Mag-log in“Kamu, Seira?”
Alexander yang sedang duduk, berdiri ketika seorang gadis datang menghampiri. Ia bisa menebak kalau gadis yang datang ini adik dari temannya. “Hah?” Seira terkejut, tak menyangka kalau teman Andrew mengenalnya. Alexander tersenyum tipis. “Andrew sering cerita tentang adiknya. Kamu Seira kan, adiknya Andrew?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan. Alexander dulu pernah beberapa kali main ke rumah Andrew tapi tidak begitu memperhatikan wajah Seira. Berpapasan hanya sekilas dan tanpa meninggalkan kesan. Seira mengangguk gugup. Tidak dipungkiri, Seira sedikit terpesona pada laki-laki gagah di depannya ini. Benar kata Bibi, dia sangat tampan. “Kopi tanpa gula.” Seira segera mengalihkan pandangan dan menaruh secangkir kopi di atas meja. “Terima kasih,” ucap Alexander sembari duduk kembali. “Kak Andrew sedang mandi, dia bilang suruh tunggu sebentar.” Seira bingung, ia harus duduk menemani atau beranjak pergi meninggalkan Alexander. Alexander hanya mengangguk tanpa berniat untuk bertanya lagi. Cukup berbasa-basi menyapa tuan rumah. Fokusnya beralih pada ponselnya. Seira mendengus kesal. Ia merasa diabaikan. Ia pikir teman kakaknya ini ramah, nyatanya menyebalkan. Sepuluh menit ia duduk menemani, tidak ada obrolan sama sekali. “Aku tinggal ke dalam, kak Andrew sebentar lagi ke sini,” ketus Seira. Lagi-lagi Alexander hanya mengangguk. Menoleh pun tidak. Seira ke dapur menaruh nampan, setelahnya baru kembali ke kamar. Baru saja ingin masuk kamar, suara Andrew menghentikan langkahnya. “Teman aku masih di ruang tamu kan, Sei?” tanya Andrew yang baru saja keluar kamar. Penampilannya lebih segar dari sebelumnya. “Kakak kenal dia dari mana sih? Nyebelin banget!” Andrew terkekeh pelan. “Dia kenapa memang?” Seira jadi bingung. Dibilang sombong tapi Alexander sudah menyapanya. Tidak asik diajak ngobrol tapi mereka tidak kenal dekat. “Ya pokoknya nyebelin aja!” “Kamu nggak ingat? Dia kan Alex, sering main ke rumah. Kamu juga pernah ketemu,” kata Andrew. Seira mengernyitkan kening. Ia sama sekali tidak mengingat teman kakaknya itu. “Masa sih? Kok aku nggak ingat ya?” Andrew menepuk bahu Seira pelan. “Alex memang begitu, orangnya nggak banyak omong kalau sama orang yang nggak deket. Jangan diambil hati.” Seira mengangguk saja. “Iya kak.” “Ya sudah aku temui Alex dulu.” Andrew bergegas menemui Alexander di ruang tamu. Di dalam kamar, Seira masih berusaha mengingat-ingat siapa teman kakaknya itu. ‘Kok aku nggak ingat ya?’ Karena ingatannya sama sekali tidak menemukan siapa itu Alexander, Seira kembali menyibukkan diri dengan mencari pekerjaan. Sampai ia kelelahan dan tertidur sendiri. Pagi-pagi sekali Seira sudah bangun, menemani Andrew sarapan. Kakaknya sudah berpakaian rapi, bersiap untuk bekerja. “Malam ini aku nggak pulang ke rumah. Jarak rumah ke rumah sakit lumayan jauh.” Andrew lebih nyaman tinggal di apartemen, selain dekat dengan rumah sakit tempatnya bekerja. “Kalo kamu bosan sendirian, ke apartemen aku saja.” “Iya kak, nanti aku main ke apartemen kakak. Kakak pulang sore?” tanya Seira sembari menyantap Sandwich. Andrew meneguk segelas air putih sebelum menjawab. “Kayanya pulang malam. Aku mau temani Alex.” “Alex?” Andrew mengangguk. “Teman aku yang semalam datang. Kita lama nggak nongkrong bareng.” “Dih, kakak kok mau sih, paginya kan kakak harus ke rumah sakit. Ngapain nongkrong nggak jelas!” Seira menggerutu. “Dia nggak ada kerjaan apa?!” Andrew tertawa. “jangan salah! Selain dokter bedah, Alex itu pengusaha juga. Dia lebih sibuk dari aku. Ini karena lagi ambil cuti saja, jadi bisa ketemu,” ucap Andrew menjelaskan siapa itu Alexander. Seira