로그인Setelah Leonard pergi, aku hanya bisa menatap pintu yang baru saja ia tutup. Dingin, dingin sekali pria itu. Tapi aku bisa merasakan ada sesuatu di balik tatapannya tadi… seolah-olah dia menyimpan rahasia yang tak mau diungkap.
Aku menghela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang sambil memandangi buku harian Elira.
Pagi masih sepi. Hanya suara burung dari taman yang terdengar samar melewati jendela besar kamarku. Aku baru saja menutup buku harian Elira ketika terdengar ketukan lembut di pintu.
Tok… tok… tok.
Aku refleks menegakkan tubuh. “Masuk,” ucapku, mencoba terdengar tenang.
Pintu terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya melangkah masuk. Rambut hitamnya sudah memutih di beberapa bagian, disanggul sederhana. Seragam pelayan abu-abu tua melekat rapi di tubuhnya. Senyumnya hangat, meski ada kerutan lelah di wajahnya.
“Selamat pagi, Nyonya,” sapanya sambil menunduk.
Aku tersenyum tipis. “Pagi…” Lalu aku cepat menambahkan, “Siapa namamu?”
Dia terlihat sedikit heran dengan pertanyaan itu. “Saya… Mira, Nyonya. Pelayan pribadi Anda.”
Aku pura-pura mengangguk, meski dalam hati agak panik. Untung aku cepat menutupinya. “Ah, tentu saja… Mira. Duduklah sebentar.”
Mira tampak ragu. “Apakah Nyonya menginginkan sesuatu?”
“Ya,” aku menepuk kursi di samping ranjang. “Aku ingin bicara. Hanya sebentar.”
Perlahan ia duduk, tangannya bertaut di pangkuan. Sorot matanya penuh rasa khawatir.
“Bagaimana kondisi Anda pagi ini? Setelah kejadian di danau… kami semua sangat cemas. Syukurlah Tuhan masih menyelamatkan Anda.”
Aku menunduk. Kata-katanya menusuk hati. Kalau saja dia tahu aku bukan benar-benar Elira…
Aku menarik napas panjang. “Mira, aku ingin kau jujur padaku. Semua orang di rumah ini… bagaimana mereka melihat kejadian itu?”
Mira menelan ludah, menunduk. “Sebagian besar… percaya bahwa Anda sengaja menjatuhkan diri, Nyonya.”
Aku menegang. Jadi benar… semua orang mengira Elira ingin bunuh diri.
“Apa kau juga percaya begitu?” tanyaku hati-hati.
Mata Mira sedikit berkaca-kaca. “Tidak, Nyonya. Saya mengenal Anda lebih dari orang lain di rumah ini. Anda memang rapuh… sering menyimpan air mata sendirian. Tapi… Anda bukan tipe yang akan menyerah begitu saja. Bukan dengan cara itu.”
Dadaku menghangat. Ada rasa haru mendengarnya. “Terima kasih… karena percaya padaku.”
Tapi aku tidak berhenti sampai di situ. “Mira… malam itu. Apa kau melihat sesuatu?”
Wajahnya langsung berubah tegang. Jemarinya saling menggenggam erat, seolah ada rahasia yang ingin meledak tapi ditahan mati-matian.
“Saya… tidak seharusnya bicara,” katanya akhirnya, suara lirih. “Kalau keluarga tahu saya membuka mulut, saya bisa diusir. Atau lebih buruk.”
Aku menyentuh tangannya. “Mira, tolong. Aku butuh tahu kebenarannya. Nyawaku bisa terancam kalau aku hanya diam.”
Dia menatapku lama. Seakan menimbang, apakah aku benar-benar bisa dipercaya.
Akhirnya ia berbisik, hampir tak terdengar. “Malam itu… saya melihat bayangan seseorang berlari menjauh dari tepi danau. Saat semua orang sibuk mencari Anda, saya justru melihat sosok itu. Tapi gelap… aku tak bisa memastikan siapa.”
Jantungku berdegup kencang. Jadi memang ada orang lain di sana!
“Kau yakin?”
Mira mengangguk. “Saya tidak bermimpi. Saya tahu apa yang saya lihat.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Terima kasih, Mira. Itu sangat penting.”
Dia menunduk, tapi wajahnya masih penuh gelisah.
