Share

Bab 4

Author: Other_side
last update publish date: 2026-07-17 10:41:17

Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan sekaligus menyebalkan bagi Sera. Tidak hanya lelah fisik, hatinya pun sebenarnya lelah menghadapi kenyataan hidup.

“Mama! Aku Pulang!” seru Sera sambil membuka pintu kontrakan sempit yang ia tinggali bersama ibunya.

“Ma! Mama dimana?!” panggil Sera lagi karena tidak ada sahutan.

“Mama di sini, Nak!” Sera menemukan ibunya sedang membuat sesuatu di dapur.

“Mama lagi bikin apa?” tanya Sera pada wanita dengan wajah pucat itu.

“Mama lagi bikin kue, mau coba jualan di depan rumah siapa tahu ada yang suka,” ucap Liana, wanita berusia setengah abad yang telah melahirkan seorang Seraphina.

“Kenapa mama mau jualan? Kan udah ada aku yang kerja, lagian mama harus banyak istirahat nggak boleh capek-capek.” Sera mengkhawatirkan ibunya yang sedang sakit.

“Mama nggak capek kok, ini juga sambil duduk. Mama kasihan lihat kamu kerja terus buat mama, mama pengen bantuin kamu. Lagian mama juga bosan nggak ngapa-ngapain seharian.” Sera terharu masih ada seseorang yang peduli padanya.

Mama Liana punya penyakit jantung. Tubuhnya mudah lelah tidak bisa melakukan aktivitas yang berat. Ibunya adalah satu-satunya alasan Sera tetap kuat sampai sekarang. Karena itu Sera akan melakukan apapun untuk kesembuhan ibunya. Termasuk menuruti keinginan ayahnya.

“Ya udah terserah mama. Nanti kalau capek jangan dipaksain ya, Ma!” ucap Sera mengalah.

“Iya tenang aja,” ucap Liana menenangkan.

“Emm … aku mau ngomong, Ma. Tadi papa telepon katanya mau kenalin aku sama seseorang dari keluarga Arkatama, menurut mama gimana?” tanya Sera.

Liana terdiam sejenak. Dia jadi teringat dengan mantan suaminya itu. Mantan suami yang tidak pernah mencintainya karena hubungan yang dipaksakan. Hubungan yang terjadi karena perjodohan dan harus berakhir karena kedatangan seseorang dari masa lalu sang mantan suami. Liana merasa kasihan pada Sera, karena di sini yang paling menjadi korban adalah Sera.

“Sebenarnya mama kurang suka dengan perjodohan, tapi mama pernah dengar tentang Arkatama, sepertinya mereka keluarga yang baik, jadi mama sih terserah kamu aja. Asal kamu bahagia pasti mama dukung.” Liana tersenyum sambil mengusap rambut Sera.

“Iya, Ma. Terima kasih ya selalu ada buat aku.” Sera tak kuasa menahan air matanya.

“Iya, sayang.”

Sera tidak pernah menceritakan pada ibunya tentang kesepakatan antara dirinya dan ayahnya. Dimana Sera harus menerima perjodohan bisnis dengan Abian Arkatama agar ayahnya bisa mendapat suntikan dana dari ayah Abian untuk perusahaannya yang sedang pailit. Sera tidak ingin membuat ibunya khawatir dan kepikiran. Ferdian Wijaya, ayah Sera berjanji akan membiayai pengobatan ibunya asal Sera mau menerima perjodohan itu. Sementara gaji Sera sendiri tidak cukup untuk membiayai operasi besar yang harus ibunya lakukan secepatnya.

Sera akan melakukan apapun demi ibunya. Karena itulah dia sekarang berada di sini, menghadiri kencan buta yang dirancang ayahnya di sebuah restoran bintang lima. Saat tiba Sera langsung diarahkan pada sebuah meja yang sudah dipesan atas nama Abian Arkatama. Meja yang dihias begitu indah untuk sebuah acara romantis. Namun, bagi Sera ini hanya pertemuan bisnis. Kenapa juga harus berlebihan seperti itu.

“Permisi! Apa benar meja ini atas nama Abian Arkatama?” tanya Sera pada seorang pria muda yang sudah duduk di kursi meja itu.

