LOGINPagi itu udara terasa lebih ringan, tapi entah kenapa dadaku justru terasa penuh. Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajah Elira—kulit pucat, mata lembut, dan garis rapuh yang selalu membuat orang mengira ia mudah dihancurkan.
Namun hari ini berbeda.
Ada sesuatu yang hidup di balik mata itu. Sesuatu yang tidak lagi mau tunduk.
“Gaun ini cocok sekali,” ujar Mira sambil merapikan lipatan kain biru muda di bahuku. “Tuan pasti… terkejut.”
Aku tersenyum tipis. “Itu tujuannya.”
Mira terdiam, lalu ikut tersenyum kecil. Ia pasti juga merasakan perubahanku. Elira yang dulu tak pernah peduli dengan penampilan—seolah ingin menghilang—kini berdiri tegak, tenang, dan sadar akan keberadaannya.
Saat aku melangkah menuju ruang makan, langkah kakiku mantap. Tidak tergesa, tidak ragu.
Meja makan sudah terisi.
Leonard duduk di ujung meja, seperti biasa. Posturnya tegap, wajahnya tenang, tapi sorot matanya selalu dingin—seperti dinding yang tak pernah bisa ditembus.
Dan di sisi kanannya, Lysandra.
Wanita itu menoleh lebih dulu saat aku masuk. Senyumnya langsung merekah, sempurna, terlatih.
“Elira,” sapanya hangat. “Kau tampak jauh lebih baik hari ini.”
Aku membalas senyumnya—tenang, santai, tanpa sedikit pun keraguan. “Terima kasih. Aku memang merasa… lebih baik.”
Leonard mengangkat pandangan. Tatapan kami bertemu.
Ia terdiam.
Aku tahu apa yang ia lihat: istrinya yang selama ini selalu menunduk, kini menatap lurus tanpa rasa takut.
Aku duduk perlahan, menarik kursi dengan anggun. Tidak terburu-buru, tidak kikuk.
“Kau yakin sudah cukup sehat untuk turun?” tanya Leonard akhirnya.
Nada suaranya netral, tapi ada sesuatu yang mengintai di baliknya—kewaspadaan.
“Aku tidak rapuh seperti yang kau kira,” jawabku lembut. “Mungkin selama ini aku hanya… terlalu diam.”
Lysandra terkekeh kecil. “Kau memang selalu pendiam, Elira. Aku sempat khawatir kejadian itu membuatmu semakin—”
“Justru sebaliknya,” potongku halus.
Sendok di tangan Lysandra berhenti.
Aku mengambil roti, mengoleskan selai dengan gerakan santai. “Kejadian itu membuatku sadar. Hidup terlalu singkat untuk memikirkan hal-hal yang tidak memilih kita.”
Keheningan turun.
Leonard menatapku lebih lama dari yang seharusnya.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Aku menoleh padanya, tersenyum lembut—bukan senyum meminta kasih, melainkan senyum orang yang sudah berhenti berharap.
“Maksudku,” ujarku pelan, “aku lelah menyakiti diriku sendiri demi perasaan orang lain.”
Lysandra tersenyum kaku. “Kau bicara seolah-olah—”
“Seolah-olah aku selama ini bodoh?” aku menoleh padanya. “Mungkin iya.”
Udara di ruang makan menegang.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Lysandra kehilangan kendali sepersekian detik.
Dan untuk pertama kalinya pula, Leonard tidak menegurku.
Ia hanya menatapku.
Seolah mencoba mengenali ulang wanita yang duduk di depannya.
Sarapan berakhir dengan keheningan yang tidak wajar. Peralatan makan yang saling bersentuhan terdengar jauh lebih keras dari seharusnya. Aku bangkit lebih dulu, merapikan gaunku.
“Aku ingin berjalan sebentar di taman,” ucapku ringan. “Udara pagi bagus untuk pemulihan.”
Leonard mengangguk singkat. “Jangan terlalu lama.”
Aku tersenyum. “Aku tahu batasanku.”
Atau setidaknya… aku sedang belajar menentukan batasanku sendiri.
Langkah kakiku menyusuri lorong menuju taman belakang rumah. Taman itu luas, terawat sempurna, dengan kolam kecil di tengahnya. Airnya jernih, memantulkan langit biru—pemandangan yang seharusnya menenangkan.
Namun dadaku justru mengencang.
Air selalu memicu kilasan ingatan yang bukan milikku.
Danau yang gelap. Dingin yang menusuk. Rasa sakit yang terlalu dalam untuk sekadar disebut patah hati.
“Elira.”
Suara itu datang dari belakang.
Aku tidak menoleh. “Lysandra.”
Langkah kaki mendekat, berhenti di sampingku. Ia berdiri anggun, seolah dunia selalu berada di bawah kendalinya.
