로그인"Ya, kau tua, Ale. Kau 40 tahun. Aku 23 tahun. Selisih kita 17 tahun," kataku."17 tahun bukan apa-apa.""Bukan apa-apa untukmu tapi untukku, itu satu generasi. Kau masih SMA saat aku lahir. Kau sudah kuliah saat aku masih belajar bicara. Kau sudah mulai bisnis gelap saat aku masih belajar membaca.""Apa hubungannya?""Hubungannya? Aku tidak tahu." Aku mengusap air mataku yang masih basah di pipi. "Mungkin tidak ada dan hanya aku yang sedang mencari-cari alasan untuk marah padamu."Alexandro terdiam."Kau tahu, Ale, aku lelah. Aku lelah mendengar kebenaran yang terus berjatuhan seperti hujan badai. Ibuku masih hidup. Ibuku membenciku. Aku anak di luar pernikahan. Keluarga ibuku bangsawan. Kakekku mengusir ibunya karena hamil di luar nikah. Kau dijodohkan dengan ibuku dulu. Kau sudah tahu siapa aku sejak aku kecil. Semua ini terlalu berat tapi aku tidak bisa marah padamu. Karena kau hanya menyampaikan kebenaran. Kebenaran yang seharusnya aku tahu sejak dulu," kataku."Aku minta maaf."
Aku terkejut. Kata-kata Alexandro berputar di kepalaku seperti rekaman rusak yang diulang terus-menerus.Ibumu masih hidup dan dia membencimu.Itu tidak masuk akal. Ibuku sudah mati, Aku melihat peti matinya bahkan melihatnya dimakamkan. Aku masih ingat bibi menarikku pulang karena aku tidak mau meninggalkan makamnya."Tidak mungkin," kataku.Alexandro tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan mata yang tidak bisa aku baca."Tidak mungkin," kataku."Lulu?""Jangan panggil aku Lulu!" Aku berdiri dari sofa. "Ibuku sudah mati, Ale! Aku melihatnya! Aku ada di pemakaman! Aku...""Kau hanya melihat peti mati bukan mayatnya. Peti mati tertutup dan kau tidak pernah melihat wajahnya. Kau tidak pernah memastikan bahwa dia benar-benar mati."Aku terdiam."Keluarga kalian sengaja menutup peti mati agar kau tidak tahu bahwa mayat di dalamnya bukan ibumu. Mereka bekerja sama dengan Matteo untuk menyembunyikan fakta bahwa Isabella masih hidup.""Bohong! Kau bohong! Kau tidak tahu apa-apa! Ibuku sud
Aku mengira hukuman Alexandro akan sekejam sebelumnya. Mungkin aku akan disuruh berdiri di halaman dalam keadaan dingin seperti malam itu dan disiram air es lagi. Mungkin tanganku akan diborgol dan aku akan disiksa dengan lilin, cambuk, atau benda-benda lain yang hanya dia yang tahu. Aku sudah siap. Aku sudah memejamkan mata, menunggu amarahnya meledak.Tapi tidak.Alexandro hanya menunjuk ke sofa panjang di sudut ruangan."Tidur di sana."Aku berkedip. "Apa?""Tidur di sofa malam ini."Aku berjalan ke sofa dan duduk, melipat kakiku, meraih selimut tipis yang Via letakkan di sandaran sofa. Aku menutupi kakiku yang dingin, tapi tubuhku tetap terasa dingin.Alexandro sudah masuk ke kamar tidur. Lampu ruang tamu hanya menyisakan satu lampu meja kecil di sudut yang menyala. Aku duduk melamun, menatap ujung selimut yang aku putar-putar dengan jariku.Pikiranku melayang ke Nathan.Kata-katanya masih bergema."Kamu sama menjijikkannya dengan Elena."Aku menyeka air mataku yang mulai jatuh. A
