เข้าสู่ระบบMalam turun dengan cepat, menyelimuti rumah besar keluarga Valdez dengan keheningan yang dingin. Lampu-lampu taman sudah dinyalakan, memantulkan cahaya lembut di permukaan danau yang tenang.
Aku berdiri di jendela kamar, menatap ke arah gelapnya air itu. Bayangan pohon-pohon besar di sekelilingnya tampak seperti sosok-sosok raksasa yang berjaga. Ada sesuatu di sana… aku bisa merasakannya.
“Kalau memang jawabannya ada di tempat itu,” gumamku, “aku harus melihat sendiri.”
Dengan hati-hati aku mengenakan mantel tipis, lalu membuka pintu kamar. Koridor sunyi, hanya cahaya lilin kecil yang menerangi. Aku melangkah pelan, menahan napas setiap kali papan lantai berderit di bawah kakiku.
Beruntung, Mira sudah memberitahuku jalur yang lebih sepi menuju taman belakang—melewati lorong samping dapur, bukan lewat aula utama.
Begitu keluar, udara malam menyambut. Dingin menusuk tulang, tapi aku tetap melangkah, menuruni anak tangga batu yang mengarah ke halaman belakang.
Taman itu luas, dipenuhi bunga mawar dan anggrek yang terawat. Jalan setapak berkelok-kelok di antara semak-semak. Dan di ujungnya… danau itu menanti.
Aku berhenti sejenak di bibir danau. Angin malam membuat permukaan air beriak kecil, memantulkan cahaya bulan. Tenang. Terlalu tenang.
Aku menatap sekeliling. “Malam itu… kau ada di sini, kan, Elira?” bisikku. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
Perlahan aku menunduk, memperhatikan tanah di sekitar tepi danau. Mataku menangkap sesuatu—sebuah jejak samar, seperti bekas tumit sepatu, separuh tertutup rumput liar.
Aku berjongkok, menyentuhnya. “Jejak ini… tidak mungkin milikku. Ukurannya lebih besar.”
Bulu kudukku meremang. Jadi benar ada orang lain di sini malam itu.
Aku terus berjalan menyusuri sisi danau. Langkahku terhenti saat melihat sesuatu berkilau samar di antara rerumputan. Aku buru-buru meraih benda itu.
Liontin kecil. Biru.
Nafasku tercekat. Kalung Elira…!
Tanganku bergetar saat menggenggamnya. Bukti ini bisa jadi jawaban. Tapi sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, suara langkah mendekat terdengar dari belakang.
Darahku langsung berdesir kencang. Aku menoleh cepat.
Siluet seorang pria berdiri tak jauh di belakangku. Tubuh tegap, sorot mata dingin menusuk dalam gelap.
“Leonard…” bisikku lirih.
Suamiku—atau lebih tepatnya, suami Elira—berdiri hanya beberapa meter dariku.
“Apa yang kau lakukan di sini, Elira?” suaranya rendah, dalam, tapi penuh kecurigaan.
Aku menggenggam liontin erat-erat di balik mantel, berusaha menenangkan diri.
“Aku hanya… butuh udara segar,” jawabku cepat, mencoba terdengar biasa.
Dia melangkah lebih dekat, sorot matanya meneliti wajahku, lalu berpindah ke tangan yang tersembunyi di balik mantel.
“Udara segar?” ulangnya datar. “Atau… kau mencari sesuatu?”
Jantungku berdegup gila-gilaan.
Kalau dia tahu aku menemukan kalung ini, apa yang akan terjadi?
Angin malam bertiup pelan, membuat rambutku tergerai di wajah. Aku berdiri membeku, liontin biru yang kutemukan tadi masih tergenggam erat dalam mantel. Sorot mata Leonard meneliti setiap gerakanku, tajam seperti mata elang yang siap menerkam.
“Aku hanya… ingin berjalan,” kataku akhirnya, mencoba terdengar tenang.
“Berjalan?” suaranya rendah, penuh nada mencurigai. “Di tengah malam, sendirian, tepat di tempat kau hampir kehilangan nyawamu?”
Aku menelan ludah. “Apa salahnya? Aku ingin… menghadapinya sendiri. Kalau aku terus menghindar, aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu.”