manggut-manggut. “Oh ….” Ternyata dia salah mengira. Ia pikir Alexander seorang pengangguran. “Nanti kalo mau ke apartemen, kabari aku dulu ya?!” Andrew mengingatkan. Anak pertama keluarga Spencer itu menyelesaikan sarapannya. Ia harus segera berangkat. Ada pasien yang tengah menunggu. “Em … lihat nanti deh kak! Ngapain aku main ke apartemen kakak kalau kakak belum tentu pulang?” ucap Seira. “Pasti pulang lah. Cuma main bentar.” Andrew menggeser mundur kursi yang ia duduki. Meraih kain untuk menyeka mulut. “Aku jalan dulu. Bye, Sei!” “Hem.. hati-hati di jalan kak,” sahut Seira. Nyatanya menjelang sore, Seira berubah pikiran. Bosan juga di rumah seharian. Seira memutuskan untuk berkunjung ke apartemen Andrew, siapa tahu ia bisa bertemu dengan Jessica— kekasih Andrew. Sekitar tiga puluh menit, Seira tiba di apartemen. Satu jam lagi Andrew baru akan pulang. Seira masuk ke apartemen dengan mudah, ia tahu access hunian kakaknya. Seira mengirim pesan pada Jessica, berharap wanita itu mau datang menemaninya. Sudah lama juga mereka tidak pernah bertemu. “Nggak di bales,” gerutunya. Seira meletakkan tas dan ponselnya di atas meja. Ia berpikir untuk ke dapur membuat Cappucino. Tapi... “Argh!” jerit Seira terkejut. Jantung Seira nyaris lepas dari tempatnya ketika melihat seorang pria bertelanjang dada keluar dari kamar Andrew. “Kamu?!”Alexander membawa Seira untuk menjauh sebelum pertengkaran mengacaukan pesta.“Meladeni orang seperti mereka harus dengan cara lain. Nggak usah adu mulut. Yang ada kamu capek sendiri,” ujar Alexander. “Tapi aku kesel! Jordy terus nuduh aku. Padahal mereka yang selingkuh!” sungut Seira. Alexander mengelus pipi merah muda Seira. “Biar aku urus. Mereka pasti nggak bisa ngelak lagi.” “Gimana caranya?” tanya Seira.“sebarkan bukti perselingkuhan mereka, apalagi?” Alexander bicara dengan tenang, menyesap anggur merah di tangannya.Seira lesu, ia pikir Alexander punya cara lain. Kalau menyebarkan bukti perselingkuhan mereka, Seira tahu, andai saja video itu tidak musnah.“Tapi, video yang aku punya sudah hilang,” lirih Seira.Alexander terkekeh. “Kenapa kamu selalu fokus sama bukti yang sudah hilang? Harusnya cari bukti baru. Gampang kan?” Seira terdiam. Masalahnya akan sulit menemukan bukti mereka sedang melakukan hubungan badan. “Jangan dipikirin, biar aku yang urus.” Alexander meyaki
Menikah?Alexander belum siap untuk menikahi Mauren. Ia masih ingin menikmati masa single nya. “Kenapa kamu nggak bilang kalau pertemuan ini untuk membahas pernikahan?” diluar, saat hanya ada mereka berdua, Alexander menyatakan keberatannya. Alexander mengusap kasar wajahnya. “Kamu tahu kan, kalo aku belum siap nikah! Kamu juga sudah setuju keputusanku?!” Mauren mengelus dada bidang Alexander, menenangkan pria itu. “Aku bisa apa, Alex? Mama sama papa aku minta kita nikah secepatnya.” “Tapi aku belum siap!” sentak Alexander.“Kenapa?” tanya Mauren. Usia sudah matang, finansial tidak perlu dikhawatirkan lagi. Meskipun mereka dijodohkan, nyatanya Alexander mau menjalaninya, hubungan mereka pun berjalan selayaknya kekasih pada umumnya. Sangat mesra.Alexander menggeleng. “Aku belum siap,” ucapnya. Entah kenapa hatinya mendadak ragu.Alexander pergi tanpa memberi alasan yang jelas pada sang tunangan. Mauren mengepalkan tangan, ia menyadari ada yang berbeda dari Alexander. “Aku harus
