แชร์

34 Kedatangan Lidya dan Windy

ผู้เขียน: Heartwriter
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-08 17:58:35

Malam ini, sekitar pukul 10, rumah mewah Gito, yang biasanya sunyi dan tenang setelah matahari terbenam, tiba-tiba menjadi riuh dengan suara-suara baru.

Lampu depan menyala terang, dan suara klakson taksi online terdengar samar-samar dari gerbang.

Lidya dan Windy akhirnya tiba dari Surabaya, membawa koper besar dan tas-tas berisi barang-barang mereka.

lidya, seorang wanita berusia 44 tahun dengan wajah lelah namun penuh tekad, keluar lebih dulu, diikuti oleh windy, seorang gadis cantik ber
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terjebak Hubungan Terlarang   68 Bonus untuk Beni part 2

    Marlena masih duduk di pangkuan Beni, napasnya perlahan mereda. Batang kejantanan masih tertanam di dalam liang keintimannya. Dia mengusap keringat di pelipis Beni, lalu berbisik dekat telinga pria itu.“Peluk saya dari belakang. Pelan saja.”Beni mengangguk. Marlena mengangkat tubuhnya dengan hati-hati. Batang kejantanan keluar dengan bunyi basah yang lembut. Mereka berbaring miring. Marlena membelakangi Beni, punggung menempel ke dada pria itu. Satu tangan Marlena meraih batang kejantanan dari belakang, menggosokkannya pelan di antara bibir liang keintimannya yang masih sangat licin, lalu mengarahkannya kembali ke pintu masuk.Beni mendorong masuk dengan sangat pelan. Kepala masuk terlebih dahulu. Marlena menghela napas panjang. Kemudian seluruh panjangnya menyusul, sentimeter demi sentimeter, sampai pangkal menempel di kulitnya. Posisi miring membuat sudutnya berbeda. Rasa penuh itu datang lebih merata, lebih dalam, seolah mengisi dari arah yang belum sempat mereka nikmati tadi.Be

  • Terjebak Hubungan Terlarang   67 Bonus untuk Beni

    Mobil sampai di apartemen. Marlena dan Beni naik ke lantai dua puluh satu tanpa banyak bicara. Begitu masuk unit, Beni langsung merebahkan diri di ranjang Marlena seolah itu sudah menjadi kebiasaannya.“Saya cuma rebahan sebentar, Nona,” katanya.Belum sempat Marlena menjawab, suara ngorok sudah keluar.“GROKK… GROKK…”Marlena menggeleng pelan. Dia masuk kamar mandi, mandi dengan air hangat, membiarkan sisa ketegangan di lift dan ruang rapat luruh bersama busa. Di balik pintu kaca, pikirannya tidak ke Brata atau Petu. Melainkan ke pria yang sedang ngorok di ranjangnya. Pria yang menangkap peluru, menangkis pembunuh, dan tetap saja makan udang dari lantai.Dia ingin memberikan sesuatu. Bukan gaji tambahan. Bukan ucapan terima kasih di koridor. Sesuatu yang lebih pribadi. Karena kali ini, dia yang meminta.Marlena keluar dengan handuk terikat di dada. Beni masih terlentang, mulut sedikit terbuka, ngoroknya teratur. Selimut hanya menutupi pinggang ke bawah. Marlena mendekat, duduk di tep

  • Terjebak Hubungan Terlarang   66 Petu Dikorbankan Brata

    "SAKIT!" teriak salah satu pria.Beni memukul punggung mereka berdua dengan telapak tangannya. Dua pria itu langsung tersungkur ke lantai lift. Wajah mereka menahan nyeri. Satu memegangi kepala, satu lagi memegangi punggung.Marlena berdiri terpaku. "Beni! Kamu tidak apa-apa?""Aku tidak apa-apa, Nona. Cuma telapak tangan saya agak panas. Itu efek nyambut peluru. Biasa."Beni menatap dua pria yang terkapar. "Siapa yang menyuruh kalian?"Mereka tidak menjawab. Hanya erangan kesakitan."Aku tanya sekali lagi. Siapa yang menyuruh?""Kami tidak akan bicara," jawab salah satu pria itu.Beni menatap Marlena. "Nona, ini orang keras kepala. Saya butuh cara lebih.""Kalau tidak mau bicara, kita serahkan ke polisi," kata Marlena."Sebentar, Nona. Saya punya cara lain." Beni menggenggam liontin di lehernya. "Kakek Piyama, saya tukar poin. Kekuatan penyiksa tingkat satu. Sekarang juga."Liontin itu bergetar pelan. Energi mengalir ke telapak tangan Beni. Dia merasakan jari-jarinya seperti memegang

