ログインHah? Siapa?" tanya Danendra dengan heran. Tapi ia bisa menebaknya, itu pasti Fanny dan Ray. "Ke mana mereka pergi?" Kali ini giliran Asisten Anas yang bertanya. "Apa mereka belum pulang?" "Entahlah! Sebelumnya, ada polisi datang kemari, setelah itu, Marissa pergi bersama temannya!" "Polisi? Kenapa ada polisi segala? Apa Marissa dalam masalah?" Danendra semakin penasaran. Ia khawatir pada Marissa yang saat ini entah ada di mana. Katanya semalam pergi, tapi kenapa sampai siang begini mereka belum kembali. "Untuk masalah itu, saya kurang tahu!" Tetangga itu tidak mengerti. Mengapa semalam ada polisi datang ke rumahnya, lalu Marissa dan temannya pun ikut pergi. Kalau tahu, pasti dia akan bergosip dengan para tetangga yang lain mengenai datangnya polisi-polisi itu ke rumah Marissa. "Oh, baiklah! Terima kasih!" Asisten Anas pun tidak bertanya lagi, karena itu tidak ada artinya. Asisten Anas menghampiri Danendra, lalu mereka berdua kembali ke mobil.. Di dalam mobil, Asisten Anas ber
"Aku ada teman yang baru lulus kuliah jurusan hukum. Bagaimana kalau kita coba menghubungi dia? Siapa tahu bisa membantu?" tanya Ray yang juga menyarankan. Ray pun segera mengambil ponselnya, lalu mencari kontak teman yang dia maksud. "Baguslah! Kita coba saja dulu! Siapa tahu bisa," balas Fanny tanpa menunggu jawaban dari Marissa. Karena, dilihat dari penampilannya sekarang, Marissa terlihat linglung. Dia bingung harus melakukan apa untuk menghadapi ujian ini. "Aku telepon dulu, ya! Kalau oke, besok aku akan menjemputnya di Kota A!" ucap Ray yang segera menghubungi temannya. Ia pun terdiam, menunggu panggilannya terhubung ke sana. Saat ini, mereka bertiga sedang duduk di ruang tunggu yang ada di ruangan depan kantor polisi sambil terus berdiskusi membicarakan masalah ibunya Marissa. Dari arah pintu masuk, tiba-tiba dua orang—seorang pria dan wanita berpakaian hitam tertutup—masuk ke ruangan itu, lalu berbicara pada petugas polisi. Sesekali, wanita yang memakai masker hitam itu
Di ruang tamu, ada tiga anggota kepolisian duduk di sofa dan berbicara dengan Marissa. Sedangkan di luar, para tetangga tidak henti-hentinya berkumpul dan bergosip tentang kedatangan polisi ke rumah itu. "Maaf, Nona! Sore tadi pukul 16:30, kami menerima laporan dari seseorang, bahwa di rumah makan Ibu Merina ada pelanggan yang meninggal!" "Apa??? Me-meninggal? Tapi kenapa?" Marissa, Ray, dan Fanny terkejut mendengar hal itu dari polisi. Mereka semakin serius mendengar kelanjutan ceritanya. "Diduga, orang itu meninggal karena racun dari makanan yang dimakannya di warung nasi ibu Anda!" jelas Pak Polisi. Dan itu membuat Marissa semakin terkejut. "Sekarang, Ibu Merina sudah di kantor polisi dan ditetapkan sebagai saksi! Jika terbukti di makanan itu ada racunnya, status Ibu Merina bisa berubah menjadi tersangka," tambah satu orang lagi yang semakin membuat semuanya terguncang. "Sekarang, kami datang kemari ingin memeriksa rumah Ibu Merina! Dikhawatirkan Ibu Merina menyimpan racunnya
Danendra benar-benar terdiam. Ia memikirkan semua informasi yang didapatnya dari Asisten Anas. Padahal, selama beberapa hari ini, Danendra marah pada Marissa karena wanita itu masih berhubungan dengan mantannya. Mereka pergi ke klub, dan setelah pria itu ditangkap, dia mengaku sedang mendekati Marissa. Padahal Marissa sendiri sudah menikah dan bahkan sedang mengandung anak dari suaminya. Tapi Danendra ... malah menuduh Marissa yang tidak-tidak. "Aishhh! Sial!" Danendra begitu kesal pada dirinya sendiri. Kenapa dirinya sangat bodoh sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Kecemburuan memang telah menghancurkan segalanya. "Sekarang belum terlambat! Aku harus mencari Marissa dan membawanya pulang!" Danendra pun segera mengambil ponselnya, lalu memanggil nomor Marissa. Setelah itu ia menunggu sambil duduk di kursi kebesarannya. Di hari Sabtu seperti ini, semua orang tidak bekerja, menghabiskan waktunya di rumah atau bahkan ada yang pergi liburan. Tapi tidak dengan Danendra. Pria i
Malam hari, di kediaman keluarga Adipraja, Josep dan Ambar duduk di meja makan bersama dengan Danendra dan adiknya—Wilyam. Mereka menyantap makan malam sambil berbincang membicarakan sesuatu hal yang sangat mengejutkan. "Tadi Sony menghubungiku! Dia bilang, Sely kabur dari rumah tahanan bersama beberapa narapidana lain! Dia juga meminta bantuanku untuk mencarinya!" "Hah? Kapan kejadiannya?" tanya Wilyam yang tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya di atas piring. Ia penasaran dengan wanita jahat yang telah membunuh dua orang pasien di rumah sakit dan juga hampir membunuh Darius. Wanita seperti itu benar-benar sangat berbahaya. "Kemarin malam!" jawab Josep sesuai dengan apa yang Sony katakan tadi saat mereka bertemu. Ia pun melanjutkan, "Sely dan napi lainnya kabur tadi malam saat ada keributan di lapas! Mereka memanfaatkan keributan itu dan kabur melalui pintu belakang. Sekarang, polisi sedang mencari Sely dan yang lainnya. Tadi beberapa polisi menggeledah rumah Sony dan me
Di ruangan yang sangat dingin dan gelap, nampak seorang wanita duduk termenung di sofa sendirian sambil memeluk kedua kakinya. Matanya terbuka lebar, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Fanny hanya terdiam sambil memegang ponselnya. Dari tiga puluh menit yang lalu, Fanny tinggal di rumahnya sendirian karena Marissa pergi keluar untuk membeli makanan. Awalnya, lampu di rumah itu sudah dinyalakan oleh Marissa, tapi, entah mengapa Fanny malah mematikan semua lampu lagi, termasuk dapur, kamar tidur, juga kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Marissa datang membawa kantong kresek berwarna putih. Ia pun terkejut saat melihat seisi rumah nampak gelap dan sepi. "Fan? Fanny? Kau di mana? Kenapa lampunya mati? Apa ada pemadaman listrik?" teriak Marissa sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Tapi tidak mungkin ada pemadaman listrik, soalnya lampu di luar masih menyala!" ucap Marissa lagi walau tidak ada jawaban dari siapapun. Marissa meraba dinding di samping pintu, lalu menekan sak
"Sepatu ini pemberian dari seseorang, bukan hasil curian!" balas Marissa dengan jujur. Mau mengaku membelinya pun Marissa tidak berani berbohong. Walaupun begitu, pria gendut itu tetap ragu. "Ya, sudah, begini saja, sepatu ini digadai dulu! Besok aku ambil lagi! Bagaimana?" sepatu ini menyaranka
"Siapa yang mencarimu? Aku kemari karena di sini kamarku!" balas Danendra sambil berjalan menghampiri Marissa. Ia masih memasang wajah serius dengan nada suara yang cukup ketus. Tadinya, Danendra ingin mencari wanita itu dan menenangkannya atas masalahnya dengan Amb
Di siang hari, setelah makan dan berkenalan dengan pria yang tadi membantu Marissa, kini mereka benar-benar pergi ke Pantai Malio bersama pria itu. "Darius, apa kami tidak merepotkanmu? Ray sudah membeli tiket kereta, sepertinya kau tidak perlu mengantar kami sampai ke Pantai Malio! Antar kami ke
"Ayo kita berkencan!" Ajakan itu terus terngiang di telinga Marissa. Danendra memberinya waktu tiga hari untuk menjawab hal itu. Keuntungan jika berkencan dengan pria itu, Marissa sangat menginginkannya. Bisa bersama dengan Mario dan bisa menjadi ibu tiri untuknya, tentu saja