“Ah, benar. Apa anda Seraphina Roselin?” balas pemuda tampan itu sambil memperhatikan penampilan Sera yang sederhana tapi tetap menawan.

“Iya,” jawab Sera cuek.

“Kalau begitu silahkan duduk, Nona cantik! Perkenalkan saya Abian Arkatama,” ucap pemuda itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Dan jangan lupakan senyum manis di wajahnya.

Sera menyambut uluran tangan itu kemudian duduk di kursinya. Melihat sepintas penampilan pemuda di depannya yang sejak tadi tidak melunturkan senyum saat melihatnya, membuat sera bisa menilai orang seperti apa Abian ini. Abian memang tampan, tapi Sera sudah sering melihat lelaki seperti Abian. Menurut pengamatan Sera Abian adalah seorang playboy.

“Langsung saja, kita di sini karena sebuah kesepakatan jadi tidak perlu berpura-pura. Apa alasanmu menerima perjodohan ini?” tanya Sera to the point.

“Oh, wow! Aku tidak menyangka kau akan langsung bisa membaca pikiranku. Sepertinya tidak salah ayah memilihkanmu untukku. Ha ha ha,” sahut Abian membuat Sera memutar bola matanya malas menghadapi pemuda pecicilan ini.

“Asal kamu tahu, Nona Seraphina! Baru dirimu wanita yang tampak tidak menyukai pujian dariku, karena biasanya para wanita akan sangat senang menerima pujian dari orang tampan sepertiku,” lanjut Abian dengan wajah tengilnya.

“Karena aku bukan mereka,” balas Sera tidak peduli.

“Yah … baiklah. Kau memang tidak sama seperti wanita pada umumnya. Dan aku berada di sini karena ayahku membekukan kartu kreditku. Aku Jadi tidak bisa melakukan apapun karenanya,” cecar Abian merasa kesal dengan ayahnya.

“Berapa umurmu?” sela Sera yang sudah malas mendengar ocehan Abian. Sera heran kenapa pemuda sebesar ini masih bergantung pada ayahnya.

“Heh, apa? Kenapa tanya umur? tapi baiklah akan aku jawab. Umurku dua puluh lima tahun. Memangnya kamu umur berapa? Aku rasa kita seumuran,” jawab Abian beruntun.

“Oh, ya Tuhan! Bagaimana bisa papa berniat menjodohkanku dengan pemuda ingusan sepertimu. Asal kau tahu aku lebih tua dua tahun darimu.” Sera pun merasa kaget mengetahui umur Abian.

“Masak sih? Nggak kelihatan lebih tua. Kita kayak seumuran, tapi nggak papa aku lebih suka perempuan yang matang,” ucap Abian sambil menaik turunkan alisnya dengan senyum tengil di wajahnya membuat Sera lagi-lagi memutar bola matanya malas.

“Oh, dan jangan menyebutku pemuda ingusan karena aku adalah lelaki dewasa yang tampan!” lanjut Abian kali ini dengan wajah sebalnya.

Sera jadi merasa lucu melihat kenarsisan dan mood Abian yang cepat sekali berubah. Meski Sera meyakini Abian adalah seorang playboy, tapi Sera juga melihat kebaikan dalam diri Abian. Sera merasa seperti menemukan seorang adik. Sera yang semula berwajah jutek dibuat tersenyum melihat tingkah Abian.

“Tuh kan, kamu senyum! Pasti kamu terpesona dengan ketampananku kan? Sudah akui saja!” ucap Abian percaya diri.

Sementara Sera hanya tersenyum menggelengkan kepala. Sera jadi berpikir mungkin tidak buruk menjadikan Abian sebagai teman karena mereka saling membutuhkan.

“Bagaimana kalau kita berteman saja? Akan sangat menguntungkan kalau kita bekerja sama. Kita hanya perlu terlihat akrab di depan ayahmu dan papaku,” ucap Sera menawarkan kerja sama.

“Wah, itu ide yang bagus. Aku tidak menyangka kau sepintar itu, Nona Seraphina. Dengan begitu aku bisa menjalani hariku dengan tenang tanpa ocehan ayah tentang perjodohan,” ungkap Abian merasa senang.

