แชร์

BAB.5

ผู้เขียน: Ara Azzahra
last update วันที่เผยแพร่: 2025-09-20 13:50:59

Malam turun dengan cepat, menyelimuti rumah besar keluarga Valdez dengan keheningan yang dingin. Lampu-lampu taman sudah dinyalakan, memantulkan cahaya lembut di permukaan danau yang tenang.

Aku berdiri di jendela kamar, menatap ke arah gelapnya air itu. Bayangan pohon-pohon besar di sekelilingnya tampak seperti sosok-sosok raksasa yang berjaga. Ada sesuatu di sana… aku bisa merasakannya.

“Kalau memang jawabannya ada di tempat itu,” gumamku, “aku harus melihat sendiri.”

Dengan hati-hati aku mengenakan mantel tipis, lalu membuka pintu kamar. Koridor sunyi, hanya cahaya lilin kecil yang menerangi. Aku melangkah pelan, menahan napas setiap kali papan lantai berderit di bawah kakiku.

Beruntung, Mira sudah memberitahuku jalur yang lebih sepi menuju taman belakang—melewati lorong samping dapur, bukan lewat aula utama.

Begitu keluar, udara malam menyambut. Dingin menusuk tulang, tapi aku tetap melangkah, menuruni anak tangga batu yang mengarah ke halaman belakang.

Taman itu luas, dipenuhi bunga mawar dan anggrek yang terawat. Jalan setapak berkelok-kelok di antara semak-semak. Dan di ujungnya… danau itu menanti.

Aku berhenti sejenak di bibir danau. Angin malam membuat permukaan air beriak kecil, memantulkan cahaya bulan. Tenang. Terlalu tenang.

Aku menatap sekeliling. “Malam itu… kau ada di sini, kan, Elira?” bisikku. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

Perlahan aku menunduk, memperhatikan tanah di sekitar tepi danau. Mataku menangkap sesuatu—sebuah jejak samar, seperti bekas tumit sepatu, separuh tertutup rumput liar.

Aku berjongkok, menyentuhnya. “Jejak ini… tidak mungkin milikku. Ukurannya lebih besar.”

Bulu kudukku meremang. Jadi benar ada orang lain di sini malam itu.

Aku terus berjalan menyusuri sisi danau. Langkahku terhenti saat melihat sesuatu berkilau samar di antara rerumputan. Aku buru-buru meraih benda itu.

Liontin kecil. Biru.

Nafasku tercekat. Kalung Elira…!

Tanganku bergetar saat menggenggamnya. Bukti ini bisa jadi jawaban. Tapi sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, suara langkah mendekat terdengar dari belakang.

Darahku langsung berdesir kencang. Aku menoleh cepat.

Siluet seorang pria berdiri tak jauh di belakangku. Tubuh tegap, sorot mata dingin menusuk dalam gelap.

“Leonard…” bisikku lirih.

Suamiku—atau lebih tepatnya, suami Elira—berdiri hanya beberapa meter dariku.

“Apa yang kau lakukan di sini, Elira?” suaranya rendah, dalam, tapi penuh kecurigaan.

Aku menggenggam liontin erat-erat di balik mantel, berusaha menenangkan diri.

“Aku hanya… butuh udara segar,” jawabku cepat, mencoba terdengar biasa.

Dia melangkah lebih dekat, sorot matanya meneliti wajahku, lalu berpindah ke tangan yang tersembunyi di balik mantel.

“Udara segar?” ulangnya datar. “Atau… kau mencari sesuatu?”

Jantungku berdegup gila-gilaan.

Kalau dia tahu aku menemukan kalung ini, apa yang akan terjadi?

Angin malam bertiup pelan, membuat rambutku tergerai di wajah. Aku berdiri membeku, liontin biru yang kutemukan tadi masih tergenggam erat dalam mantel. Sorot mata Leonard meneliti setiap gerakanku, tajam seperti mata elang yang siap menerkam.

“Aku hanya… ingin berjalan,” kataku akhirnya, mencoba terdengar tenang.

“Berjalan?” suaranya rendah, penuh nada mencurigai. “Di tengah malam, sendirian, tepat di tempat kau hampir kehilangan nyawamu?”

Aku menelan ludah. “Apa salahnya? Aku ingin… menghadapinya sendiri. Kalau aku terus menghindar, aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu.”

