kesetrum ya Bri, dipegang sama om Andrew wkkwkwk
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
Andrew bikin Bricia jadi salting.. inget om yg kamu godain tuh anak temenmu sendiri loh..
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Tergoda Teman Papa    Trauma Bricia

    Risa sontak menoleh ke arah dinding. Di sana terpajang fotonya dan Romi bersama kedua anaknya. “Oh, itu putri bungsu saya, Pak Eric,” jelasnya cepat. “Sejak kecil dia ikut tantenya di Bandung. Baru sekitar setahun ini kembali ke Jakarta setelah lulus kuliah.” Alis Eric langsung berkerut. Ada sesuatu yang mengusik nalarnya, meski ia tak bisa dan tak ingin menyampaikannya secara gamblang. “Apa… Pak Eric menuduh putri saya?” tanya Romi hati-hati. Dadanya berdebar hebat saat kalimat itu keluar. “Nggak mungkin, Pak,” sela Risa tergesa, disertai tawa kecil yang terdengar dipaksakan. Ia bahkan sampai menepuk paha Romi. “Anak kita mana tahu soal ini, apalagi alamat rumah Pak Eric. Dia juga hampir setiap hari sibuk bekerja dan sering lembur. Mana sempat mengurusi hal seperti ini.” Gerry ikut mengangguk pelan. Namun di balik diamnya, tangannya meremas celana pendek di sisi paha, sebuah gestur yang tak di sadari semua orang. “Semoga saja memang bukan,” ucap Eric akhirnya. Nada suaranya d

  • Tergoda Teman Papa    Perempuan itu, siapa?

    Malam itu juga, Eric pergi menuju rumah pemuda yang dulu terlibat kecelakaan dengan putrinya. Ia harus memastikan bahwa teror berupa paket itu bukan ulah mereka. Ia tak mau berspekulasi, atau menunggu sampai trauma Bricia kembali menghancurkannya. “Aku pergi dulu, Loui,” ucap Eric sambil meraih jaketnya. “Tolong temani Bri. Tunggu di kamarnya. Aku takut dia tiba-tiba terbangun dengan napas tersengal seperti dulu.” Louisa mengangguk mantap. “Iya. Aku masih ingat bagaimana trauma Bri dulu. Aku nggak akan ke mana-mana.” Dulu, Louisa sudah ada di rumah itu saat kejadian itu menimpa Bricia. Ia menyaksikan semuanya, dari tubuh Bricia yang gemetar setiap malam, serangan panik yang datang tanpa aba-aba, hingga proses panjang yang akhirnya membuat gadis itu bisa berdiri lagi, meski dengan bekas trauma yang tak sepenuhnya hilang. Beruntung, Bricia masih bisa menahan traumanya saat mulai berkuliah. Terlebih kedekatannya dengan Feli yang ikut membantu proses pemulihan dan membuat Bricia k

  • Tergoda Teman Papa    Lima tahun lalu...

    "Lalu... ini punya siapa?" tanya Louisa dengan kebingungan yang sama dengan Bricia. Bricia menatap kotak itu lebih lama. Entah kenapa, perutnya tiba-tiba terasa mual, seolah ada yang mengaduk di dalamnya. “Kalau bukan punyamu, mungkin salah kirim?” ucap Louisa ragu. Bricia menggeleng pelan. Ada rasa tak enak yang tiba-tiba muncul, seperti sebuah firasat. Tangannya sedikit gemetar saat ia mendekat dan berdiri di depan kotak itu."Dia nulis nama lengkapmu di sini, Bri. Jadi bisa dipastikan, ini memang untukmu." Suara Louisa kembali terdengar. Setelah mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Bricia membuka lakban penutup dengan perlahan. Meski ada keyakinan ini bukan miliknya, tapi Bricia merasa ada pesan di dalamnya yang sengaja ditujukan untuk dirinya. Ketika semua lakban terbuka, detik berikutnya, napas Bricia langsung tersendat. Di dalam kotak itu ada sebuah boneka kain. Bentuknya kecil, lusuh… dan hanya memiliki satu kaki. Bagian tubuhnya terdapat noda merah kecokelatan