Dia mendekat, langkah-langkahnya mantap. Setiap kali ia melangkah, tubuhku makin menegang.
“Melupakan?” Dia terkekeh tipis, dingin. “Kau berpikir aku tidak tahu? Semua orang percaya kau mencoba bunuh diri di sini. Bahkan aku sempat berpikir begitu.”
Aku menatapnya, berani. “Dan sekarang? Apa kau masih percaya?”
Dia terdiam. Tatapannya menusuk dalam, lalu perlahan melembut… hanya sesaat, sebelum kembali membeku. “Entahlah. Kau selalu sulit ditebak, Elira.”
Aku hampir saja tertawa getir. Sulit ditebak? Tentu saja, karena aku bukan Elira.
Aku mengalihkan pandangan, mencoba mengatur napas. Kalau aku salah bicara sedikit saja, dia bisa mencurigai sesuatu. Tapi aku juga tidak bisa hanya diam.
“Apa kau peduli… kalau aku memang mati di danau malam itu?” tanyaku lirih.
Udara di antara kami membeku. Leonard mendekat, kini hanya berjarak setengah meter dariku. Wajahnya sulit terbaca, tapi matanya berkilat tajam.
“Jangan bodoh,” katanya akhirnya. “Apapun yang terjadi… kau tetap istriku.”
Ada jeda. Kata itu—istriku—terdengar begitu dingin, kosong dari kehangatan. Seolah hanya status, bukan perasaan.
Hatiku tercekat. Elira pasti sudah ribuan kali hancur karena kalimat-kalimat seperti ini.
“Aku hanya istri di atas kertas bagimu,” balasku, suara bergetar tapi tegas. “Sementara hatimu ada di orang lain.”
Sekejap matanya membesar, lalu menyipit. “Jaga ucapanmu, Elira.”
Aku menatap balik, tak mau kalah. “Apa aku salah?”
Hening panjang menyelimuti. Angin, suara riak air, semua terdengar lebih keras di antara diam kami.
Leonard menatapku lama, seakan mencoba membaca sesuatu yang berbeda di dalam diriku. Bibirnya bergerak, tapi berhenti. Seperti ada kalimat yang ingin ia ucapkan, tapi ia telan kembali.
Akhirnya dia memalingkan wajah. “Kau terlalu banyak bicara malam ini.”
Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri. Aku tidak bisa menekan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalaku.
“Leonard…” suaraku lembut, tapi penuh ketegangan. “Malam itu… di danau. Apa kau ada di sini?”
Dia menoleh, alisnya berkerut. “Kenapa kau menanyakannya?”
Aku menatap matanya. “Karena aku merasa… aku tidak sendirian malam itu.”
Dia terdiam lagi, terlalu lama. Sampai akhirnya ia berkata, “Kalau pun ada orang lain, itu bukan urusanmu sekarang. Yang penting… kau masih hidup.”
Kata-katanya bukannya menenangkan, justru membuat hatiku makin tidak tenang.
“Apa maksudmu?” tanyaku curiga.
Dia tidak menjawab. Hanya menatapku dengan tatapan penuh rahasia, lalu berbalik. “Kembalilah ke kamar, Elira. Malam terlalu dingin untukmu.”
Aku menggenggam liontin biru itu makin erat di balik mantelku, memastikan ia tidak melihatnya.
Dia berjalan meninggalkanku, siluet tubuhnya perlahan menjauh, ditelan kegelapan.
Aku berdiri di tepi danau, tubuh gemetar. Entah karena udara dingin, atau karena kata-kata Leonard yang semakin membingungkan.
“Leonard…” bisikku, menatap punggungnya yang menghilang. “Apa kau pelindungku… atau musuhku?”
Aku menunduk, membuka genggaman tanganku. Liontin biru itu berkilau samar dalam cahaya bulan. Bukti kecil, tapi mungkin inilah kunci semua misteri.
Aku menggenggamnya erat lagi, menatap ke arah gelap danau.
“Aku akan mencari tahu, Elira. Siapa pun yang mencoba menghabisimu, aku tidak akan diam.”
