Share

Bab 23

Author: Author Marr
last update publish date: 2026-06-05 11:39:45

"Aku yang akan masak hari ini untuk makan malam."

Kepala pelayan, seorang wanita paruh baya menatapku dengan alis terangkat.

"Nyonya mau masak sendiri? Biar kami saja, Nyonya."

"Tidak perlu. Aku sudah biasa masak sendiri di rumah Pamanku. Ini sudah jadi kebiasaanku."

Kepala pelayan tampak ragu tapi aku tersenyum meyakinkan.

"Sungguh, kalian bisa istirahat atau mengerjakan tugas lain. Dapur biar aku urus."

Para pelayan saling pandang tapi akhirnya mereka mengangguk dan meninggalkan dapur.

Aku m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 253

    Alexandro tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya berdiri di dekat jendela, membelakangi aku, menatap ke luar dengan mata yang tidak fokus. Tangannya di saku celana. Pundaknya tegang. Aku tahu dia sedang merenung memikirkan sesuatu."Ale," panggilku.Dia tidak menjawab."Apa kau baik-baik saja?""Aku baik-baik saja.""Tapi kau diam sejak tadi.""Aku hanya berpikir.""Tentang apa?"Dia berbalik. Wajahnya masih datar, tapi matanya berbeda."Tentang bagaimana aku akan menjadi ayah yang baik.""Kau akan menjadi ayah yang baik, Ale.""Kau yakin?""Aku yakin."Dia tersenyum tipis. "Aku harap kau benar."Pintu ruangan terbuka.Aku menoleh. Mona, ibu tiri Alexandro, masuk dengan gaun sutra merah, rambut disanggul tinggi, perhiasan berlian di leher dan telinga. Di belakangnya, Abraham, ayah Alexandro, berjalan dengan langkah tegap, suit abu-abu rapi, rambut disisir ke belakang. Wajahnya ramah, senyumnya hangat, seperti biasanya."Lucia, anakku," sapa Abraham. "Kami dengar kau dirawat di rumah s

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 252

    Aku terbangun dengan rasa dingin di punggung tangan kiri. Bukan dingin biasa. Dingin yang menusuk, yang berasal dari selang plastik bening yang terhubung ke kantong cairan di tiang besi di samping tempat tidur. Infus lagi. Aku di rumah sakit lagi.Bau antiseptik. Bau alkohol. Bau rumah sakit. Bau yang sudah terlalu familiar.Aku membuka mata lagi. Aku menatap langit-langit dan masih sama seperti terakhir kali. Aku wanita penyakitan. Seumur hidup mungkin harus berteman dengan rumah sakit. Aku menyentuh perutku."Maafkan Mama," bisikku.Air mataku jatuh.Pintu terbuka.Alexandro masuk. Suit hitamnya masih rapi, tapi kemeja putihnya sedikit kusut di bagian kerah. Rambutnya masih tertata, tapi ada beberapa helai yang jatuh di dahinya. "Lulu," panggilnya."Aku di sini."Dia berjalan mendekat dan duduk di kursi samping tempat tidur, meraih tanganku yang tidak terpasang infus, menggenggamnya erat."Aku minta maaf," kataku."Kau minta maaf untuk apa?""Aku wanita penyakitan dan aku terus m

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 251

    Beberapa hari kemudian, rumah terasa sunyi. Alexandro pergi bekerja seperti biasa, meskipun dia berjanji akan mengurangi aktivitasnya. Tapi janji itu sepertinya hanya bertahan sebentar. Ada rapat, ada klien, ada proyek yang tidak bisa ditunda. Aku tidak bisa marah. Aku sudah terlalu sering marah.Aku duduk di ruang keluarga, memeluk bantal, menatap televisi yang tidak aku nyalakan. Rasanya bosan dan aku ingin melakukan sesuatu, tapi tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak bisa keluar karena mual. Aku tidak bisa bekerja karena libur semester. Aku hanya bisa duduk di sini, menunggu waktu berlalu.My Mom, Isabella, duduk di kursi dekat jendela. Tangannya sibuk merajut. Benang biru muda melilit di jarumnya, membentuk pola-pola kecil yang rumit. Aku tidak tahu sejak kapan dia belajar merajut. Matanya fokus, tangannya terampil, dan sesekali dia tersenyum sendiri."Mom, itu untuk siapa?" tanyaku."Untuk cucuku, aku akan buatkan baju, topi, sepatu, dan selimut. Semua warna biru.""Kenapa bi