Dia mendekat, langkah-langkahnya mantap. Setiap kali ia melangkah, tubuhku makin menegang.

“Melupakan?” Dia terkekeh tipis, dingin. “Kau berpikir aku tidak tahu? Semua orang percaya kau mencoba bunuh diri di sini. Bahkan aku sempat berpikir begitu.”

Aku menatapnya, berani. “Dan sekarang? Apa kau masih percaya?”

Dia terdiam. Tatapannya menusuk dalam, lalu perlahan melembut… hanya sesaat, sebelum kembali membeku. “Entahlah. Kau selalu sulit ditebak, Elira.”

Aku hampir saja tertawa getir. Sulit ditebak? Tentu saja, karena aku bukan Elira.

Aku mengalihkan pandangan, mencoba mengatur napas. Kalau aku salah bicara sedikit saja, dia bisa mencurigai sesuatu. Tapi aku juga tidak bisa hanya diam.

“Apa kau peduli… kalau aku memang mati di danau malam itu?” tanyaku lirih.

Udara di antara kami membeku. Leonard mendekat, kini hanya berjarak setengah meter dariku. Wajahnya sulit terbaca, tapi matanya berkilat tajam.

“Jangan bodoh,” katanya akhirnya. “Apapun yang terjadi… kau tetap istriku.”

Ada jeda. Kata itu—istriku—terdengar begitu dingin, kosong dari kehangatan. Seolah hanya status, bukan perasaan.

Hatiku tercekat. Elira pasti sudah ribuan kali hancur karena kalimat-kalimat seperti ini.

“Aku hanya istri di atas kertas bagimu,” balasku, suara bergetar tapi tegas. “Sementara hatimu ada di orang lain.”

Sekejap matanya membesar, lalu menyipit. “Jaga ucapanmu, Elira.”

Aku menatap balik, tak mau kalah. “Apa aku salah?”

Hening panjang menyelimuti. Angin, suara riak air, semua terdengar lebih keras di antara diam kami.

Leonard menatapku lama, seakan mencoba membaca sesuatu yang berbeda di dalam diriku. Bibirnya bergerak, tapi berhenti. Seperti ada kalimat yang ingin ia ucapkan, tapi ia telan kembali.

Akhirnya dia memalingkan wajah. “Kau terlalu banyak bicara malam ini.”

Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri. Aku tidak bisa menekan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalaku.

“Leonard…” suaraku lembut, tapi penuh ketegangan. “Malam itu… di danau. Apa kau ada di sini?”

Dia menoleh, alisnya berkerut. “Kenapa kau menanyakannya?”

Aku menatap matanya. “Karena aku merasa… aku tidak sendirian malam itu.”

Dia terdiam lagi, terlalu lama. Sampai akhirnya ia berkata, “Kalau pun ada orang lain, itu bukan urusanmu sekarang. Yang penting… kau masih hidup.”

Kata-katanya bukannya menenangkan, justru membuat hatiku makin tidak tenang.

“Apa maksudmu?” tanyaku curiga.

Dia tidak menjawab. Hanya menatapku dengan tatapan penuh rahasia, lalu berbalik. “Kembalilah ke kamar, Elira. Malam terlalu dingin untukmu.”

Aku menggenggam liontin biru itu makin erat di balik mantelku, memastikan ia tidak melihatnya.

Dia berjalan meninggalkanku, siluet tubuhnya perlahan menjauh, ditelan kegelapan.

Aku berdiri di tepi danau, tubuh gemetar. Entah karena udara dingin, atau karena kata-kata Leonard yang semakin membingungkan.

“Leonard…” bisikku, menatap punggungnya yang menghilang. “Apa kau pelindungku… atau musuhku?”

Aku menunduk, membuka genggaman tanganku. Liontin biru itu berkilau samar dalam cahaya bulan. Bukti kecil, tapi mungkin inilah kunci semua misteri.

Aku menggenggamnya erat lagi, menatap ke arah gelap danau.

“Aku akan mencari tahu, Elira. Siapa pun yang mencoba menghabisimu, aku tidak akan diam.”

Pintu kamar menutup rapat di belakangku. Aku bersandar sejenak pada kayu dingin itu, menarik napas panjang. Tubuhku terasa lelah, bukan karena berjalan, melainkan karena pertemuan singkat dengan Leonard yang masih menyisakan getaran aneh di dadaku.