Pintu kamar menutup rapat di belakangku. Aku bersandar sejenak pada kayu dingin itu, menarik napas panjang. Tubuhku terasa lelah, bukan karena berjalan, melainkan karena pertemuan singkat dengan Leonard yang masih menyisakan getaran aneh di dadaku.
Aku berjalan pelan ke ranjang. Lampu meja menyala temaram, menciptakan bayangan samar di dinding. Denting jarum jam terdengar jelas, menambah kesunyian yang menusuk.
Aku duduk, lalu membuka telapak tangan. Liontin biru itu berkilau samar, meski cahaya lampu begitu redup.
Kecil. Namun terasa begitu berat.
Aku menyentuh permukaannya dengan ujung jari. Dingin. Seolah menyimpan cerita yang ingin dibisikkan, tapi suaranya terlalu samar untuk kudengar.
“Kenapa kau ada di sana?” gumamku lirih. “Apa kau sengaja meninggalkannya, Elira… atau seseorang yang melepaskannya darimu?”
Tok. Tok.
Ketukan pintu membuatku terlonjak. Refleks aku menyembunyikan liontin di bawah bantal, jantungku berdetak cepat.
“Masuk,” kataku, mencoba terdengar tenang.
Mira muncul dengan teko kecil dan cangkir. Aroma susu hangat segera memenuhi kamar. Dia berjalan pelan, seakan takut mengganggu lamunanku.
“Saya pikir Anda belum tidur, Nyonya,” katanya lembut.
Aku tersenyum samar. “Benar. Aku belum bisa tidur.”
Mira menuangkan susu, lalu meletakkan cangkir di meja samping ranjang. Saat menoleh, dia menangkap tatapanku yang penuh kerisauan. Alisnya berkerut.
“Ada sesuatu, Nyonya?” tanyanya hati-hati.
Aku terdiam. Ada pergulatan batin dalam diriku. Haruskah aku memberitahunya? Jika aku salah langkah, rahasia ini bisa menghancurkan segalanya. Tapi jika aku diam, aku sendirian.
Akhirnya aku menarik napas panjang. “Mira… aku menemukan sesuatu di tepi danau.”
Mata Mira membesar. “Apa itu?”
Aku perlahan mengambil liontin dari bawah bantal, memperlihatkannya.
Mira ternganga. Cangkir di tangannya hampir jatuh. “Itu…! Itu liontin Anda! Ya Tuhan, saya yakin sekali!”
Aku menatapnya tajam. “Kau yakin?”
Dia mengangguk cepat, nyaris gemetar. “Saya sudah melihatnya sejak Anda berusia delapan belas tahun. Tuan—ayah Anda—memberikannya sebagai hadiah ulang tahun. Anda tidak pernah melepasnya. Tidak pernah.”
Jantungku berdetak makin keras. Jadi benar, benda ini milik Elira.
“Kalau begitu…” aku menelan ludah, “liontin ini bisa jadi bukti kalau ada sesuatu yang tidak beres malam itu."
Mira menatapku dengan wajah pucat. Tangannya meremas rok seragamnya. “Nyonya… jangan bilang siapa pun. Jika ada orang yang sengaja menyingkirkan Anda, mereka akan mencarinya. Anda bisa dalam bahaya.”
Aku menggenggam liontin erat-erat. “Aku tahu. Itu sebabnya hanya aku dan kau yang tahu. Jangan pernah ceritakan ini pada siapa pun.”
Mira mengangguk cepat, tapi wajahnya tetap penuh kecemasan.
Aku mencondongkan tubuh. “Mira, malam itu… kau bilang melihat gaunku basah. Apakah ada yang kau dengar? Suara langkah? Suara percakapan?”
Mira menggigit bibir, berpikir keras. “Saya… saya hanya ingat ada suara ranting patah. Saya kira itu binatang. Lalu beberapa menit kemudian, saya menemukan Anda…”
Dia menunduk, matanya berair. “Saya tidak bisa melupakan saat itu. Tubuh Anda begitu dingin, bibir Anda membiru… Saya kira saya kehilangan Anda.”
Aku menyentuh tangannya, mencoba menenangkan. “Kau sudah menyelamatkanku, Mira.”