“Kau berubah,” katanya pelan, tanpa senyum.
“Aku sering mendengar itu hari ini,” jawabku santai. “Apakah itu buruk?”
“Tergantung,” ucapnya. “Perubahan bisa… berbahaya.”
Aku menoleh, menatapnya langsung. “Bagi siapa?”
Tatapannya mengeras. “Jangan berpura-pura tidak mengerti. Kau tahu posisimu di rumah ini.”
Aku tertawa kecil. “Istri sah Leonard? Sedangkan kau? Apa kau tidak malu terus-terusan datang menempel pada suami orang? ”
Nada suaraku terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya terluka.
“Kau tidak pernah benar-benar menjadi istrinya,” bisik Lysandra. “Kau hanya pengganti.”
Hatiku—atau mungkin hati Elira—bergetar. Tapi aku tidak membiarkannya terlihat.
“Aku tahu,” kataku lembut. “Dan anehnya, aku tidak lagi marah karenanya.”
Lysandra menatapku curiga. “Apa maksudmu?”
“Maksudku,” aku melangkah lebih dekat, cukup dekat hingga ia bisa mencium parfumku, “aku tidak ingin menjadi siapa pun selain diriku sendiri lagi. ”
Ia terkekeh sinis. “Kau pikir dengan berubah sikap, Leonard akan mencintaimu?”
Aku menggeleng pelan. “Tidak.”
Jawaban itu jelas tidak ia duga.
“Aku tidak membutuhkan cintanya,” lanjutku. “Aku hanya membutuhkan satu hal.”
“Apa?”
“Kebenaran.”
Wajah Lysandra berubah sesaat. Sangat cepat—tapi aku melihatnya.
“Kebenaran tentang apa?” tanyanya, nada suaranya lebih dingin.
Aku menatap kolam. “Tentang danau itu.”
Udara seolah membeku.
“Apa maksudmu?” desaknya.
Aku menoleh padanya lagi, tersenyum tipis. “Aku hanya ingin tahu… apakah aku jatuh sendiri, atau ada yang membantuku.”
Lysandra mundur setengah langkah. “Kau… tidak mengingat apa pun.”
“Benarkah?” aku memiringkan kepala. “Atau ada yang ingin aku tidak mengingatnya?”
Suara langkah kaki mendekat.
“Elira?”
Leonard berdiri beberapa meter dari kami. Wajahnya serius, tatapannya berpindah dari aku ke Lysandra.
“Kami hanya berbincang,” kata Lysandra cepat, senyum palsu kembali terpasang. “Aku hanya khawatir dengan kondisi Elira.”
Aku menoleh ke Leonard. “Aku baik-baik saja sampai pujaan hatimu ini datang mengacaukannya.”
Ia menatapku lama dengan mimik wajah tidak suka. “Kalau begitu… ikut aku. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”
Lysandra terdiam memandang kami berdua.
Aku melangkah menuju Leonard, melewatinya tanpa menoleh lagi. Tapi aku bisa merasakan tatapan Lysandra menusuk punggungku.
Dan untuk pertama kalinya, aku tahu—
Ia takut dan juga sangat cemburu.
Ruang makan itu dingin, meski lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan.Aku duduk di kursi Elira—kursi seorang istri yang sah, namun tak pernah benar-benar dianggap ada. Di hadapanku, keluarga Valen duduk dengan sikap tenang dan senyum tipis yang terlalu terlatih.Ini bukan jamuan keluarga.Ini pertemuan bisnis.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya keras, rahangnya mengatup. Ia bahkan tidak menatapku—seolah kehadiranku hanya formalitas yang terpaksa diterima.“Elira,” suara pria paruh baya itu terdengar datar. “Kami dengar kondisimu sempat… mengkhawatirkan.”Arman Valen.Ayah kandung Elira.