Aku berjalan pelan ke ranjang. Lampu meja menyala temaram, menciptakan bayangan samar di dinding. Denting jarum jam terdengar jelas, menambah kesunyian yang menusuk.

Aku duduk, lalu membuka telapak tangan. Liontin biru itu berkilau samar, meski cahaya lampu begitu redup.

Kecil. Namun terasa begitu berat.

Aku menyentuh permukaannya dengan ujung jari. Dingin. Seolah menyimpan cerita yang ingin dibisikkan, tapi suaranya terlalu samar untuk kudengar.

“Kenapa kau ada di sana?” gumamku lirih. “Apa kau sengaja meninggalkannya, Elira… atau seseorang yang melepaskannya darimu?”

Tok. Tok.

Ketukan pintu membuatku terlonjak. Refleks aku menyembunyikan liontin di bawah bantal, jantungku berdetak cepat.

“Masuk,” kataku, mencoba terdengar tenang.

Mira muncul dengan teko kecil dan cangkir. Aroma susu hangat segera memenuhi kamar. Dia berjalan pelan, seakan takut mengganggu lamunanku.

“Saya pikir Anda belum tidur, Nyonya,” katanya lembut.

Aku tersenyum samar. “Benar. Aku belum bisa tidur.”

Mira menuangkan susu, lalu meletakkan cangkir di meja samping ranjang. Saat menoleh, dia menangkap tatapanku yang penuh kerisauan. Alisnya berkerut.

“Ada sesuatu, Nyonya?” tanyanya hati-hati.

Aku terdiam. Ada pergulatan batin dalam diriku. Haruskah aku memberitahunya? Jika aku salah langkah, rahasia ini bisa menghancurkan segalanya. Tapi jika aku diam, aku sendirian.

Akhirnya aku menarik napas panjang. “Mira… aku menemukan sesuatu di tepi danau.”

Mata Mira membesar. “Apa itu?”

Aku perlahan mengambil liontin dari bawah bantal, memperlihatkannya.

Mira ternganga. Cangkir di tangannya hampir jatuh. “Itu…! Itu liontin Anda! Ya Tuhan, saya yakin sekali!”

Aku menatapnya tajam. “Kau yakin?”

Dia mengangguk cepat, nyaris gemetar. “Saya sudah melihatnya sejak Anda berusia delapan belas tahun. Tuan—ayah Anda—memberikannya sebagai hadiah ulang tahun. Anda tidak pernah melepasnya. Tidak pernah.”

Jantungku berdetak makin keras. Jadi benar, benda ini milik Elira.

“Kalau begitu…” aku menelan ludah, “liontin ini bisa jadi bukti kalau ada sesuatu yang tidak beres malam itu."

Mira menatapku dengan wajah pucat. Tangannya meremas rok seragamnya. “Nyonya… jangan bilang siapa pun. Jika ada orang yang sengaja menyingkirkan Anda, mereka akan mencarinya. Anda bisa dalam bahaya.”

Aku menggenggam liontin erat-erat. “Aku tahu. Itu sebabnya hanya aku dan kau yang tahu. Jangan pernah ceritakan ini pada siapa pun.”

Mira mengangguk cepat, tapi wajahnya tetap penuh kecemasan.

Aku mencondongkan tubuh. “Mira, malam itu… kau bilang melihat gaunku basah. Apakah ada yang kau dengar? Suara langkah? Suara percakapan?”

Mira menggigit bibir, berpikir keras. “Saya… saya hanya ingat ada suara ranting patah. Saya kira itu binatang. Lalu beberapa menit kemudian, saya menemukan Anda…”

Dia menunduk, matanya berair. “Saya tidak bisa melupakan saat itu. Tubuh Anda begitu dingin, bibir Anda membiru… Saya kira saya kehilangan Anda.”

Aku menyentuh tangannya, mencoba menenangkan. “Kau sudah menyelamatkanku, Mira.”

Dia menggeleng cepat. “Tidak, Nyonya. Seharusnya saya menjaga Anda lebih baik.”

Aku tersenyum samar, meski hatiku perih. Aku bukan Elira yang dia tangisi… tapi aku akan menanggung kesedihan itu untuknya.

Aku berdiri, lalu berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Membuka laci, kuletakkan liontin di dalamnya, lalu menguncinya dengan kunci kecil yang tergantung di rantai.