Sera hanya tersenyum menanggapi Abian. Dia juga akan mendapat banyak keuntungan dengan kerjasama ini. Salah satunya adalah kesembuhan ibunya.

“Dan untuk meyakinkan ayahku, kita harus sering bertemu untuk menghabiskan waktu bersama karena dia selalu memata-mataiku. Aku sendiri tidak tahu tujuan ayah menjodohkanku denganmu,” ungkap Abian memberikan saran.

Dan benar saja Sera menyadari ada beberapa pengawal berbaju hitam di sekitar mejanya. Sera jadi bertanya-tanya sehebat apa keluarga Abian ini.

“Baiklah.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 6

    Setelah hari itu Sera merasa pekerjaannya lebih ringan. Entah karena apa sepertinya Rey mulai melunak. Contohnya usai Sera mengantarkan secangkir kopi dan membereskan meja kerja Rey, Rey membiarkannya begitu saja. Tidak ada tatapan intimidasi dan meremehkan seperti biasanya. “Sera!” panggil Rey dengan nada rendah menghentikan langkah Sera yang akan keluar dari ruangan itu.“Iya?” “Terima kasih,” ucap Rey memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Sera tertegun tidak menyangka seorang Rey bisa merendahkan suara untuk berterima kasih. Sera maklum mungkin Rey malu padanya. Saat itu Rey tertidur tak sadarkan diri sambil terus menggenggam tangan Sera. Sampai ponsel milik Rey berdering menampilkan nama asisten Riyan. Tanpa membuang kesempatan Sera segera memberitahu keadaan Rey pada asistennya. Sera kasihan pada Rey, tapi dia tidak bisa terus berada di kantor.“Tidak masalah, Pak. Saya senang bisa membantu,” balas Sera tersenyum. Rey sedikit tertegun melihat Sera tersenyum. Namun, dengan

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 5

    Senin pagi yang cerah. Waktunya menghadapi realita yang tak seindah ekspektasi. Sera tahu mulai sekarang di setiap harinya tidak akan mudah, tapi dia akan tetap berusaha mewujudkan kemudahan itu.Begitu tiba di mejanya, Sera disuguhkan dengan berkas yang hampir memenuhi mejanya. Rasanya belum memulai pun dia sudah lelah duluan. Dan tentu saja tak perlu ditanyakan lagi siapa pelakunya. “Apa-apaan ini! Apa sebegitu bencinya dia padaku? Bukankah aku sudah meminta maaf?” Sera bermonolog pada dirinya sendiri merasa heran dengan tingkah Rey. “Ya ampun, Ser! Kamu yakin mau ngerjain ini semua?” seru Vina yang baru datang ikut kaget melihat tumpukan berkas di meja Sera. “Ya … mau bagimana lagi,” ucap Sera pasrah. “Yang sabar ya, Ser! Maaf nggak bisa bantu, kerjaanku juga lagi banyak, ini juga nggak tahu bisa selesai apa enggak,” ungkap Vina merasa kasihan pada Sera. “Iya, Vin. Nggak papa santai aja!”Dengan pekerjaan sebanyak ini Sera tidak yakin bisa pulang tepat waktu. Untungnya dia sud

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 4

    Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan sekaligus menyebalkan bagi Sera. Tidak hanya lelah fisik, hatinya pun sebenarnya lelah menghadapi kenyataan hidup. “Mama! Aku Pulang!” seru Sera sambil membuka pintu kontrakan sempit yang ia tinggali bersama ibunya. “Ma! Mama dimana?!” panggil Sera lagi karena tidak ada sahutan.“Mama di sini, Nak!” Sera menemukan ibunya sedang membuat sesuatu di dapur. “Mama lagi bikin apa?” tanya Sera pada wanita dengan wajah pucat itu.“Mama lagi bikin kue, mau coba jualan di depan rumah siapa tahu ada yang suka,” ucap Liana, wanita berusia setengah abad yang telah melahirkan seorang Seraphina. “Kenapa mama mau jualan? Kan udah ada aku yang kerja, lagian mama harus banyak istirahat nggak boleh capek-capek.” Sera mengkhawatirkan ibunya yang sedang sakit. “Mama nggak capek kok, ini juga sambil duduk. Mama kasihan lihat kamu kerja terus buat mama, mama pengen bantuin kamu. Lagian mama juga bosan nggak ngapa-ngapain seharian.” Sera terharu masih ada