Ruang makan utama mansion Veyron malam itu dipenuhi suara—bukan tawa, bukan kehangatan, melainkan denting sendok yang terlalu keras dan napas yang ditahan.Aku duduk di kursi yang sama. Kursi Elira.Namun malam ini, untuk pertama kalinya, keluarga besar Elira hadir di hadapanku.Mereka datang tanpa senyum. Tanpa basa-basi.Seolah kedatanganku bukan sebagai menantu… melainkan sebagai peringatan.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya datar, dingin, seperti dinding batu yang tak ingin disentuh.Di hadapanku, seorang pria paruh baya dengan rahang tegas dan tatapan tajam menatap tanpa berkedip.“Sudah lama sekali sejak kau terlihat cukup s
Leonard tidak langsung membawaku keluar rumah. Ia hanya berjalan menuju lorong samping, langkahnya panjang dan tegas, seolah ingin segera mengakhiri percakapan yang tak ia inginkan.Kami berhenti di depan ruang kerjanya.“Masuk,” katanya singkat.Nada itu bukan ajakan. Lebih seperti perintah.Aku menurut.Begitu pintu tertutup, udara di ruangan itu berubah. Lebih dingin. Lebih berat. Leonard berdiri membelakangiku, kedua tangannya bertumpu di meja.“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan pada Lysandra?” tanyanya tanpa menoleh.“Aku hanya bertanya,” jawabku pelan.“Kau berbicara seolah-olah ada seseorang yang mendorongmu ke danau,” katanya tajam. “Itu tidak pantas.”Aku menelan ludah. “Dan jika memang begitu?”Leonard berbalik cepat. Tatapannya keras.“Elira,” ucapnya menekan. “Kau jatuh ke danau karena kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri.”Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras dari yang kuduga.“Kau begitu yakin?” tanyaku.“Aku tahu bagaimana keadaanmu saat itu,” katanya. “Kau h
Pagi itu udara terasa lebih ringan, tapi entah kenapa dadaku justru terasa penuh. Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajah Elira—kulit pucat, mata lembut, dan garis rapuh yang selalu membuat orang mengira ia mudah dihancurkan.Namun hari ini berbeda.Ada sesuatu yang hidup di balik mata itu. Sesuatu yang tidak lagi mau tunduk.“Gaun ini cocok sekali,” ujar Mira sambil merapikan lipatan kain biru muda di bahuku. “Tuan pasti… terkejut.”Aku tersenyum tipis. “Itu tujuannya.”Mira terdiam, lalu ikut tersenyum kecil. Ia pasti juga merasakan perubahanku. Elira yang dulu tak pernah peduli dengan penampilan—seolah ingin menghilang—kini berdiri tegak, tenang, dan sadar akan keberadaannya.Saat aku melangkah menuju ruang makan, langkah kakiku mantap. Tidak tergesa, tidak ragu.Meja makan sudah terisi.Leonard duduk di ujung meja, seperti biasa. Posturnya tegap, wajahnya tenang, tapi sorot matanya selalu dingin—seperti dinding yang tak pernah bisa ditembus.Dan di sisi kanannya, Lysand
Malam turun dengan cepat, menyelimuti rumah besar keluarga Valdez dengan keheningan yang dingin. Lampu-lampu taman sudah dinyalakan, memantulkan cahaya lembut di permukaan danau yang tenang.Aku berdiri di jendela kamar, menatap ke arah gelapnya air itu. Bayangan pohon-pohon besar di sekelilingnya tampak seperti sosok-sosok raksasa yang berjaga. Ada sesuatu di sana… aku bisa merasakannya.“Kalau memang jawabannya ada di tempat itu,” gumamku, “aku harus melihat sendiri.”Dengan hati-hati aku mengenakan mantel tipis, lalu membuka pintu kamar. Koridor sunyi, hanya cahaya lilin kecil yang menerangi. Aku melangkah pelan, menahan napas setiap kali papan lantai berderit di bawah kakiku.Beruntung, Mira sudah memberitahuku jalur yang lebih sepi menuju taman belakang—melewati lorong samping dapur, bukan lewat aula utama.Begitu keluar, udara malam menyambut. Dingin menusuk tulang, tapi aku tetap melangkah, menuruni anak tangga batu yang mengarah ke halaman belakang.Taman itu luas, dipenuhi bu
Langkahku terasa berat saat menuruni tangga besar yang berlapis karpet merah. Jantungku berdebar, bukan hanya karena tubuh Elira masih lemah, tapi juga karena firasatku. Ada sesuatu yang menunggu di bawah sana.Seorang pelayan pria langsung menunduk hormat. “Nyonya, Tuan sedang menerima tamu di ruang utama.”Aku mengangguk singkat. Tuan—tentu maksudnya Leonard.Dengan langkah pelan, aku berjalan menuju ruang tamu. Suara tawa pelan terdengar dari balik pintu setengah terbuka. Suara wanita.Aku berhenti sejenak, merasakan hawa dingin merayap dari ujung kaki.Perlahan aku mendorong pintu.Dan di sana—di sofa panjang berlapis kain biru tua—duduklah seorang wanita muda yang mempesona. Rambut cokelatnya bergelombang indah, matanya berkilau penuh percaya diri. Senyumnya… lembut, tapi juga menusuk, seolah ia tahu betul siapa dirinya di hati lelaki yang duduk di sampingnya.Leonard.Pria itu, dengan jas abu-abu elegan, duduk begitu dekat dengannya. Senyum tipis menghiasi wajahnya—senyum yang b







