Share

Sebuah Taruhan

Penulis: Koran Meikarta
last update Tanggal publikasi: 2026-05-21 17:25:47

Itu adalah sebuah lounge. Dugaannya salah ketika matanya tidak menemukan siapa pun di sana selain seorang resepsionis dan barista di meja kopi. Tempat yang tenang tanpa gangguan.

Bukan tempat di mana berkumpulnya kalangan atas seperti sebelumnya.

"Kami sudah mengosongkan tempat ini setelah Sir Elliot memberitahu Anda akan datang, Tuan Silas."

Perhatian Iris teralihkan pada pria yang tadi membuka pintu mobil untuknya. Pria paruh baya berkacamata, yang kini tersenyum lebar dan tampak antusias d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tidak Ada Harganya

    "A-apa?"Mata Iris bergerak antara peti kecil di tangannya dan Silas bergantian. Bertahan. Bertahan sampai Silas datang. Kalimat itu tidak terdengar seperti pria itu akan datang dan menyelamatkannya tanpa dia terluka. Lebih seperti sebuah peringatan jika sesuatu yang buruk, mungkin bisa terjadi. Sesaat, Iris merasa telinganya seolah berdengung, tapi dia bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. Rona merah di wajahnya surut, membuatnya tampak lebih pucat. Pikiran menakutkan menyerangnya, membuat kepalanya sedikit pusing. Bahkan sebelum kejadian itu benar-benar terjadi. "Kau... kau mengatakan itu seolah tahu ada hal buruk yang akan terjadi padaku," gumam Iris dengan suara napas yang sedikit terengah-engah. Tangannya memegangi kepalanya yang pusing saat dia menatap Marcus dan Silas yang bergeming. Ekspresi keduanya tampak tenang. Hanya perlahan, Marcus melepaskan tangannya. "Tidak ada yang tahu apa yang akan kau hadapi nanti."Iris menahan napas dalam-dalam.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bertahan Sebisa Mungkin

    Mata Iris berkedip. Dia mematung di tempat saat mendengar perkataan Silas. Lalu melirik peti kecil itu dan Silas secara bergantian. Berharap jika Silas sedang bercanda, tapi pria itu tidak pernah bercanda. Matanya kemudian kembali tertuju pada perhiasan di peti tersebut. Ada kalung, gelang, jepit rambut, sampai anting. Semua itu adalah benda yang tidak terpasang di tubuhnya sekarang. Tepatnya nyaris tidak pernah dia gunakan, meski sebenarnya perhiasan semacam itu telah disediakan Silas. Berta juga beberapa kali mencoba menawarkan diri untuk memasangkannya, tapi dia selalu menolak. Iris hanya benar-benar memakainya saat Silas memaksanya mengajak keluar seperti ke pesta gala. "Untukku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Suaranya terdengar seperti sebuah bisikan. Ada rasa kaget dan sorot tak percaya terpancar di matanya. Selain karena perhiasan itu tampak berbeda dari yang diberikan Silas sebelumnya, perhiasan tersebut juga diberikan langsung oleh Silas sendiri. Iris tidak

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sebuah Hadiah?

    Tubuh Iris membeku mendengar jawaban Silas. Matanya berkedip beberapa kali. "P-pulau pribadi?"Pandangannya dengan cepat kembali menatap sekeliling. Mencoba melihat ujungnya, tapi pulau itu terlalu luas. Bukan pulau kecil yang hanya seluas apartemen. Karena di sana, Iris melihat ada beberapa bangunan permanen yang berdiri. Nilainya jelas tidak akan murah. Apalagi jika berada di dekat area pelabuhan yang menjadi jalur perdagangan di kawasan. Iris menelan ludah kasar. Berta tidak bilang soal pulau pribadi. Dia kira, wilayah kekuasaan Silas hanya sebatas pelabuhan saja. Namun tampaknya, tidak ada yang benar-benar bisa menebaknya secara pasti. Tangannya mengepal erat di kedua sisi. Ada rasa waspada yang sedikit berbeda di sana. Bukan gugup, tapi lebih ke rasa takut. Iris tidak melihat Silas mengajaknya ke sana untuk liburan. Tempat itu juga bukan tempat untuk bersenang-senang secara pribadi, tapi tampak seperti gudang di bawah kendali Silas. "Berhenti melamun."Iris tersentak saat me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pulau Pribadi

    Dua hari kemudian. Iris tidak bisa membuat Silas mengurungkan niat untuk pergi. Silas terlihat baik-baik saja. Wajahnya segar, nyaris tidak memperlihatkan bekas luka yang beberapa hari lalu membuat Iris kehilangan kesabaran. Sangat. Hingga dia merasa kesal sendiri. Walau di sisi lain, Iris juga tidak bisa menampik, dia penasaran ke mana Silas akan membawanya kali ini. "Aku tidak melihat Elliot dua hari ini," ucap Iris yang berjalan santai menyusuri jalanan di pelabuhan. Matanya melirik Silas yang berjalan lebih dulu. Santai, tanpa ada yang mengganggu. Pelabuhan itu adalah tempat publik, di mana semua orang dari berbagai negara berkumpul, tapi Silas tampak sangat tenang, seolah itu tempat paling aman. Meski beberapa waktu lalu, pria itu diserang. Sialnya, Iris juga harus mengakui, tempat itu terasa dijaga lebih ketat. Jauh sebelum dia datang. "Dia sibuk.""Sibuk? Memang dia sibuk apa selain mengikutimu sepanjang waktu?" tanyanya setengah menyindir, tapi Silas tidak merespons, pri

  • Tertawan oleh Don Mafia   Khawatir atau Bukan?

    "Lusa? Ke mana?"Iris spontan menatap serius Silas saat pria itu tiba-tiba mengajaknya pergi. Alisnya berkerut dalam. Tidak bisa tidak langsung curiga kalau pria itu memiliki rencana. Dia melepaskan paksa tangan pria itu yang menggenggamnya. "Kau akan tahu nanti."Mata Iris menyipit. Dia ingin memprotes, tapi merasa itu semua percuma. Penolakannya tidak akan pernah didengar. "Kau bahkan masih dalam keadaan terluka dan kau berpikir untuk mengajakku pergi? Kau mau musuhmu datang dan membunuhmu?"Silas yang sedang merapikan ikatan perban di lengannya, tampak berhenti sejenak. Mata birunya menatap Iris sebelum kembali tertuju pada perban di lengan. "Ini hanya luka kecil." Mulut Iris terkatup. Dia tidak bisa menyangkal kalau perkataan Silas benar. Itu hanya luka kecil, karena jauh sebelum itu, Silas pernah terluka akibat serpihan blm dan pria itu masih hidup! Meski sekarang lengannya tampak robek dan jejak darah bisa terlihat di lantai, tetap belum seberapa dari yang dialaminya waktu it

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Penyusup

    Iris memutar tubuhnya. Menghadap tepat ke arah Silas dengan wajah ditekuk. Dia tidak yakin Silas benar-benar berpikir dia adalah penyusup. Apalagi dengan baju tidur dan tanpa alas kaki. Hanya dengan melihat punggungnya saja, harusnya pria itu sudah tahu. "Mana ada penyusup masuk ke lorong utama. Kau pikir bisa membodohiku?" Tangan Iris mengepal di kedua sisi. Dia berdecak, tapi tidak terlihat rasa bersalah di wajah Silas. Pria itu juga tidak menjelaskan apa pun. Hanya keheningan malam yang mengisi suasana di antara mereka. Sampai detik selanjutnya, Iris membuang napas kasar dan berbalik untuk pergi. Tetapi, belum selangkah dia berjalan, lengannya digenggam. Ditarik mundur hingga punggungnya menabrak tubuh di belakangnya. "Siapa yang menyuruhmu pergi?"Iris tersentak dan bergidik saat merasakan embusan napas Silas di telinganya. Tubuhnya seketika menjadi kaku. Sejenak dia mengalami disorientasi. Sampai beberapa detik kemudian, Iris kembali tersadar. Dia bisa merasakan detak jantu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kabar Buruk

    "Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb

  • Tertawan oleh Don Mafia   Hidup atau Mati?

    "A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penuh Kegilaan

    Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status