Share

The Legend of Fang Yue
The Legend of Fang Yue
Penulis: elshuang

Tekad yang Kuat

BRKK

“Putri …,” teriak asisten Chu panik.

Fang Yue hanya mengangkat tanganya tanda dia tidak butuh bantuan siapapun. Fang Yue lekas berdiri dengan tegap, menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia yakin, luka kali ini cukup dalam, lengan atasnya terasa terbelah menjadi dua, serta rasa sakit yang sampai ke ubun-ubun kepala. Tapi Fang Yue bukanlah wanita lemah. Hanya menolong seseorang tidak akan membuatnya terbunuh.

“Putri, anda baik-baik saja? Mata anda sudah terlihat sayu, apa perampok jalanan itu melukai anda terlalu dalam? Atau perlu saya kembali kesana dan membunuh mereka satu persatu?” Asisten Chu meraih lengan Fang Yue pelan.

“Aku baik-baik saja. Jangan cemas. Hanya perampok payah tidak akan membuatku mati, asisten Chu.” 

“Sekarang periksalah jalan utama di pintu belakang, kita akan segera menyelinap untuk masuk ke kamarku. Aku tidak ingin ayah menghukumku karena aku kembali dengan kondisi terluka,” lirih Fang Yue.

Asisten Chu hanya menganggukkan kepalanya dan segera melangkah cepat guna memeriksa pintu istana bagian belakang. Mereka akan masuk melalui atap, jadi para prajurit istana juga tidak akan memergoki mereka. 

“Putri apakah aman untuk kita menaiki atap istana sekarang?” Baru saja asisten Chu menutup mulutnya, Fang Yue sudah berada pada atap istana lalu menatap asisten Chu dengan seringai di wajahnya. 

“Ash!” keluh asisten Chu lalu segera menyusul Fang Yue.

Keduanya berjalan mengendap di tengah malam, di bawah rembulan yang bersinar dengan terangnya. Hanya berniat untuk melihat dunia luar tapi justru kembali dengan kondisi tubuh penuh luka. Hati Fang Yue yang terlalu baik membuatnya menolong seseorang yang tengah berburu tapi dikepung dengan perampok jalanan. 

Sebenarnya Fang Yue ingin mengutuk putra bangsawan itu. Berburu tapi tidak membawa pengawalan yang cukup banyak. Seharusnya kalau menang putra bangsawan itu laki-laki lemah, tidak perlu berburu saja sekalian. Kalau putra bangsawan itu sampai terbunuh justru akan menyusahkan semua orang.

“Obati aku asisten Chu.” Fang Yue mulai membuka lapisan baju merahnya perlahan.

“Argh!” Fang Yue menghentikan tangannya yang sedang melepas pakaiannya, pasalnya darah sudah terlanjur mengering dan menempel pada pakaian yang ia gunakan.

“Saya akan ambilkan air hangat untuk anda.” Selepas Asisten Chu yang pergi, Fang Yue membuka laci di samping tempat tidurnya. Segera menelan pil pereda rasa sakit buatannya.

Setelah ini dia akan jauh lebih baik meski luka belum mengering.

“Putri, luka ini terlalu dalam. Perlu saya panggilkan tabib istana? Ini butuh beberapa jahitan karena belati perampok itu merobek luka lama pada lengan anda.”

“Tidak perlu. Kamu saja yang jahit lukanya. Aku akan menelan pil yang lain. Lakukan malam ini, aku tidak mau ayah curiga kalau kita memanggil tabib istana.” Fang Yue segera meraih pil lain lalu menelannya tanpa air. 

Sebentar lagi tubuhnya akan mengalami mati rasa dan asisten Chu bisa menjahit lukanya dengan tenang. Fang Yue saat ini benar-benar tidak menunjukan sikap sebagai seorang putri kaisar, justru terlihat seperti putri seorang guru bela diri. Wajah cantik nan tegas, sama sekali tidak merasakan sakit atau ngilu saat menatap luka di tubuhnya.

Keesokan pagi.

“Putri, dayang Shu berpesan bahwa kaisar ingin menemui anda setelah makan pagi.” Fang Yue mengerutkan dahinya mendengar bisikan asisten Chu.

“Apa yang akan dikatakan pria tua itu? Seharusnya dia tidak tahu ulahku kemarin,” batin Fang Yue bingung.

“Baiklah. Sebentar lagi aku akan kesana. kamu ganti penutup lukanya dulu.” 