Dia menggeleng cepat. “Tidak, Nyonya. Seharusnya saya menjaga Anda lebih baik.”
Aku tersenyum samar, meski hatiku perih. Aku bukan Elira yang dia tangisi… tapi aku akan menanggung kesedihan itu untuknya.
Aku berdiri, lalu berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Membuka laci, kuletakkan liontin di dalamnya, lalu menguncinya dengan kunci kecil yang tergantung di rantai.
“Mulai malam ini, benda ini hanya kita yang tahu,” kataku mantap. “Aku akan mencari tahu siapa yang ada di taman malam itu. Siapa yang berusaha mendekatiku… atau menyingkirkanku.”
Mira menatapku khawatir. “Berbahaya, Nyonya. Jika mereka tahu Anda mulai mencurigai sesuatu—”
Aku menoleh, menatapnya tajam lewat pantulan cermin besar. “Aku tidak akan diam, Mira. Kalau aku diam, aku bisa mati sia-sia. Kau sudah menolongku sekali. Sekarang percayalah padaku.”
Air mata Mira jatuh, tapi dia mengangguk. “Saya percaya pada Anda. Selalu.”
Aku tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa getir. “Terima kasih, Mira.”
Dia menunduk hormat, lalu mundur.
Tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu, terdengar suara samar dari luar. Seperti langkah kaki yang buru-buru menjauh di koridor.
Aku dan Mira saling berpandangan.
“Ada orang di luar?” bisikku.
Mira menegang. “Sepertinya ada yang mendengarkan…”
Aku segera berjalan cepat, membuka pintu, menoleh ke kiri dan kanan. Koridor kosong. Hanya cahaya lampu minyak yang berayun pelan di dinding.
Tapi aku tahu aku tidak salah dengar.
Ada seseorang. Seseorang yang mungkin baru saja mendengar rahasia kami.
Aku menutup pintu kembali, tubuhku gemetar halus. Mira menatapku cemas.
“Tenang, Mira,” kataku, meski nadaku terdengar lebih seperti perintah pada diriku sendiri. “Kita harus lebih hati-hati mulai sekarang.”
Mira menunduk. “Ya, Nyonya.”
Dia akhirnya keluar, meninggalkanku sendirian.
Aku kembali ke ranjang, berbaring dengan mata menatap langit-langit. Liontin itu masih terasa di balik laci, seolah berdenyut mengikuti detak jantungku.
Aku tahu, mulai besok, aku tidak bisa lagi jadi penonton. Aku harus menjadi pemain. Dan permainan ini bukan hanya soal cinta atau luka hati.
Ini soal hidup dan mati.
Malam di mansion Veyron terasa lebih panjang dari biasanya.Lampu-lampu lorong menyala redup, menciptakan bayangan yang memanjang di dinding marmer. Setiap langkah terasa bergema, seolah rumah besar ini ikut mengingat terlalu banyak hal yang selama ini dipendam.Aku duduk di tepi ranjang, memeluk bantal.Tidak menangis.Tidak bergerak.Hanya… kosong.Alea sadar sepenuhnya. Otakku bekerja, mencoba menata ulang potongan-potongan kebenaran.Namun tubuh ini—tubuh Elira—masih menyimpan sisa rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.
Ruang makan itu dingin, meski lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan.Aku duduk di kursi Elira—kursi seorang istri yang sah, namun tak pernah benar-benar dianggap ada. Di hadapanku, keluarga Valen duduk dengan sikap tenang dan senyum tipis yang terlalu terlatih.Ini bukan jamuan keluarga.Ini pertemuan bisnis.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya keras, rahangnya mengatup. Ia bahkan tidak menatapku—seolah kehadiranku hanya formalitas yang terpaksa diterima.“Elira,” suara pria paruh baya itu terdengar datar. “Kami dengar kondisimu sempat… mengkhawatirkan.”Arman Valen.Ayah kandung Elira.