  • Tergoda Teman Papa    Paket

    “Kamu… cantik.” Bricia sedikit terkejut, tapi tetap tersenyum sopan. “Terima kasih,” jawabnya agak kikuk. Lucas menarik kembali tangannya, lalu menunjuk kursi kosong di sebelahnya. “Silakan duduk. Kita satu tim.” Bricia mengangguk dan menarik kursinya perlahan. Matanya sempat menyapu sekitar, lalu kembali ke layar di depannya, diam-diam ia menyesali kenyataan bahwa ia harus duduk tepat di samping lelaki yang menurutnya agak terlalu cringe. “Kepala tim kita namanya Carmen,” lanjut Lucas santai. “Janda muda, dan... masih seksi.” Alis Bricia hampir terangkat, tapi ia menahannya. Lucas malah ikut menyeringai kecil, matanya berkedip genit. “Ssst... tapi jangan bilang dia, ya." Lucas terkekeh. "Tapi sepertinya dia belum datang.” “Oh…” Bricia mengangguk pendek, ia tak tahu harus merespons apa. “Nanti kamu harus kenalan. Oh iya, dia suka banget cokelat,” tambah Lucas lagi, seolah itu yang informasi penting untuk Bricia. Dan Bricia baru hendak menyalakan komputernya ketika bunyi high h

  • Tergoda Teman Papa    Kantor baru

    Keesokan paginya, Bricia sudah mengenakan rok span selutut dan kemeja satin putih. Rambutnya ia ikat rapi membentuk kuncir kuda. Satu embusan napas kasar lolos dari bibirnya saat ia menatap cermin. Tubuhnya terasa lelah, matanya pun sedikit sembap. Semalaman ia hampir tak tidur. Nomor asing tadi malam tak hanya mengirim satu video. Dan setelah ia memblokirnya, nomor lain muncul mengirim hal yang sama. Potongan-potongan video Leo bersama seorang wanita, dalam situasi yang tak pantas untuk dilihat ulang. Dan anehnya wajah wanitanya tak terlihat jelas. Awalnya, Bricia sempat berpikir itu rekaman baru. Namun setelah beberapa video masuk bertubi-tubi, ia sadar, semuanya hanyalah rekaman lama. Disimpan dan dikumpulkan. Dan kini sengaja dikirimkan padanya. “Huft…” napasnya kembali berat. Tujuannya sudah pasti bukan membuatnya cemburu. Ini lebih ke usaha perlahan untuk menghancurkan kepercayaan dirinya. Bahkan kini kalimat Leo terus terngiang. Dan setiap mengingatnya, jemari Bric

  • Tergoda Teman Papa    Kenapa begini?

    [Apa kamu suka bunganya, Bri? Cantik, ya. Tapi tahukah kamu… mereka justru iri saat melihatmu. Karena ternyata, kamu jauh lebih cantik dari mereka.] Sepenggal kalimat itu membuat Bricia terkekeh kecil. Ia menggulingkan tubuhnya ke samping, memeluk bantal sambil tetap memegang surat beramplop merah muda dari Andrew. Seakan dunia di sekitarnya mengecil, bahkan ia sama sekali tak memedulikan apa pun yang sedang terjadi di ruang tamu antara Papanya, Louisa, dan Amanda. Begitu tawanya mereda, Bricia kembali meluruskan kertas itu, matanya menelusuri baris-baris berikutnya dengan senyum yang tak juga pudar. [Setelah bunga anggrek putih itu, nanti aku akan mengirimkan bunga yang lain. Supaya mereka semua tahu, kalau Bricia jauh lebih cantik dari bunga apa pun.] Tawa Bricia langsung pecah kembali begitu membaca kalimat itu. Ia buru-buru menutup wajah dengan bantal, seolah ingin menyembunyikan senyum lebarnya sendiri. “Ya ampun… nggak jelas banget sih Om-om satu ini,” gumamnya, meski nada

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status