Share

BAB.6

Author: Ara Azzahra
last update publish date: 2025-12-31 10:00:11

Pagi itu udara terasa lebih ringan, tapi entah kenapa dadaku justru terasa penuh. Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajah Elira dengan kulit pucat, mata lembut, dan garis rapuh yang selalu membuat orang mengira ia mudah dihancurkan.

Namun hari ini berbeda.

Ada sesuatu yang hidup di balik mata itu. Sesuatu yang tidak lagi mau tunduk.

“Gaun ini cocok sekali,” ujar Mira sambil merapikan lipatan kain biru muda di bahuku. “Tuan pasti… terkejut.”

Aku tersenyum tipis. “Itu tujuannya.”

Mira terdiam, lalu ikut tersenyum kecil. Ia pasti juga merasakan perubahanku. Elira yang dulu tak pernah peduli dengan penampilannya yang seolah ingin menghilang dan kini berdiri tegak, tenang, dan sadar akan keberadaannya.

Saat aku melangkah menuju ruang makan, langkah kakiku mantap. Tidak tergesa, tidak ragu.

Meja makan sudah terisi.

Leonard duduk di ujung meja, seperti biasa. Posturnya tegap, wajahnya tenang, tapi sorot matanya selalu dingin—seperti dinding yang tak pernah bisa ditembus.

Dan di sisi kanannya, Lysandra.

Wanita itu menoleh lebih dulu saat aku masuk. Senyumnya langsung merekah, sempurna, terlatih.

“Elira,” sapanya hangat. “Kau tampak jauh lebih baik hari ini.”

Aku membalas senyumnya—tenang, santai, tanpa sedikit pun keraguan. “Terima kasih. Aku memang merasa… lebih baik.”

Leonard mengangkat pandangan. Tatapan kami bertemu.

Ia terdiam.

Aku tahu apa yang ia lihat: istrinya yang selama ini selalu menunduk, kini menatap lurus tanpa rasa takut.

Aku duduk perlahan, menarik kursi dengan anggun. Tidak terburu-buru, tidak kikuk.

“Kau yakin sudah cukup sehat untuk turun?” tanya Leonard akhirnya.

Nada suaranya netral, tapi ada sesuatu yang mengintai di baliknya—kewaspadaan.

“Aku tidak rapuh seperti yang kau kira,” jawabku lembut. “Mungkin selama ini aku hanya… terlalu diam.”

Lysandra terkekeh kecil. “Kau memang selalu pendiam, Elira. Aku sempat khawatir kejadian itu membuatmu semakin—”

“Justru sebaliknya,” potongku halus.

Sendok di tangan Lysandra berhenti.

Aku mengambil roti, mengoleskan selai dengan gerakan santai. “Kejadian itu membuatku sadar. Hidup terlalu singkat untuk memikirkan hal-hal yang tidak memilih kita.”

Keheningan turun.

Leonard menatapku lebih lama dari yang seharusnya.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

Aku menoleh padanya, tersenyum lembut—bukan senyum meminta kasih, melainkan senyum orang yang sudah berhenti berharap.

“Maksudku,” ujarku pelan, “aku lelah menyakiti diriku sendiri demi perasaan orang lain.”

Lysandra tersenyum kaku. “Kau bicara seolah-olah—”

“Seolah-olah aku selama ini bodoh?” aku menoleh padanya. “Mungkin iya.”

Udara di ruang makan menegang.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Lysandra kehilangan kendali sepersekian detik.

Dan untuk pertama kalinya pula, Leonard tidak menegurku.

Ia hanya menatapku.

Seolah mencoba mengenali ulang wanita yang duduk di depannya.

Sarapan berakhir dengan keheningan yang tidak wajar. Peralatan makan yang saling bersentuhan terdengar jauh lebih keras dari seharusnya. Aku bangkit lebih dulu, merapikan gaunku.

“Aku ingin berjalan sebentar di taman,” ucapku ringan. “Udara pagi bagus untuk pemulihan.”

Leonard mengangguk singkat. “Jangan terlalu lama.”

Aku tersenyum. “Aku tahu batasanku.”

Atau setidaknya… aku sedang belajar menentukan batasanku sendiri.

Langkah kakiku menyusuri lorong menuju taman belakang rumah. Taman itu luas, terawat sempurna, dengan kolam kecil di tengahnya. Airnya jernih, memantulkan langit biru—pemandangan yang seharusnya menenangkan.

Namun dadaku justru mengencang.

Air selalu memicu kilasan ingatan yang bukan milikku.

Danau yang gelap. Dingin yang menusuk. Rasa sakit yang terlalu dalam untuk sekadar disebut patah hati.

“Elira.”

Suara itu datang dari belakang.

Aku tidak menoleh. “Lysandra.”

Langkah kaki mendekat, berhenti di sampingku. Ia berdiri anggun, seolah dunia selalu berada di bawah kendalinya.