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 250

    Aku mengangguk pelan. Aku tahu Alexandro benar tapi aku tidak bisa begitu saja melupakan Elena. Dia sepupuku. Meskipun dia jahat padaku, meskipun dia sombong, meskipun dia selalu meremehkanku, dia tetap keluarga."Kau mau mandi?" tanya Alexandro."Iya. Aku berkeringat.""Jangan terlalu lama. Air hangat saja. Jangan pakai air panas.""Aku tahu."Aku berjalan ke kamar mandi lalu membuka keran, membiarkan air hangat mengalir di tubuhku. Aromanya lavender, seperti biasa. Aku mengambil sabun cair, menuangkannya ke spons, lalu menggosokkannya ke tubuhku. Tanganku turun ke perutku. "Halo, bayi. Aku mamamu. Maaf, mamamu sering marah-marah akhir-akhir ini. Mamamu juga sering mual. Tapi mamamu sayang kamu. Mamamu akan jaga kamu dan mamamu akan berikan yang terbaik untuk.Aku memejamkan mata. Aku membayangkan wajah anakku nanti. Akan mirip siapa? Akan mirip aku? Atau akan mirip Alexandro? Aku berharap dia mirip Alexandro."Aku tidak sabar bertemu kamu," bisikku.Ponselku berdering di luar kama

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 249

    Lucia's PovAku tidak tahu dari mana keberanian ini datang. Yang aku tahu, begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, aku tidak bisa menariknya kembali dan aku tidak ingin menariknya kembali.Alexandro menatapku. Matanya yang hitam itu tidak berkedip seperti dia sedang membaca pikiranku, menimbang-nimbang apakah aku serius atau hanya histeris karena hamil."Kau serius?" tanyanya."Apa aku terlihat bercanda?"Dia tidak menjawab dan hanya berjalan ke jendela, membelakangi aku. Tangannya di saku celana. Pundaknya tegang. Aku tahu postur itu. Itu adalah postur saat dia sedang berpikir keras. "Ale," panggilku.Dia tidak menjawab."Ale, aku tahu kau mendengar.""Iya. Aku mendengar.""Lalu? Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu?"Dia berbalik. Wajahnya masih datar, tapi matanya berbeda."Apa yang bisa aku katakan, Lulu? Kau sudah memvonisku bersalah sebelum aku membela diri.""Aku tidak memvonis. Aku hanya waspada.""Waspada? Atau paranoid?"Aku menggigit bibirku. "Mungkin keduanya."Alexandr

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 248

    Author's Pov.Alexandro baru saja memejamkan matanya ketika suara Lucia memecah keheningan pagi. Suaranya masih serak karena baru bangun, tapi nadanya tajam, menusuk, seperti pisau yang baru diasah."Kau dari mana? Apa kau menjual mayat di pelabuhan?"Alexandro membuka matanya. Lucia sudah duduk di tempat tidur, rambutnya acak-acakan, matanya merah, wajahnya pucat. Tangannya menggenggam ujung selimut erat-erat."Lulu, ini masih pagi. Kau sebaiknya...""Jangan pindah topik! Aku bertanya, kau dari mana? Kenapa kau baru pulang jam segini?"Alexandro menghela napas. Ia duduk di sofa, menghadap Lucia. Jarak mereka masih dua meter."Aku ada urusan.""Urusan apa? Urusan dengan mayat? Urusan dengan pelabuhan? Urusan dengan..."Lucia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Matanya menangkap sesuatu di tangan Alexandro. Luka. Goresan panjang di punggung tangan kanannya. Masih segar, masih merah, belum sempat mengering."Itu apa?" tanyanya."Apa?""Luka di tanganmu!"Alexandro melihat tangannya. Ia

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 1

    Carlo Bianchi berdiri ragu di depan pintu besar itu. Tangannya berkeringat meski udara malam terasa dingin. Jas yang ia kenakan tampak rapi, tapi tidak mampu menyembunyikan kegelisahan di balik bahunya yang kaku. Dua pria berbadan besar berdiri di kanan kiri pintu, wajah mereka datar, mata tajam me

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 6

    Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 5

    Aku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.Sebelum pintu mobil

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 4

    Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status