“Mulai malam ini, benda ini hanya kita yang tahu,” kataku mantap. “Aku akan mencari tahu siapa yang ada di taman malam itu. Siapa yang berusaha mendekatiku… atau menyingkirkanku.”

Mira menatapku khawatir. “Berbahaya, Nyonya. Jika mereka tahu Anda mulai mencurigai sesuatu—”

Aku menoleh, menatapnya tajam lewat pantulan cermin besar. “Aku tidak akan diam, Mira. Kalau aku diam, aku bisa mati sia-sia. Kau sudah menolongku sekali. Sekarang percayalah padaku.”

Air mata Mira jatuh, tapi dia mengangguk. “Saya percaya pada Anda. Selalu.”

Aku tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa getir. “Terima kasih, Mira.”

Dia menunduk hormat, lalu mundur.

Tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu, terdengar suara samar dari luar. Seperti langkah kaki yang buru-buru menjauh di koridor.

Aku dan Mira saling berpandangan.

“Ada orang di luar?” bisikku.

Mira menegang. “Sepertinya ada yang mendengarkan…”

Aku segera berjalan cepat, membuka pintu, menoleh ke kiri dan kanan. Koridor kosong. Hanya cahaya lampu minyak yang berayun pelan di dinding.

Tapi aku tahu aku tidak salah dengar.

Ada seseorang. Seseorang yang mungkin baru saja mendengar rahasia kami.

Aku menutup pintu kembali, tubuhku gemetar halus. Mira menatapku cemas.

“Tenang, Mira,” kataku, meski nadaku terdengar lebih seperti perintah pada diriku sendiri. “Kita harus lebih hati-hati mulai sekarang.”

Mira menunduk. “Ya, Nyonya.”

Dia akhirnya keluar, meninggalkanku sendirian.

Aku kembali ke ranjang, berbaring dengan mata menatap langit-langit. Liontin itu masih terasa di balik laci, seolah berdenyut mengikuti detak jantungku.

Aku tahu, mulai besok, aku tidak bisa lagi jadi penonton. Aku harus menjadi pemain. Dan permainan ini bukan hanya soal cinta atau luka hati.

Ini soal hidup dan mati.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.97

    Sunyi.Itu hal pertama yang Elira rasakan setelah semuanya berhenti. Tidak ada kericuhan, suara benturan, bisikan dan tidak ada makhluk mengerikan lagi yang berjalan di lorong.Hanya… kosong.“Leonard…?” panggilnya beberapa kali. Suaranya kecil dan hampir tidak terdengar.Ia bangkit perlahan dari lantai. Kakinya masih lemas dan tangannya gemetar. Tempat Leonard berdiri tadi benar-benar kosong. Tidak ada jejak sama sekali. Tidak ada cahaya yang tertinggal atau apapu yang menunjukkan keberadaan Leonard.Seolah dia… tidak pernah ada di sana.“Elira,” panggil Bria. Suaranya membuat Elira menoleh. Brian berdiri di dekat panel dengan wajah yang pucat.“Aether spike… hilang.”Elira menatapnya kosong.“Hilang?”Brian mengangguk pelan.“Bukan turun.”“…hilang total.”Kalimat itu harusnya jadi kabar baik, namun tidak terasa seperti itu. Karena kalau Aether hilang, Leonard juga ikut hilang.Elira berjalan pelan ke tengah ruangan. Matanya menatap lantai.“Dia tidak mungkin…”Ia berhenti. Tidak san

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.96

    Suara itu tidak keluar dari mulut, karena makhluk itu tidak memiliki mulut. Suara itu langsung masuk ke kepala. Leonard merasakan sesuatu menusuk pikirannya. Gambar-gambar aneh mulai muncul. Ada pemandangan langit yang retak, dunia tiba-tiba terbali dan semua manusia di bumi ini berteriak. Dan di atas semuanya ada mata raksasa itu.Leonard langsung memegang kepalanya.“Ah—!”“Leonard!” Elira berteriak.Brian langsung menariknya mundur.“Jangan lihat matanya!” Namun sudah terlambat. Leonard sudah terhubung.Dalam satu detik dunia berubah. Leonard tidak lagi di laboratorium. Ia berdiri di ruang Aether. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ruang itu tidak kosong. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Di atas ada langit. Jika itu bisa disebut langit terbuka dan mata raksasa itu lebih dekat dari sebelumnya, Mata itu terbuka penuh seolah masih mengawasi.Leonard tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa berat. Seolah gravitasi di tempat ini berbeda. Lalu makhluk bermata satu itu muncul di depan