“Kau berubah,” katanya pelan, tanpa senyum.

“Aku sering mendengar itu hari ini,” jawabku santai. “Apakah itu buruk?”

“Tergantung,” ucapnya. “Perubahan bisa… berbahaya.”

Aku menoleh, menatapnya langsung. “Bagi siapa?”

Tatapannya mengeras. “Jangan berpura-pura tidak mengerti. Kau tahu posisimu di rumah ini.”

Aku tertawa kecil. “Istri sah Leonard? Sedangkan kau? Apa kau tidak malu terus-terusan datang menempel pada suami orang? ”

Nada suaraku terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya terluka.

“Kau tidak pernah benar-benar menjadi istrinya,” bisik Lysandra. “Kau hanya pengganti.”

Hatiku—atau mungkin hati Elira—bergetar. Tapi aku tidak membiarkannya terlihat.

“Aku tahu,” kataku lembut. “Dan anehnya, aku tidak lagi marah karenanya.”

Lysandra menatapku curiga. “Apa maksudmu?”

“Maksudku,” aku melangkah lebih dekat, cukup dekat hingga ia bisa mencium parfumku, “aku tidak ingin menjadi siapa pun selain diriku sendiri lagi. ”

Ia terkekeh sinis. “Kau pikir dengan berubah sikap, Leonard akan mencintaimu?”

Aku menggeleng pelan. “Tidak.”

Jawaban itu jelas tidak ia duga.

“Aku tidak membutuhkan cintanya,” lanjutku. “Aku hanya membutuhkan satu hal.”

“Apa?”

“Kebenaran.”

Wajah Lysandra berubah sesaat. Sangat cepat—tapi aku melihatnya.

“Kebenaran tentang apa?” tanyanya, nada suaranya lebih dingin.

Aku menatap kolam. “Tentang danau itu.”

Udara seolah membeku.

“Apa maksudmu?” desaknya.

Aku menoleh padanya lagi, tersenyum tipis. “Aku hanya ingin tahu… apakah aku jatuh sendiri, atau ada yang membantuku.”

Lysandra mundur setengah langkah. “Kau… tidak mengingat apa pun.”

“Benarkah?” aku memiringkan kepala. “Atau ada yang ingin aku tidak mengingatnya?”

Suara langkah kaki mendekat.

“Elira?”

Leonard berdiri beberapa meter dari kami. Wajahnya serius, tatapannya berpindah dari aku ke Lysandra.

“Kami hanya berbincang,” kata Lysandra cepat, senyum palsu kembali terpasang. “Aku hanya khawatir dengan kondisi Elira.”

Aku menoleh ke Leonard. “Aku baik-baik saja sampai pujaan hatimu ini datang mengacaukannya.”

Ia menatapku lama dengan mimik wajah tidak suka. “Kalau begitu… ikut aku. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”

Lysandra terdiam memandang kami berdua.

Aku melangkah menuju Leonard, melewatinya tanpa menoleh lagi. Tapi aku bisa merasakan tatapan Lysandra menusuk punggungku.

Dan untuk pertama kalinya, aku tahu—

Ia takut dan juga sangat cemburu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.97

    Sunyi.Itu hal pertama yang Elira rasakan setelah semuanya berhenti. Tidak ada kericuhan, suara benturan, bisikan dan tidak ada makhluk mengerikan lagi yang berjalan di lorong.Hanya… kosong.“Leonard…?” panggilnya beberapa kali. Suaranya kecil dan hampir tidak terdengar.Ia bangkit perlahan dari lantai. Kakinya masih lemas dan tangannya gemetar. Tempat Leonard berdiri tadi benar-benar kosong. Tidak ada jejak sama sekali. Tidak ada cahaya yang tertinggal atau apapu yang menunjukkan keberadaan Leonard.Seolah dia… tidak pernah ada di sana.“Elira,” panggil Bria. Suaranya membuat Elira menoleh. Brian berdiri di dekat panel dengan wajah yang pucat.“Aether spike… hilang.”Elira menatapnya kosong.“Hilang?”Brian mengangguk pelan.“Bukan turun.”“…hilang total.”Kalimat itu harusnya jadi kabar baik, namun tidak terasa seperti itu. Karena kalau Aether hilang, Leonard juga ikut hilang.Elira berjalan pelan ke tengah ruangan. Matanya menatap lantai.“Dia tidak mungkin…”Ia berhenti. Tidak san

