LOGINDiva Queensha terjerat cinta buta dengan atasannya yaitu Liam Kavindra. Pria kaya yang sudah memiliki istri. Mereka mempunyai hubungan terlarang yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekat saja. Seiring waktu istri Liam yaitu Samira Basagita mencium perselingkuhan mereka, ia membuat Diva dibully dan mendapatkan perlakukan kasar dari teman sekerjanya. Samira tidak bisa mempertahankan pernikahannya bersama, mereka bercerai kemudian Liam menikah dengan Diva. Dan ternyata pernikahan yang diimpikan Diva tidak seindah dongeng yang ia baca. Apakah ini karma?
View MoreManor Zhao, Tanah Bebas
Lukisan itu tergantung di dinding ruang belajar. Sebuah lukisan seorang wanita cantik tengah memetik guzheng."Duan Xiao Jiao, akhirnya kekhawatiranku terjadi. Kau mati sia-sia." Zhao Lu Yang, penguasa Tanah Bebas, menatap lukisan itu dengan muram."Ao Yu Long masih hidup dan kau telah mati bahkan tanpa sempat dimakamkan dengan layak. Sungguh malang nasibmu." Zhao Lu Yang menyentuh lukisan itu dengan hati-hati.Duan Xiao Jiao adalah putri bungsu Tetua Duan dan adik Jenderal Duan Xiao Tian, berbeda ibu. Jiao-Jiao adalah putri dari selir, tetapi karena dia satu-satunya putri Tetua Duan, dia dibesarkan di bawah nama Nyonya Di dan dianggap sebagai putri Di Manor Duan."Kau ini konyol atau bodoh. Kau bisa menjadi seorang permaisuri tetapi kau memilih berdiam diri dan memendam semuanya hingga menjadi dendam yang membawamu dalam kematian." Zhao Lu Yang mendesah pelan.Terdengar suara langkah kaki, pelan, mendekatinya dan berhenti di belakangnya. "Tuan Zhao, ada seseorang yang ingin menemui Anda." Seorang pelayan wanita melapor padanya."Siapa?" Zhao Lu Yang menyahut tanpa mengalihkan perhatiannya dari lukisan Duan Xiao Jiao."Dia seorang wanita berpakaian dan bercadar ungu." Pelayan wanita itu masih berdiri menunduk di belakangnya."Baiklah! Bawa dia kemari!" Zhao Lu Yang menyentuh dinding tempat lukisan Duan Xiao Jiao tergantung dan dinding berbalik menampilkan dinding di belakangnya yang merupakan sebuah lemari kayu besar.Pelayan wanita itu menatap lukisan sebelum menghilang di balik dinding seraya tersenyum sinis. Setelah lukisan benar-benar menghilang dan tidak nampak lagi, dia segera meninggalkan ruang belajar, kembali ke aula utama untuk menemui tamu yang dimaksudnya ."Nona, silakan!" Pelayan wanita itu mempersilakan wanita bercadar dan berpakaian serba ungu itu untuk menemui Zhao Lu Yang.Dia hanya mengangguk dan mengikuti seorang prajurit yang mengantarkannya hingga ke ruang belajar Zhao Lu Yang. Dia melirik pelayan wanita itu sekilas dan tersenyum tipis."Yu, kemarilah!" Pelayan wanita itu memanggil seorang pelayan kecil yang tengah membantu seorang prajurit memindahkan sebuah pot."Iya Nona Hu!" Gadis kecil itu berlari dan mendekati wanita itu."Bantu aku menyiapkan makanan untuk Nona Wan!" Nona Hu, pelayan wanita itu memberi isyarat padanya untuk mengikutinya.Pelayan kecil itu mengikutinya. Mereka pergi ke bangunan utama kemudian menyeberangi taman dan menuju sebuah halaman kecil. Dengan hati-hati keduanya memasuki halaman dan menemui seorang wanita yang tengah duduk di tepi kolam ikan."Ada kabar apa?" Wanita itu bertanya tanpa