Ruang makan utama mansion Veyron malam itu dipenuhi suara—bukan tawa, bukan kehangatan, melainkan denting sendok yang terlalu keras dan napas yang ditahan.Aku duduk di kursi yang sama. Kursi Elira.Namun malam ini, untuk pertama kalinya, keluarga besar Elira hadir di hadapanku.Mereka datang tanpa senyum. Tanpa basa-basi.Seolah kedatanganku bukan sebagai menantu… melainkan sebagai peringatan.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya datar, dingin, seperti dinding batu yang tak ingin disentuh.Di hadapanku, seorang pria paruh baya dengan rahang tegas dan tatapan tajam menatap tanpa berkedip.“Sudah lama sekali sejak kau terlihat cukup s
Leonard tidak langsung membawaku keluar rumah. Ia hanya berjalan menuju lorong samping, langkahnya panjang dan tegas, seolah ingin segera mengakhiri percakapan yang tak ia inginkan.Kami berhenti di depan ruang kerjanya.“Masuk,” katanya singkat.Nada itu bukan ajakan. Lebih seperti perintah.Aku menurut.Begitu pintu tertutup, udara di ruangan itu berubah. Lebih dingin. Lebih berat. Leonard berdiri membelakangiku, kedua tangannya bertumpu di meja.“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan pada Lysandra?” tanyanya tanpa menoleh.“Aku hanya bertanya,” jawabku pelan.“Kau berbicara seolah-olah ada seseorang yang mendorongmu ke danau,” katanya tajam. “Itu tidak pantas.”Aku menelan ludah. “Dan jika memang begitu?”Leonard berbalik cepat. Tatapannya keras.“Elira,” ucapnya menekan. “Kau jatuh ke danau karena kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri.”Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras dari yang kuduga.“Kau begitu yakin?” tanyaku.“Aku tahu bagaimana keadaanmu saat itu,” katanya. “Kau h
Pagi itu udara terasa lebih ringan, tapi entah kenapa dadaku justru terasa penuh. Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajah Elira—kulit pucat, mata lembut, dan garis rapuh yang selalu membuat orang mengira ia mudah dihancurkan.Namun hari ini berbeda.Ada sesuatu yang hidup di balik mata itu. Sesuatu yang tidak lagi mau tunduk.“Gaun ini cocok sekali,” ujar Mira sambil merapikan lipatan kain biru muda di bahuku. “Tuan pasti… terkejut.”Aku tersenyum tipis. “Itu tujuannya.”Mira terdiam, lalu ikut tersenyum kecil. Ia pasti juga merasakan perubahanku. Elira yang dulu tak pernah peduli dengan penampilan—seolah ingin menghilang—kini berdiri tegak, tenang, dan sadar akan keberadaannya.Saat aku melangkah menuju ruang makan, langkah kakiku mantap. Tidak tergesa, tidak ragu.Meja makan sudah terisi.Leonard duduk di ujung meja, seperti biasa. Posturnya tegap, wajahnya tenang, tapi sorot matanya selalu dingin—seperti dinding yang tak pernah bisa ditembus.Dan di sisi kanannya, Lysand
Malam turun dengan cepat, menyelimuti rumah besar keluarga Valdez dengan keheningan yang dingin. Lampu-lampu taman sudah dinyalakan, memantulkan cahaya lembut di permukaan danau yang tenang.Aku berdiri di jendela kamar, menatap ke arah gelapnya air itu. Bayangan pohon-pohon besar di sekelilingnya tampak seperti sosok-sosok raksasa yang berjaga. Ada sesuatu di sana… aku bisa merasakannya.“Kalau memang jawabannya ada di tempat itu,” gumamku, “aku harus melihat sendiri.”Dengan hati-hati aku mengenakan mantel tipis, lalu membuka pintu kamar. Koridor sunyi, hanya cahaya lilin kecil yang menerangi. Aku melangkah pelan, menahan napas setiap kali papan lantai berderit di bawah kakiku.Beruntung, Mira sudah memberitahuku jalur yang lebih sepi menuju taman belakang—melewati lorong samping dapur, bukan lewat aula utama.Begitu keluar, udara malam menyambut. Dingin menusuk tulang, tapi aku tetap melangkah, menuruni anak tangga batu yang mengarah ke halaman belakang.Taman itu luas, dipenuhi bu