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.96

    Suara itu tidak keluar dari mulut, karena makhluk itu tidak memiliki mulut. Suara itu langsung masuk ke kepala. Leonard merasakan sesuatu menusuk pikirannya. Gambar-gambar aneh mulai muncul. Ada pemandangan langit yang retak, dunia tiba-tiba terbali dan semua manusia di bumi ini berteriak. Dan di atas semuanya ada mata raksasa itu.Leonard langsung memegang kepalanya.“Ah—!”“Leonard!” Elira berteriak.Brian langsung menariknya mundur.“Jangan lihat matanya!” Namun sudah terlambat. Leonard sudah terhubung.Dalam satu detik dunia berubah. Leonard tidak lagi di laboratorium. Ia berdiri di ruang Aether. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ruang itu tidak kosong. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Di atas ada langit. Jika itu bisa disebut langit terbuka dan mata raksasa itu lebih dekat dari sebelumnya, Mata itu terbuka penuh seolah masih mengawasi.Leonard tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa berat. Seolah gravitasi di tempat ini berbeda. Lalu makhluk bermata satu itu muncul di depan

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.95

    “Mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dimensi itu lagi.”Suara Elira terdengar tegas, keras, namun matanya penuh ketakutan.Leonard langsung menoleh.“Kamu serius?”“Ya!”Elira mendekat.“Lihat tubuh kamu!”Ia menunjuk garis keperakan di wajah Leonard.“Ini semakin parah!”“Kalau aku berhenti sekarang....”“Kamu pikir Alea bakal senang lihat kamu berubah jadi sesuatu yang bahkan bukan manusia lagi?!”Leonard diam karena ia sama sekali tidak punya jawaban.Brian ikut bicara nadanya ebih tenang, namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.“Kalau teori Dr. Pratama benar…”Ia menatap Leonard.“…kamu bukan cuma terhubung ke Alea.”“…kamu sedang berubah jadi jangkar.”Leonard mengerutkan kening.“Jangkar?”“Penghubung tetap antara dunia ini dan ruang Aether.”Sunyi.“Dan kalau itu selesai…”Brian menatap layar. Puluhan titik merah itu.“…mereka tidak perlu Alea lagi.”Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.Karena itu berarti, Alea tidak lagi penting bagi mereka y

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.94

    Leonard langsung menoleh cepat, hampir refleks. Namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ruangan laboratorium yang dingin, layar-layar yang masih menyala, dan Elira yang berdiri beberapa meter darinya dengan wajah bingung.“Kamu kenapa?” tanya Elira.Leonard tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih tegang. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Baru saja ia mendengar suara Alea dengan sangat jelas. Terlalu jelas untuk disebut halusinasi.“…dia ada di sini,” bisiknya pelan.Brian yang sedang melihat data langsung mengangkat wajah.“Apa?”Leonard menatap ke sekitar ruangan. Tidak ada apa-apa, namun udara terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih berat.“Dia bilang… lari.”Elira langsung menegang.“Leonard…”Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi seluruh lampu di laboratorium tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan. Hanya layar monitor yang masih menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke dinding.“Jangan bilang ini pemadaman biasa…” gumam Brian. Sebuah

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.93

    Hujan turun lagi malam itu, tipis hampir seperti kabut. Membuat seluruh kota terlihat samar dari balik jendela laboratorium. Leonard berdiri diam di depan layar. Matanya menatap catatan lama Dr. Pratama yang masih terbuka.“Sekali mereka tahu kita ada… mereka tidak akan berhenti datang.”Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang hidup. Melekat di kepalanya. Mengulang terus-menerus.Elira masih duduk di depan komputer. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. mencari sesuatu, apa saja informasi yang bisa ia temukan untuk menghentikan semua ini. Cara memastikan apa yang dilihat Leonard tadi malam bukan awal dari sesuatu yang lebih buruk.“Kalau entitas itu benar-benar ada dan mereka bisa melihat kamu, Leonard…” katanya pelan.“…berarti ikatan antara kamu dan Alea udah terlalu dalam.Leonard tidak menjawab. Karena ia tahu setiap kali ia masuk ke sana ikatan itu semakin kuat. dan sekarang bukan cuma Alea yang bisa melihatnya. Sesuatu yang lain juga mulai melihat balik.“Elira.”Suara Leon

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.92

    Leonard tidak tidur malam itu. Ia duduk di lantai apartemennya dengan punggung bersandar pada sofa, lampu ruang tamu mati, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar. Tangannya masih gemetar. Bukan karena dingin ataupun karena takut melainkan karena ia masih bisa merasakan sentuhan itu. Sentuhan tangan Alea, meski hanya beberapa detik, meski tubuh itu tidak benar-benar nyata dan meski dunia di sekitar mereka runtuh sebelum ia sempat menggenggam lebih erat, Leonard masih bisa merasakannya dan itu cukup untuk menghancurkan semua ketenangan yang selama dua tahun terakhir ia paksa bangun.Di atas meja tergeletak foto lama. Foto yang sama yang selama ini selalu ada di sana. Foto yang ia pandang beberapa waktu lalu sebelum pergi ke gudang tua itu. Leonard menatap wajah Alea di foto itu lama. Sangat lama.“Kenapa kamu harus ingat…” bisiknya li

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status