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.95

    “Mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dimensi itu lagi.”Suara Elira terdengar tegas, keras, namun matanya penuh ketakutan.Leonard langsung menoleh.“Kamu serius?”“Ya!”Elira mendekat.“Lihat tubuh kamu!”Ia menunjuk garis keperakan di wajah Leonard.“Ini semakin parah!”“Kalau aku berhenti sekarang....”“Kamu pikir Alea bakal senang lihat kamu berubah jadi sesuatu yang bahkan bukan manusia lagi?!”Leonard diam karena ia sama sekali tidak punya jawaban.Brian ikut bicara nadanya ebih tenang, namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.“Kalau teori Dr. Pratama benar…”Ia menatap Leonard.“…kamu bukan cuma terhubung ke Alea.”“…kamu sedang berubah jadi jangkar.”Leonard mengerutkan kening.“Jangkar?”“Penghubung tetap antara dunia ini dan ruang Aether.”Sunyi.“Dan kalau itu selesai…”Brian menatap layar. Puluhan titik merah itu.“…mereka tidak perlu Alea lagi.”Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.Karena itu berarti, Alea tidak lagi penting bagi mereka y

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.94

    Leonard langsung menoleh cepat, hampir refleks. Namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ruangan laboratorium yang dingin, layar-layar yang masih menyala, dan Elira yang berdiri beberapa meter darinya dengan wajah bingung.“Kamu kenapa?” tanya Elira.Leonard tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih tegang. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Baru saja ia mendengar suara Alea dengan sangat jelas. Terlalu jelas untuk disebut halusinasi.“…dia ada di sini,” bisiknya pelan.Brian yang sedang melihat data langsung mengangkat wajah.“Apa?”Leonard menatap ke sekitar ruangan. Tidak ada apa-apa, namun udara terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih berat.“Dia bilang… lari.”Elira langsung menegang.“Leonard…”Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi seluruh lampu di laboratorium tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan. Hanya layar monitor yang masih menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke dinding.“Jangan bilang ini pemadaman biasa…” gumam Brian. Sebuah

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.93

    Hujan turun lagi malam itu, tipis hampir seperti kabut. Membuat seluruh kota terlihat samar dari balik jendela laboratorium. Leonard berdiri diam di depan layar. Matanya menatap catatan lama Dr. Pratama yang masih terbuka.“Sekali mereka tahu kita ada… mereka tidak akan berhenti datang.”Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang hidup. Melekat di kepalanya. Mengulang terus-menerus.Elira masih duduk di depan komputer. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. mencari sesuatu, apa saja informasi yang bisa ia temukan untuk menghentikan semua ini. Cara memastikan apa yang dilihat Leonard tadi malam bukan awal dari sesuatu yang lebih buruk.“Kalau entitas itu benar-benar ada dan mereka bisa melihat kamu, Leonard…” katanya pelan.“…berarti ikatan antara kamu dan Alea udah terlalu dalam.Leonard tidak menjawab. Karena ia tahu setiap kali ia masuk ke sana ikatan itu semakin kuat. dan sekarang bukan cuma Alea yang bisa melihatnya. Sesuatu yang lain juga mulai melihat balik.“Elira.”Suara Leon

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.92

    Leonard tidak tidur malam itu. Ia duduk di lantai apartemennya dengan punggung bersandar pada sofa, lampu ruang tamu mati, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar. Tangannya masih gemetar. Bukan karena dingin ataupun karena takut melainkan karena ia masih bisa merasakan sentuhan itu. Sentuhan tangan Alea, meski hanya beberapa detik, meski tubuh itu tidak benar-benar nyata dan meski dunia di sekitar mereka runtuh sebelum ia sempat menggenggam lebih erat, Leonard masih bisa merasakannya dan itu cukup untuk menghancurkan semua ketenangan yang selama dua tahun terakhir ia paksa bangun.Di atas meja tergeletak foto lama. Foto yang sama yang selama ini selalu ada di sana. Foto yang ia pandang beberapa waktu lalu sebelum pergi ke gudang tua itu. Leonard menatap wajah Alea di foto itu lama. Sangat lama.“Kenapa kamu harus ingat…” bisiknya li

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status