Via dan aku pergi ke salon. Bukan salon biasa, tapi salon yang sering dikunjungi istri-istri sosialita yang biasanya aku hindari karena harganya yang selangit. Tapi Via bersikeras.Dia berkata, "Kamu sudah jarang bersenang-senang lagi. Sekali ini saja, manjakan dirimu."Aku memilih gaun panjang berwarna biru dongker, sederhana tapi elegan. Tidak terlalu terbuka, tidak terlalu tertutup. Via memilih gaun hitam dengan belahan sampai paha, terlalu seksi untuk seorang pengawal pribadi, tapi dia berkata, "Aku juga ingin bersenang-senang."Kami merias wajah. Riasan ringan, rambut ditata sedikit bergelombang."Kamu terlihat cantik," kata Via."Apakah kita sudah siap?""Siap."Di dalam mobil, aku mengirim pesan ke Alexandro. "Sayang, aku ada tugas kelompok di rumah teman dan akan pulang larut."Alexandro membalas hanya dengan satu kata: "Oke."Aku merasa lega tapi juga sedikit bersalah.Pesta ulang tahun Nathan diadakan di restoran mewah di kawasan elit. Lampu taman berkelap-kelip, meja panjan
Keesokan harinya, aku menerima kabar dari rumah sakit. Kondisi Gianna kritis. Pendarahan internalnya cukup parah, dan dia masih belum sadarkan diri sejak tadi malam.Aku ingin segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya, tetapi Alexandro melarangku. Katanya, kondisiku sendiri masih belum stabil. Tekanan darahku masih naik turun. Luka di kepalaku masih perlu perawatan. Aku hanya bisa mendoakan Gianna dari kejauhan."Gianna akan baik-baik saja. Aku sudah menjamin perawatan terbaik untuknya. Dokter terbaik, rumah sakit terbaik, apa pun yang dia butuhkan, akan dia dapatkan.""Tetapi jika dia... jika dia...""Dia tidak akan mati," kata Alexandro.Aku memeluknya. "Terima kasih, Ale.""Jangan berterima kasih. Itu tugas suamimu."Sore harinya, seorang wanita datang ke rumah. Rambut hitam pendek, wajah tegas, tubuh berotot, senyum tipis. Valeria, atau yang lebih suka dipanggil Via. Sepupu Alexandro, wanita yang pernah aku temui di ruang bawah tanah yang penuh dengan senjata itu."Halo, Lulu
Darah, aku melihat darah di ujung jariku. Warna merah segar, hangat, mengalir dari pelipis kananku ke pipi, ke dagu, menetes ke baju putih yang aku pakai. Aku mendengar suara-suara teriakan, langkah kaki, suara klakson mobil di kejauhan tapi semuanya terdengar seperti dari balik air."Madam! Madam!" Suara Gianna. Di luar, para pengawal yang biasanya mengikuti dari jarak aman, sudah turun dari mobil mereka. Aku melihat bayangan-bayangan hitam berlarian ke arah kami. Beberapa orang dari mobil lain juga berhenti, turun, mencoba membantu. Seorang pria paruh baya membuka pintu mobil di sisiku."Nona, kau bisa keluar? Nona, kau mendengar saya?"Aku mengangguk pelan.Gianna sudah di luar. Aku melihatnya dari kaca spion yang retak. Wajahnya pucat, ada darah di lengan bajunya, entah darah siapa. Dia berlari ke arahku, mendorong pria yang mencoba membantuku, dan meraih tanganku."Madam, ikut saya. Cepat.""Gianna, kau...""Aku tidak apa-apa. Madam yang penting selamat."Dia menarikku keluar da
Carlo Bianchi berdiri ragu di depan pintu besar itu. Tangannya berkeringat meski udara malam terasa dingin. Jas yang ia kenakan tampak rapi, tapi tidak mampu menyembunyikan kegelisahan di balik bahunya yang kaku. Dua pria berbadan besar berdiri di kanan kiri pintu, wajah mereka datar, mata tajam me
Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas
Aku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.Sebelum pintu mobil
Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman







