Share

Bab 5

Author: Viraadee
last update publish date: 2023-09-11 21:23:48

Hari ini Zafar mencoba membuat makanan sendiri di dapur. Zanira belum pulang dari kampus, sedangkan dia tidak ingin merepotkan ibunya.

Tanpa sengaja Zafar menjatuhkan panci di dapur dan membuat Jahama terkejut mendengarnya.

Perempuan itu lalu menuju ke dapur dan melihat Zafar di sana.

"Apa yang kau lakukan di sini Zafar?" Tanya Jahama.

"Emm, ibu, sebenarnya aku sangat lapar. Aku ingin membuat makanan–"

"Oh ya ampun, kenapa kau tidak meminta perempuan yang katanya adalah istrimu itu untuk membuatnya? Kenapa kau melakukan ini sendiri Zafar?" tanya Jahama merasa kesal pada Zafar dan tentu saja pada Tia.

Jahama pikir Tia benar-benar pemalas dan tidak bisa melayani suaminya dengan baik.

"Ibu, aku bisa membuatnya sendiri," kata Zafar membela diri.

"Bagaimana kau akan membuatnya kalau kau saja menjatuhkan panci tidak bersalah ini? Pergilah, biar aku yang memasaknya untukmu," kata Jahama mengusir Zafar dari dapur.

"Ayo pergilah, bicaralah pada ayahmu di depan," pinta Jahamaa lagi.

Zafar pun menuruti ibunya dan berbincang dengan Kamal di teras rumahnya.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Jahama untuk membuat makanan itu, sebentar saja makanan untuk Zafar pun sudah siap.

"Zafar, makananmu sudah siap, ayo makanlah," panggil Jahama.

"Iya ibu."

Zafar lalu menuju pada ibunya dan mengambil makanan darinya. "Terimakasih ibu," ucapnya.

Jahama hanya tersenyum.

"Zafar, kau ingin makan dimana?" tanyanya saat melihat putranya membawa makanya.

"Ibu aku ingin makan di kamar saja bersama Tia," jawabnya.

"Kenapa begitu? Apa istrimu itu menyuruhmu untuk memasak untuknya dan membawanya ke kamar? Pagi tadi kau menyuruh Zanira membuat sarapan untuknya, sekarang apa lagi?" tanya Jahama dengan nada tidak suka.

"Ibu, jangan bicara seperti itu, tolonglah Bu, apa ibu tidak melihat keadaan Tia saat ini?"

"Untuk apa aku peduli padanya? Dia istrimu tapi lihat, apa dia peduli padamu?"

"Sudah ibu, aku tidak ingin berdebat denganmu."

Seketika raut wajah Jahama menjadi sangat emosi mendengar itu. Zafar lalu mengantarkan makanan itu pada istrinya.

Tia yang benar-benar berada di titik terendahnya hanya berpikir bagaimana caranya keluar dari rumah Zafar dan mencari ibunya lalu membalaskan semua kejahatan ibu dan saudara tirinya.

Zafar meminta Tia untuk makan, tapi Tia menolaknya. Laki-laki itu dengan sabar membujuknya.

"Tia, aku memang bersalah, kau boleh membenciku. Tapi makanan ini bukanlah aku, dia dibuat oleh ibuku dengan penuh cinta, jadi kau harus memakannya. Setidaknya makan sedikit saja dan jangan marah padanya," tutur Zafar dengan lembut.

Tia meliriknya. "Apa kau tidak dengar apa yang sudah aku katakan? Jika kau tidak dengar, maka aku akan mengulanginya lagi bahwa aku tidak ingin memakannya," tegas Tia dengan keras kepala.

"Apa yang harus aku lakukan supaya kau mau makan? Aku hanya memintamu untuk memakan makanan ini Tia demi kesehatanmu, aku tidak memintamu untuk melayaniku sebagai istriku–"

"Apa maksudmu? Apa aku menganggap pernikahan ini? Apa aku terlihat mencintaimu Zafar?"

"Sekarang kau memang tidak mencintaiku, tapi suatu saat nanti tidak ada yang tahu jika cinta itu datang padamu," jawab Zafar dengan pasti.

Tia tidak percaya dengan itu. "Tidak akan," tolak Tia.

"Kau boleh membenciku Tia, tapi aku akan tetap mencintaimu."

"Dan aku akan tetap membencimu."

"Kita lihat saja biar Tuhan memilih cintaku atau kebencianmu."

Tia hanya mengabaikan Zafar. Semalaman dia berpikir keras bagaimana caranya pergi mencari ibunya kalau sekarang Tia sendiri bahkan tidak memiliki siapa-siapa.

Meskipun keinginan untuk memberikan pelajaran pada orang yang sudah membuatnya seperti ini sangat besar, tetap saja Tia tidak bisa dengan mudah melakukan itu kalau dirinya tidak memiliki apa-apa saat ini. Hanya Zafar yang ia punya, terima atau tidak terpaksa Tia harus tinggal dulu di rumah ini.

Tia pikir dia harus bisa membuat Zafar mengantarkannya pada pamannya supaya bisa mencari ibunya, setelah itu dia bisa bercerai dengan Zafar.

'Aku tidak akan melupakan luka yang kau berikan ini Izora, suatu saat kau akan mendapatkan hal yang sama seperti yang kau lakukan. Tunggu saja sampai aku kembali dan membalas semua ini,' pikir wanita itu hingga menjelang pagi dia baru bisa tidur.

***

"Ya Tuhan, ini sudah pagi, bahkan gadis itu belum bangun juga. Zafar benar-benar keterlaluan. Perempuan macam apa yang dia nikahi itu?" tanya Jahama mengomel sendiri sambil menyiapkan makanan di dapur.

Pagi ini Zanira juga membantu ibunya dan ingin segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus.

"Dengar Zanira, saat kau berada di rumah mertuamu nanti, kau tidak boleh bangun kesiangan dan tidak boleh menjadi pemalas," kata Jahama menasehati putrinya.

"Iya ibu, akan aku usahakan, tapi aku tidak akan secepat itu pergi ke rumah mertua, itu masih lama ibu."

"Masih lama atau tidak, aku tidak ingin kau menjadi menantu yang tidak berguna di rumah mertuamu nanti. Selama ini aku sudah mengajari semua hal padamu. Jangan sampai kau membuat mertuamu harus mengadu padaku bahwa kau menantu yang tidak baik."

"Iya ibu, sudahlah. Kenapa kau pagi-pagi harus membahas ini ibu?" kata Zanira sambil mangangkat makanannya.

"Hei apa kau tidak lihat perempuan yang sudah kakakmu bawa ke rumah ini? Perempuan macam apa dia? Bahkan sekarang pun belum ada tanda-tanda kalau dia sudah bangun."

"Ibuu, kenapa harus mempermasalahkan itu juga? Kakak ipar sedang tidak baik-baik saja ibu, apa ibu tidak melihat dia sedang terluka dan memiliki banyak masalah? Berikan dia waktu ibu, aku yakin kakak ipar pasti akan menjadi menantu yang baik."

"Jadi kau ikut membela wanita itu juga?"

"Bukan begitu ibu."

"Sudahlah, cepat siapkan makanannya!"

Jahama menjadi heran kenapa semua orang di rumah ini begitu memaklumi Tia?

Apa spesialnya wanita itu? Bahkan Jahama merasa tidak ada kebaikan yang Tia bawa ke dalam rumahnya.

"Lain kali akan aku beri dia pelajaran supaya tidak menganggap dirinya ratu di rumah ini," kata Jahama dengan geram.

Zafar sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi, dia terpaksa akan mencabut laporannya karena Tia.

Setelah itu dia akan mencari pekerjaan dan harus mendapatkannya.

"Zafar?" tanya Jahama saat mereka sarapan pagi.

"Kenapa kau tidak mematikan lampu kamarmu? Apa kau pikir kehidupan kita akan menjadi kaya setelah kau membawa gadis itu tinggal di rumah ini?"

"Ibuu, Tia tidak bisa tidur tanpa lampu ibu, jadi–"

"Jadi kau masih menyalakannya hingga sekarang?" tanya Jahama memotong jawaban Zafar.

"Sebentar lagi aku akan mematikannya ibu, lagipula ventilasi di kamarku sangat kecil dan cahaya matahari tidak bisa segera masuk, ibu tenang saja, aku akan segera memperbaikinya."

"Kau memang pandai berbicara, kalau begitu ajari istrimu itu untuk tidak menjadi pemalas di rumah ini. Dia pikir dia masih tinggal di istananya dan kami semua akan melayaninya?"

"Jahama, jaga bicaramu, jika Tia mendengar bagaimana?"

Kamal mencoba untuk mengingatkan Jahama untuk tidak bicara yang buruk pada Tia.

"Biarkan saja, memangnya kenapa kalau dia mendengarkannya? Apa aku mengatakan hal yang bohong tentangnya?"

Jahama justru meninggikan suaranya dengan maksud supaya Tia mendengar kalau dia tidak menyukainya.

Bersambung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 52

    Hari ini Tia dan Zafar menghadiri pernikahan saudara tirinya. Perempuan itu menggunakan gaun berwarna pink berpadukan warna biru muda yang sangat cantik.Tia tau bahwa ayahnya tidak akan mau bicara padanya atau sekedar menatapnya. Di tengah tengah pesta, Tia masih merasa tidak rela jika Fazwan menikah dengan perempuan lain. Tapi Tia tetap berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Saat ia sedang memperhatikan prosesi pernikahan saudara tirinya dengan mantan kekasihnya itu tiba tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.Tia lalu menoleh dan melihat perempuan cantik setengah tua sedang menatap wajahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Maaf, bibi kau–"Tia tidak meneruskan kata katanya. Perempuan di depannya ini menatapnya haru, Tia tidak mengerti ada apa dengannya?"Tia," ujar perempuan itu sekarang matanya sudah berlinang cairan bening, yah penuh dengan air mata yang membuat Tia semakin tidak mengerti. Perempuan itu lalu memeluk Tia dan menangis. Sedangkan Tia terdiam membeku di

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 51

    “DIAM.”Fazwan yang lebih percaya pada Izora pun ingin menampar Tia. Laki-laki itu sudah mengangkat tangannya dan Tia sangat terkejut.“Kau ingin menamparku Fazwan?” tanya Tia.Laki-laki itu mengurungkan niatnya dan tidak jadi menampar Tia. Dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.“Tampar saja aku Fazwan, kau juga memiliki kesempatan untuk menjadi seperti Izora dan ibunya, sekarang kau lebih mempercayainya kan? Kalau begitu lakukanlah hal yang sama seperti mereka agar kau puas. TAMPAR AKU DAN SAKITI AKU!” suruh Tia.Perempuan itu tidak ingin mennagis di depan Izora dan Fazwan, dia buru-buru menghapus air matanya dengan kasar saat air mata itu hendak jatuh.“Sakit sekali Fazwan, dia menamparku dengan sangat kencang. Aku tidak tahu kenapa dia setega itu padaku.” Lagi lagi Izora mencari perhatian lebih pada Fazwan dan ingin memanas manasi Tia.“Kau baik-baik saja Izora? Harusnya kau tidak pergi ke sini. Ayo kita pergi ke tempat lain saja, aku akan mengobatimu.”Mendengar itu hati Tia b

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 50

    “Jangan khawatir Tia, aku bahkan sudah menemukannya.”Zafar tidak pernah merasa sakit hati atas apa yang Tia katakan padanya. Walaupun Tia mengatakan dirinya tidak mencintainya dan menyuruhnya untuk berhenti mencintai wanita itu, Zafar tidak peduli.“Tidak ada yang kau dapatkan dari mencintaiku Zafar, kau mencintai orang yang sama sekali tidak memiliki cinta untukmu. Orang yang kau cintai hanya memiliki rasa sakit, kalau kau meneruskannya maka kau juga akan mendapatkan rasa sakit itu,” jelas Tia sambil menatap Zafar meyakinkan laki-laki di hadapannya ini.Zafar hanya tersenyum pada Tia.“Kenapa tidak Tia? Kalau aku bisa mengambil semua rasa sakitmu, aku akan sangat bahagia karena itu.”“Aku tidak memiliki cinta atau apapun itu Zafar, aku sudah membuang jauh-jauh rasa cinta yang aku miliki dan saat ini, aku hanya memiliki satu tujuan hidup yaitu bertemu dengan ibuku.”Setelah Tia menegaskan itu pada Zafar dia pun pergi meninggalkan kamarnya dan bersiap-siap untuk menyiapkan sarapan.Me

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 49

    “Aaaaaaa.” Tia berteriak dan membalikkan badannya dari Zafar.“Ada apa Tia? Apa yang kau lihat? Apa ada kecoa di kamar ini?” tanya Zafar tidak mengerti dan khawatir dengan teriakan Tia.Sedangkan wanita itu baru menyadari bahwa dirinya berteriak dan takut jika ayah mertuanya sampai mendengarnya. Tia berharap Kamal tidak mendengar teriakannya.“Ada apa Tia?” “Emm Zafar, kau ... kenapa kau tidak membenarkan kancing bajumu? Maksudku kenapa kau tidak merapikan bajumu di kamar mandi saja?” tanya Tia dan tentu saja itu membuat Zafar terheran.Jadi hanya karena hal itu, Tia hingga berteriak terkejut melihatnya yang baru akan membenarkan kancing bajunya. Zafar baru selesai mandi dan mengenakan bajunya di kamar, dia tidak tahu jika Tia akan masuk.Laki-laki itu hanya diam dan membenarkan kancing bajunya yang belum selesai ia benarkan.“Sudah Tia, jangan berteriak lagi.”“Aku tidak akan berteriak jika kau memakai bajumu dengan benar,” omel perempuan itu dengan kesal.Tia masih belum membalikka

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 48

    “Ibu cepatlah pulang, kenapa kau lama sekali di rumah bibi? Aku tidak bisa mengurus rumah sendiri tanpamu,” ujar Zanira saat pagi hari menghubungi ibunya yang belum pulang. Tia yang hendak ke dapur untuk membuat teh pun mendengarnya.“Iya iya, aku sudah melakukannya, ayah baik-baik saja jangan khawatir bu.”Setelah menghubungi Jahama, Zanira pun bergegas untuk membuat teh dan menyiapkan sarapan.Tia yang melihat adik iparnya hendak melakukan itu pun mencegahnya dan ingin supaya dirinya saja yang membuatnya.“Biar aku saja, kau harus pergi ke kampus kan?” tanya perempuan itu.“Hmm mm.” Zanira masih terlihat dingin dengan Tia setelah kejadian itu.“Emmm, tidak apa-apa biar aku saja yang membuatnya Zanira.”“Satu sendok gula untuk ayah mertua dan setengah sendok teh untuk Zafar?” tanya Tia lagi saat Zanira hendak pergi meninggalkannya.“Iya.”“Dan ... untukmu?” tanya Tia dengan sedikit ragu ingin membuat teh juga untuk Zanira.“Kau tidak perlu melayaniku, aku tidak minum teh di pagi har

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 47

    Tia membulatkan matanya, jantungnya berdetak kencang karena ketakutan yang wanita itu rasakan saat ini."Tia, apa yang kau lakukan di sini?" Suara yang terdengar tidak asing bagi Tia, dia pun menoleh pada suara dan Zafar lah yang berada di depannya."Zafar, laki-laki itu ... dia mengejarku, aku ... Aku tidak tahu darimana dia datang, tapi memaksaku untuk ikut dengannya, aku ... Aku mencoba melarikan diri darinya dan bersembunyi di sini."Tua menjelaskan semuanya pada Zafar masih dalam keadaan ketakutan. Dia takut orang jahat itu masih berada di sekitar sini dan akan menemukan dirinya. Zafar tidak mengerti apa yang Tia katakan, tapi dia merasa khawatir saat melihat Tia ketakutan seperti ini.Zafar mengajak Tia duduk di sebuah kursi dibawah pohon. "Ada apa Tia? Siapa laki-laki yang kau maksud? Apa dia melukaimu?" tanyanya."Aku tidak tahu Zafar, tapi dia menarik tanganku dan memaksaku untuk ikut dengannya.""Tenang Tua, kau bersamaku, dia tidak akan melukaimu."Zafar mencoba untuk m

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 14

    “Kau tidak perlu memberikan apa yang menjadi milikmu kepada Tia, Zanira,” tutur Zafar yang mengejutkan kedua wanita yang sedang bicara di kamarnya.“Tapi kenapa kak? Aku memberikannya dengan tulus untuknya.” Zanira tidak mengerti kenapa kakaknya melarangnya.Zafar pun mendekati adik kesayangannya itu

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 16

    "Wah bagus sekali Zafar. Kau dan Tia memang pasangan yang serasi. Dari caramu membelanya itu sudah menunjukkan status sosialnya yang sekarang. Rendahan!"Fazwan masih mencemooh lagi dan tidak takut kepada Zafar. Saat Zafar ingin membalas sikap Fazwan, Tia melarangnya dan menghentikan Zafar.Wanita itu

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 13

    Zafar tidak ingin Tia bersedih. Dia lalu meninggalkan makanannya dan menyusul wanita itu ke kamar."Hei Zafar habiskan dulu makananmu!" suruh Jahama melarang Zafar pergi."Aku sudah tidak lapar lagi ibu," jawab laki-laki itu.Kamal yang melihat itu menjadi tidak enak dengan Tia. "Semua ini karena kau b

  • Terpaksa Menikahi Pelayan   Bab 12

    "Kenapa kau selalu memaksaku, melarangku, dan menceramahiku? Apa kau memiliki masalah dalam hidupmu?" "Aaaww, aduuuh." "Zafar ada apa denganmu?" Tia benar-benar terkejut saat tiba-tiba Zafar berteriak dan memegang jarinya."Sepertinya jariku terpotong," jujur Zafar.Tia sedikit cemas lalu memperhatika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status