Mag-log in“Tidak ada yang pergi dari rumah ini!" Suara Rachel meninggi. Wanita itu menarik Ella mendekat, lalu memeluk bahunya erat seolah takut putrinya benar-benar akan pergi jika dilepaskan."Dia putriku," ucapnya lagi sambil menatap Ryan. "Dia tumbuh besar di rumah ini. Dan dia akan selalu diterima di sini kapan pun dia pulang.""Rachel! Dia sudah membuat kesalahan besar.""Lalu apa? Kau pikir selama hidup bersamamu aku selalu sempurna? Kau pikir dirimu juga begitu?"Ryan terdiam."Tidak, Ryan. Jika syarat tinggal di rumah ini adalah tidak pernah berbuat dosa, maka rumah ini sudah kosong sejak bertahun-tahun lalu." Pelukannya pada Ella semakin erat. "Dia memang melakukan kesalahan. Tapi, dia pulang. Bagaimana aku bisa menghukum anakku karena memilih pulang kepada keluarganya?"Ella perlahan melepaskan pelukan Rachel. "Mom, aku tidak-""Tidak apa?" potong Rachel cepat. "Kau tidak masalah keluar dari rumah ini? Jadi kau ingin meninggalkanku?""Tidak, maksudku-""Baiklah." Rachel langsung meng
Mobil taksi itu perlahan menjauh dari halaman rumah. Ella tetap berdiri diam di sana. Angin bergerak menerbangkan sedikit rambutnya, sementara tangannya masih menggenggam gagang koper erat. Rumah itu masih sama. Namun dirinya datang kembali dengan keadaan yang benar-benar berbeda. Ella tidak membawa apa pun selain kabar yang akan menghancurkan banyak orang di dalam rumah ini. Dan lebih buruknya lagi, ia bahkan tidak menyiapkan pembelaan apa pun untuk dirinya sendiri. Kecuali satu kalimat, maaf. Sesak terasa memenuhi rongga dadanya. Sebelum akhirnya ia menarik koper besarnya, lalu berjalan memasuki rumah. Begitu di depan pintu yang tertutup rapat, Ella berhenti. Tangannya terangkat ke bel. Ting tong ...! Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari l
*** Suara pengumuman penerbangan terus bersahutan, bercampur dengan derit koper dan langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang memenuhi area kedatangan internasional. Matahari pagi sudah masuk menembus dinding kaca besar bandara. Jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi, namun suasana telah sibuk sejak tadi. Seorang wanita berjalan keluar dengan lesu. Mantel panjang membungkus tubuhnya, sementara satu tangan menarik koper besar di sampingnya. Wajahnya tampak lelah setelah penerbangan lebih dari dua puluh jam. Langkahnya perlahan melambat saat matanya menangkap tulisan besar. WELCOME TO MELBOURNE Ia mengembuskan napas panjang. "Sudah lama rasanya ..." gumam Ella. Lalu dirinya memilih naik taksi untuk kembali ke rumah. Mobil itu pun perlahan melaju meninggalkan bandara. Ella menyandarkan kepalanya ke kursi, matanya diam menatap keluar jendela mobil. Namun, pikirannya kembali pada kejadian terakhir di Milan. Saat itu ... Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama s
Sebuah mobil terparkir di depan rumah Chloe, dalam keadaan mesin dan lampu yang telah dimatikan.Di dalam mobil, Francesco duduk diam di balik kemudi. Tangannya menggenggam ponsel yang menempel di telinga.Tuuuttt ...!Tuuuttt ...!"Keluar. Aku di depan," ucapnya singkat saat panggilan tersambung.Panggilan itu langsung diputus. Ponselnya dilempar begitu saja ke atas dashboard.Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.Chloe keluar.Ia melangkah pelan, matanya bergerak cepat ke kanan dan kiri. Sesaat, ia menoleh ke belakang hanya untuk mengamati jendela-jendela rumah yang gelap, memastikan tidak ada yang memperhatikan.Setelah itu, langkahnya dipercepat.Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang di samping Francesco. "Mau apa kau ke sini?!" ucapnya tajam, tanpa basa-basi."Kita masih memiliki urusan! Jangan berpura-pura lupa.""Apa? Urusan?"
