เข้าสู่ระบบ“Mas?” ulang Leo dengan tersenyum, panggilan itu terasa menggelitik hatinya, seakan ada yang menari-nari di sana. “G-gak boleh ya?” tanya Aurora tercekat. “Sangat boleh, Sayang.”Leo mencondongkan wajahnya sampai ke telinga Aurora. “Aku mencintaimu,” bisik Leo tak lama sedikit menjauh dari Aurora. Tubuh Aurora menegang, matanya tak berkedip, mulutnya terbuka. Namun, tidak ada suara yang keluar dari sana. “Mungkin ini terlambat, tapi aku nyaman denganmu, Aurora. Hatiku kembali merasakan cinta ketika bersamamu, sebelum menyadarinya, aku terus menyangkal perasaan itu. Tapi makin ke sini, aku sadar jika semua itu adalah perasaan cinta yang aku sendiri tidak tahu pasti kapan perasaan itu datang,” jelas Leo dengan serius.Mata Aurora berkedip-kedip, mencoba mencerna perkataan Leo yang baginya masih terdengar mimpi. Leo mencintai dirinya? Ia tidak salah dengar, kan? “Kamu masih belum yakin?” tanya Leo menyadarkan Aurora dari sibuknya dengan pemikirannya sendiri. Aurora tersenyum, ia
Leo membawa Aurora ke apartemen lagi, ia memeluk Aurora dari belakang dan menciumi leher gadis itu dengan mesra.“Aku semakin yakin dengan kamu,” bisik Leo dengan tersenyum.Kedua alis Aurora terangkat, ia melirik Leo dari samping. Dan mengelus tangan kekar Leo yang ada di perutnya.“Yakin gimana maksudnya?” tanya Aurora bingung.Aurora memejamkan mata, kecupan Leo di lehernya menimbulkan rasa hangat, geli, dan deg-degan seperti biasa. Tidak ada yang berubah, hanya saja ia jauh lebih santai dan sangat menerima sentuhan Leo di seluruh tubuhnya.Leo melepaskan pelukannya, menarik Aurora perlahan agar menghadap ke arahnya. “Menjadikanmu istriku, Sayang. Kamu perhatian dengan Shopia. Aku yakin kamu bisa menjadi ibu yang baik untuknya walaupun usia kalian sama,” jawab Leo serius.Aurora menahan napasnya, ia tampak berpikir dan membayangkan jika ia menikah dengan Leo dan menjadi ibu sambung untuk Shopia. Terkesan aneh, tetapi permintaan Leo tidak bisa ia abaikan. Aurora juga menginginkan ha
Aurora membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya remuk redam karena melayani Leo semalam. Suara gemericik air menandakan jika Leo sedang berada di dalam kamar mandi, ia menatap sekeliling kamar ini.Tidak ada lagi foto Emma. Hanya foto Leo yang terpampang di dinding.Kapan Leo melepaskan foto-foto Emma? Sebab, semalam ia masih melihat foto Emma terpajang dengan rapi.Ceklek…Suara pintu terbuka mengalihkan atensi Aurora. Gadis itu menelan ludahnya dengan kasar melihat Leo hanya menggunakan handuk dari pusar sampai lutut saja, air menetes ke dada pria itu menambah kegantengan Leo berkali-kali lipat.“Sudah bangun, Sayang. Cepat mandi sebelum Shopia menyadari kamu di kamar ini,” ujar Leo berjalan mendekat ke arah Aurora.“Iya, Om. Aku akan mandi sekarang. Tapi pakaianku.”“Sudah aku bawakan itu di atas sofa, Sayang. Jangan khawatir.”Cup…Leo mengecup dahi Aurora dengan lembut. “Bisa berjalan, kan?”“Bisa kok. Cuma pegel aja, ini aku mau mandi kamu awas dulu jangan dekat-dekat aku,” gu
“Iya, Sayang.”Aurora mengelus rambut Leo dengan lembut, pria itu merasa nyaman diperlakukan dengan manja oleh Aurora.Leo meletakkan kepalanya di pundak Aurora, tangannya menyentuh kancing baju Aurora dan membukanya dengan perlahan.“Kamu mau apa?” tanya Aurora mencegah tangan Leo.“Sebentar saja. Tidak lebih dari ini, Sayang,” ucap Leo memelas.“Janji?”“Iya, Sayang.”Aurora gugup ketika Leo membuka satu persatu kancing bajunya. “Jangan diliatin kayak gitu,” tegur Aurora tercekat dengan pipi yang memanas.Leo tersenyum, tangannya mulai meremas benda kenyal favoritnya yang semakin bertambah ukuran.Mengeluarkan payudara itu dari satu-satunya penutup hingga terpampang jelas di hadapanmu. Leo mendekatkan mulutnya, menghisap bagaikan bayi yang kehausan. Tangan yang satunya tidak ia biarkan diam, meremas dengan gemas hingga Aurora harus menahan suara lenguhannya.“Eugh… Sayang pelan-pelan,” pinta Aurora menggigit bibir bawahnya.Rasa geli ia rasakan, Aurora menutup mulutnya dengan tanga
Shopia jatuh terduduk ketika Emma mendorongnya dengan kasar. Emosi Leo kembali memuncak, ia ingin mengejar Emma dan memberikan pelajaran tetapi tangannya ditahan oleh Aurora. Gadis itu memberikan kode untuk fokus ke Shopia yang paling terluka.“Sialan wanita tidak tahu diri itu!” umpat Leo dengan kasar.Jika tidak mengingat Emma adalah ibu dari Shopia, maka ia sudah menghajar Emma sekarang juga tidak peduli jika dia adalah seorang perempuan.Leo berjongkok di hadapan anaknya, menatap Shopia dengan sangat khawatir. “Sayang, maafkan Papa ya. Keluarga kita harus hancur. Kamu tidak apa-apa kan kalau ikut Papa?” tanya Leo dengan pelan. Ia tahu semua kata-katanya sangat melukai Shopia. Tetapi ia tidak bisa lagi mempertahankan pernikahannya dengan Emma, lebih baik berpisah daripada terus melukai hati masing-masing. Shopia tersenyum miris. “Hubungan kalian tidak bisa diperbaiki ya, Pa?” tanya Shopia dengan tatapan kosongnya. “Tidak, Sayang. Papa dan Mama sudah memiliki jalan masing-masin
Aurora menenangkan Shopia yang menangis dengan cara memeluknya, ia tidak menyangka acara makan malam yang tadinya penuh canda tawa, kini berubah mengkhawatirkan.Benarkah Emma selingkuh?Ia melirik Leo, pria itu juga tampak emosi. Ia merasa iba dengan semua yang terjadi.Apakah Leo cemburu melihat Emma mesra dengan pria lain?Tentu saja cemburu sebab Emma adalah istrinya, tetapi mengapa Aurora merasa sakit?“Kita pulang!” ucap Leo dingin.Ia melangkah dengan tegas, ekspresinya datar dan sangat dingin. Sedangkan Shopia masih syok dan menangis di pelukan Aurora. Tidak pernah terbayang di hidupnya jika ia akan memergoki Mamanya sendiri berselingkuh.“Shopia, kamu gak apa-apa, kan?”“Ketakutanku selama ini terjadi, Aurora. Papa pasti sakit hati, mereka akan bercerai,” gumam Shopia terguncang.“Sstt… Jangan berpikir macam-macam. Mereka hanya sedang emosi,” ujar Aurora menenangkan sahabatnya.Shopia tertawa miris, ia menatap punggung Papanya yang tegap. Shopia berlari ke arah Leo dan memel







