Share

144

Penulis: Melyana_Arum
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-29 18:38:54

Malam itu di rumah aman, udara begitu tebal dengan ketegangan. Tidak ada yang banyak bicara setelah keputusan dibuat, besok malam mereka akan menuju dermaga.

Nadira duduk memeluk lutut di sofa, lampu redup menyinari wajahnya yang pucat. Di tangannya, ponsel dengan pesan Umbra masih menyala. Ia menatapnya lama, seperti menimbang hidup dan mati.

Nadira berbisik,

“Kenapa harus aku? Kenapa aku selalu dijadikan alat? … Aku tidak pantas bersama mereka. Tapi… aku ingin menebus semuanya, meski tubuhku hancur sekalipun.”

Air matanya jatuh tanpa suara.

Aruna masuk diam-diam, berdiri di ambang pintu. Ekspresinya dingin, tapi matanya menyimpan gejolak.

“Kau masih memikirkan pesan itu?”

Nadira terkaget, buru-buru hapus air mata, “Aku… tidak. Aku cuma—”

Aruna memotong, “Jangan bohong. Aku bisa lihat wajahmu penuh takut. Kalau kau benar-benar berniat menyerahkanku ke Umbra, katakan sekarang. Aku lebih suka kebenaran pahit daripada pengkhianatan manis.”

Nadira menunduk, suaranya bergetar.

“Aku benci
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   146

    Tiba-tiba, suara letupan peluru memecah keheningan. Peluru menghantam tiang kayu dekat kepala Aruna. Dari atas derek kapal, sniper Umbra mengawasi, siap menembak.Aruna langsung menarik Nadira ke bawah.Aruna merasa geram, “Sial, mereka tidak akan biarkan kita hidup, bahkan kalau bom ini bisa kita jinakkan.”Ezra berlari ke sisi kontainer, tubuhnya jadi tameng. Kakinya yang masih cidera terasa perih, tapi ia tetap berdiri tegak.“Aku akan tahan tembakan. Kau fokus pada bom, Aruna!”Timer: 00:00:38.Aruna membuka panel bom dengan tangan bergetar. Kabel-kabel berwarna merah, biru, hijau, dan hitam tersambung ke detonator.Aruna berbisik, “Mana yang benar…?!”Nadira berlutut di sampingnya, menunjuk kabel hijau. “Yang ini… biasanya kabel penghubung utama.”Ezra kembali berteriak dari belakang, “Biasanya?! Nadira, ini nyawa kita taruhannya!”Nadira menutup mata sejenak, air mata jatuh. “Kalau aku salah… aku yang tanggung. Potong sekarang, Aruna.”Aruna menatapnya lama, lalu dengan nekat

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   145

    Kabut laut malam itu pekat, lampu-lampu jalan berkelip samar seperti enggan menyinari. Dermaga tua itu nyaris kosong kecuali suara burung camar dan ombak yang menghantam tiang-tiang kayu lapuk.Aruna melangkah lebih dulu, wajahnya tertutup hoodie hitam. Ezra berjalan di sisi kirinya, tegap tapi penuh waspada. Nadira mengikuti di belakang, jemarinya terus meremas ponsel berisi pesan dari Umbra: “Laksanakan, atau keluargamu binasa.”Ezra berbisik dengan sangat pelan sekali, “Terlalu sunyi. Terlalu rapi. Ini bukan undangan, ini perangkap.” “Aku tahu. Justru itu kita harus masuk.”Mereka tiba di barisan kontainer yang berjajar seperti dinding besi. Nadira berhenti, menatap angka-angka yang disemprot cat merah di salah satu kontainer.Nadira berauara pelan, “Ini tanda… pesan untukku.”Ia mengingat instruksi Umbra: buka kontainer itu, serahkan “barang” Aruna ke dalam, lalu pergi. Nadira menggigil, tubuhnya tak sanggup bergerak.Aruna melihatnya dengan tatapan tajam.“Jangan bilang kau mas

