เข้าสู่ระบบ"Aishhh, Danen! Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Luna sambil berjalan menghampirinya ke sofa. Ia pun duduk di depan Danendra. "Ya, tidak! Aku hanya bertanya saja, kenapa kau datang kemari? Apa ada masalah di kantor?" tanya Danendra. Padahal sebelumnya, Danendra sudah meminta Wilyam untuk menggantikannya di kantor. Selain itu, ia pun sudah meminta Asisten Anas untuk menangani beberapa masalah. Tapi sekarang, kenapa sekretaris pribadinya itu malah mengikutinya ke perusahaan WiFoods sambil membawa dokumen yang harus ditandatangani? "Tentu saja karena ada hal penting," jawab Luna sambil menyodorkan map hitam yang dibawanya ke hadapan Danendra. "Ada berkas yang harus kau tinjau dan tandatangani langsung!" tambahnya lagi. Di depannya, Danendra mengambil dan melihat map tersebut. Ia membuka lembar demi lembar berkas yang dibawa oleh Luna itu, lalu menyimpannya di meja. Sepertinya Danendra bersiap untuk menandatangani berkas tersebut. "O, iya ... Danen! Apa kau yang memasukann
Benar saja, kabar dipanggilnya Marissa ke ruang kerja bos besar karena seringnya bolos bekerja sudah menyebar ke semua karyawan yang satu divisi dengannya. Tidak terkecuali dengan Jesi. Dia tahu kabar itu dari grup karyawan di ponselnya. "Nah, kan! Aku bilang juga apa, Marissa tidak akan lolos begitu saja dari hukuman! Pak Jimy tidak apa-apa, tapi Bos Besar tidak mungkin membiarkannya begitu saja!" "Hemmm, benar juga! Tapi aku kasihan pada Marissa! Tidak seharusnya Bos Besar memanggilnya langsung ke ruangannya! Kalaupun harus dihukum, dipotong gaji selama dia tidak bekerja kan, sudah beres!" balas Ara di pantry ketika sedang mengambil kopi. Seringnya Marissa bolos bekerja dalam beberapa hari terakhir, membuat semua orang iri dan membicarakannya. Bahkan kabar itu sampai juga ke telinga Jimy selaku teman baik Danendra yang tahu apa hubungan Danendra dengan Marissa. Di ruang kerja yang nampak terang karena dindingnya terbuat dari kaca besar, Danendra duduk di sofa bersama Marissa. Me
"Enh?" Marissa menoleh. Ia mengangkat kedua aslinya sebagai tanda bertanya. Sedangkan tangannya sedang memegang baju berupa atasan dan bersiap memakainya. Bukannya berbicara, Danendra malah berpindah ke kursi belakang, ia pun duduk di samping Marissa. Detik berikutnya, dia memegang pipi kiri Marissa, lalu mencium bibirnya dengan penuh hasrat. Tindakannya yang tiba-tiba itu membuat Marissa terkejut. Tangan yang masih memegang pakaian pun perlahan terbuka, lalu pakaian itu terjatuh ke bawah. Danendra benar-benar menciumnya tanap berhenti membuat Marissa hampir kehabisan napas. "Emh!" Marissa berkata di sela ciumannya. "Danen! Ah ... ak-aku sudah ter-terlambat!" Jam masuk kerja sudah hampir lewat, Marissa harus segera berpakaian dan masuk ke kantor. Kalau membuang-buang waktunya, bisa-bisa dirinya benar-benar terlambat. "Sayang! Kenapa kau begitu cantik?" bisik Danendra sambil menyentuh pipi Marissa dengan tangan besarnya. Ia sudah melepaskan pautan bibir mereka, lalu men
Entah apa yang terjadi pada Zain sampai-sampai dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang akhirnya menabrak pembatas jalan. Bukan hanya tubuhnya saja yang terluka, tapi juga kaki. Kaki kanannya mengalami cedera yang cukup serius. Mobilnya pun hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi. "Sabar Tante! Kita doakan saja, Zain segera sadar dan kondisinya membaik!" ucap Marissa sambil mengelus punggung ibunya Zain. Malam ini, Marissa dan Sinta bermalam di rumah sakit untuk menjaga Zain. Mereka hanya berdua karena ayah dan adiknya pulang ke rumah. Di malam hari, Sinta tidur di tempat tidur yang khusus untuk penunggu pasien, sedangkan Marissa tidur di sofa dengan selimut yang dibawa ayahnya Zain dari rumah. Di sofa yang empuk dan nyaman, Marissa berbaring sambil memegang polsenya karena ada pesan singkat dari seseorang. Ia pun memberitahu orang itu bahwa saat ini dirinya tidur di rumah sakit untuk menunggu Zain. ["Apa mau aku jemput?"] tanya Danendra di pesan singkatnya. Ia k