menoleh seperti sudah tahu siapa yang baru saja datang."Ada Tetua Oey dari Sekte Lotus Hitam." Nona Hu melapor dengan hati-hati."Yu, pergilah ke Wisma Lonceng Naga." Wanita cantik itu berkata pelan pada gadis kecil itu."Baik Nona!" Tanpa bertanya lagi, gadis kecil itu berlari menuju halaman belakang kemudian berlari membuka pintu gerbang kayu dan berjalan dengan santai di sepanjang lorong sempit di bagian belakang Manor Zhao.Di ujung jalan ada sebuah kereta kuda. Seorang kusir kereta yang sedang duduk santai segera melambaikan tangan padanya."Ayo ke Wisma Lonceng Naga di Danau Hu!" Gadis kecil itu memerintahkan pada sang kusir.Tanpa banyak bertanya kusir kereta membantu gadis kecil itu naik ke dalam kereta dan bergegas memacu kudanya. Kereta kuda berjalan santai menelusuri jalanan di Tanah Bebas menuju Danau Hu.Sementara itu di ruang kerjanya, Zhao Lu Yang berbincang-bincang dengan tamunya. Dia Ketua Oey dari Sekte Lotus Hitam. Wanita bercadar itu berdiri di depan meja kerja Zhao Lu Yang."Apa yang membuat Ketua Oey menemuiku? Ini suatu kehormatan bagiku." Zhao Lu Yang berdiri dan menyambut wanita bergaun ungu itu dengan senyum lebar."Anda berlebihan Tuan Zhao." Ketua Oey tersenyum tipis di balik cadar ungunya."Tentu tidak! Apakah ada sesuatu yang Sekte Lotus Hitam inginkan dariku?" Zhao Lu Yang tersenyum dan tidak lagi berbasa-basi."Seperti yang Anda tahu, kami mengalami kekalahan saat menyerang Wisma Nyonya Ning. Kami tidak menyangka akan bertemu dengan Pasukan Mo Yu dan bahkan menyaksikan kebangkitan Ao Yu Long." Ketua Oey menjeda ucapannya sebentar."Wisma Ning adalah tempat yang strategis di Dataran Tengah. Satu-satunya daerah yang memiliki tanah yang subur dan juga tepat berada di jalur utama lalu lintas perdagangan dari Utara dan Tanah Bebas," lanjutnya dengan tegas."Lalu apa yang Lotus Hitam inginkan dariku berkenaan dengan Wisma Nyonya Ning?" Zhao Lu Yang, yang sedari tadi mendengarkan ucapan Ketua Oey kini menatap serius."Kami tidak mungkin mendapatkan kembali Wisma Nyonya Ning karena meski Ao Yu Long dan Pasukan Mo Yu sudah tidak di sana lagi, ada Klan Tang yang bergabung dengan Nyonya Ning. Sebagai gantinya kami menginginkan Wisma Lonceng Naga." Ketua Oey tersenyum tipis dan menatap Zhao Lu Yang dengan mata indahnya yang mengintip dari celah cadarnya."Anda bercanda, Ketua Oey!" Zhao Lu Yang terkekeh dan kembali duduk di kursinya.Ditatapnya wanita di hadapannya lekat-lekat. Sekte Lotus Hitam merupakan salah satu kekuatan di Dataran Tengah yang sulit ditaklukkan. Selama beberapa dekade mereka berpindah-pindah tempat dan hampir tidak terdeteksi keberadaannya.Kini tiba-tiba saja salah satu Ketuanya menemui Zhao Lu Yang. Tidak ada hal yang dapat membawa Tetua Oey berjalan-jalan hingga ke Tanah Bebas jika bukan karena suatu kepentingan. Namun permintaannya mengenai Wisma Lonceng Naga itu diluar perkiraan Zhao Lu Yang."Tentu aku sedang tidak bercanda, Tuan Zhao. Kami menawarkan bantuan padamu. Bisa kau bayangkan jika Jenderal Duan kembali ke ibukota Kaili, dibantu Sekte Keabadian, Sekte Elang Emas dan Sekte Sembilan Pintu Kematian. Kau pasti kalah!" Suara Ketua Oey tidak lagi terdengar lembut dan ramah, tegas tanpa