  • Terjebak Hubungan Terlarang   65 Si Tukang Tidur

    Tibo menatap pemandangan itu. Lalu dia tertawa. Tawanya keras, memenuhi ruangan."HAHAHA! Itu pengawalmu?!"Para pemegang saham ikut tertawa. Beberapa menutup mulut, beberapa terbahak-bahak. Brata bahkan ikut tersenyum sinis.Marlena merasakan wajahnya panas. "Dia... dia hanya sedang beristirahat.""Beristirahat? Dia tidur dengan air liur sampai membanjiri meja! Itu bukan pengawal, itu tukang tidur!"Tibo bangkit dan berjalan ke pintu. Dia membuka pintu lebar-lebar supaya semua orang bisa melihat dengan jelas. "Lihat! Pengawal saya berdiri tegak menjaga nyawa saya. Sementara pengawal Anda tidur seperti bayi. Bahkan mungkin mimpinya tentang makan bakso!"Tawa makin keras. Beni masih tidur. Air liurnya makin banyak.Marlena menghentakkan kakinya pelan. Dia ingin membangunkan Beni, tapi itu justru akan mempermalukan dirinya lebih jauh. Tapi ia kemudian teringat semua pertolongan Beni. Pria itu memang tidur sembarangan. Tapi di balik itu semua, dia selalu ada saat dibutuhkan."Tibo, terim

  • Terjebak Hubungan Terlarang   64 Menyembuhkan Orang

    Sambil makan, Beni menyuruh Hadi Jaya membelikan jarum akupuntur. Hadi Jaya langsung memerintahkan asistennya. Sementara itu, Beni menghabiskan semua buah dan kue di meja. Marlena hanya bisa geleng-geleng kepala.Setelah jarum datang, Beni mulai memeriksa istri Hadi Jaya. Kemampuan penyembuh tingkat lanjut yang baru saja dia aktifkan dari poin liontin bekerja. Beni bisa melihat titik-titik energi di tubuh wanita itu."Bu, tenang saja. Ini cuma seperti ditusuk jarum kecil. Nanti juga enak.""Enak?" istri Hadi Jaya bingung."Ya. Seperti dipijat. Tapi dari dalam."Beni menusukkan jarum ke beberapa titik. Tangannya bergerak cepat. Darah mulai keluar dari mulut dan pori-pori istri Hadi Jaya. Hadi Jaya panik."Kenapa keluar darah?!""Tenang, Pak. Itu darah kotor. Penyakitnya ikut keluar."Beberapa menit kemudian, istri Hadi Jaya merasakan tubuhnya yang semula lemas kini menjadi ringan. Wajahnya berseri. Dia menatap Beni dengan takjub."Saya... saya merasa seperti baru. Saya tidak sakit lagi

  • Terjebak Hubungan Terlarang   63 Enak Kalau Ada yang Ngerti

    Beni keluar dari kamar Sonya dengan langkah pelan. Sonya sudah tertidur pulas, dia terlihat puas, dengan senyum tipis di wajahnya.Beni menutup pintu perlahan, lalu berjalan menyusuri koridor menuju tangga.Begitu sampai di lobi, Beni langsung berhenti. Marlena duduk di sofa dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya dingin, matanya menatap Beni seperti ingin menusuk."Nona Marlena? Tumben menunggu di sini," sapa Beni canggung.Marlena berdiri. "Naik mobil. Sekarang.""Nada suaranya ketus, Beni tidak tahu apa yang terjadi. Dia mengikuti Marlena keluar kos dan masuk ke mobil.Marlena duduk di sisi jendela, menatap ke luar, dan sama sekali tidak menoleh ke arah Beni. Sopir sudah siap di balik kemudi. Mobil melaju pelan meninggalkan halaman kos."Nona, apa ada masalah? Kok kelihatan kesal?" tanya Beni.Marlena diam."Kalau saya salah, bilang dong. Jangan diam saja. Saya jadi takut nih."Marlena masih diam."Jangan-jangan Nona belum makan. Makanya marah. Kalau lapar, bilang. Kita mamp

  • Terjebak Hubungan Terlarang   6 Ini Harus Berhenti

    Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak

  • Terjebak Hubungan Terlarang   5 Berusaha Menghindar

    Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya

  • Terjebak Hubungan Terlarang   2 Kenapa Kamu Lakukan ini?

    Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel

  • Terjebak Hubungan Terlarang   1 Leon dan Sonya

    Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status