LOGIN“Ahhh... bodoh!”Reya segera menggeleng cepat, berusaha mengusir semua pikiran yang kembali berputar di kepalanya. Wajahnya yang semula memerah langsung ia sembunyikan di balik kedua telapak tangan.“Kenapa aku malah memikirkan pria menyebalkan itu?” gumam Reya kesal sambil menarik handuk cepat dan keluar dari kamar mandi.Tanpa menunda Reya langsung mengganti piyama tadi, namun rasa geli karena cumbuan barusan membuatnya langsung menarik napas panjang, dan seketika menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas ranjang.“Sudahlah jangan sang3 mulu. Besok kau harus bekerja.” Lirih Reya pada dirinya sendiri dan langsung menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, memejamkan mata, lalu berusaha memaksa pikirannya untuk berhenti bekerja.Tidak lama kemudian, rasa lelah akhirnya mengalahkan kegelisahan wanita itu.....Keesokan harinya...Reya bangun dengan tergesa-gesa.“Hah?! Astaga, aku terlambat!” Reya langsung melompat dari ranjang.Dalam waktu singkat, wanita itu sudah selesai mandi, mengenakan
Reya langsung menoleh.“Felix, apa maksudmu?”Senyum pria itu semakin lebar, sambil satu tangan pria itu bergerak lembut meraba perut Reya perlahan. Jemarinya berhenti di sekitar pusar, memijatnya dengan gerakan ringan lalu memainkan jari manisnya, tapi tanpa persetujuan...Jari-jari Felix menyusup ke dalam celana dalam renda Reya yang membuat Felix menggoda, "Seleramu ternyata begini..."Reya spontan menggeliat karena geli tapi tak bisa melepaskan diri karena pria itu menahannya, sambil kedua kaki Felix menahan kedua kaki Reya.“Mhh... Felix...” Desah Reya begitu jari Felix memainkan lembut klitorisnya hingga cairan lubrikasi membasahi tangan Felix, dan Reya semakin mendesah setiap gerakan liar Felix memainkan titik kelemahannya.Felix sendiri menatap ekspresi Reya dengan wajah penuh kepuasan, dua jarinya kini menusuk masuk g.spot v4gina Reya dengan lembut tapi semakin lama semakin liar, yang membuat Reya semakin tak berdaya, bahkan karena gerakan tubuhnya tt nya menempel empuk di da
“Kau tahu tugasmu sekarang apa?” Felix menatap Reon lekat-lekat.Reon langsung menundukkan kepala.“Dipahami, Tuan.” Ucap Reon tegas.“Jangan sampai dia sadar kalau kita sudah mengetahui identitasnya.” Tambah Felix dengan mata tetap tajam menatap orang kepercayaannya itu.“Baik, Tuan.” Balas Reon bergegas.“Dan satu lagi.” Potong Felix tegas. Reon seketika berhenti di ambang pintu, memperhatikan Felix yang bersandar di kursinya.“Cari tahu apa dia ada hubungan lebih dalam dengan Reya? Tatapan Felix berubah dingin.“Karena aku tidak percaya semua ini hanya kebetulan.”Reon pun sekali lagi mengangguk, kali ini jauh lebih dalam.“Dipahami, Tuan.” Jelas Reon segera keluar.Begitu Reon pergi, Felix kembali sendirian. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam.Kemudian pandangan Felix beralih ke foto Agen 93 dan senyum sinis perlahan muncul di wajahnya.“Kalau begitu...” bisik Felix dengan wajah datar.“Siapa sebenarnya yang sedang memburu siapa?”Beberapa menit kemudian, Felix bangkit dari
“Ahhh... tidak mungkin...”Reon menggeleng pelan. Wajahnya yang semula santai berubah serius ketika sosok Dihyas perlahan menghilang di balik pintu.Ada sesuatu tentang wanita itu. Sesuatu yang terasa sangat familiar. Namun ingatan Reon seperti tertutup kabut.Reon hanya bisa menghela napas, lalu memutuskan untuk tidak memaksakan pikirannya.“Mustahil...” gumam pria mancung itu sekali lagi.Reon kemudian masuk ke dalam rumah....Malam harinya, ketika malam semakin larut.Rumah besar itu sudah jauh lebih tenang. Sebagian besar lampu telah dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari beberapa ruangan.Di ruang kerjanya, Reon masih duduk di depan meja.Laptop di hadapannya menampilkan berkas penyelidikan yang sejak beberapa hari terakhir ia kerjakan atas perintah pribadi Felix.Jari Reon bergerak perlahan di atas keyboard.Satu demi satu nama, transaksi, dan laporan lama kembali ia periksa.Sampai tiba-tiba....Reon berhenti dan seketika keningnya berkerut.“Sebentar...”Tatapan Reon langsu