keraguan. Bola matanya yang sekelam malam menatap tajam Zhao Lu Yang."Kami hanya menginginkan Wisma Lonceng Naga, hanya itu. Dan kami akan membantumu menaklukkan Kaili sekaligus Dataran Tengah. Bukankah itu impianmu sedari kecil?" Ketua Oey kembali memprovokasi Zhao Lu Yang."Kenapa Anda begitu percaya diri? Lotus Hitam memang sangat kuat tetapi jika berhadapan dengan Pasukan Jenderal Duan dan tiga sekte sekaligus, sekali pun bergabung denganku, itu tidak akan menjamin sebuah kemenangan." Zhao Lu Yang menatap Ketua Oey dan tersenyum tipis."Trik dan strategi, itu yang kami tawarkan. Jangan biarkan ketiga sekte itu memiliki kesempatan untuk bergabung apalagi membantu Kaili, maka mereka semua akan berantakan dan kacau balau. Bukankah kau sudah melihat hasilnya tiga belas tahun lalu?" Ketua Oey memperdengarkan suaranya yang lembut."Anda benar!" Zhao Lu Yang menganggukkan kepalanya.Tiga belas tahun lalu, saat pemberontakan muncul di Kaili, ketiga sekte, tengah disibukkan dengan urusan internal masing-masing. Ada banyak mata-mata yang menyusup ke dalam sekte dan menimbulkan kekacauan.Diva PoVTiga hari. Sudah tiga hari aku memata-matai apartemen Samira untuk mengetahui apakah Liam di sana. Apa saja yang mereka lakukan? Aku bodoh, harusnya aku mendobrak pintu rumahnya dan mencari suamiku. Aku benar-benar akan gila!! Hatiku terasa tidak pernah tenang setelah tahu semua kebenaran itu. Walau aku masih berstatus istri Liam, tetapi hati dan pikiran Liam sekarang hanya untuk Samira dan juga anaknya. Beberapa kali aku melihat tetangga berbisik-bisik sambil melihatku dengan wajah sinis, tapi ada juga yang bersimpati padaku. Entah apa yang mereka pikirkan.Liam, apa kamu tahu kondisi lingkungan kita sekarang? Semua orang tengah bergosip tentang kita dan Samira. Nanti, setelah sembilan bulan anaknya lahir. Apakah kamu akan menjadi sosok ayah yang akan selalu berada di sampingnya ?Tuhan, hatiku hancur membayangkan itu."Diva." Suara di belakang membuatku kaget, saat aku menoleh wanita itu tersenyum. Tetangga lantai atas. Kami sering berpapasan di lift. "Wajahmu pucat sekali
POV: DivaWaktu masih kecil aku tidak punya alasan untuk merenungi kehidupanku yang tidak mempunyai saudara kandung. Aku anak tunggal yang tidak kekurangan kasih sayang ibu dan ayahku.Tetapi semua berbeda ketika Ayahku berselingkuh dan ibuku menjadi depresi. Aku tidak punya siapa pun untuk diajak berbagi.Setelah kepergian ibuku, tidak ada siapapun yang memperingatkanku tentang pesta dan laki-laki, hingga aku kehilangan arah. Sampai aku bertemu si tampan Liam dan ternyata dia sudah mempunyai istri. Segala terjadi begitu cepat---akhirnya aku dan Liam menikah. Tapi aku belum juga hamil."Aku membencimu, Liam," ucapku, sambil berusaha membuat suaraku tidak gemetar. "Kamu pria brengsek yang pernah aku temui.""Tenang, Diva." Jawab Liam mendekat. "Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki keadaan kita.""Gak. Kamu mempermainkan aku!" Teriakku melemparnya dengan bantal di atas ranjang. Kamar ini menjadi ruang neraka yang kutinggali.Kamar ini tempat kami saling berbagi cerita dan perasaan, t
POV : Diva"Kalian lucu sekali. Diva hanya mempertanyakan apa yang menjadi hakknya."Tangan Rayhard yang sedang memegang sendok dan hampir memasukkan makanan ke mulutnya berhenti. Lalu ia menatapku. Kakak Liam itu belum pernah membelaku, yang aku tahu dia membenciku. Wajah marah ibu mertuaku terpampang di sana. Mereka semua terlihat tidak nafsu lagi menikmati makanan, kecuali Samira."Bilang saja kamu iri dengan Samira, kan? Kamu belum bisa hamil anak Liam sedangkan Samira telah mengandung." Ucap Ibu mertuaku penuh kedengkian. "Maaf Mam, aku sama sekali gak iri. Dan lagi, Liam ini suamiku. Jelas aku gak terima dia hamil anak Liam." Aku memberanikan diri menatap mata wanita tua itu. Bisa-bisanya dia bilang aku iri. "Sudahlah Diva, kamu jangan menyudutkan Samira terus. Kasihan kan anak di perutnya." Ucapnya lagi, aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran ibu mertua hingga terus membela Samira. "Jawab pertanyaan Diva, Liam. Tunjukkan kalau kamu laki-laki." Terdengar suara Rayhard pe
Di sebuah rumah besar mewah, terdapat seorang wanita yang sedang berjalan tergesa-gesa sambil menenteng dua kresek plastik hitam berisi belanjaan. Terdengar suara gelak tawa di ruang tengah. Seorang pelayan hanya melewati wanita itu tanpa berniat membantunya mengambil dua plastik besar itu dari tangannya."Kenapa kamu lama sekali belanjanya? Kamu kan tahu ini jam makan malam dan semua belanjaan yang kamu beli akan dimasak sekarang," ucap seorang wanita tua memarahinya. Ia meletakkan belanjaannya di atas meja bersiap untuk membereskannya. "Maaf Mam, jalanan tadi macet.""Astaga. Apa yang kamu katakan? Aku tadi menelponmu menjelang sore. Apa sejauh itu mall dari rumahmu hingga berjam-jam kamu menghabiskan waktu?""Maafkan aku, Mam." Ucap wanita yang berkuncir kuda itu. "Aku akan memasak SOP buntut spesial untuk makan malam nanti.""Sop buntut katamu? Kami lihat jam, kamu pikir perut kami masih bisa menunggu masakan kamu itu?" Cecarnya. "Kalau kamu gak ada niat masak untuk makan malam
POV DivaBerhari-hari aku menghabiskan waktuku di kamar sambil memegang ponselku. Menunggu Liam mengabariku, aku masih berharap dia menanyakan keadaanku.Ya, penantian yang tidak ada ujungnya dan terlalu berharap akan membawa seseorang menuju keterpurukan. Begitu saja tanganku membanting ponsel yang t
POV : DivaAku sempat terpaku melihat wanita bergaun kimono masuk ke dalam lift yang sama denganku. Wanita jalang yang sedang mencoba menghancurkan pernikahanku sekarang berada di ruang yang sama denganku. Dia memakai gaun kimono yang aku tebak untuk menutupi perutnya yang mulai buncit."Kenapa kaget?
POV: DivaSelama beberapa hari aku merasa gelisah. Liam belum pernah pulang setelah berita pria itu di semua media. Apakah sekarang Liam telah tinggal bersama Samira? Banyak pertanyaan di kepalaku.Jika terjadi sesuatu pada pernikahanku, aku juga akan kehilangan semangat hidupku lagi. Aku tidak mengir
"Saya berjanji akan melakukan tugas saya sebagai pemimpin perusahaan dengan baik. Berkontribusi meningkatkan perekonomian perusahaan." Liam mengakhiri pidatonya lalu tersenyum kecil.Nama Liam Kavindra menjadi pembicaraan di manapun. Bahkan sebuah tabloid membuat artikel tentang rumah tangganya juga.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.