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   144

    Malam itu di rumah aman, udara begitu tebal dengan ketegangan. Tidak ada yang banyak bicara setelah keputusan dibuat, besok malam mereka akan menuju dermaga.Nadira duduk memeluk lutut di sofa, lampu redup menyinari wajahnya yang pucat. Di tangannya, ponsel dengan pesan Umbra masih menyala. Ia menatapnya lama, seperti menimbang hidup dan mati.Nadira berbisik,“Kenapa harus aku? Kenapa aku selalu dijadikan alat? … Aku tidak pantas bersama mereka. Tapi… aku ingin menebus semuanya, meski tubuhku hancur sekalipun.”Air matanya jatuh tanpa suara.Aruna masuk diam-diam, berdiri di ambang pintu. Ekspresinya dingin, tapi matanya menyimpan gejolak.“Kau masih memikirkan pesan itu?”Nadira terkaget, buru-buru hapus air mata, “Aku… tidak. Aku cuma—”Aruna memotong, “Jangan bohong. Aku bisa lihat wajahmu penuh takut. Kalau kau benar-benar berniat menyerahkanku ke Umbra, katakan sekarang. Aku lebih suka kebenaran pahit daripada pengkhianatan manis.”Nadira menunduk, suaranya bergetar.“Aku benci

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   143

    Ezra membuat misi kecil yang sengaja tampak penting: menyusup ke gudang logistik sekolah tempat beberapa berkas rahasia tersimpan padahal sebagian informasi sudah dipindahkan.Nadira diberi tugas “menjaga pintu belakang” dan memastikan mereka tidak ketahuan.Ezra diam-diam menyebarkan informasi palsu bahwa ada akses ke server Umbra di dalam gudang. jika Nadira masih setia pada Umbra, ia akan tergoda untuk mengkhianati mereka.Saat malam tiba, mereka bertiga bergerak. Gudang gelap, hanya diterangi lampu redup.Ezra berpura-pura sibuk membongkar kunci digital.Aruna pura-pura fokus dengan berkas.Nadira ditinggalkan sendirian di pintu belakang, dengan kesempatan “menghubungi Umbra” kalau ia mau.Di sinilah dilema Nadira muncul. Tangannya sempat meraih ponsel burner kecil yang disembunyikan di saku jaketnya hadiah terakhir dari Umbra. Napasnya tercekat.Nadira bergumam dalam hati, “Jika aku laporkan ini… Umbra akan menganggapku masih berguna. Aku tidak akan sendirian lagi. Tapi… kalau a

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   142

    Rumah Nadira hangus oleh api kecil akibat serangan. Semua barang bukti terbakar kecuali flashdisk yang sempat Aruna selamatkan.Nadira kini tinggal sementara di rumah aman yang dijaga Ezra.Setiap malam, ia terbangun karena mimpi buruk bayangan wajah tak dikenal yang selalu berbisik, “Kau milik Umbra.”Tangannya bergetar saat menyentuh tablet rusak yang sudah mati total, seolah masih merasakan “tali” Umbra di lehernya.Nadira mulai merenung, Selama ini ia hanya ingin diakui, tak mau kalah dari Aruna.Tapi jalan yang ia pilih justru menjebaknya jadi pion.Ketika Aruna menyelamatkannya, hatinya goyah: Kenapa dia mau menolongku, padahal aku yang hampir menghancurkan hidupnya?“Kalau aku ikut Aruna, aku kehilangan Umbra dan mungkin aku kehilangan satu-satunya ‘kekuatan’ yang kupunya.Tapi kalau aku tetap bersama Umbra… aku akan kehilangan diriku sendiri. Apakah ada tempat untukku, kalau aku tidak di sisi mereka, dan juga bukan di sisinya?”Ezra suatu malam duduk bersamanya di balkon ruma

  • Terikat Kontrak Pernikahan CEO Posesif   140

    Setelah pria itu pergi, Nadira menangis sendirian.Nadira berbisik, “Kenapa aku terjebak sejauh ini… aku hanya ingin semua orang mengakui aku…”Aruna, dari kejauhan, untuk pertama kalinya melihat sisi rapuh Nadira bukan sekadar musuh, tapi korban manipulasi Umbra.Malam itu, Ezra, Aruna, dan Raska berkumpul di kamar Ezra.Ezra menjelaskan bahwa Umbra adalah jaringan bayangan yang suka memanfaatkan orang lemah dan ambisius.Raska menambahkan, kemungkinan besar Nadira bukan target utama, melainkan alat untuk menghantam keluarga Aruna.“Ini bukan lagi soal persaingan sekolah. Umbra mengincar lebih besar keluargamu, Aruna. Mungkin juga aku.”Aruna bergemetar penuh amarah, “Jadi selama ini… aku hanya pion di permainan mereka?”“Atau mungkin… kamu adalah kunci yang mereka incar.”Esok paginya, sekolah digegerkan dengan poster-poster anonim ditempel di dinding:“Aruna anak keluarga yang menyimpan rahasia besar. Kebenaran akan segera terungkap.”Semua murid heboh. Nadira dituduh sebagai pelak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status