LOGINSarinah terdiam lama. Matanya menatap wajah Beni yang tampan, kulitnya yang bersih, rahangnya yang tegas, dan mata yang terlihat jujur meski panik. Dia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya pelan.“Baik,” katanya akhirnya. “Saya setuju.”Beni membelalak. “Tunggu dulu. Anda tidak mengerti. Batang saya… sangat besar. Jauh di atas ukuran normal. Nanti akan sangat sakit. Lebih baik kita batalkan saja. Saya tidak mau membuat Anda menderita.”Sarinah sudah mulai membuka kancing seragam polisininya satu per satu. Gerakannya lambat, tapi mantap. “Saya ingin sembuh. Saya sudah lelah hidup dengan rasa sakit dan ketakutan setiap hari. Dan…” dia menatap Beni dengan mata yang mulai berubah, “saya tidak yakin kalau punya Anda besar. Pasti biasa-biasa aja.”"Tapi, bu... ""Jangan tunda lagi. Aku ingin sembuh. Ayo lepasin pakaiannya."Mereka saling melepas pakaian di tengah ruang tamu yang sepi. Ketika celana Beni akhirnya turun, batang yang sudah setengah tegang terungkap sepenuhnya. Panjang, te
Liang keintiman itu terus didesakkan ke arah batang gede milik Beni. Sebentar lagi, batang itu akan masuk ke dalam gua penuh kenikmatan itu. Tiba-tiba dari luar terdengar suara ribut. "Maling! Ada maling!" Teriakan itu membuat Beni langsung sadar. Dia mendorong Dian dan Sarah. "Lepasin! Ada maling di luar!" Dian masih setengah duduk di atasnya, liang keintimannya masih menempel di ujung batang Beni. "Jangan sekarang, Ben..." "Aku penjaga kos! Sekaligus keamanan. Aku harus atasi!" seru Beni. Dia buru-buru menarik celananya, tidak sempat memakai kaos. Bertelanjang dada, dia keluar dari kamar 356 dengan langkah cepat. Di koridor lantai satu, seorang pria bertopeng sedang berusaha merebut tas dari tamu kos-seorang bapak berumur 34 tahun yang baru check-in kemarin. Tamu itu melawan, tapi maling itu tiba-tiba berbalik dan melempar tendangan karate yang rapi. Tamu itu tersungkur. Beni melompat maju. "Hei!" Maling itu menoleh, lalu menyerang. Tendangan putar mengenai dada Beni. Tinju
Tanpa banyak bicara, Dian menarik resleting celana Beni. Sarah membantu menurunkan kancingnya. Dalam hitungan detik, celana dan dalaman Beni sudah terbuka. Batangnya yang besar, tegang, dan berdenyut keluar dengan jelas."ANJIR!" teriak Sarah, suaranya nyaris menjerit. "Sebesar ini?!""Gila..." Dian menelan ludah, matanya tidak lepas dari benda itu. "Dulu di SMA kamu cuma diem-diem di belakang, ternyata punya barang sebegitu gede... gila. Tahu gitu dari lama udah aku kapling""Tanah kali di kapling!" Beni marah-marah dalam hati. "Dibajak sekalian, Dian. Hehehe," tambah Sarah sambil mulai towel towel pusakanya Beni. Beni ingin menutupi batangnya, tapi kedua tangan wanita itu sudah lebih dulu bergerak. Sarah memegang pangkalnya, sementara Dian mengusap ujungnya yang sudah sedikit basah."Kita... boleh coba, kan?" tanya Dian pelan, sudah berlutut di lantai. "Boleh, ya? Gak dibolehin juga bakal kita paksa. Tahu!"Sarah ikut turun ke lantai di sisi lain. "Giliran, ya. Aku dulu."Tanpa me
Lift terbuka di lantai dua. Beni melangkah keluar dan disambut oleh aroma makanan yang menggoda. Restoran hotel itu ternyata adalah buffet all you can eat. Meja-meja dipenuhi dengan berbagai macam hidangan, dari masakan Indonesia, Jepang, Italia, sampai makanan penutup yang berwarna-warni."Ah, akhirnya," Beni tersenyum. "Makan siang yang layak setelah Hari-hari penuh drama."Dia mengambil piring dan mulai mengisi dengan berbagai makanan. Sushi, pasta, sate ayam, salad, dan sepotong besar cheesecake untuk penutup. Dia duduk di meja dekat jendela yang menghadap ke kota.Saat dia sedang menikmati suapan pertama, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang sudah tidak asing lagi."BAGUS, BENI. TAPI JANGAN KEBANYAKAN MAKAN SATE. KAMU LAGI ADA MASALAH SAMA PENCERNAAN."Beni membalas dengan cepat. "Kakek ngintipin aku ya?!""AKU DI MANA-MANA. TERMASUK DI BELAKANG POHON PALEM ITU."Beni langsung menoleh ke arah pohon palem artifisial di sudut restoran. Di sana, berdiri dengan santainya,
Beni menghela napas dalam. Karena tidak terjadi apa-apa, Beni bermaksud menyentuh perut Marcela, tempat yang menurutnya aman dan masuk akal. Tangan kanannya sudah terangkat, siap mendarat di atas selimut yang menutupi perut gadis itu.Tapi liontin di lehernya tiba-tiba berdenyut kencang. Energi tak terlihat mengalir ke lengannya, memaksa pergelangan tangannya bergeser ke atas. Jari-jari Beni menembus selimut, lalu menempel tepat di payudara kiri Marcela.“Hah?!” Beni kaget, tapi tangannya tidak bisa ditarik. “Bukan di sini!”Suara dalam yang bukan miliknya keluar dari mulut Beni, dalam dan bergema:“Roh jahat sedang menggerogoti tubuhnya. Sarangnya ada di sini… di payudara. Hanya dengan menyentuh sumbernya, roh itu bisa dikeluarkan.”Seluruh ruangan membeku.Ayah Marcela langsung berdiri, wajahnya memerah padam. “APA YANG ANDA LAKUKAN?! LEPASIN TANGAN ANDA DARI ANAK SAYA!”Ibu Marcela menutup mulutnya, matanya membelalak.Dokter langsung melangkah maju. “Lepaskan sekarang juga!”Beni
Beni langsung menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa di koridor. Tapi suara Kakek Piyama itu jelas sekali, seolah pria tua berpiyama bebek itu berdiri tepat di sebelahnya."Kakek? Di mana Kakek?""Jangan lihat-lihat. Aku gak ada di sini. Pakai liontinmu. Sembuhkan gadis itu.""Tapi Kek, aku bukan dokter. Aku cuma penjaga kos. Aku nggak ngerti apa-apa soal penyakit. Nanti kalau aku salah ngobatin, dia malah makin parah gimana? Atau malah... malah mati? Aku bisa dipenjara, Kek!""Percaya sama liontinnya.""Kakek, ini bukan main-main! Ini nyawa orang!!"Tapi Kakek Piyama tidak menjawab. Sebagai gantinya, Beni merasakan dorongan kuat di punggungnya. Tubuhnya tiba-tiba berjalan sendiri, mendorong pintu kamar yang terbuka, dan melangkah masuk."Permisi," suara Beni keluar tanpa bisa dicegahnya. "Saya ingin menyembuhkan gadis itu."Seluruh anggota keluarga di ruangan itu langsung menoleh. Ibu pasien menatap Beni dengan mata bengkak karena habis menangis. Bapaknya berdiri dari kursi
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain







