LOGINDi ruangan yang sangat dingin dan gelap, nampak seorang wanita duduk termenung di sofa sendirian sambil memeluk kedua kakinya. Matanya terbuka lebar, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Fanny hanya terdiam sambil memegang ponselnya. Dari tiga puluh menit yang lalu, Fanny tinggal di rumahnya sendirian karena Marissa pergi keluar untuk membeli makanan. Awalnya, lampu di rumah itu sudah dinyalakan oleh Marissa, tapi, entah mengapa Fanny malah mematikan semua lampu lagi, termasuk dapur, kamar tidur, juga kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Marissa datang membawa kantong kresek berwarna putih. Ia pun terkejut saat melihat seisi rumah nampak gelap dan sepi. "Fan? Fanny? Kau di mana? Kenapa lampunya mati? Apa ada pemadaman listrik?" teriak Marissa sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Tapi tidak mungkin ada pemadaman listrik, soalnya lampu di luar masih menyala!" ucap Marissa lagi walau tidak ada jawaban dari siapapun. Marissa meraba dinding di samping pintu, lalu menekan sa
"Lalu, kalau bukan karena itu, kenapa kau memecatnya?" tanya Marissa dengan heran. Bukannya menjawab pertanyaan dari Marissa, Danendra malah mengambil ponsel dari dalam saku. Ia mencari sesuatu di ponselnya, lalu diperlihatkan pada Marissa. "Lihatlah sendiri! Bagaimana teman baikmu itu mempermalukan perusahaan kami! Video itu tidak hanya tersebar ke semua karyawan di perusahaan ini, tapi juga di media sosial!" "Apa kau pikir, perilaku seperti ini baik?" tanya Danendra dengan sedikit kesal. Tangannya masih terulur ke depan, dan memperlihatkan sebuah video dewasa pada Marissa. Adegan demi adegan yang dimainkan oleh orang yang ada di dalam video itu benar-benar membuat Marissa shock. "I-ini ... si-siapa? Apa Fanny?" tanya Marissa pelan dengan tubuh yang mulai bergetar hebat. Ia pun meraih ponsel itu, lalu melihatnya dari jarak yang sangat dekat. Adegan demi adegan yang mereka mainkan di dalam ponsel Danendra, membuat Marissa merinding dan juga mual. Walau di video itu Fanny masih
Tiba di lantai paling atas, Marissa dan Wilyam keluar dari dalam lift, lalu berjalan menuju ruangan wakil presdir. Saat Wilyam akan membuka pintu ruangan itu, tiba-tiba Marissa menarik tangan adik iparnya, mencegah Wilyam untuk membuka pintu. "Ah, jangan! Sebaiknya kita tunggu saja di sini!" Marissa menarik Wilyam ke kursi tunggu yang ada di sebelah kanan. "Aku mengajakmu karena tidak enak menunggu sendirian di sini," ucap Marissa yang masih memegang tangan Wilyam. Lalu menyuruhnya untuk duduk. Marissa tidak ingin mengganggu Danendra dan tamunya. Ia akan menunggu mereka sampai selesai. "Tidak apa-apa! Yang ada di dalam sekarang bukan tamu penting, kok! Itu hanya teman Danen saja. Sama sekali tidak masalah," jelas Wilyam sambil bangkit berdiri. Wilyam pun sudah berdiri. Ia menunduk, menatap Marissa dengan heran. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya saat melihat Marissa ada di kantor ini. Karena penasaran, Wilyam pun segera bertanya, "O, iya! Tadi malam, Kakak Ipar tidak p
Di ruang tamu yang nampak rapi dan bersih dengan sofa sudut yang terpasang di samping ruangan, Marissa, Ray, dan Fanny yang memakai selimut tebal di tubuhnya, duduk di sofa dengan keheningan yang tiada usai. Ray sudah menceritakan semua hal yang ia tahu tentang pemecatan Fanny yang tiba-tiba. Itu benar-benar membuat Fanny sendiri merasa syok. "Jadi bagaimana? Apa sekarang kau akan pergi ke kantor untuk menanyakan masalah pemecatanmu ini?" tanya Ray dengan ragu. Ia melihat Fanny masih menggigil di dalam selimut dengan wajah yang sudah memerah. Kelopak matanya pun terlihat sayu. "Biar aku saja yang pergi ke kantor menemui Danen! Kau antar saja Fanny ke klinik untuk diperiksa! Fanny tidak bisa pergi ke manapun dengan keadaannya seperti ini, apalagi ke kantor, membicarakan masalah serius atas pemecatannya! Lebih baik Fanny istirahat di rumah," balas Marissa tanpa menunggu tanggapan dari Fanny yang duduk di sampingnya. Marissa merasa bertanggungjawab atas hal ini karena semalam Dane