Aku diam sejenak, lalu bertanya lagi, pelan tapi mantap. “Malam itu… sebelum aku jatuh, apa ada yang aneh? Dengan pakaianku, dengan… perhiasan, atau apapun?”
Mira mengerutkan kening, mencoba mengingat. “Gaun Anda, Nyonya… sudah lembap sebelum Anda mendekati tepi danau. Saya ingat karena saya sempat membantu memegang ujung gaun itu. Waktu itu saya merasa aneh, tapi tidak sempat menanyakannya. Dan…” Mira terhenti, menatapku penuh ragu.
“Apa?” dorongku.
“Kalung kesayangan Anda… hilang. Kalung dengan liontin biru. Anda selalu memakainya, bahkan saat tidur. Tapi malam itu… kalung itu tidak ada.”
Aku terperangah. Gaun lembap? Kalung hilang? Itu jelas bukan kebetulan.
“Mira,” suaraku bergetar, “kenapa kau tidak pernah bilang pada siapapun?”
Air mata menitik di sudut matanya. “Siapa yang akan percaya pada seorang pelayan, Nyonya? Lagipula… orang-orang sudah lebih dulu menghakimi Anda. Saya… saya takut.”
Aku memeluknya singkat. “Kau sudah cukup berani dengan bercerita padaku. Jangan khawatir, aku akan simpan rahasiamu.”
Mira terisak pelan, lalu buru-buru berdiri. “Saya harus kembali bekerja. Mohon maaf kalau kata-kata saya lancang.”
Dia menunduk dalam-dalam lalu pergi, menutup pintu rapat.
Aku terdiam lama, otakku bekerja cepat. Bayangan seseorang di tepi danau. Gaun lembap sebelum terjatuh. Kalung yang hilang.
Semua itu bukan tanda bunuh diri. Itu tanda… ada seseorang yang mengatur segalanya.
Aku menggenggam selimut erat-erat, tubuhku bergetar.
“Elira…” gumamku pada diri sendiri, “kalau memang kau tidak menyerah… berarti ada orang yang benar-benar ingin menghabisimu.”
Aku berdiri, menatap bayangan di cermin.
Sunyi.Itu hal pertama yang Elira rasakan setelah semuanya berhenti. Tidak ada kericuhan, suara benturan, bisikan dan tidak ada makhluk mengerikan lagi yang berjalan di lorong.Hanya… kosong.“Leonard…?” panggilnya beberapa kali. Suaranya kecil dan hampir tidak terdengar.Ia bangkit perlahan dari lantai. Kakinya masih lemas dan tangannya gemetar. Tempat Leonard berdiri tadi benar-benar kosong. Tidak ada jejak sama sekali. Tidak ada cahaya yang tertinggal atau apapu yang menunjukkan keberadaan Leonard.Seolah dia… tidak pernah ada di sana.“Elira,” panggil Bria. Suaranya membuat Elira menoleh. Brian berdiri di dekat panel dengan wajah yang pucat.“Aether spike… hilang.”Elira menatapnya kosong.“Hilang?”Brian mengangguk pelan.“Bukan turun.”“…hilang total.”Kalimat itu harusnya jadi kabar baik, namun tidak terasa seperti itu. Karena kalau Aether hilang, Leonard juga ikut hilang.Elira berjalan pelan ke tengah ruangan. Matanya menatap lantai.“Dia tidak mungkin…”Ia berhenti. Tidak san
Suara itu tidak keluar dari mulut, karena makhluk itu tidak memiliki mulut. Suara itu langsung masuk ke kepala. Leonard merasakan sesuatu menusuk pikirannya. Gambar-gambar aneh mulai muncul. Ada pemandangan langit yang retak, dunia tiba-tiba terbali dan semua manusia di bumi ini berteriak. Dan di atas semuanya ada mata raksasa itu.Leonard langsung memegang kepalanya.“Ah—!”“Leonard!” Elira berteriak.Brian langsung menariknya mundur.“Jangan lihat matanya!” Namun sudah terlambat. Leonard sudah terhubung.Dalam satu detik dunia berubah. Leonard tidak lagi di laboratorium. Ia berdiri di ruang Aether. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ruang itu tidak kosong. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Di atas ada langit. Jika itu bisa disebut langit terbuka dan mata raksasa itu lebih dekat dari sebelumnya, Mata itu terbuka penuh seolah masih mengawasi.Leonard tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa berat. Seolah gravitasi di tempat ini berbeda. Lalu makhluk bermata satu itu muncul di depan
“Mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dimensi itu lagi.”Suara Elira terdengar tegas, keras, namun matanya penuh ketakutan.Leonard langsung menoleh.“Kamu serius?”“Ya!”Elira mendekat.“Lihat tubuh kamu!”Ia menunjuk garis keperakan di wajah Leonard.“Ini semakin parah!”“Kalau aku berhenti sekarang....”“Kamu pikir Alea bakal senang lihat kamu berubah jadi sesuatu yang bahkan bukan manusia lagi?!”Leonard diam karena ia sama sekali tidak punya jawaban.Brian ikut bicara nadanya ebih tenang, namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.“Kalau teori Dr. Pratama benar…”Ia menatap Leonard.“…kamu bukan cuma terhubung ke Alea.”“…kamu sedang berubah jadi jangkar.”Leonard mengerutkan kening.“Jangkar?”“Penghubung tetap antara dunia ini dan ruang Aether.”Sunyi.“Dan kalau itu selesai…”Brian menatap layar. Puluhan titik merah itu.“…mereka tidak perlu Alea lagi.”Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.Karena itu berarti, Alea tidak lagi penting bagi mereka y
Leonard langsung menoleh cepat, hampir refleks. Namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ruangan laboratorium yang dingin, layar-layar yang masih menyala, dan Elira yang berdiri beberapa meter darinya dengan wajah bingung.“Kamu kenapa?” tanya Elira.Leonard tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih tegang. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Baru saja ia mendengar suara Alea dengan sangat jelas. Terlalu jelas untuk disebut halusinasi.“…dia ada di sini,” bisiknya pelan.Brian yang sedang melihat data langsung mengangkat wajah.“Apa?”Leonard menatap ke sekitar ruangan. Tidak ada apa-apa, namun udara terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih berat.“Dia bilang… lari.”Elira langsung menegang.“Leonard…”Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi seluruh lampu di laboratorium tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan. Hanya layar monitor yang masih menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke dinding.“Jangan bilang ini pemadaman biasa…” gumam Brian. Sebuah
Hujan turun lagi malam itu, tipis hampir seperti kabut. Membuat seluruh kota terlihat samar dari balik jendela laboratorium. Leonard berdiri diam di depan layar. Matanya menatap catatan lama Dr. Pratama yang masih terbuka.“Sekali mereka tahu kita ada… mereka tidak akan berhenti datang.”Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang hidup. Melekat di kepalanya. Mengulang terus-menerus.Elira masih duduk di depan komputer. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. mencari sesuatu, apa saja informasi yang bisa ia temukan untuk menghentikan semua ini. Cara memastikan apa yang dilihat Leonard tadi malam bukan awal dari sesuatu yang lebih buruk.“Kalau entitas itu benar-benar ada dan mereka bisa melihat kamu, Leonard…” katanya pelan.“…berarti ikatan antara kamu dan Alea udah terlalu dalam.Leonard tidak menjawab. Karena ia tahu setiap kali ia masuk ke sana ikatan itu semakin kuat. dan sekarang bukan cuma Alea yang bisa melihatnya. Sesuatu yang lain juga mulai melihat balik.“Elira.”Suara Leon
Leonard tidak tidur malam itu. Ia duduk di lantai apartemennya dengan punggung bersandar pada sofa, lampu ruang tamu mati, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar. Tangannya masih gemetar. Bukan karena dingin ataupun karena takut melainkan karena ia masih bisa merasakan sentuhan itu. Sentuhan tangan Alea, meski hanya beberapa detik, meski tubuh itu tidak benar-benar nyata dan meski dunia di sekitar mereka runtuh sebelum ia sempat menggenggam lebih erat, Leonard masih bisa merasakannya dan itu cukup untuk menghancurkan semua ketenangan yang selama dua tahun terakhir ia paksa bangun.Di atas meja tergeletak foto lama. Foto yang sama yang selama ini selalu ada di sana. Foto yang ia pandang beberapa waktu lalu sebelum pergi ke gudang tua itu. Leonard menatap wajah Alea di foto itu lama. Sangat lama.“Kenapa kamu harus ingat…” bisiknya li







