LOGINBegitu sampai di depan pintu ruangan Hugo, Reya menarik napas panjang.Tok. Tok.“Masuk.” Suara Hugo terdengar dari dalam.Reya segera membuka pintu, namun baru satu langkah memasuki ruangan, tubuhnya langsung berhenti.Mata Reya langsung membulat tajam.Di tengah ruangan, Lulu terlihat berlutut dengan kepala tertunduk, wajahnya pucat, sementara air mata mengalir membasahi kedua pipinya.Reya spontan menatap Hugo.Pria itu berdiri di belakang meja dengan ekspresi yang berbeda dari sosok yang ia kenal beberapa hari ini. Pria itu bersikap dingin, keras, dan tanpa sedikit pun belas kasihan.“Duduklah.” Ucap Hugo pelan.Anehnya, ketika berbicara kepada Reya, suara Hugo justru berubah lembut.Reya masih terpaku, tatapannya kembali kepada Lulu. Ada rasa iba yang langsung muncul di wajahnya.“Apa yang terjadi?” tanya Reya pelan.Hugo tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, ia menatap Lulu dengan sorot mata tajam.“Kau sudah melanggar kontrak.” Suara Hugo terdengar rendah, tetapi setiap ka
Dihyas langsung membuka kembali komputer Reon dengan hati-hati dan tangannya bergerak begitu cepat. Beberapa file yang tadi sempat terlihat olehnya kembali muncul, Dihyas mengambil ponselnya.Klik.Satu foto.Klik.Foto kedua.Klik.Foto ketiga.Dihyas langsung menyimpan beberapa informasi penting sebelum menutup kembali seluruh dokumen dan mengembalikan tampilan komputer seperti semula, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.Tak lama kemudian pintu toilet terbuka, Reon kembali dengan wajah serius. Matanya langsung tertuju kepada Dihyas.“Kau tidak menyentuh apa pun, kan?”Dihyas memasang wajah polos.“Apa maksudmu?”“Komputer.” Balas Reon cepat.Dihyas seketika memiringkan kepalanya.“Aku?”Reon terus menatap Dihyas yang malah di balas oleh Dihyas dengan senyuman manis.“Kau keluar, ya?” Goda Dihyas menjilat pelan bawah bibirnya yang kering.“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Protes Reon kesal, tapi matanya malah memperhatikan bibir merah Dihyas yang menggoda.“Kenapa lama sekali di toilet
“APA YANG INGIN KAU LAKUKAN?” bentak Reon. Suara pria itu terdengar lebih keras daripada biasanya.Dihyas justru terdiam sejenak, kemudian sudut bibirnya terangkat perlahan.Senyum itu bukan senyum biasa.Ada sesuatu yang nakal di sana, sesuatu yang seolah sengaja dilemparkan untuk menguji batas kesabaran Reon.Dihyas menurunkan tangannya dari dagu pria itu, lalu menyandarkan tubuhnya santai di sisi meja sambil satu jarinya bermain lembut di belahan paha Reon.“Memangnya…” bisik Dihyas pelan, “apa yang kau harapkan aku lakukan?”Reon langsung menegang, tatapannya bertemu dengan mata Dihyas yang terlihat begitu tenang.“Tidak ada.”“Tidak ada?”“Ya.” Jawab Reon datar menahan tangan Dihyas.“Sayang sekali.” Dihyas tertawa kecil. Ia kemudian menarik kursi kosong di samping Reon dan duduk dengan santai sambil menyilangkan kaki hingga belahan roknya terlihat sampai ke paha.Lalu bukannya memberikan jarak, wanita itu justru memiringkan tubuhnya menghadap Reon, dan refleks Reon langsung meng
Felix masih berdiri di hadapan Reya. Tatapan cokelat pria itu tidak pernah beranjak sedikit pun dari wajah wanita tersebut.Perlahan, ujung jari Felix bergerak menyentuh liontin yang menggantung di leher Reya. Ia memainkan rantainya dengan gerakan nakal, sesekali menyentuh sisi leher Reya seolah sengaja menguji kesabarannya.Reya hanya menghela napas panjang.“Felix...” gumamnya malas.“Hm?” Lirih Felix.“Tidak perlu ada yang di bahas.”Felix seketika mengangkat satu alis.“Padahal aku baru mulai bicara.”“Aku tahu tatapanmu itu, kau tidak percaya padaku.” Reya hendak berbalik dan pergi.Namun baru satu langkah....“Tidak semudah itu.” Felix langsung meraih tangannya.Reya terkejut ketika pria itu menariknya kembali. Dalam satu gerakan cepat, Felix menahan pinggang Reya dan mendudukkannya di atas meja rias.“Felix!”“Diam sebentar.” Felix berdiri di antara kedua sisi tubuh Reya, kemudian merengkuhnya dengan santai.Wajah tampan Felix lalu mendekat, dan mulai mengecup pelan leher mulus
“APA YANG INGIN KAU LAKUKAN...” pekik Reya, suaranya meninggi ketika menyadari Felix sama sekali tidak berniat berhenti menggodanya.Apalagi tangan pria itu kini menyusup diantara lipatan belahan paha Reya sambil menggendongnya dengan begitu santai.“FELIX!” Reya refleks melingkarkan kedua tangannya pada bahu pria itu agar tidak terjatuh. Wajahnya langsung memerah ketika Felix membawanya keluar dari kamar mandi sambil menikmati pemberontakan Reya.“Turunkan aku!” Pekik Reya sekali lagi.“Tidak.” Jawab Felix singkat sambil menepuk p4ntat Reya yang kenyal.Jawaban singkat itu membuat Reya terdiam.Felix membawa Reya menuju kamar, lalu menurunkannya Reya langsung di lempar keatas kasur, lalu menindihnya dengan cepat. Reya langsung mendorong cepat tubuh Felix ke samping dengan kesal, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dan mendengus.“Kau benar-benar menyebalkan.”Felix justru tertawa kecil sambil menarik punggung Reya hingga kembali tubuh Reya terperangkap pria itu.Dan perlah
“Tapi ini....”Reya baru saja membuka mulut ketika Felix mengangkat satu alisnya.Tatapan pria itu berubah menjadi tatapan khas yang selalu membuat Reya merasa sedang berhadapan dengan seorang mafia yang bisa membuat satu ruangan mendadak membeku hanya dengan sekali pandang.Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda, senyumnya justru terlihat puas.“Tapi apa, Dokter?” gumam Felix rendah.Reya menelan ludah kasar...“Aku... maksudku...”Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Felix sudah menekan p3n1snya ke payvdra Reya dan memaju mundurkannya dengan pelan, seketika membuat Reya kehilangan kesempatan untuk melanjutkan protesnya.“Sudah,” bisik Felix santai dengan senyum tipis mengarahkan kedua tangan Reya memegang tt nya sendiri sambil menjepit b4tang kep3prkasaan Felix yang tegak dan besar. “Jangan terlalu banyak berpikir.” Lanjut Felix mendesah lirih.Reya melotot mencoba menahan diri, “Felix! Kau benar-benar maniak seks!”Pria itu hanya terkekeh pelan mendengar ungkapan Reya...“Ini mi
Ternyata yang masuk adalah Direktur rumah sakit yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Seketika cengkeraman Felix mengendur. Reya memanfaatkan celah itu untuk berdiri cepat sambil menarik napas tajam. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara pipinya masih terasa panas karena kedek
“Siapa yang harus ku obati?” tanya Reya datar.Ia lalu melihat seorang pria yang berdiri membelakang di sebuah ruangan. Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar dan otot padat. Kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan mata gelapnya tajam seperti binatang pemangsa.“Felix?” gumamnya memb
Felix menatapnya beberapa detik tanpa menjawab. Senyum tipis penuh godaan kembali muncul di bibir pria itu saat ia memperhatikan bagaimana Reya mulai gelisah di depannya.“Kau terlihat takut,” gumamnya rendah.“Aku serius!” Reya buru-buru mencoba bangkit, tetapi tangan Felix di rambutnya menahan le
Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan. Reya yang masih sibuk menarik ujung gaun hitam sepaha itu langsung menoleh tajam. Napasnya memburu penuh emosi saat melihat Felix berdiri santai di ambang pintu.Pria itu bersandar malas di sana dengan kedua tangan di saku celana. Kemeja hitamnya terbuka sedikit