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 3

    Entah Sera harus merasa beruntung atau tidak karena Rey melepaskannya begitu saja. Sera berharap Rey bersedia memenuhi keinginannya untuk memulai semua dari awal. Namun, yang tidak Sera ketahui adalah Rey tidak akan membiarkan Sera hidup dengan tenang. Beberapa hari ini Sera merasa tugasnya semakin banyak. Sera heran banyak pekerjaan yang bukan menjadi tugasnya harus ia kerjakan, membuatnya jadi harus sering lembur. Sera berusaha tetap berpikir positif. Mungkin karena akhir bulan sehingga banyak yang sibuk membuat laporan. “Sera, kamu kok jadi sering lembur sih sekarang?” tanya Vina heran melihat Sera yang begitu sibuk. “Oh, iya nih nggak tahu juga Bu Risma sering kasih tugas tambahan,” jawab Sera yang juga tidak tahu kenapa. “Mana lihat, ngerjain apasih kok nggak selesai-selesai?” Vina mengambil salah satu berkas yang akan Sera kerjakan. “Loh, Ser. Inikan bukan tugas kamu, ini tugas satu divisi kok kamu kerjakan sendiri?” tanya Vina yang merasa aneh. “Nggak tahu, Vin. Bu

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 2

    Sera terpaku menatap wajah dingin itu. Otaknya mendadak kosong tak mampu mencerna situasi. Bagaiman dia bisa mengetahui nama belakangnya. Nama belakang yang sudah Sera hilangkan sejak lama. Hanya orang-orang dari masa lalunya yang mengetahui asal usul Sera. Sera sungguh tidak mengingat pernah mengenal seorang Rey. Namun, beberapa detik selanjutnya Sera membulatkan mata. Mata elang itu mengingatkannya pada seseorang. Mungkinkah …. “Sudah ingat?” Senyum miring terbentuk saat Rey menyadari Sera telah mengingat sesuatu. “Kamu … Shaka?” tanya Sera dengan jantung yang berdebar makin keras. Takut-takut jika tebakannya benar. Sementara Rey kembali memasang wajah dinginnya. Tidak sedikitpun melepaskan pandangan dari wajah cantik Sera. “Ternyata begitu mudah bagimu melupakanku.” Dengan nada dingin meremehkan kentara sekali Rey sedang menyindir Sera. “Aku … bukan begitu. Aku hanya ….” Sera menunduk tidak sanggup meneruskan kata-katanya. “Aku minta maaf.” “Maaf? Untuk apa?” Rey bersede

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 1

    "Setampan apa sih CEO baru Hardian Group?” Sera bergumam terheran-heran melihat kehebohan satu kantor. Empat tahun Sera bekerja di Hardian Group baru kali ini Sera menyaksikan kehebohan seisi kantor. Bahkan acara ulang tahun perusahaan saja tidak seheboh ini. Kabarnya CEO baru ini adalah pewaris utama dari keluarga Hardian. Entah apa yang spesial dari CEO baru ini selain masih muda dan tampan. Sera jadi sedikit penasaran, tapi juga tidak terlalu peduli. Menurutnya semua lelaki tampan apalagi yang memiliki kuasa pasti sama saja. “Kamu ini bicara apa, tentu saja sangat tampan. Apa kamu nggak pernah lihat majalah bisnis? Dia sangat terkenal di kalangan pebisnis,” sahut Vina rekan satu divisi yang tidak sengaja mendengar gumaman Sera. Sementara Sera hanya melengos tidak peduli sebagai tanggapan. “Aku memang tidak pernah membaca majalah bisnis. Aku tidak tertarik.” “Pantas saja.” Vina melanjutkan kegiatannya merias diri tidak lagi memedulikan Sera. Sera yang merasa jenuh melihat s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status