Di tempat parkir, Danendra masih memegang kerah pakaian Ethan. Ia tidak membiarkan pria itu kabur sebelum dirinya puas membuat perhitungan dengannya. Dari arah pintu keluar klub, Marissa dan Fanny keluar bersama, berjalan menuju jalan raya dengan sedikit terhuyung. Ethan pun melihat mereka. Ia segera mengangkat jari telunjuknya yang diarahkan ke arah Marissa dan Fanny. "Tuh, istrimu pergi!" Danendra segera melihat arah yang ditunjuknya. Di sana Marissa dan Fanny sedang berdiri di pinggir jalan, lalu menghentikan taksi. Pandangannya pun semakin menggelap. Sebelum mereka masuk ke dalam taksi, Danendra segera melepaskan cengkramannya di kerah pakaian Ethan, lalu setengah berlari menghampiri istrinya. Ethan pun hampir terguling ke tahan karena dorongannya. Di samping taksi, Marissa membuka pintu mobil, lalu membantu Fanny duduk di kursi penumpang. Setelah itu, ia pun bersiap masuk. Belum sempat dirinya duduk di samping Fanny, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang. "Ma
"Senang bagaimana maksudmu?" Marissa tidak habis pikir, mantannya ini benar-benar sudah gila. Padahal Fanny merupakan teman Ethan juga. Tapi dia malah membiarkan Fanny bersama orang asing di ruangan lain. "Sudahlah! Aku mau pergi sendiri mencari Fanny! Mana kuncinya?" Marissa meminta kunci ruangan itu pada Ethan. Tatapannya begitu tajam menatap pria itu. Sebelum Ethan merespon permintaan Marissa, tiba-tiba ponsel Ethan berbunyi. Dia pun segera mengambil ponsel dari dalam saku celana tanpa mempedulikan tangan Marissa yang terulur ke depannya. "Halo!" sapa Ethan yang masih dengan posisinya berdiri di depan Marissa. Ia tidak beranjak sedikitpun walau saat ini dirinya sedang menerima panggilan telepon. Dari seberang telepon, terdengar suara seorang pria yang berkata pada Ethan, "Bagaimana dengan wanita ini? Apa boleh kami mainkan?" Ethan terdiam beberapa saat sambil melihat ke arah Marissa. Lalu berkata pada orang yang ada di seberang telepon. "Terserah kalian! Lakukan apapu
Marissa pun bertanya, "Di hidupmu, aku ini siapa?"Tanpa ragu, pria itu menjawab, "Kau adalah wanitaku, juga ibu angkat dari putraku—Diego! Sebagai wanitaku, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, termasuk kebutuhan ini!"Tiba-tiba Danendra menyentuh bagian sensitif di tubuh Marissa. Tatapannya berub
Taksi yang dikenal dari oleh Darius sudah berhenti di pinggir jalan, agak jauh Hotel Mois yang tadi Marissa sebutkan. Awalnya, pria itu tidak mendengar. Darius terus melajukan mobilnya. Namun Fanny memaksa Darius untuk segera menepikan mobilnya sesuai dengan permintaan Marissa, barulah Darius ber
Mereka berdiri di pinggir jalan sambil menunggu taksi yang lewat. Dari dalam mobil hitam yang ada di area tersebut, ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka berdua. Tidak lama, Fanny dan Marissa masuk ke dalam taksi, lalu pergi. Seseorang yang ada di dalam mobil itu tidak jadi mengikuti
"Apa yang ketiga?" Marissa sangat penasaran. Ia menatap Danendra, menunggu jawaban pria itu dengan hati berdebar. Kalau sampai tidak ada cinta untuknya, Marissa akan segera pergi dari kehidupan Danendra. Namun, jawaban Danendra selajutnya membuat Marissa terpaku. "Yang ketiga, itu karena ... ak