“Tidak ada tapi-tapi.”Felix langsung meraih tangan Reya dengan lembut. Jari-jarinya kemudian meremas jemari Reya perlahan hingga terdengar bunyi kecil.“Krekkk.”Reya seketika melotot yang membuat Felix justru terkekeh melihat ekspresi terkejut itu.“Hanya peregangan,” jelas Felix santai. “Jangan menatapku seperti itu.”Reya mendengus sambil menarik tangannya, “Kau benar-benar suka membuatku kesal.” protes Reya tak terima.“Aku hanya memastikan tanganmu tidak kaku.” Balas Felix tersenyum kecil, lalu kembali menggenggam tangan Reya."Aku baik-baik saja..." Balas Reya tidak terima karena sebagai dokter ia paham tindakan itu hanya merusak tulang.Namun sesaat kemudian, Felix malah menunduk pelan sambil menahan bahu Reya pelan, "Maaf, aku hanya memastikan selanjutnya tanganmu lebih lincah meng0coknya..." Lirik Felix kearah bawa perutnya sendiri. Seketika...Mata Reya membesar, melihat barang gagah pria itu yang besar dan berotot kembali berontak membuat Reya tak habis, tapi sebelum wani
“REYA, AKU—” Suara Felix terhenti begitu saja.Wajah pria itu benar-benar memerah, bahkan hingga ke telinganya. Napasnya terdengar berat, sementara sorot matanya yang biasanya tajam perlahan berubah menjadi ekspresi malu. Beberapa detik ia hanya terdiam sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.Kemudian sebuah senyum penuh penyesalan muncul di sudut bibir Felix yang memerah karena ciuman gragas sedari tadi. “Aku...” Felix menundukkan wajahnya sebentar, lalu mengusap tengkuknya dengan canggung. “Sudah tidak tahan.”Degggg!Mata Reya langsung membulat.Baru sekarang wanita itu benar-benar memahami maksud perkataan Felix.“Felix!” pekik Reya panik.Tangan Reya spontan memukul bahu Felix cukup keras.“Felix, kauuu!” Reya menatapnya tidak percaya dengan wajah merah padam. “Kenapa bisa selemah ini?! Jangan sampai ada yang keluar di dalam. Aku bisa hamil!”Felix justru terdiam selama beberapa detik.Lalu, “Hahaha...” Tawa rendah pria itu pecah.Reya semakin melotot baru menyadari semua s
Felix menatapnya beberapa detik tanpa menjawab. Senyum tipis penuh godaan kembali muncul di bibir pria itu saat ia memperhatikan bagaimana Reya mulai gelisah di depannya.“Kau terlihat takut,” gumamnya rendah.“Aku serius!” Reya buru-buru mencoba bangkit, tetapi tangan Felix di rambutnya menahan le
Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan. Reya yang masih sibuk menarik ujung gaun hitam sepaha itu langsung menoleh tajam. Napasnya memburu penuh emosi saat melihat Felix berdiri santai di ambang pintu.Pria itu bersandar malas di sana dengan kedua tangan di saku celana. Kemeja hitamnya terbuka sedikit
Reya langsung panik menghampiri pria itu, tetapi Felix sudah keluar lebih dulu dari mobil dengan gerakan tenang yang justru terasa menakutkan. Wajah pria itu datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lampu jalan memantulkan sorot dingin di matanya yang gelap.Pria pejalan kaki tadi masih terduduk geme
Ternyata yang masuk adalah Direktur rumah sakit yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Seketika cengkeraman Felix mengendur. Reya memanfaatkan celah itu untuk berdiri cepat sambil menarik napas tajam. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara pipinya masih terasa panas karena kedek







