Share

105. Hadiah Kecil

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 21:58:47

**

Audi hitam yang dikemudikan Felix melambat sebelum akhirnya berbelok ke halaman sebuah restoran mewah di tepi pelabuhan pantai San Diego. Bangunan berlantai dua itu berdiri anggun menghadap laut lepas, dengan dinding kaca besar yang memantulkan warna jingga matahari senja. Lampu-lampu temaram mulai menyala, menciptakan suasana hangat dan eksklusif. Bella bahkan tidak tahu ada tempat sebagus ini di kotanya. Ia sama sekali belum pernah melihat.

“Felix, kenapa kita ke sini?” suara Bella bertanya dengan bergetar, kepanikan masih jelas tergambar di wajahnya.

Mobil berhenti sempurna. Felix segera turun dan berjalan mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Bella dengan sikap sopan seperti biasa. “Silakan turun, Nyonya,” katanya sembari sedikit menunduk. “Tuan sudah menunggu di dalam.”

Bella tertegun mendengar itu. “Giovanni … ada di sini?”

Felix mengangguk dengan senyum tipis namun meyakinkan. Rasa lega seketika menyusup ke dada Bella, mengusir sebagian besar ketakutan yang sejak tadi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   107. Firasat

    **Pagi di San Diego datang dengan cahaya lembut yang menyusup melalui celah tirai kamar. Sinar matahari memantul di dinding berwarna krem, menebarkan kehangatan yang menenangkan. Aroma kopi segar dan roti panggang perlahan merayap ke dalam ruangan, mendahului sosok Giovanni yang mendorong pintu kamar dengan hati-hati.“Bella?” panggilnya pelan. "Sudah bangun?"Bella menggeliat di atas ranjang, matanya masih setengah terpejam. Ketika kelopak itu akhirnya terbuka sempurna, yang pertama ia lihat adalah Giovanni—tersenyum tipis, mengenakan kemeja santai, dengan nampan sarapan di tangannya.“Gio?” Bella yang terkejut seketika duduk. “Kenapa kau ke sini membawa itu?”Giovanni mendekat, lalu meletakkan nampan berisi sepiring omelet, buah potong, roti hangat, dan secangkir teh di atas meja kecil di samping ranjang. “Karena kau bangun kesiangan,” jawabnya ringan. “Dan karena aku ingin membawakannya untukmu.”Bella mengerucutkan bibirnya, merasa bersalah. “Aku seharusnya bangun lebih pagi. Kau

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   106. Mata-Mata

    **Audi hitam itu meluncur keluar dari pelataran restoran mewah di tepi pantai tepat ketika langit San Diego mulai berpendar jingga keunguan. Jam di menara kecil dekat dermaga menunjukkan pukul tujuh malam. Lampu-lampu restoran sudah menyala, memantulkan kilau keemasan di permukaan laut yang tenang. Angin asin bertiup lembut, membawa aroma laut bercampur wangi hidangan mahal dari dapur terbuka. Beberapa mobil lain mulai berdatangan dan memasuki halaman parkir restoran, sebab reservasi private booking Giovanni sudah berakhir. Tadinya, sang Don sengaja menyewa restorannya untuk makan malam berdua bersama Bella.Di seberang jalan, sebuah sedan abu-abu tua terparkir tanpa sama sekali terlihat mencolok di balik deretan pohon palem. Dari dalam mobil itu, sepasang mata memperhatikan Audi hitam yang kini berbelok menuju jalan utama. Pria di balik kemudi sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, memastikan nomor pelat mobil tersebut sebelum akhirnya mengendurkan bahu saat kendaraan itu menghila

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   105. Hadiah Kecil

    **Audi hitam yang dikemudikan Felix melambat sebelum akhirnya berbelok ke halaman sebuah restoran mewah di tepi pelabuhan pantai San Diego. Bangunan berlantai dua itu berdiri anggun menghadap laut lepas, dengan dinding kaca besar yang memantulkan warna jingga matahari senja. Lampu-lampu temaram mulai menyala, menciptakan suasana hangat dan eksklusif. Bella bahkan tidak tahu ada tempat sebagus ini di kotanya. Ia sama sekali belum pernah melihat.“Felix, kenapa kita ke sini?” suara Bella bertanya dengan bergetar, kepanikan masih jelas tergambar di wajahnya.Mobil berhenti sempurna. Felix segera turun dan berjalan mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Bella dengan sikap sopan seperti biasa. “Silakan turun, Nyonya,” katanya sembari sedikit menunduk. “Tuan sudah menunggu di dalam.”Bella tertegun mendengar itu. “Giovanni … ada di sini?”Felix mengangguk dengan senyum tipis namun meyakinkan. Rasa lega seketika menyusup ke dada Bella, mengusir sebagian besar ketakutan yang sejak tadi

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   104. Ke Mana?

    **Langit San Diego hari itu cerah, biru pucat tanpa awan, seolah ikut merayakan kegembiraan Bella. Ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya yang dijalin sederhana. Perutnya yang mulai membulat terbungkus gaun longgar berwarna krem. Empat bulan. Angka itu terasa seperti janji—bahwa tubuhnya telah kembali kuat, bahwa ia boleh bernapas sedikit lebih lega. Morning sickness-nya sudah lewat dan ia kini bisa makan dengan baik.“Jangan terlalu lama berdiri, Bell.” suara Giovanni terdengar dari ambang pintu. Pria itu menatapnya dengan sorot mata waspada yang tak pernah benar-benar padam. Terlebih setelah sang istri ketahuan sedang mengandung. Setiap gerak-gerik Giovanni seperti mengandung kewaspadaan.Bella tersenyum. “Aku hanya ingin terlihat rapi. Lagipula, ini pertama kalinya aku keluar rumah setelah sekian lama.”Giovanni mendengus pelan, lalu melangkah mendekat. “Hanya ke hotel. Setelah itu, kita pulang.”“Aku tahu,” sahut Bella lembut. “Aku tidak akan memaksakan diri.”Perj

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   103. Overprotektif

    **Berita kehamilan Bella itu tentu saja bukanlah hal yang harus disembunyikan. Bagaimana mungkin sang Don bisa merahasiakan hal sebesar ini? Ia akan memiliki penerus yang sah. Bukankah itu luar biasa dan harus dirayakan?Maka, dalam waktu sekejap saja seluruh penghuni mansion Casa Nero sudah mendengar kabar bahagia tersebut. Semua staff, para maid, bodyguard, dan semua anggota keluarga kelompok mafia itu mendengarnya. Dan seperti yang sudah seharusnya, mereka semua berbahagia atas berita ini. Giovanni sendiri kini lebih banyak menghabiskan waktu kerja di mansion saja. Pertemuan dengan klien yang biasanya dilakukan di luar, sekarang lebih diarahkan di mansion pula. Meski dengan demikian pengamanan harus menjadi lebih ketat. Jikalau tidak memungkinkan dan tetap harus dilakukan di luar, Giovanni meminta bertemu di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah dan tidak memakan banyak waktu.Bella tentu saja senang, sebab waktu bersama suaminya menjadi lebih intens. Kata-kata Damian tentang

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   102. Berita Bahagia

    **"Ini benar. Usia kandungan Nyonya saat ini sekitar lima minggu. Lihat, dia masih sangat kecil. Mungkin hanya sebesar biji apel. Meski demikian, jantungnya sudah mulai berdetak."Dokter menunjuk monitor yang menampilkan gambar abstrak hitam putih. Gambar itu bergerak-gerak seiring dengan gerakan alat yang menempel di perut Bella. Sepasang alis Giovanni berkerut dengan serius melihat rekaman itu."Aku tidak melihat apapun. Kecuali titik putih kecil itu yang kau sebut bayi?""Masih calon bayi, Tuan." Si Dokter meralat sembari tersenyum. "Walau hanya sebesar titik, dia ini hidup. Maka anda berdua harus menjaganya baik-baik.""Apa yang harus kulakukan?" Giovanni menyambar dengan cepat. Pandangannnya jatuh pada sang istri yang masih berbaring sembari memandang penuh kagum pada layar."Nanti akan saya jelaskan apa yang sebaiknya Nyonya lakukan dan hindari. Jangan lupa datang untuk pemeriksaan rutin setiap kali ada keluhan, atau setidaknya setiap bulan jika keadaannya baik-baik saja."Giov

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status