“Kamu mulai nakal, keluyuran sampai pagi?” Alexander berjalan mendekat. Ia menarik pinggul Seira kasar. “Siapa cowok itu?” Kedua alis Seira menyatu. Bingung, pria mana yang Alexander maksud.“Cowok yang barusan antar kamu pulang?” Jemari Alexander meremas kuat pinggul Seira. “Cowok baru kamu?” Seira terkekeh. “Oh, itu? Dia teman aku yang kerja di resto.” jawab Seira. Kedua tangannya melingkar di leher Alexander. “kenapa marah, cemburu?” Alexander berdecih. “Ingat perjanjian?” ucapnya tegas. “Selama sama aku, kamu nggak boleh dekat dengan cowok mana pun.”“Apa iya?” Seira lupa. Cengkareng Alexander makin kuat. “Kamu pura-pura lupa?” Seira nyengir. “Udah ya lepas. Dia cuma anter aku doang. Aku ngantuk, mau tidur.” Seira berusaha melepaskan diri dari belitan Alexander. “Aku sudah di sini kamu mau tidur?” tangan Alexander tidak mau lepas. Bibirnya sudah mulai merayapi leher Seira. “Aku kangen,” bisiknya.Seira menjauh, “ke mana saja kamu? Nggak ada kabar apa apa, sekarang datang mal
“Saya nggak sengaja mbak!” Seira membela diri. Ia memang salah tidak jalan hati-hati. Tapi dengan kesadaran diri, ia langsung meminta maaf. “Saya sudah minta maaf! Mbak juga nggak jatuh kan?” “Heh! Kamu panggil aku apa?!” serunya marah. Mauren Gilbert. Model papan atas yang tengah naik daun. Seringkali menjadi brand ambassador merk ternama. “Sudah Mauren, jangan cari masalah. Ingat ini di tempat umum, banyak orang. Nama kamu bisa tercemar,” bisik Elsa— asisten Mauren mengingatkan untuk menyudahi perselisihan ini. Namanya sedang melambung, tidak baik jika tersandung gosip. Meskipun masih marah, Mauren menurut, meninggalkan Seira yang juga kesal dengan tingkah arogan Mauren. “Model apa sih? Bad attitude banget! Harusnya tadi aku rekam biar viral kelakuannya!” Seira terus menggerutu. Seira sudah menemukan desain gaun yang ia inginkan. Minggu depan ia datang lagi untuk fitting. Sudah dua hari di Vallas, Seira masih belum bisa menemui Alexander. Entah kemana pria itu pergi. “Sei,
Seira langsung menutup panggilan. “Siapa?” Seira meletakkan ponsel di dashboard. Ia pikir Alexander menghubungi balik setelah mengabaikan panggilan darinya. Tapi malah suara perempuan yang terdengar. “Mungkin temannya,” gumam Seira. Harusnya Seira pulang ke rumah, tapi ia teringat kalau stock pembalut di rumah habis. Seira sedang mendapat tamu bulanan. Seira berhenti di sebuah minimarket. Karena barang yang dibutuhkan tidak banyak, Seira tidak perlu berlama-lama. Ia segera mengantri di kasir. “Seira…” panggil seseorang yang berdiri di belakang Seira. Seira menolah. Sempat terkejut melihat mantan calon mertuanya. “Tante…” Diana memperhatikan Seira. “Ada yang mau tante bicarakan.”Seira mengangguk. Selesai membayar barang belanjaan, Seira dan Diana mencari tempat untuk bicara. Seira sudah siap bila Diana kembali mengungkit masalah yang menurutnya sudah usai meski Seira belum menemukan bukti untuk mengembalikan nama baiknya. “Ada apa tante?” Seira sudah duduk di hadapan Diana. D
“Akh… tunggu!” Seira memang menyukai kegiatan dewasa bersama Alexander. Tapi Seira masih ragu untuk memberikan hal yang paling berharga pada pria ini. Kadang menggebu-gebu ingin lepas perawan, tapi kalau sudah di depan mata, Seira mendadak takut. Kemarin malam, nyaris saja ia memberikan mahkotanya pada Alexander. “Kenapa, hem?” Alexander mengecupi leher Seira. Tangannya bergerak liar di bawah sana. “Ini sudah basah.” “Jessica dan kak Andrew bentar lagi datang. Kita harus berhenti,” bisik Seira dengan suara serak. Matanya masih terpejam, menikmati gerakan halus jari Alexander. Alexander mengabaikan ucapan Seira, malahan terus menikmati payudara Seira yang menggantung indah di depannya. Seira blingsatan. Meremas kuat rambut Alexander. Mulutnya minta berhenti, tapi gerakan tubuhnya justru menerima, seolah sangat menikmati lumatan Alexander. “Alex, stop!” Seira meriah kaosnya yang tergeletak di lantai. Suara pintu terbuka membuat Seira cepat-cepat menghentikan kegilaan ini.“sial!