*** Sunyi memenuhi apartemen. Ella tertidur di pinggir ranjang, wajahnya masih basah, mata sembap, pipinya memerah. Ia baru terlelap beberapa menit setelah lama bergulat dengan pikirannya sendiri. Bahkan dalam tidur, napasnya masih tersendat. Beep ...! Beep ...! Seseorang tengah memasukkan sandi. Ella langsung membuka mata. Ya sebut saja tidurnya bukanlah tidur. Otaknya masih siap siaga jadi suara sekecil apa pun bisa membangunkan. Wanita itu segera bangun. Keluar kamar dengan langkah cepat. Begitu pintu kamar terbuka, Alexander berdiri di sana sedang menutup pintu depan. Mata Ella langsung berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, tapi tetap memaksakan senyum. Tanpa pikir panjang, ia berlari. Tubuhnya langsung menabrak pria itu, memeluknya erat. Tangannya mencengkeram pakaian Alexander seolah takut kehilangan. "Aku tahu kau akan kembali ..." suaranya bergetar di antara isakan. "Kau tidak akan meninggalkanku. Kau selalu kembali menemuiku. Aku percaya." Alexander sedikit mengangka
Mesin mobil meraung saat dirinya menginjak pedal gas lebih dalam.Lampu-lampu kota berubah menjadi garis-garis kabur di kaca depan. Tangannya mencengkeram setir begitu erat, rahangnya mengeras, dan napasnya tak beraturan. Namun, perjalanan itu tidak memilki tujuan jelas. Kepalanya seperti mau pecah. Bayangan Ella berdiri di hadapannya dengan mata berair dan suara yang memintanya tetap tinggal, semua itu berputar tanpa henti. Dan jangan lupakan dua garis merah itu. Benda terkutuk!"Sialan!" bentaknya tiba-tiba.Tangannya membanting setir."Arrgghh!"Teriakan kasar itu meledak bersamaan dengan decitan ban. Mobil berbelok tajam sebelum akhirnya berhenti miring di tepi jalan.Dada Alexander naik turun tak beraturan. Tangannya masih mencengkeram setir kuat, bahkan lebih kuat. Mungkin sebentar lagi akan rusak olehnya. BRAK ...!Telapak tangannya menghantam setir, membuat klakson berbunyi
"Itu narkoba, bukan?" tanya Ella, takut."Tentu saja bukan," balas Alice sambil tersenyum tipis. "Aku seorang musisi terkenal. Jika tersandung skandal narkoba, karierku bisa runtuh. Percayalah padaku." Alice semakin memaksa, serbuk itu nyaris menyentuh hidung Ella. "Ayo, dicoba.""Tidak. Aku ... ti
"Memang Alexander tidak pernah menceritakan apa pun padamu?" tanya Ella balik, berbalik menatap Alice."Tidak. Kami itu tidak dekat. Maka dari itu, kau saja yang cerita."Ella menghela napas, beranjak melewati Alice. "Kalau dia tidak bercerita, aku juga tidak.""Ayolah, sedikit saja," bujuk Alice s
"Tentu, aku ingat. Kita sudah beberapa kali bertemu tanpa sengaja," ucap Ella, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis."Benar. Rasanya terlalu kebetulan, sampai-sampai sulit dipercaya.""Apa kamu sendirian?" "Iya. Hanya ingin melihat langit.""Aku juga. Kalau begitu, duduklah. Kursi ini masih k
"Itu sudah keputusan akhir," kata Gianna tegas.Ella diam beberapa detik, sebelum bibirnya dipaksakan terangkat. "Iya, tidak apa-apa. Aku turut senang siapa pun yang menggantikanku. Semoga pementasannya berjalan lancar." "Terima kasih. Ah, sebenarnya ini sangat disayangkan. Aku