Di dalam mobil, Marissa duduk di depan sambil bertanya, "Kenapa tidak bilang kalau mau menjemput?" "Kalau mau ke sini, mungkin aku akan langsung menghampirimu, tidak perlu kau menungguku sampai empat puluh menit di dalam mobil," ucap Marissa lagi yang tidak tega melihat Zain menunggunya di tempat parkir lebih dari setengah jam. Namun, Zain tidak masalah dengan hal itu. "Tidak apa-apa! Aku bisa duduk dan istirahat dulu sambil menunggumu!" "Lain kali, kau tidak perlu menjemputku! Aku bisa pulang sendiri naik taksi!" ucap Marissa dengan spontan. Pikirnya, seharian ini Zain juga lelah bekerja, tapi pulangnya masih harus menjemput Marissa. Lebih baik Zain pulang dan istirahat di rumah. Namun, rasa tidak enaknya Marissa pada Zain malah membuat pria itu salah paham. Zain menanggapinya dengan sinis, "Kenapa? Apa kau tidak suka dijemput olehku?" Ekspresi wajahnya sudah berubah, tidak lagi sebaik sebelumnya. "Ah... bu-bukan itu maksudku! Bukannya aku tidak suka dijemput olehmu! Tapi, a
"Eh, kenapa? Apa benar, bos memberi kalian tugas yang berat?" Marissa masih bertanya, namun dengan suara yang sedikit dipelankan. Ia masih penasaran, mengapa hari ini mereka semua nampak berbeda dari biasanya. "Nanti saja setelah jam istirahat aku ceritakan! Sekarang, cepat kembali ke tempat dudukmu," balasnya dengan setengah berbisik. Namun, walaupun begitu, semua orang masih bisa mendengarnya. Hari ini, suasana di tempat kerja benar-benar sangat berbeda. Tidak ada lagi canda tawa dan teriakan, mereka terdiam sambil mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan serius. Di jam istirahat, Ara membawa Marissa ke kantin kantor yang ada di lantai paling bawah. Mereka berdua makan di sana tanpa mengajak teman-temannya yang lain. "Kenapa? Kenapa Jesi dan yang lainnya tidak diajak?" tanya Marissa sambil duduk berdua di salah satu meja. Marissa dan Ara sudah memesan makanan dan minuman. Sekarang tinggal menyantapnya saja. "Marissa, apa kau tahu, semua karyawan di kantor ini sangat iri
Percumbuan mereka terjadi lumayan lama. Danendra tidak melepaskan pautan bibirnya sampai mereka berpindah ke sofa.Entah sudah berapa lama waktu berlalu, akhirnya Marissa mengakhiri percintaan mereka. Ia mendorong dada kekar Danendra agar sedikit menjauh.Dengan napas yang terengah, Danendra benar-
Beberapa menit kemudian Darius pun datang. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan topi yang menutupi setengah wajahnya. Ia sengaja menunduk agar orang yang bertemu dengannya tidak bisa melihat wajah aslinya dengan jelas.Awalnya, Darius memang tidak tahu dengan perubahan yang terjadi pada video i
Setelah beberapa saat, panggilan telepon pun berakhir. Danendra segera menutup ponselnya, lalu menoleh ke samping. Ia menatap wanita yang sedang duduk di sofa itu dengan tajam."Kapan kau datang?" tanyanya dengan heran.Ia segera bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menghampiri Sely.Danendra b
Tapi ... mendengar ucapan Sari yang terakhir, Marissa menjadi bingung. Ia segera menyimpan alat makanya, lalu menatap Pelayan Sari dengan heran."Apa katamu, tadi? Aku ... harus tetap tinggal?"Untuk apa tinggal? Toh, Danendra dan Mario juga sudah pergi."Ya, Nona!" Pelayan itu pun mengangguk. "Tua