“Aku ingin hanfu perpaduan merah hitam dayang Im,” ucap Fang Yue.

Sekarang Fang Yue tengah duduk di depan cermin, menunggu para dayang menyelesaikan tatanan rambutnya. Hiasan rambut sederhana yang terbuat dari emas, berbentuk bunga persik.

Fang Yue melangkah dengan tegas, menapaki wilayah istana yang luas nan megah. pilar-pilar yang berdiri kokoh serta prajurit yang berjajar rapi tidak membuat langkahnya ragu sedikitpun. Justru membuat matanya menyorot semakin tajam. Penutup muka bermotif bunga persik yang ia gunakan semakin membuat Fang Yue terlihat tidak tersentuh.

“Wajahku terlalu suci untuk bisa dipandang orang sembarangan. Biarkan mereka yang dekat denganku yang bisa melihat wajahku,” ucap Fang Yue sejak ia kecil.

“Putri Fang Yue datang mengunjungi Kaisar Xiao,” teriak seorang kasim istana.

 Fang Yue memasuki ruangan kaisar dengan asisten Chu yang menunggunya di luar ruangan.

“Putri Fang Yue memberi hormat pada Kaisar.” Fang Yue menundukan kepalanya di hadapan kaisar Xiao.

“Yue’er, duduklah,” ucap Kaisar Xiao pelan.

Fang Yue segera duduk di hadapan sang ayah dengan senyum tegas miliknya. Tangan yang lentik itu membuka penutup wajahnya perlahan.

“Anak nakal! Darimana saja kemarin malam?” Kaisar Xiao memandang putrinya penuh intimidasi.

“Luka apa yang kali ini kamu bawa? Kenapa tidak memanggil tabib?”

Fang Yue hanya menampilkan senyum tipis. “ Tidak aku sangka ayah akan tahu. Hukuman apa yang kali ini aku terima?”

“Darah yang mengering di dekat gerbang istana belakang milik siapa kalau bukan milikmu? Adakah dayang yang terbunuh disini?”

“Hukuman kali ini adalah kamu harus mempercantik diri di dalam istana. Ayah akan menikahkan kamu dengan putra dari Kaisar wilayah selatan, Tian Xu,” tegas Kaisar Xiao.

“Menikah? Dalam rangka apa lagi ini? Wilayah mana yang ingin ayah kuasai hingga membuatku menikahinya? Sebesar itukah wilayahnya?”

Kaisar Xiao yang tersinggung dengan ucapan Fang Yue pun segera merubah raut mukanya menjadi lebih tegas.

“Jaga ucapanmu Xiao Fang Yue!” geram Kaisar Xiao.

Fang Yue hanya mendecih sinis seraya memandang ayahnya. “Benar bukan? Lalu apa jadinya kalau aku tidak setuju? Bagaimana kalau aku pergi dari istana dan membatalkan pernikahan?”

Fang Yue memandang ayahnya tajam saat terdengar tawa yang begitu keras. Tawa licik yang Fang Yue benci.

“Pikirkan baik-baik. Ambisimu untuk melenyapkan Perdana Menteri sialan itu apakah sudah hilang dari dalam dirimu? Atau kau terima saja kekalahanmu itu?” ucap Kaisar Xiao memprovokasi.

Fang Yue hanya diam mendengar ucapan ayahnya, dalam hati ia menyanggah segala tuduhan ayahnya. Tapi kalau untuk menikah apakah itu bisa menguntungkannya? Atau perlu ia cari tahu dulu siapa Tian Xu sebenarnya? Dia tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan.

“Aku akan memikirkan sampai besok pagi. Aku tidak mau hidup dengan laki-laki yang lemah dan bisa ditindas. Aku ingin dia bisa melindungiku tapi aku tidak suka laki-laki yang kejam. Aku harap dia bukan laki-laki seperti yang aku ucapkan.”

“Yue’er undur diri,” lanjut Fang Yue seraya menundukan kepalanya dan berlalu dari hadapan Kaisar Xiao.

“Aku berjanji kak, akan aku bunuh Perdana Menteri sialan itu untukmu! Akan kupenggal kepalanya dengan tanganku sendiri, kalau perlu aku hancurkan semua keturunannya dengan tanganku sendiri,” batin Fang Yue bertekad.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Joshie_djw
Ini seriusan ada? Macam wong fei hung gitu kah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status