MasukSelama enam tahun pernikahan, aku pikir aku sudah menjadi wanita yang paling bahagia karena punya suami yang bertanggung jawab dan sangat baik. Ketika aku sakit, dia merawatku dengan penuh perhatian dan tidak pernah memintaku untuk melakukan pekerjaan rumah sampai aku benar-benar sembuh. Jangankan menyentuhku dengan kasar, membentak pun tidak pernah dia lakukan, dan aku sangat bahagia mempunyai suami sepertinya karena kebanyakan suaminya temanku sudah bermain kasar. Namun nyatanya mimpiku hancur seketika, ternyata dia tidak hanya baik padaku, tapi juga kepada seorang wanita yang selama ini dia sembunyikan, dan mereka akan menikah dalam jang....
Lihat lebih banyakAku menatap kosong ke arah ruang interogasi yang kini tertutup rapat. Siska berada di dalam sana bersama beberapa petugas dan Ustaz Hanif. Aku masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi. Perutnya… kehamilan itu… semua kebohongan.Tubuhku terasa lemas. Rasanya seperti semua tenaga tersedot habis dari dalam diri. Aku bersandar di kursi tunggu kantor polisi itu, sementara Papa berdiri tak jauh dariku, berbicara dengan seorang perwira yang tampak mengenalnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, kepalaku terlalu berat untuk memikirkan apa pun.Selena datang beberapa menit kemudian. Masih memakai busana pengantin, namun kini sudah dilapisi syal panjang. Wajahnya sendu, tapi tenang. Tatapannya penuh iba ketika melihatku.“Mas Nizam…” suaranya lembut, namun cukup untuk membuatku kembali sadar akan sekitar.Aku berdiri refleks. “Selena, aku... aku tidak tahu harus berkata apa.”Dia tersenyum tipis. “Tidak perlu berkata apa pun, Mas. Allah sudah menunjukkan kebe
NizamHari-hari terlah berlalu, tanpa terasa kini sudah waktunya lagi aku datang ke pernikahan yang bahkan tidak aku inginkan. Karena bukan hanya cinta yang masih ada dalam dada, juga ketidakrelaan melihatnya bersanding dengan pria lain."Ikhlas enggak ikhlas, kamu tetap garis merelakannya, Zam." Papa masuk begitu saja ke kamarku yang pintunya memang sudah terbuka. "Mungkin ini sudah takdir yang Allah siapkan untukmu."Aku membenarkan kata-katanya dengan memberikan sedikit anggukan kepala. "Yang Papa herankan, kenapa dia masih belum juga melahirkan? Bukankah seharusnya bulan ini?" tanyanya lagi dan aku juga mempunyai pertanyaan yang sama."Entahlah, Pa. Aku juga bingung, enggak tahu apa yang harus dilakukan." Aku duduk di samping papa sambil menatap layar ponsel yang memperlihatkan foto sebelum pernikahan Selena dan Hanif.Mereka berfoto secara terpisah dengan Naya berada di pangkuannya. Meski duduk mereka tidak berdekatan, tetap saja ada ada luka yang menjalar di tubuhku seakan aku
Nizam"Mama enggak mau punya menantu seperti itu. Mama mau Selena kembali." Mama kembali berteriak setelah sadarkan diri. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi anak ustazah Nurjanah secara terang-terangan melamar Selena untuk menjadi istrinya."Nizam, lakukan sesuatu!" Mama kembali mengguncang tubuhku. "Rebut dia selagi janur kuning belum melengkung!""Istighfar, Ma, istighfar," bisikku di telinganya.Dari sejak kejadian di hari itu, mama menjadi suka berteriak dan memanggil nama Selena. Yah, aku sendiri tidak ingin kehilangan dia, tetapi apalah dayaku yang sama sekali tidak bisa melakukan apa pun. Sekarang di antara kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi."Kamu adalah pria yang tidak becus menjaga istri, Nizam. Mama sungguh kecewa sama kamu yang tidak bisa menjadi suami siap siaga," makinya lagi dan selama beberapa hari ini mama selalu mengeluarkan kata-kata kasar.Meskipun demikian, aku masih tetap mengucap syukur karena mama masih menahan emosinya ketika ber
"Wah, denger aku mau ke sini, ternyata langsung membuat hatimu panas, ya. Padahal di Jakarta banyak tempat hiburan yang enggak kalah jauh dari tempat ini," celetukku sambil melihat Siska dari atas sampai bawah.Sekarang dia bahkan tidak menggunakan kerudung dan pakaiannya benar-benar sangar terbuka. Jauh dengan Siska yang dulu. Meski tidak menutup aurat secara sempurna, tetapi tidak separah sekarang."Kau!" Siska mengarahkan telunjuknya sambil menatapku dengan penuh amarah.Padahal, aku hanya menyapa dengan bahasa yang lembut, tetapi dia sudah marah seperti sekarang dan mengeluarkan suara yang keras hingga membuat kita menjadi pusat perhatian.Mas Nizam dan Mama yang ada di sampingnya menatapku lekat. Kaget mungkin karena melihatku menutup aurat dan ini adalah kali pertama."Kamu Selena?" tanya Mas Nizam sambil membulatkan mata."Selena, kamu pakai gamis dan jilbab?" Mama mertua terlihat lebih syok lagi."Iya, Ma. Sama seperti yang Umi katakan, aku akan menutup aurat kalau suamiku mem






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan