Home / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 8 - He Said My Name

Share

8 - He Said My Name

Author: Ivy Morfeus
last update publish date: 2026-03-05 05:23:51

“Aku mendengar sesuatu yang seharusnya tidak kudengar,” kata Yorick pelan tanpa mengangkat wajah dari mortar batu di tangannya.

Josselyn tidak langsung menoleh. “Di istana ini, hampir semua hal seharusnya tidak didengar.”

Yorick menghela napas. “Putra Mahkota mengamuk.”

“Saya sudah dengar itu.”

“Seharian penuh.”

“Dan?”

“Dia mengusir semua pelayan.”

“Itu bukan hal baru.”

“Dia melempar piring ke dinding.”

Josselyn berhenti merapikan botol-botol kecil di meja. “Piring?”

“Dan vas. Dan kursi.”

“Berl
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Alchemist's Touch    69 – Not Her, So It Was Me

    Udara kembali masuk. Tapi terasa seperti pisau.Josselyn terbatuk keras saat cengkeraman di lehernya akhirnya terlepas. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, lututnya hampir menyerah sebelum ia menahan diri dengan tangan di dinding.Napasnya tersengal—pendek, kacau, seolah paru-parunya lupa bagaimana bekerja dengan benar.Sakit.Bukan hanya di tenggorokan—tapi di dada. Dan juga kepalanya yang berkunang-kunang.Di hadapannya, Killian berdiri diam.Terlalu diam.Seolah detik barusan, tidak pernah terjadi.Namun bekas merah di leher Josselyn berdenyut pelan, seperti pengingat yang kejam.Killian menatapnya.Tatapan itu masih panas. Masih keras. Tapi, ada sesuatu yang retak di dalamnya.Sesaat. Lalu hilang.Josselyn menelan napas yang terasa seperti api. Tangannya gemetar saat menyentuh lehernya sendiri. Sensasi jari pria itu masih melekat di sana—seolah kulitnya menolak melupakan.Ia tertawa kecil.Patah.“Kalau Anda memang ingin membunuh saya…” suaranya serak, nyaris tidak terdengar, “…seti

  • The Alchemist's Touch    68 – When His Past Came Back, He Broke Me Instead

    “Ya. Madam Angeline dan Putra Mahkota adalah teman dari kecil.”Kalimat itu jatuh begitu saja. Ringan di telinga—tapi anehnya terasa berat di dada.Josselyn tidak langsung menjawab.Tatapannya masih tertuju ke arah taman. Ke gazebo tempat Howarth dan Sebastian duduk santai bersama para wanita itu. Tawa mereka terdengar jelas, ringan, tanpa beban. Seolah dunia tidak sedang berjalan dengan aturan.Berbeda dengan istana ini.Berbeda dengan nama yang baru saja ia dengar.Angeline.“Teman… dari kecil?” ulang Josselyn pelan, seakan butuh memastikan. “Bagaimana bisa?”“Bisa saja.” jawab Yorick ringan. “Keluarga Angeline sudah lama melayani kalangan bangsawan. Bahkan sebelum kita lahir.”Josselyn tertegun. Ada suatu hal yang mengganjal di hatinya.Bukankah rumah hiburan tetap rumah hiburan?Menyediakan wanita yang siap melayani lelaki yang mungkin sudah beristri?Apa itu berarti…“Untuk seseorang yang dibesarkan di dalam istana… Putra Mahkota cukup sering mengunjungi Maison de Lune.” Yorick m

  • The Alchemist's Touch    67 – Lines He Didn’t Know How to Cross

    “…lampiaskan saja padaku.”Kalimat itu menggantung di udara.Josselyn membeku. Untuk sepersekian detik, ia tidak bergerak. Tidak bernapas. Dan bahkan lupa berkedip.Lalu—“Cukup.”Suaranya keluar lebih tajam dari yang ia duga. Tangannya mendorong dada Darius. Tidak keras, tapi cukup untuk menciptakan jarak.Darius tidak melawan. Tubuhnya bergeser setengah langkah ke belakang, mengikuti dorongan itu tanpa perlawanan.Josselyn menarik napas dalam. Dadanya naik turun, berusaha mengembalikan ritmenya yang kacau.“Darius Blackmoor,” ucapnya, kali ini lebih terkendali, meski masih terdengar tegang. “Anda melewati batas.”Sunyi.Darius tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada gadis di hadapannya itu. Diam. Tidak agresif. Tidak juga mundur.Hanya… mengamati.Seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak ia mengerti. Terlihat dari alisnya yang sedikit berkerut.“Aku melewati batas?” ulangnya pelan.Bukan membantah. Lebih seperti memastikan.Josselyn mengernyit. Reaksi itu bukan yan

  • The Alchemist's Touch    66 – You’re Not the Victim Anymore

    Ucapan Yorick itu terus terngiang. Seolah menempel di kepalanya, tak mau pergi.“Putra Mahkota tak benar-benar menginginkan kesembuhan Ratu.”Josselyn berdiri diam di depan meja kayu Ruang Herbal. Tangannya yang semula sibuk memilah daun kering kini terhenti begitu saja.“Itu tidak masuk akal…”Gumamannya nyaris tak terdengar.Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran itu. Tidak. Ia tidak bisa begitu saja mempercayai kata-kata Yorick.Ia melihat sendiri.Bagaimana Killian berdiri di sisi ranjang Ratu. Bagaimana tatapannya berubah, lebih lembut dari biasanya. Cara tangannya menyentuh selimut itu—perlahan, hati-hati, seolah takut melukai sesuatu yang rapuh.Itu bukan sikap seseorang yang ingin kehilangan ibunya.“Aku tidak salah kan?”Josselyn meyakinkan dirinya. Tangannya mengumpulkan daun-daun kering yang telah dipilih dan memasukkannya ke sebuah wadah.Tapi pikirannya masih terasa penuh.Killian adalah anak satu-satunya. Pewaris tahta yang tak tergantikan. Seluruh kerajaan menaruh

  • The Alchemist's Touch    65 – The First Move

    “Aku sudah terlalu lama terlena…”Josselyn menyisir rambutnya ke belakang. Kilauan hitam rambutnya jatuh rapi di bahunya. Tapi yang ia lihat di cermin bukan lagi gadis yang sama seperti kemarin.Bayangan tentang kelima pria, yang hadir semenjak kehidupannya di istana, muncul.Lima pria.Dengan cara masing-masing… berhasil membuatnya lupa. Terutama Killian, Howarth, dan kini Yorick.“Seharusnya dari awal aku tak boleh mempercayai Yorick. Dia memang yang paling mencurigakan kan?” Tarikan napas panjangnya mengartikan kekecewaan pada dirinya.“Seluruh istana membicarakanku dari belakang, bahkan pelayan, prajurit sengaja menghindar. Hanya Yorick satu-satunya yang menyambutku dengan hangat.”Selimut itu.Kata “Ibu”.Aroma pahit yang familiar.Dan tatapan Yorick… yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Tangannya mengepal.“Baiklah. Aku tidak akan menunda lagi. Kepercayaan Killian sudah di tanganku. Jadi kau bisa lebih leluasa bergerak di istana ini.”Ucapannya penuh dengan kepercayaan diri.

  • The Alchemist's Touch    64 – The Moment She Stopped Trusting

    Pintu kamar Ratu terbuka dengan cepat.Aroma obat langsung menyambut begitu Josselyn melangkah masuk—pekat, pahit, bercampur dengan wangi bunga yang mulai layu di sudut ruangan.“Lady Josselyn!”Seorang pelayan bergegas menghampirinya, wajahnya pucat. “Kami sudah mencoba memanggil Tuan Yorick, tapi—”“Aku di sini.”Suara tenang itu datang dari dalam ruangan.Josselyn mengangkat pandangannya.Yorick berdiri di sisi tempat tidur Ratu, jubahnya sedikit berantakan. Tapi wajahnya terlihat tenang—atau mungkin memang berusaha untuk tenang. Tangannya bergerak dengan pasti saat memeriksa denyut nadi Ratu.“Bagaimana kondisinya?” tanya Josselyn pelan, melangkah mendekat.“Tidak stabil,” jawab Yorick singkat. “Demamnya naik turun. Napasnya juga tidak teratur.”Josselyn mengangguk kecil. “Mungkin karena sudah mulai memasuki musim dingin.”Langkahnya berhenti tepat di sisi tempat tidur. Dan saat itulah matanya menangkap sesuatu.Selimut.Wol tebal, halus, dengan pola yang familiar. Ia seperti pern

  • The Alchemist's Touch    26 – The Marks He Left

    Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahny

  • The Alchemist's Touch    11 - A Dangerous Proposal

    “Tuan Howarth—”Suara Yorick terdengar lebih tajam dari biasanya.“Letakkan dia dengan hati-hati.”Howarth masih menopang tubuh Josselyn yang hampir jatuh di pelukannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Josselyn dengan alis terangkat.“Aku tidak tahu tabib kerajaan mudah pingsan sepe

  • The Alchemist's Touch    10 - Whispered Shadows

    “Pagi ini istana terasa lebih tenang,” lanjut Yorick.Josselyn menatap cangkirnya.Saat ibunya masih hidup, ia sering membantu meracik ramuan di laboratorium kecil mereka. Ia hafal hampir semua aroma tumbuhan dan akar kering.‘Aroma ramuan ini beda. Asing.’ Josselyn melirik Yorick. ‘Apa Tuan Yorick

  • The Alchemist's Touch    9 - Kiss In The Chaos

    “Sebutkan namanya.”Suara Killian masih rendah. Tidak meninggi. Tidak marah. Tapi justru itu yang membuat dada Josselyn terasa sesak.Ia menatap pecahan kaca di lantai.“S-saya, tidak ingat, Yang Mulia.”Josselyn menelan ludah. Ia mengingatnya dengan jelas. Bagaimana mereka memanggil namanya dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status